DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 79 : CEMBURU


__ADS_3

Tentu saja lagi lagi terjadi gempa susulan di hati Darel. Yang membenarkan ucapan Anin, ternyata Bimo kekasihnya itu masuk kategori cogan. Wuushh...seketika hawa panas lagi menyerang hati Darel.


Dengan terpaksa berlagak profesional Darel pun mengetik nomor kontak Alika di ponsel milik Anin.


"Nih, sudah. Kamu saja yang sesuaikan waktu saat menghubungi dia nantinya ya. Aku udah bilang ke dia kok. Tadinya malam ini aku mau ajak kamu ke cafe kemaren, sekalian nelpon Alika biar kalian kenalan secara virtual dulu. Tapi, kayaknya kamu udah ga bisa di ajak jalan kan ya, secara udah mau di lamar. Komandan Polisi lagi, aku mundur alon-alon aja Nin." Ucap Darel setengah bercanda tapi serius di dalam hatinya.


"ih... santai saja kali. Ga papa,kalo emang mau ajak Anin jalan, Pasti mas Bimo ngerti." Ucap Anin yang sesungguhnya tidak mau melewatkan kesempatan pergi bersama Darel yang ternyata lebih ia rindukan dari pada Bimo kekasihnya itu.


Dan pada malam itu, akhirnya Anin dan Darel benar benar keluar untuk menikmati hiruk pikuknya malam minggu di Kota Surabaya. Tetapi kali ini Darel tidak ingin mengajaknya ke tempat kemarin. Darel mengajak Anin ke salah satu tempat makan romantis yang berada di rooftop sebuah gedung Hotel dan Residence di lantai 21. Sehingga saat berada di lokasi itu mereka dapat menikmati makan malam yang sangat romantis didukung dengan panorama citylights Surabaya yang terlihat begitu mengagumkan di malam hari. Menu makanan yang ditawarkan di restoran ini didominasi oleh menu makanan Western.


Saat Anin bertanya pada Darel mengapa mengajaknya makan di tempat itu, ia bilang karena mereka akan melakukan panggilan VC dengan Alika yang ingin melihat keindahan Indonesia khususnya kota Surabaya di waktu malam. Padahal tentu itu hanya alasan Darel saja, yang sebenarnya ia memang sudah mempunyai beberapa list tempat makan romantis, yang kemungkinan akan dia gunakan untuk mengungkapkan isi hatinya pada Anin. Darel tidak ingin ungkapan cintanya yang luar biasa pada Anin, di nyatakan di tempat yang biasa.


Namun bukan suasana yang romantis yang Darel dapatkan, justru mendadak Anin yang mendapat VC dari kekasihnya Bimo yang baru saja mendarat di kota kelahirannya Solo. Panggilan VC yang Anin dan Bimo lakukan tentu bisa dengan jelas di dengar oleh Darel.


Dan itu berhasil membuat Darel ingat sebuah syair lagu Dewa 19 'Ingin ku bunuh Pacarmu'


"Assalamualaikum, mas Bimo. Baru tiba ya...?" salam Anin dengan suara yang di dengar Darel tidak biasa itu dan terkesan manja dibuat buat.


"Walaikumsallam calon istriku. Iya, mas baru sampai rumah. Sayang sudah makan...?"


Gondok...!!! gondok banget Darel mendengar kata-kata mesra yang keluar dari mulut lelaki bernama Bimo itu.


"Ini baru selesai makan malam mas." Jawab Anin yang sesekali melihat Darel yang lebih memilih melihat pemandangan citylights dari pada wajah Anin yang tampak berbinar-binar memandangi benda pipih persegi miliknya itu.


"Sepertinya calon istriku sedang berada di luar ya...?" Selidik Bimo yang tentu melihat pemandangan di sekitar Anin yang tidak biasa.


"Iya, mas. Anin lagi makan malam dengan teman." Jawab Anin dengan jujur.


"Ya... teman. Aku hanya temanmu Anin." Darel makin geram dan mengumpat di dalam hatinya.


"Cowok atau cewek sayang...?" selidik Bimo lagi.


"Cowok mas, tuh orangnya...!" Jawab Anin yang segera membalik kamera ke arah Darel yang pura-pura terkejut.

