DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 95 : RESTU AYAH


__ADS_3

Kemudian melotot saat melihat siapa yang melakukan panggilan VC tersebut.


"Astagaaa...!!!" Ucapnya membekap mulutnya sendiri.


Darel terkejut saat di layar benda pipih itu, tampak wajah mama terpampang di sana.


"Sayaaang mama, selamat ulang tahun ya Nak. Sehat selalu, panjang umur, semakin bijaksana, peka, rendah hati dan taat dengan perintah Allah SWT." Ucap mama yang selalu menjadi orang pertama mengucapkan selamat di hari kelahirannya.


"Amin, terima kasih malaikat tak bersayapku." Jawab Darel yang selalu mesra pada wanita yang telah melahirkannya itu.


"Sayang...lagi di mana sama siapa...?" mama mulai kepo.


Spontan Darel menarik pinggang Anin menempelkan tubuh mereka tanpa jarak dengan maksud agar terlihat pada layar ponsel itu, sambil berkata :"Di apartemen ma, sama menantu idaman mama." Ujarnya yang langsung di sambut cubitan kecil di perut Darel.


"Anin...cepat usir mahkluk hidup di sebelah mu itu nak, sebelum ia melakukan hal-hal yang dia inginkan...!" canda mama pada Anin yang tampak akrab.


"Iya ma. Ini barusan mau usir dia. Anin takut ternoda olehnya."


"Bohong ma, tadi dia yang minta aku tidur di sini. Katanya mau kasih kado ultah buat ku."


Ucapan itu di balas teriakan dan cubitan yang lebih kuat lagi, masih di bagian perut Darel.


"Udah...udah. Mil, cepetan pulang." Buru mama padanya.


"Iya...mamaku sayang. Ini tadi juga emang udah mau pulang, pas mama nelpon." Jawabnya yang sudah berada di ambang pintu.


Dan sambungan VC itu pun berakhir, bersamaan dengan kata pamit dari Darel pada Anin.


"CUP... !!! Neng, besok abang jemput lagi ya, kita kencan." Ujar nya yang sudah berhasil mencuri kecupan di dahi Anin.


Membuat Anin tidak sempat berbuat apa - apa.


Hanya bisa mengangguk tanda setuju, untuk ajakan Darel tadi.


Anin sudah berada di atas ranjangnya, memeluk kedua lututnya. Memandang lekat foto ayah di ponselnya. Entah mengapa, Anin yang sekarang telah benar benar menjadi kekasih pria pujaannya, mestinya merasa bahagia. Tetapi, justru hal itu membuat ia rindu pada ayahnya. Anin memandang jam pada dinding kamarnya, waktu Paris menunjukkan pukul 3 dini hari. Artinya di Indonesia sudah pagi. Segera ia menghubungi ayah yang sangat ia rindukan.


"Assalamualaikum ayah, apa kabar?"


"Walaikumsallam nak. Kabar ayah selalu baik. Bagaimana belajarmu, lancar?"


"Alhamdulilah lancar ayah, tiap selesai pelajaran yang di ambil kami selalu di beri waktu libur 1 minggu. Jadi, walau telah belajar keras, tentu tetap ada jeda untuk otak beristirahat." Cerita Anin seperti biasa.


"Oh...begitu. Seandainya Paris dekat ya Nak... pasti kamu akan memilih libur 1 minggu itu untuk pulang." Jawab ayah.

__ADS_1


"Bukan karena jarak yah, tapi karena mahal. He...he...he.. padahal Anin kangen sekali sama ayah." Jawab Anin mulai sedih.


"Minta calon suami mu saja belikan tiketnya, dia kan kaya..." ayah mulai bercanda.


"Calon suami apanya...?" Anin tidak mengerti.


"Itu, nak Emil. Dia sudah melamar mu lewat ayah. Beberapa bulan lalu dia menemui ayah ke desa ini." Terang ayah.


"Hah...kapan? Masa..., ayah bercanda...?" Anin terkejut.


"Beneran. Dan maaf saat itu lamarannya ayah terima tanpa persetujuan mu. Apa kamu tidak menerimanya...?" tanya ayah memastikan


"Ti...tidak ayah. Anin mau kok. Malah Anin tadinya bingung. Bagaimana bilangnya ke ayah.


Sekarang dia ada di Paris yah, makanya Anin jadi ingat ayah. Anin takut ayah marah, jika tau kini Anin bersama dia di sini."


