DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 71 : DESA BUMIRAYA


__ADS_3

Selama Jovan di tempat mertuanya. Tinggallah Anin dan ayah kini yang menempati rumah Jovan yang menurut ayah sangat nyaman ini.


Suasana pagi di Desa Bumiraya memang sangat dingin, sebab sebagian wilayah desa itu terletak di lereng pegunungan. Di Desa ini juga terdapat mata air yang terletak di perbatasan. Keadaan geografis ini tentu sangat mempengaruhi suhu dan cuaca di sekitarnya. Yang sangat terasa bersih dan sejuk.


"Anin, ayah kok merasa betah ya tinggal di sini.


Apa boleh kita habiskan akhir tahun ini di sini saja?" ujar ayah mengutarakan perasaannya.


"Alhamdullilah, jika ayah merasa senang dan betah di sini. Anin juga tidak keberatan. Tetapi kita juga harus ijin sama kak Jovan dan istrinya. Apa boleh kita numpang hidup di sini ayah." Jawab Anin setengah bercanda.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Kan Anin, sekarang hanya wajib setor desain ke Butik. Via Email juga bisa, tidak harus selalu turun. Sebagai asisten juga sudah berhenti bulan lalu. Sekarang, Anin hanya menunggu panggilan. Jika di terima khursus di Esmod. Jadi, kita punya banyak waktu di sini." Terang Anin pada ayah.


"Baiklah, nanti ayah akan minta ijin sama Kakak mu, agar kita bisa agak lama di sini."


"Stok obat buat ayah juga cukup untuk 1 bulan. Dan bisa Anin beli secara online. Sama seperti khursus bahasa yang Anin jalani sekarang juga bisa di lanjutkan secara online juga."


"Syukurlah kalau begitu. Sekalian anggap saja kita sedang liburan di desa ya Nin." Ujar ayah memandang sendu anak gadisnya itu.


"Oh, iya. Bagaimana hubunganmu dengan Emil?" tiba-tiba saja ayah menanyakan kabar tentang Darel.


"Bang Emil, mungkin baik-baik saja ayah. Sekarang Anin sudah jarang kontak dengannya. Kan ayah juga menyarankan supaya Anin tidak berhubungan dengannya."


"Iya, karena kamu bilang dia kekasih Felysia. Tetapi mengapa ayah merasa dia memiliki perasaan lebih padamu."


"Sudah lah ayah. Anin tidak merasa perlu membahas soal tentang Emil." Anin menghindar pembicaraan. Sebab ia juga merasa Emil memiliki perasaan lebih padanya. Tetapi, Anin tidak ingin seolah perasannya bertepuk sebelah tangan.


"Kamu gadis baik Nin. Jodohmu juga pasti orang baik. Ayah selalu meminta pada Tuhan, agar kamu di pertemukan dengan pria yang tulus membahagiakanmu."


"Terima kasih ayah terbaikku." Ucap Anin yang langsung memeluk manja ayahnya, yang kini benar benar telah berangsur pulih kesehatannya. Walau tidak boleh berhenti mengkonsumsi obat seumur hidupnya.


Saat Anin dan ayah berbincang di depan rumah, tampak 2 motor beriringan memasuki halaman rumah itu. Ternyata Jovan dan Istrinya sudah kembali ke kediamannya.

__ADS_1


"Barang mbak Winda mana? Bawa mobil Anin aja buat angkut barangnya, Kak..." Tawar Anin pada Jovan.


"Tuh liat, pic up pak Camat lagi menuju ke sini ngangkut barang mbak mu pindahan." Jawab Jovan sambil menunjuk ke arah sebuah pick up yang memang terlihat membawa banyak barang.


Anin dan ayah tersenyum senang melihat keseriusan mereka yang memang ingin tinggal menetap hidup bersama Kemudian terlihat beberapa orang sudah tampak menurunkan barang barang milik Winda dan membantu meletakan nya di dalam rumah sesuai instruksi dari Winda. Sepertinya, jauh-jauh hari Winda sudah merancang perabotan itu. Sehingga kini ia hanya tinggal meminta orang orang itu membantunya meletakan barang-barangnya.


Tampak Winda membawa 1 buah lemari untuk meletakan koleksi tas juga buku buku pendukung pekerjaannya, juga 1 buah meja kerja untuk perangkat mengajarnya.