__ADS_1


"Bang, kasih senyum.. ini kamera ku arahkan ke muka abang." Perintah Anin pada Darel. Dengan malas Darel pun mengangguk kaku dengan hanya menarik sebelah sudut bibirnya, senyum terpaksa.


Bimo tidak menanggapi ekspresi Darel, karena ibunya sudah berada di dekatnya untuk ikut melakukan panggilan via VC.


"Sayang ... ini ibu. Mau liat wajah calon menantunya." Ucap Bimo lagi.


Segera Anin membalik kamera kearahnya kembali. Dan tampak di sana seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik, tampak anggun dan keibuan begitu kesan pertama yang Anin tangkap dari pertemuan pertamanya dengan ibu Bimo.


"Assalamualikum Bu. Salam kenal dari Anin." Ujar Anin sopan yang saat itu menggunakan kemeja floral berlengan sampai siku, dengan rambut yang ia cepol agak berantakan sebab beberapa anak rambutnya jatuh pengaruh angin malam yang menerpa.


"Injiih, salam kenal juga mbak Anin. Sudah lama kenal mas Bimo...?" tanya ibu Raden Ayu Ambarwati itu pada Anin dengan ramah.


"Baru bu... beberapa bulan saja." Jawab Anin seadanya.


Kini Darel tampak minta ijin untuk ke toilet dan meninggalkan Anin yang masih nampak asyik ngobrol dengan ibu Bimo itu.


"Wah... baru kenal kok mas Bimo langsung minta ijin ngelamar kamu Ndhuk." Ucap Ibu Bimo tanpa senyuman di sana.


"Ndhuk, ibu boleh tanya... ? Mbak Anin asli mana...?" tanya ibu Bimo masih dengan logat Jawanya yang sangat kental.


"Jawa Timur bu." Jawab Anin seadanya.


"Oh, Jawa Timur thooo. Ibu tidak pernah melarang mas Bimo berkenalan dan berteman dengan wanita manapun ndhuk. Asal sebatas teman saja, tetapi kalau calon istri... Mohon maaf ibu sudah siapkan calon buat mas Bimo yang bibit, bobot dan bebet nya jelas. Sesama kami yang masih keturunan Ningrat." Ucap ibu Bimo dengan lantang dan lugas.


"Ibu, kenapa bicara begitu sama Anin. Dia wanita pilihanku bu." Terdengar hardikan Bimo pada ibunya dan segera mengambil ponsel dari sang ibu yang baru saja bicara hal, yang mungkin saja menyakiti hati Anin.


"Sayang... jangan dengarkan kata ibu ya. Beliau hanya bercanda." ujar Bimo.


Anin hanya terlihat menarik napasnya dalam, jelas terukir raut kecewa setelah mendengar ucapan yang di luangkan ibu Bimo tadi padanya.


"Iya, mas Bimo ku sayang. Aku ga papa kok, aku mengerti perasaan ibu." jawab Anin seolah bijak. Sebab, kini Darel sudah berada di hadapannya kembali. Beruntung tadi ibu bicara begitu saat Darel tidak di dekatnya, jika ada ... dapat Anin pastikan Darel pasti marah.


"Iya terima kasih pengertian mu ya sayangku.

__ADS_1


Mas akan terus menjaga dan mempertahankan cinta kita. Sudah dulu ya sayang, mas selalu merindukanmu calon istriku." Ujar Bimo mengakhiri panggilan itu.


Anin berusaha untuk tetap senyum semanis mungkin, agar Bimo sekaligus darel percaya bahwa hatinya sedang baik - baik saja.


Padahal yang sesungguhnya, dalam hati Anin menangis. Anin tidak bersedih jika Bimo tidak jadi menikahinya, tetapi harus di bedakan sesuai kasta itu yang membuat hati Anin bagai teriris sembilu.


Anin tidak pernah minta di lahirkan sebagai seorang Anin yang hanya berasal dari keluarga sederhana. Tetapi ia tetap bersyukur dengan ketentuan nasibnya itu.



Bersambung


...Iiich.... Mas Bimo...


...Belum apa-apa sudah buat Anin kecewa...!!!...


...Reader ada yang sedih ga...???...


...Atau malah suka!!😁...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2