
"Melihat wajah bingung mu ini, mama malah takut. Bagaimana mungkin perusahaan papa akan berkembang pesat jika di pimpin oleh seorang pria sulit menentukan pilihan sepertimu, nak." Ujar mama sambil mengusap pelan kepala Darel.
Sementara di balik kamar, tampak Melisa menahan tawanya. Karena ini adalah bagian dari rencana mereka untuk memberikan shock terapi pada Darel. Agar bisa lebih peka dan berinisiatif mengejar Anin.
Yang telah nyata antara mereka berdua sama-sama menyimpan rasa cinta yang sama besar.
Darel dan Melisa yang sudah bisa memastikan kesehatan mama pun kini terlihat pamit untuk kembali ke tanah air. Melisa pulang ke Surabaya, dan Darel harus tetap pulang ke Bandung untuk tetap melanjutkan pekerjaannya di perusahaan Aswindra Group. Bukanlah suatu pembelaan dari sang papa, tetapi beliau juga mengakui jika tanggung jawab yang Darel pikul di perusahaan itu memang cukup berat dan pasti banyak menyita waktunya untuk sekedar bersantai. Tetapi, kedua orang tuanya seperti sengaja, ingin menempa kepribadian seorang Darel.
Sesekali Darel menimang sebuah kalung berliontin oval ruby merah delima dan di hiasi diamond solitaire yang sempat ia beli saat perjalanan bisnis di Vietnam kemaren. Ia mengira akan memiliki kesempatan untuk menyatakan cintanya pada Anin saat mereka bertemu di Singapura. Seperti yang sudah sering ia bayangkan, bahwa ia akan menyatakan cintanya di tempat luar biasa karena Anin adalah wanita yang istimewa Bagaimana pun Darel sangat bersyukur, bahwa setelah kesembuhan mamanya terjadi setelah bertemu dengan Anin wanita yang ia cintai itu.
"Mungkin aku harus mulai dari mencari tau tentang hubungannya dengan Bimo." Darel membatin dan mulai mengirim pesan teks pada Anin.
"Assalamualikum Nin, apa kabar?
Maaf beberapa waktu yang lalu tidak memberi kabar. Aku benar benar sibuk dalam perjalanan bisnis di Vietnam. Sekarang aku sudah di Bandung." Sebuah pesan yang lumayan panjang dan jelas berhasil Darel kirim. Walaupun kenyataannya pesan itu hanya terkirim, namun tidak langsung di baca dan di balas oleh si pemilik ponsel.
Pesan itu tidak serta merta mendapat balasan sebab perbedaan waktu antara Paris dan Indonesia tentu menjadi alasan untuk ketidaklancaran hubungan mereka.
Darel kemudian kembali tenggelam pada pekerjaan kantornya. Sebab, ia ingin kembali mengambil cuti.
Tekad Darel sudah bulat, ia ingin menemui ayah Anin. Di desa tempat kakak Anin bekerja. Ia memang tidak tau pasti di mana letak dan nama desa itu. Tapi, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan informasi yang masih di sekitar Indonesia ini.
"Wallaikumsallam bang. Kabar Anin baiK-baik saja.
Anin mengerti abang sibuk, syukurlah jika sekarang abang sudah kembali di tempat kerja. Semangat selalu ya Bang. Anin juga sudah mulai aktif belajar nih.
__ADS_1
Jaga kesehatan šŖ . " Balas Anin juga lewat pesan teks, beberapa hari kemudian. Nampaknya Anin pun mulai sibuk, sehingga ia tidak begitu memprioritaskan
ponselnya.
Hari itu, kamis pada minggu ke tiga pada bulan lima di tahun itu. Akhirnya Darel mendapatkan waktu yang longgar untuk sekedar berlibur melepas segala kepenatannya dari urusan kantor. Hubungan nya dengan Anin pun sangat merenggang, entah karena sibuk atau karena Darel mengira Anin lebih memilih lebih intens dengan Bimo. Tetapi hal itu, tidak menyurutkan niatnya untuk tetap mengunjungi ayah Anin. Darel yang sudah sangat mengenal ayah Anin, tentu juga sangat tau apa yang akan dibawakannya untuk ayah Anin, apa lagi kalau bukan minuman suplemen untuk menunjang kesehatan pria yang ia percaya akan menjadi mertuanya itu.