"Dia juga sudah ijin sama ayah untuk menemuimu di sana. Mengapa harus takut sama ayah...? Takut itu sama Allah, nak.


Kalian sudah sama-sama dewasa, tentu kalian lebih tau apa yang boleh dan tidak harus di lakukan."


"Iya, ayah. Anin mengerti. Tapi, ayah setuju kan atas hubungan Anin dan bang Emil...?"


"Dari awal dia ke rumah pun, ayah tau. Jika di antara kalian saling memiliki perasaan yang lebih dari teman. Tapi, ayah lebih senang melihat hubungan kalian berproses dengan cara kalian sendiri. Seperti yang ayah pernah bilang, ayah hanya menggiring dan meniupkan pluit jika sudah terjadi pelanggaran."


"Sudahlah, ayah merestui hubunganmu. Semoga kalian berjodoh ya Nak. Ingat, jangan melewati batas."


"Iya, Insyaallah ayah. Pasti. Terima kasih untuk dukungan ayah, salam buat Kak Jovan dan mbak Winda ya...ayah, Assalamualaikum."


Anin mengakhiri panggilan telepon itu.


Lagi, Anin semakin tertegun dengan kisah perjalanan cintanya pada pria pujaan hatinya ini. Belum reda rasa senangnya saat Darel mengungkapkan isi hati dan perasaan yang sebenarnya.


Kini, ia malah diperhadapkan pada kenyataan, bahkan Darel telah melamarnya pada ayah.


"Ya Allah, begitu bertubi-tubi nikmat hidup yang kau curahkan atas hidupku. Tetaplah Engkau sebagai petunjuk arah hidupku. Ku berserah pasrah dan selalu berprasangka baik atas semua rencana-Mu ya Allah." Doa Anin di saat sholat subuh nya.


Dreet...dret ponsel Anin sangat berisik dan telah meronta ronta untuk di angkat.


Tampak nama Bang Emil tertera di sana.


"Assalamualaikum, pagi bang." Jawab Anin dengan suara yang masih terdengar mengantuk.


"Walaikumsallam, pagi...!!! Ini udah siang Neng. Abang di luar kamar niih." Jawab Darel yang ternyata memang telah berada di dalam apartemen itu.

__ADS_1


Seketika Anin meloncat dan berlari membuka pintu kamarnya, sambil mematikan sambungan telepon itu.


"Iih... abang udah cakep aja." Ucapnya dengam senyum yang sangat manis.


"Baru sadar punya pacar tampan Neng...?" tanyanya dengan penuh percaya diri.


Anin hanya tertawa mendengarnya.


"Buruan mandi, mau kencan ga siih...? Atau mau abang mandiin...?" Godanya dengan alis mata yang di buatnya naik turun.


"Emang maunya, bentar...!!! 10 menit ya." Jawab Anin kembali menutup dan mengunci pintu kamarnya, kemudian bergegas mandi.


"Neng...beneran mandi...? Bentar banget." Darel merasa belum lama menunggu wanita itu ijin mandi, sekarang tampak sudah berpakaian rapi dengan tepukan bedak tipis di wajahnya.


"Ya... kan mandi doang bang. Bukan semedi." Ujar Anin yang masih tampak terburu-buru mengikat cepol rambutnya dan hanya merapikan dengan jari tanpa sisir. Membuat Darel menggeleng melihat tingkah wanita yang ia gilai ini, yang begitu apa adanya dalam berpenampilan.


"Pantesan kulitnya coklat, mandinya bentar."


Gumam Darel yang masih bisa di dengar Anin dengan jelas.


"Abang... mau bilang Anin iteem??" tanya Anin seolah marah.


"Coklat cintaku...bukan hitam. Tapi manis. Kaya kopi susu Neng." Candanya pada kekasih hatinya itu.


Anin hanya pura-pura kesal. Sebab, kulitnya memang tidak putih seputih kulit pria pujaannya itu.


"Abang...kita kemana niih?" tanyanya yang saat mereka sudah berada di dalam sebuah mobil, yang Anin tidak tau dari mana dan mau kemana.


Bersambung...


...Kesini nya author jamin deh...


...isinya bahagea ajaah...


...Bau-bau end dah makin deket ini🀭...


...Mohon dukungannya πŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih πŸ‘πŸ’ŒβœοΈπŸŒΉ...

__ADS_1


...seikhlasnya yaa...


__ADS_2