
Kemudian Darel juga mengirim pesan pada Kakaknya, untuk mengabarkan bahwa kini ia sudah di Bandara dan dua jam lagi akan tiba di Bandung.
Pesawat yang di tumpangi Darel kini telah mendarat sempurna di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pada pukul 5 sore. Tubuh Darel yang masih terbalut pakaian kerjanya karena memang tidak sempat untuk pulang untuk sekedar mengganti bajunya. Juga tidak membawa selembar pakaian lain pun untuk berganti, tentu ia pun tak perlu mengantri bagasi.
Darel segera menelpon papanya pa Felix Simon Aswindra untuk meminta alamat rumah sakit tempat mamanya dirawat. Membutuhkan waktu 30 menit bagi Darel untuk bisa tiba di rumah sakit terkenal dan terbesar di Kota itu.
Tampak seorang pria tua yang masih kelihatan gagah, tampan dan berwibawa. Duduk di depan ruang operasi. Tampak lampu emergency masih kerlap kerlip menyala di atas pintu ruangan itu. Menandakan bahwa operasi berlangsung.
"Papa." Sapa Darel sedikit mengejutkannya.
"Wah, kamu sudah tiba Mil. Papa kira kamu baru mau terbang tadi." Jawab papa dengan raut wajah yang masih tampak cemas.
"Begitu tau kabar, Emil langsung terbang pa."
"Ya, bahkan sepertinya kamu tidak sempat pulang. Ini pakaian kerja mu kan." Tebak papanya melihat anak laki - lakinya itu masih dengan setelan jas lengkapnya.
"Dan papa juga." Ujar Darel menunjuk ayahnya yang masih berpenampilan sama sepertinya. Kemudian mereka berdua tampak saling tertawa dan berpelukan, sekedar mengalihkan perasaan cemas yang mendera di dada keduanya, memikirkan keadaan wanita yang sama sama mereka cintai sedang berjuang melawan maut di atas meja operasi.
Kemudian mereka terlibat obrolan tentang terjadinya kecelakaan yang di alami mamanya juga supir pribadi mamanya yaitu pa Dito. Yang juga mengalami luka serius namun tidak separah mamanya.
"Pa, hampir magrib. Sebaiknya papa makan dan sholat dulu. Nanti Emil yang di sini. Untuk menunggu dokter selesai menangani mama." Ujar Darel.
"Apa kamu pikir papa bisa meninggalkan ruangan ini tanpa kepastian keadaan mama mu?"
"Setidaknya sholat lah dahulu, untuk menenangkan pikiran lah Pa."
Tampak papa berpikir sejenak. Kemudian berkata : "Baiklah, papa tinggal sholat dulu. Kamu tetap di sini ya, Mil."
Darel pun menganggukan kepalanya.
Untuk mengijinkan papanya meninggalkan depan ruangan operasi itu. Darel tampak mengeluarkan ponselnya, untuk terus memberi kabar pada Melisa sesuai janjinya tadi.
Lalu Darel juga memastikan Gerald bahwa kini ia sudah melakukan meeting dangan kliennya tadi. Ya walau raganya telah di Bandung, tetapi sebagian jiwanya masih berada di Surabaya. Selain masih memikirkan pekerjaan, ia pun
sesungguhnya hanya ingin mengalihkan rasa gugup, cemas juga takutnya dengan keadaan mamanya. 30 menit berlalu, Darel masih duduk sendiri di bagian kursi tunggu ruang operasi itu. Papa pun sudah kembali dari musholla Rumah Sakit itu.
Ada guratan lebih segar dan tenang terpancar di raut wajah papa Darel, setelah melaksanakan sholat magribnya.
__ADS_1
Tak lama, tampak pintu ruang operasi itu terbuka dan nampak dokter berpakaian serba hijau serasi dengan penutup kepalanya, keluar dengan mengelap kedua tangan yang masih basah setelah di cuci selesai melakukan tugasnya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" sambar papa pada Dokter yang baru keluar itu.
"Operasi berjalan dengan lancar. Luka di kepala cukup serius, juga hempasan di bagian dada yang keras menyebabkan beberapa tulangnya patah. Kita masih terus pantau keadaanya ya Pa. Dan ibu masih belum sadarkan diri, karena pengaruh obat bius."
"Apakah kami bisa ke dalam untuk melihatnya dokter." Tanya Darel antusias.
"Silahkan, tetapi hanya sebentar. Sebab beliau masih dalam masa observasi. Maaf, saya permisi dahulu." Pamit dokter itu.
Darel dan papanya yang sudah di ijinkan masuk pun segera melangkah kedalam untuk melihat keadaan mamanya. Masih dalam ruang operasi itu, tampak banyak alat yang di pasang pada tubuh mama, juga ventilator yang masih terpasang di area hidung dan bibir mama di sana.