Sementara di ruang tamu, yang sudah terisi 1 set kursi tamu dari kayu itu menambah kesan alami tatanan rumah itu. Ayah, Anin dan Jovan terlibat dalan sebuah obrolan.


"Kakak... katanya, ayah betah tinggal di sini. Kami boleh berlama-lama di sini?" tanya Anin yang memang masih terlihat manja pada kakaknya.


"Wah, serius Nin. Asyiiik jadi di rumah ga sepi." Winda tiba-tiba menjawab karena memang mendengar pertanyaan Anin tadi. Sambil masih mondar mandir menyusun bukunya ke dalan lemari di ruang tengah.


"Beneran boleh mbak? Apa kami tidak mengganggu pengantin baru?" ledek Anin.


"Halllaaah... kayak tau aja rasanya jadi pengantin baru. Buruan nikah Nin. Biar ada teman ngobrol sebelum tidur." ganti Jovan yang meledek Anin.


"Jovan, carikan buat adek mu. Kasian tuh, terlalu sibuk bekerja lupa pacaran." Kini giliran ayah yang meledek Anin. Dan mereka pun sama sama terbahak-bahak.


"Ayah serius Jo, ingin berlama-lama tinggal di sini. Apa boleh?" tanya ayah lagi.


"Rumah ku, ya rumah ayah juga. Jika ayah betah di sini ya Alhamdullilah, ya kan istriku?" ucap Jovan yang langsung memeluk tubuh Winda dari belakang tanpa malu-malu.


"Ih mas, malu ada ayah dan itu si jomblo." Ucap Winda sambil melepas pelukan Jovan.


"Yaah... kena lagi aku. Ntar bisa bisa ayah aja yang Anin tinggal di sini. Anin pulang sendiri saja ke Surabaya. Takut mata Anin ternoda karena ulah pengantin baru." Ujar Anin sambil tersenyum.


"Percuma ke sana, toh tetap jomblo, yang ada kamu malah lebih kesepian." Jovan makin suka meledek Anin yang terlihat mulai kesal.


"Masa bener Anin masih jomblo, mas?" tanya Winda serius seolah tak percaya dan mencari kebenaran di mata Anin.


"Tanya aja sendiri atau tanya ayah deh. Anin pernah di kencanin cowok ga siih yah?" tanya Jovan.

__ADS_1


"Pernah, tapi kencannya di malam Jumat... ha...ha...ha..." kali ini ayah yang ikut meledek Anin.


"Serius, Nin...?" tanya Jovan.


"Tau tuh si ayah, siapa juga yang kencan di malam Jumat." Elak Anin.


"Anin belum punya pacar, mbak Winda. Tapi punya TTM kata orang sekarang." Jawab ayah sok tau.


"Ciieeee... ayah, dapat istilah dari mana tuh."


Ujar Anin yang bingung dengan kemajuan pengetahuan ayahnya sebagai bukti bahwa ayahnya kini memang sudah mulai berangsur sembuh.


"Kalo emang belum punya pacar, tuh komandan mas Jovan juga jomblo kan. Bukannya kemaren curhat sama mas, minta cariin jodoh " Ujar Winda serius.


"Pak Bimo...? Kapolsek itu, kamu berani Nin?" tanya Jovan antusias.


"Berani apa an? emang mau adu karate?" jawab Anin sekenanya.


"Enggak, maksudku... Ah sudahlah. Kita beberes barang mu aja istriku. Biar Anin yang masak untuk makan malam kita." Kalimat Jovan terkesan menggantung. Tetapi Anin tidak berminat untuk melanjutkan obrolan mereka.


Sebab kebiasaan kakaknya sejak dulu belum berubah yaitu selalu suka bercanda dan meledek Anin. Dulu, Jovan tidak akan berhenti mencandainya sampai Anin menangis, saat itu ibu selalu datang untuk menghibur Anin dan selalu berkata bahwa itu bentuk rasa sayang kakak nya pada Anin. "Kak Jovan cuma bercanda, ia suka kamu tertawa dan kesal. Aslinya kakak sangat menyayangimu Nin." Tiba-tiba Anin melow dan teringat pada mendiang ibu yang sangat ia sayangi dan rindukan.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2