
"Mom..." Ucapnya lirih sambil membuka pelan kancing kemeja yang masih melekat di tubuh Anin.
Habis semua pakaian Anin di lucutinya, kemudian menggosok punggung juga di area lainnya dengan pelan dan lembut.
Guyuran air shower itu pun di buatnya menjadi hangat. Tidak dingin seperti saat Anin mengguyur dirinya sendiri tadi
Setelah Anin telah bersih. Tubuh itu di usapnya lembut, sangat lembut hingga kering.
Kemudian ia balut dengan handuk lalu di gendongnya sampai di tepi ranjang mereka. Mendudukannya di sana.
Membalur keseluruh tubuh istrinya dengan minyak kayu putih. Lalu memasang pakaian lengkap di tubuh yang sesunggunnya sangat ia rindukan untuk ia cumbu. Tetapi tidak untuk sekarang.
Darel pergi untuk mandi sebab ia pun basah kena guyuran shower tadi. Dan Anin masih tampak diam mematung, tanpa suara saat ia di perlakukan oleh suaminya.
"Bee..." Panggil Anin pada suaminya.
"Iya mom. Mau makan? Biar daddy ambilkan." Ujar Darel lembut mendekati Anin.
"Kenapa tadi hanya memandikan ku?"
"Lalu... mommy maunya di apain?" tanyanya sambil duduk berjongkok di depan lutut Anin.
"Ya... mungkin saja si to'ing mau main." Pancing Anin pada suaminya. Mencoba mencairkan suasana yang sedikit menegang.
"Belum waktunya Mom. Aku tidak mau menambah sakitmu. Daddy tau mom. Sakitmu di sini belum sembuh sampurna." Darel menunjuk **** ********** milik Anin.
"Dan sakit mu yang di sini lebih parah mom. Hanya Tuhan yang tau kapan hatimu benar benar sembuh karena ulah ku" Lagi Darel meletakan tangannya pada dada istrinya.
"Sudah lah Bee. Aku tidak ingin membahas itu."
Lirih sekali kata yang keluar dari bibir Anin.
"Tidak membahasnya lagi belum tentu memafaakan Mom. Bagiku itu hanya menghindar. Bahkan sampai saat ini aku belum mendengar bahwa mom telah memaafkanku. Dan aku masih merasa resah akan hal itu."
Anin masih mematung, menyadari betapa ternyata egoisnya ia.
__ADS_1
Darel kini bahkan telah berlutut mencium tapak kaki Anin sambil terus berkata.
"Pliiis mom, maafkan aku. Bantu aku menjadi satu-satunya orang yang tidak akan mengecewakanmu. Cukup percaya padaku, bahwa aku sangat mencintaimu, mom." Tangis Darel pecah di bawah kaki istrinya. Bersujud merendahkan dirinya, tanpa gengsi.
Mendadak Anin menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk tubuh suaminya dengan tangis yang tak kalah menderu dari isakan tangis Darel.
"Bee... aku memaafkanmu. Akupun meminta maaf padamu Bee. Jika bukan karena aku meninggalkanmu mungkin segala kejadian ini tidak pernah terjadi." Ucapnya yang kini posisi keduanya saling berpelukan.
"Tidak mom, kita tidak perlu mengungkit kuliahmu. Sejak sekarang kita buka lembaran ya Mom. Setelah hari ini, kita berdamai dengan hati dan pelan pelan mengobatinya."
"Terima kasih untuk semuanya ya Bee. Selanjutnya kita fokus sama baby Aluna ya Bee. Kita bersama meyakini bahwa semua ini rencana Allah untuk kita. Allah maha tau yang terbaik untuk kita."
"Terima kasih mom, jangan lelah untuk selalu sabar menghadapi aku yang penuh kekurangan ini ya mom. Bantu aku membuktikan dan mewujudkan impianku, menjadi pria yang selalu mambahagiakanmu." Pinta Darel masih dengan suara mengiba.
"Sama Bee... kita sama sama untuk saling berjuang saling membahagiakan. Dan sekarang tanggung jawab kita bertambah. Kita telah menjadi orang tua. Siap-siaplah... daddy akan menjadi yang kedua. Karena Aluna kini yang akan jadi prioritas utama kita."
