DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 88 : KEJUJURAN HATI ANIN


__ADS_3

Tetapi Anin hanya tersenyum kecil menanggapi kata-kata Melisa yang sebenarnya telah nyata membuatnya melambung ke angkasa.


Anin belum di ijinkan Melisa untuk kembali ke Paris, mengingat jadwal masuknya belum juga di mulai. Dan Anin pun tidak menolak akan permintaan Melisa yang memintanya tetap bertahan di Singapura.


Terlebih lagi, dokter sudah mengijinkan mama Darel untuk pulang. Karena kemarin, mama Darel sudah melakukan berbagai metode cek kesehatan, dan semuanya telah di nyatakan normal.


Kini, terlihat Anin, Melisa, bi Ratna dan Rafa juga Reya tengah duduk bersantai menunggu kepulangan mama Darel dari rumah sakit.


Diam-diam ternyata saat Anin baru masuk kamar perawatan mama tempo hari, Melisa melakukan rekaman video. Dengan maksud akan ia kirim pada Darel. Yang ternyata isinya, bahkan lebih dari yang Melisa kira, karena di sana malah terlihat sebuah tontonan yang ajaib yang malah menyimpan momen kesembuhan mama Darel.


Melisa tentu sudah mengirimkan video itu pada Darel, dan tentu di respon Darel dengan rasa syukur juga bahagia yang tidak dapat ia uraikan. Namun, pekerjaan dalam perjalanan bisnis dan perbedaan waktu membuat Darel belum bisa menghubungi mereka. Jadi, ia memilih untuk sabar, dan nantinya akan segera pulang menemui mama yang sudah sepenuhnya sembuh itu.


Keadaan mama Darel sepulangnya dari rumah sakit memang telah terlihat sangat sehat. Walaupun masih ada beberapa obat yang masih harus beliau konsumsi. Juga masih harus melaksanakan kontrol hingga 1 bulan kedepan. Dan mereka memutuskan untuk menikmati waktu untuk tinggal menetap di Singapura terlebih dahulu sampai masa kontrol tersebut.


Sore itu, terlihat tiga wanita sedang asyik bercengkrama di balkon apartemen papa Darel itu. Tampak mama Darel yang telah jatuh cinta pada Anin, enggan melepas genggamannya pada Anin.


"Anin, mengapa kamu baru sekarang menjenguk mama...?" tanya mama Darel dengan lembut pada Anin.


"Anin, malu ma." Ucap Anin yang kini sudah wajib memanggil wanita itu dengan sebutan mama atas permintaan Melisa.


"Kenapa harus malu...?" tanya mama yang juga masih di simak oleh Melisa.


Tampak Anin masih ragu untuk menjawab, tetapi akhirnya ia memilih jujur.


"Sebab... Anin bukan siapa-siapanya Bang Emil.


Saat mama kecelakaan, Felysia lah kekasih bang Emil. Bukankah waktu itu ia pun datang dan lama menjenguk mama saat di rawat di Bandung...?" tanya Anin memastikan.


"Tidak, Felysia hanya datang sekali. Lalu tidak pernah muncul lagi. Aku bahkan tidak sempat berjumpa waktu itu." Melisa langsung menyambar pertanyaan Anin.


Anin tidak berminat untuk melanjutkan dan membahas tentang waktu yang telah berlalu itu.

__ADS_1


"Ya..., sudahlah yang penting sekarang kamu satu-satunya wanita yang Emil pilih menjadi istrinya. Kapan kalian siap menikah?" tiba-tiba mama Darel dengan seenaknya berkata, membuat Anin sangat terkejut.


"Maaf ma... sebenarnya antara aku dan Bang Emil tidak ada hubungan yang lebih dari teman." Jujur Anin.


Yang kali ini ganti, membuat mama Darel yang terkejut. Dan berkata : "Jadi hingga sekarang pun Emil belum menyatakan rasa cintanya padamu...? Bahkan dalam masa tidur panjang mama kemarin, mama mendengar Emil selalu meminta mama bangun agar kalian cepat menikah." Mama mengenang masa komanya yang tentu masih bisa mendengar segala pembicaraan di sekitarnya.


"Sebentar... kata Emil. Kamu punya kekasih seorang perwira. Apa itu benar Nin?" Melisa memastikan hubungan Anin dan Bimo.


