DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 139 : ARTIKEL TIDAK PERNAH MELAHIRKAN


__ADS_3

"Maaf... Anin merasa harus segera menyelesaikan masalah ini." Ucapnya dengan nada tegas. Membuat semua mata tertuju memandang ke arah Anin.


"Bee... Bisa kamu jelaskan mengapa foto itu ada pada Kak santy?" tanya Anin terdengar lantang dan agak ngeri, lebih ngeri dari suara pak Hakim dan pak Jaksa di sebuah Pengadilan Negeri yang sedang bersidang .


"Kejadian itu terjadi saat di Surabaya, tepat di hari kepulanganu ke Indonesia. Santy adalah pemilik peruahaan yang akan mendirikan anak cabang perusahaannya di Bandung. Ia ingin berpatner dengan perusahan kita yang di sini, tetapi aku merasa niatnya tidak baik. Maka aku tolak dengan cara halus, yaitu dengan memperkenalkannya pada perusahaanku yang di pimpin oleh Gerald di Surabaya. Sehingga, jadilah hari itu kami bertemu di sebuah restoran di Surabaya. Bahkan aku sempat VC kan Mom... denganmu." Ujar Darel di sela ceritanya.


"Lanjut Bee...!!!" tukas Anin masih penasaran.


"Kami makan malam bertiga. Kemudian, Gerald lebih dahulu pulang. Sementara aku masih menikmatii makanan penutup pada restoran itu. Yang ternyata, kudapan itu sudah di bubuhi obat tidur. Aku ambruk di lantai parkiran restoran itu, lalu digotong orang-orang suruhan Santy untuk masuk mobil dan di bawa ke sebuah kamar hotel. Lalu terjadilah adegan di foto itu. Tapi... sumpah mom. Aku tidur dan tidak tau apa saja yang dia lakukan padaku."


"Dari mana kamu tau ? jika kamu tidak melakukan apa-apa, sedangkan kamu tidur...?" penasaran Anin semakin menajam, sementara mertua dan ayahnya masih sebagai pendengar yang setia menyimak cerita Darel.


"Ternyata, Gerald kembali ke restoran itu, dan melihat aku di gotong dan di bawa oleh Santy. Yang kemudian memutuskan untuk mengikuti kemana Santy membawaku. Gerald lah, yang berhasil menggrebek ulah Santy di kamar hotel tersebut, lalu aku masih dalam keadaan tidur itu, dia bawa ke apartemenku. Sehingga di pagi harinya, aku sudah bangun dengan Gerald di sampingku. Lalu aku kembali ke sini dan kita mengadakan syukuran menempati rumah baru kita."


"Mengapa kisah sebesar itu tidak kamu sampaikan padaku Bee...?" suara Anin terdengar getir mengetahui suaminya telah menyimpan sebuah rahasia besar.


"Maaf Mom... aku tidak menyangka jika kamu kenal dengan Santy. Bahkan sangat begitu dekat. Tetapi semua bukti kejahatannya di hotel malam itu sudah di simpan oleh Gerald. Terserah mom saja, apakah ingin mengangkat kasus ini ke jalur hukum atau tidak. Yang pasti, jangan aku yang mommy hukum." Pintanya dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh lemah Anin.


Lama mereka semua terdiam di sana setelah mendengar penuturan dari Darel.


Anin melirik ke ayahnya, yang tampak lebih kecewa pada suaminya.


"Ayah... mama, papa. Bagaimana dengan kasus ini. Apa kita memang perlu menambah bonyok di wajah daddynya Aluna...?" Anin sedikit memecahkan keheningan. Walau hatinya masih saja terasa sakit.


"Jujur papa sangat kecewa atas keteledoran mu Mil. Mestinya saat kamu tau niat wanita itu jahat, bahkan untuk perusahaanmu yang di pimpin Gerald pun tidak layak kamu berikan kesempatan untuk bekerja sama.


Itu kesalahan mu yang pertama.


Kemudian, benar yang Anin katakan, mengapa kamu tidak jujur saja bahwa ada kejadian luar biasa yang kamu alami dan tidak wajar, walaupun kamu tidak melakukannya.

__ADS_1


Itu kesalahanmu yang kedua.


Lalu, atas semua tindakanmu itu kamu bahkan hampir mencelakai jiwa istrimu bahkan anakmu sendiri menjadi taruhan...


lihat ia bahkan lahir sebelum waktunya.


Belum lagi mertuamu yang kamu janjikan untuk membahagiakan anak kesayanangannya.


Kini kamu sudah menjadi seorang ayah. Kamu mesti lebih biijaksana dan dewasa lagi dalam berpikir juga bertindak. Pernikahan bukan hanya sarana membuat pabrik anak Mil. Tetapi tumbuh menjadi orang tua yang menghasilkan anak berkualitas itu lebih penting.