"Iya... mom aku tau. Kalo aku sih sangat mengerti. Hanya mungkin to'ing saja yang susah di atur, dia punya kepala tapi ga ada otak." Darel berusaha mencairkan suasana.
"Bisa...Bee. Aku percaya to'ing bisa di kendalikan olehmu. Oh ya...Bee. Bulan september nanti aku sudah mulai ngajar. Artinya usia Aluna sudah 3 bulan ya Bee. Jadi sudah agak besar dan boleh ku tinggal kan Bee."
"Iya...Aluna terlanjur kenal dot timbang ini." Cemberut Anin sambil memegang dadanya yang semakin montok dan kencang."
"Ya bagus, jadi ga perlu gantian sama daddynya." Ujar Darel sambil meraba area itu.
"Hubby... apaan sih."
"Cuma nyentuh... kangen Mom."
"Udah aaah. Yuks kita makan, lama di sini aku bisa kamu makan Bee." ujar Anin sambil berdiri dan melangkah keluar di ikuti Darel dengan kedua tangan yang betah bertenggger di bahu istrinya.
Tepat 6 minggu baby Aluna sudah dinyatakan sehat sempurna, dengan berat badan yang sudah ideal. Maka kini bayi itu sudah bisa pulang kerumah mereka.
Anin pun tampak telah pasih menggendong Aluna, karena walau di Inkubator Anin tampak rutin datang sekedar memberi ASI nya dan menjalin ikatan batin mereka sebagai ibu dan anak.
Mama Darel tampak enggan untuk pulang dan memutuskan untuk ikut tinggal dan menginap di rumah Darel karena selalu kangen dengan baby Aluna.
__ADS_1
Suasana di rumah itu tentu saja serta merta berubah menjadi ceria karena hadirnya Aluna dalam keluarga itu.
Aluna memang bayi prematur, tetapi bukan berarti perkembangannya lambat. Terlihat dari perkembangannya di setiap hari, yang selalu menunjukan perkembangan yang semakin baik. Anin dan Darel memang telah bersepakat mengambil tenaga pengasuh bayi, untuk mengantisipasi jika nanti Anin akan mulai aktifitasnya sebagai Dosen.
Tetapi, sementara Anin masih di rumah saja. tampak semua pekerjan dalam urusan mengurus Aluna di lakukan oleh Anin sendiri.
Bayi itu sungguh sangat cepat berinteraks, terdengar ocehan-ocehan absurd nya di setiap pagi yang mampu membangunkan Anin dan Darel, karena bayi itu masih tidur di antara mommy dan daddynya.
Walau perasaan capek yang mendera pada sekujur tubuh Darel saat tiap pulang bekerja. tetap ia sempatkan setelah mandi menggendong Aluna, untuk ia ajak ngobrol.
"Kaka... udah wangi anak daddy. Siapa yang mandiin kaka sore ini...hmm? si mbak atau mommy...?" tanya Darel dengan Aluna yang baru berusia tiga bulan yang tentu saja belum bisa menjawab pertanyaan sang ayah.
"Dimandiin mommy... Dad." Jawab Anin yang masih berada di kamar mereka. Yang masih terlihat sibuk memerah ASInya untuk stok beberapa hari kedepan. Sebab rencana Anin akan kembali ke Paris untuk melaksanakan Wisuda pertanda benar-benar telah mengakhiri kuliahnya.
"Hmm... kaka enak ya. Bisa di mandiin mommy terus. Daddy udah luamaa banget lho kak. Ga di mandiin mommy." Sindir Darel sambil menyenggol kaki Anin .
"Soalnya ... mandiin kaka Aluna itu anteng. Cempung sabunan, siram, balut handuk selesai. Tinggal pasang baju." Ujar Anin yang masih asyik saja memerah ASInya.
Tanpa menyadari sepasang mata yang sedari tadi menggendong Aluna sudah berkali-kali menenguk salivanya. Membuat jakunnya naik turun.
Bersambung...
...Waw... daddy Darel udah boleh buka puasa belon nih...
...Udah 3 bulan ini si baby Aluna...
...VOTE...
...LIKE...
...GIFT...
...KOMEN...
...Yang banyak ya... š...
__ADS_1