"Oh... itu. Sebelum aku berangkat ke Paris, hubungan kami sudah berakhir. Kami tidak di restui orang tua mas Bimo. Karena mereka keturunan Ningrat jadi harus menikah dengan yang sama dengan mereka."


"Waaah... kasian kamu Nin. Terus apa Emil tau kamu sudah putus...?" cecar Melisa lagi.


"Tidak, kami jarang berkomunikasi. Juga tidak pernah membahas hal seperti itu."


"Jadi...sampai sekarang Emil belum menyatakan rasa cintanya padamu. Dan sekarang ia pun menganggap kamu adalah kekasih orang lain. Yaah... ga bakalan bisa cepet nikah kalau kaya gini ma..." Melisa meluruskan hubungan mereka.


"Lalu...sekarang apa Emil masih intens menghubungimu...?" tanya mama yang sepertinya masih penasaran dengan hubungan anaknya.


Di respon dengan gelengan kepala dari mama dan Melisa yang sepertinya tidak suka dengan sikap adiknya yang sangat LOLA itu.


"Sekarang, mama minta Anin jujur pada mama..., sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Emil?" pertanyaan mama Darel sontak membuat rona wajah Anin memerah karena malu.


Anin memilih tidak menjawab. Ia merasa sangat malu untuk lebih dahulu mengakui perasannya pada lelaki pujaannya itu.


Mama dan Melisa seperti paham dengan sikap Anin yang memilih dian saja. Kemudian mama Darel berkata. " Begini saja, mama mewakili Emil. Mama jamin bahwa sesungguhnya Emil sangat mencintaimu, dan serius ingin menjadikanmu istrinya, ibu dari anak-anaknya kelak. Jadi, jika mama boleh meminta.


Sabar lah sampai Emil benar benar mendapatkan waktu yang tepat menyatakan cintanya sekaligus melamar mu. Maafkan ketidakpekaannya selama ini, sehingga kamu harus menunggu dalam waktu yang lama." Mama Darel meyakinkan Anin sambil terus menggenggam erat tangan Anin.


Anin tersentuh akan perkataan mama Darel padanya. Tetapi tetap bingung harus berkata apa.


"Ma..., minggu depan Anin sudah harus khursus di Paris kurang lebih 1 tahun lho." Ujar Melisa memberikan info pada mamanya.

__ADS_1


"Waaah... kalau begitu kesabaran kalian sedang di uji lagi. Anin, mama tidak memaksa kamu menerima Emil ku. Tetapi jika Emil adalah pria yang kau cintai, mohon setia lah selama kalian tidak saling dekat."


Ada buliran air yang tiba-tiba jatuh tanpa permisi dari pelupuk mata milik Anin. Ia tidak menyangka, bukan hanya cinta Darel yang mungkin ia dapat kan. Tetapi kasih sayang dari orang tua Darel pun begitu kuat ia rasakan.


"Ma... jujur Anin telah lama menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada Bang Emil. Karena, dia kekasih sahabatku, juga Anin sadar, Anin hanya seorang asisten, rasanya sangat tidak pantas bagi Anin untuk mengharapkan cinta seorang lelaki sesempurna bang Emil. Untuk itu, selama ini Anin hanya memendam perasaan Anin untuk tidak menunjukkan perasaan itu padanya. Mungkin itu pula yang membuat bang Emil ragu akan sikap Anin. Tetapi, karena sekarang Anin merasa mama pun dapat menerima Anin. Maka, Anin akan ikuti semua permintaan mama." Ucap Anin yang kini sudah menangis tersedu dalam pelukan mama Darel itu.


"Mama lebih tau bagaimana anak mama, selama ini kalian berdua hanya salah paham. Padahal kalian berdua saling mencintai. Mulai sekarang, tidak boleh ada rasa malu, karena perbedaan status atau apalah itu. Kita terlahir sama, hanya kadang takdir yang membuat kita tampak sedikit berbeda."


Anin melepas pelukannya dan mengangguk pada wanita yang tampak sangat menyayanginya itu.


"Tugasmu sekarang, fokuslah pada pelajaran mu. Dan tunggu saja, pangeran hati mu akan mewujudkan semua mimpimu." Janji mama Darel penuh keyakinan.


Bersambung...


...Keduluan restunya timbang jadiannya......


...šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2