Papa sudah bangga dengan rumah tangga kalian, yang walau terpisah jarak dan waktu dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Telah mampu kalian lewati, masa harus kandas hanya dengan obat tidur, hasil jebakan seorang wanita. Ingat nak... semakin tinggi pohon akan makin kencang angin menerpanya... bahkan badai pun akan di kirim Tuhan untuk membuktikan kekuatnnya. Waspadalah." Ucap papa yang kini tampak melangkah berdiri memeluk Darel yang kembali dengan airmata yang menggenang.


"Sana... minta maaf pada ayah wanita yang sudah hampir kamu PHP." Tukas ayah setengah bercanda.


Secepatnya Darel mendekati ayah Anin dan memeluk erat mertuanya.


"Ini kesepatan terakhirmu. Ayah tidak akan mentolerir lagi kesalahanmu dalam bentuk apapun. Ingat...!!! Kembalikan Anin pada ayah...!" tegas sekali ayah berkata pada Darel.


"Puas dapat tendangan, pukulan dan gebukan hari ini sayang...? Itu upah untukmu yang tidak merasakan sakit yang Anin rasakan saat melahirkan anak untukmu." Ucap mama sambil mengusap sayang rambut anaknya.


"Ma... gigitan juga loo." ucapnya sambil mengangkat luka di dekat ibu jarnya bekas gigitan Anin.


"Masa sampai berdarah Bee...?" tanya Anin menatap tidak percaya atas perbuatannya sebelum melahirkan Aluna.


"Hmm....mbleeep." Tanpa malu Darel menunjukan bekas luka itu ke arah Anin dan menerkam bibir istrinya dengan cepat.


BUUUK...Lagi Darel mendapat pukulan di bagian pantat oleh mama.


"Heiii... jangan berani berani kamu sentuh istrimu sampai 3 bulan ke depan ya Mil. Kecuali kamu mau jadi duda!!"

__ADS_1


"Ih... mama seram banget siih kutukannya. Trus... kenapa lama sekali. Bukannya masa nifas hanya 40 hari, Emil pernah kok baca artikel kesehatan." Darel membela diri.


"Artikel itu, mana pernah melahirkan. Tanya mama nih yang sudah berpengalaman melahirkan. Semakin lama mesinnya istirahat, semakin bagus untuk di pakai dalam waktu yang lama. Dan untuk urusan bagaimana menahan hasratnya, tuh. Kamu tanya papa yang lebih berpegalaman." Ujar mama yang tiba-tiba menjadi somplak.


Sampai terdengar adzan subuh mengudara membuat mereka semua bersepakat untuk melakukan sholat subuh berjamaah di ruangan rawat inap itu.


Tidak lupa antara mereka pun saling berpelukan bermaafan satu sama lain, bersepakat untuk mengakhiri masalah rumah tangga ini. Membawanya dalam doa dan menjadikan pelajaran bagi mereka untuk di kemudian hari tidak akan melakukan kesalahan sekecil apapun.


Ani tersenyum haru dan bahagia, tatkala melihat pemandangan indah di hadapannya saat menyaksikan orang-orang yag menyayanginya, berkumpul, berdamai, berdoa untuk keselamatan dan kepulihnnya juga keutuhan rumah tangga kecilnya.


Anin berusaha percaya pada pembelaan Darel. Iya memilih yakin, jika suaminya tidak sedang membohonginya ayahnya juga kedua orang tuanya, ia merasa perlu memberi kesempatan pada suaminya. Sebab menurutnya, hal itu pun tidak pernah terjadi jika ia tidak pernah pergi untuk melanjutkan studinya.


" Ya Allah, terima kasih atas nikmat juga cobaan dan ujian yang kamu boleh ijinkan terjadi dalam rumah tangga kami. Terlebih ya Allah, kini aku telah menjadi seorang ibu yang sempurna dari putriku Aluna Queeni Aswindra. Kiranya Engkau ya ALLah, dapat membimbing kami menjadi orang tua yang dapat mendidik anak kami bertumbuh menjadi anak yang solehah. Amin...Amin... yarobalalamin."


Untaian doa Anin pun tak kalah menguar dalam hatinya. Merasa puas dan lega satu masalah dalam rumah tangganya mampu mereka lewati dengan kepala dingin.


Bersambung...


...Setelah ini author janji...


...ga akan angkat konflik lagi...


...Takut bengek akunya šŸ˜”šŸ˜”šŸ˜”...


...VOTE...


...LIKE...


...GIFT...

__ADS_1


...KOMEN...


...Yang banyak ya... šŸ™šŸ™šŸ™...


__ADS_2