Papa hanya diam sembari mengelus lembut rambut dan kening istri yang sangat ia cintai itu. Sedangkan Darel memegang tangan yang masih tertancap jarum saluran infus itu lalu berkata.
"Ma, cepat sadar dan sehat ya. Emil mau tau pilihan mama dan menikah. Supaya mama tidak perlu menunggu." Ucapnya dengan mata berkaca.
Darel tidak sanggup lagi menahan kesedihannya, setelah melihat wajah pucat wanita yang sudah melahirkannya itu, nampak tenang dan kaku di atas ranjang pasien tersebut.
"Permisi Pa, maaf waktu kalian melihat pasien sudah habis. Silahkan ke bagian administrasi untuk memilih kamar untuk perawatan pasien selanjutnya." Ujar seorang perawat yang datang menghampiri mereka.
"Baik, terima kasih." Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut papa.
Darel pun langsung memilih kamar VVIP terbaik di RS itu, sama seperti ia memilihkan kamar untuk Anin di Puncak beberapa minggu yang lalu.
Darel meyakini semakin nyaman ruang yang akan di tempati mama nantinya, maka semakin cepat pulih lag keadaan mamanya. Sebelum kembali menemui papa, kini Darel yang menyempatkan dirinya untuk sholat di musholla RS itu.
Kemudian saat Darel dan papanya sudah kembali bersama di depan ruang operasi tadi.
Kembali perawat menyambangi mereka.
"Pa, kamar untuk pasien atas nama Amelia Aletha Kurnia sudah siap. Silahkan bapa - bapa ke ruangan tersebut, mari saya tunjukan. Dan pasien akan kami antar kemudian."
"Alhamdulilah, baik terima kasih suster." Jawab papa Darel.
Sesampai mereka di ruangan VVIP RS yang lebih mirip kamar sebuah hotel bintang 5 itu. Darel pun pamit keluar pada papanya.
"Pa, Darel pulang kerumah dulu sebentar mengambil pakaian ganti kita berdua ya. Papa istirahat lah sebentar, agar papa tidak sakit."
__ADS_1
"Tidak usah Mil. Papa sudah minta bi Ratna kemari membawa baju ganti dan makanan untuk kita. Tadi saat kamu mengurus kamar ini. Papa sudah menghubunginya.
"Oh, syukurlah kalau begitu." Ujar Darel yang mulai merebahkan tubuhnya pada sofa yang tersedia di ruangan itu.
Tak lama ada suara ketukan dari luar pintu. Darel pun segera membukanya, berharap itu adalah perawat yang mengantarkan mamanya. Tetapi ternyata itu Bi Ratna yang datang membawa sejumlah pakaian ganti juga makanan.
"Baik Bi, terima kasih. Bibi boleh pulang. Kami malam menginap di sini. Minta doa buat ibu ya Bi, agar segera pulih." Ujar Papanya pelan.
"Baik Pak, pasti. Kami pasti mendoakan untuk kesembuhan ibu. Saya pamit ya pak. Permisi."
Darel dan papa pun mengangguk. Kemudian mereka pun segera mandi lalu makan makanan yang telah Bi Ratna antar kan. Lalu mereka berdua tampak melaksanakan sholat Isya berjamaah.
Lama Darel dan Papanya di ruangan itu menunggu mama di antar ke ruangan itu. Tetapi tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukan hampir jam 9 malam.
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke ruang operasi tadi untuk menemui dokter.
Sesampai di sana, mereka pun bertemu beberapa perawat yang tampak keluar masuk ruangan itu.
"Keluarga pasien atas nama Ny. Amelia Aletha Kurnia." Panggil seorang perawat.
"Iya Suster."
"Bapak silahkan menemui dokter di ruangannya." Perintah perawat itu.
Darel dan papanya pun segera masuk untuk menemui dokter yang di maksudkan.
Di sana dokter menjelaskan bahwa keadaan mama belum memungkinkan untuk masuk dalam ruang rawat inap biasa. Bahkan kini beliau akan di rawat di ruang ICCU, sebab keadaan beliau masih sangat kritis dan harus di tangani dengan intensif. Pengaruh obat bius mestinya sudah habis, tetapi ada beberapa hal yang cukup serius yang membuat mama masih belum sadarkan diri. Dan itu masih memerlukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut.
...Waaah......
...ikut sedih ya buat Keluarga Darel...
...Segini dulu ya episode ini Reader....
Bersambung
...Like, komen dan vote nya...
__ADS_1
...Selalu author harapkan dari kalian semua...
...Terima kasih🙏🙏...