Dan benar saja, kini mobil sport putih milik Darel sudah tampak memasuki Desa Bumiraya, dan tempat pertama yang ingin Darel datangi adalah Kantor Polisi setempat, untuk ia bisa menemui langsung sang Kapolsek sekaligus ingin meminta alamat rumah Jovandra. Belum sempat Darel bertanya alamat rumah Jovan pada polisi yang tampak sedang berada di loket jaga, ia sudah lebih dahulu membaca nametag di dada pria gagah itu bertulis JOVANDRA. Dengan sok akrabnya Darel pun mengulurkan tangannya pada Jovan dan berkata : " Kak, Jovan. Saya Emil teman Anin. Boleh bertemu ayah Anin...?"
Sesaat Jovan tertegun melihat keramahan pria yang di lihatnya tampan dan tentu terlihat kaya dari mobil yang ia bawa, kemudian ia pun menjawab. "Oh, iya. Silahkan. Ayah ada di rumah, kamu ikuti saja jalan ini, ada pertigaan belok kiri, sebelum jembatan ada rumah bercat hijau di depan ada pohon mangga, oh iya... mobil Anin terparkir juga di sisi kanan." Jawab Jovan menjelaskan.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, saya permisi ke sana ya kak." Pamit Darel penuh hormat.
"Iya, maaf saya sedang piket. Jadi tidak bisa mengantar." Ucap Jovan yang sebenarnya juga masih bingung atas kedatangan Darel yang tidak ia kenal.
Sesuai petunjuk tadi, kini mobil Darel sudah tampak terparkir di depan rumah Jovan. Nampak ayah Anin sedang menyiram tanaman di pekarangan rumah itu.
"Nak...Emil? Waaaah... apa kabar nak. Mari masuk." Ajak ayah Anin antusias dan mengajak Darel naik ke teras rumah itu.
"Kabar baik pak. Ini, Emil bawa oleh-oleh buat bapak."
"Kamu selalu suka repot-repot. Oh... iya, bagaimana kabar ibumu yang kata Anin sakit?" tanya ayah Anin yang teringat jika terakhir Anin bilang ibunya koma.
"Alhamdullilah, mama sudah sadar setelah bertemu dengan Anin pak." Jawab Darel dengan bangga.
"Apakah ibumu di rawat di Paris...?" tanya ayah Anin yang penasaran pada keberadaan anak gadisnya.
__ADS_1
"Tidak, mama di rawat di Singapura." Jawab Darel apa adanya.
"Jadi maksudmu, Anin menemui ibumu di Singapura...? Dan dia tidak benar-benar sedang berada di Paris untuk menimba ilmu...?" ayah nampak mulai tersulut emosi mendengar jawaban Darel.
"Tidak, bukan begitu. Jadi, Anin sekarang memang sudah di Paris untuk belajar. Hanya saat setelah daftar ulang, waktu itu ada libur 2 minggu sebelum masuk khursus, Anin di ajak pihak Butik MJ untuk mengadakan studi banding, karena waktu itu di Singapura ada Festival busana, apa begitu. Saya juga tidak tau pastinya. Karena saya juga tidak di sana waktu itu, karena ke Vietnam untuk melakukan perjalanan bisnis. Nah, sebelum kembali ke Paris kakak saya, Melisa pemilik Butik MJ itu mengajak Anin untuk menjenguk mama yang ternyata justru membuat kesadaran mama pulih kembali." Terang Darel pada ayah Anin.
"Jadi, Anin tidak berangkat bersamamu kan?" tanya ayah Anin memastikan lagi.
"Sama sekali tidak." Jawab Darel.
"Lalu, apa maksud kedatangan mu jauh-jauh ke sini...?"
tanya ayah Anin yang masih penasaran dengan kemunculan Darel di Desa Bumiraya ini.
Bersambung...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...