
Dan mereka pun tampak bersama meninggalkan Kantin itu, dan naik ke lantai 3 Butik MJ untuk menyerahkan karya yang kurang lebih 3 bulan ini menjadi proyek mereka.
Tampak Anin memeluk erat satu map yang tertera angka 09 pada pojok kanan atas, karya Anin tersimpan rapi di balik plastik bersleting warna kuning keemasan sesuai pembagian panitia lomba.
Dengan mengucapkan kata 'Bismillah' Anin menyerahkan berkas itu melalui loket yang telah di tunjukkan untuk menyerahkan berkas. Tidak lupa, si penerima meminta Anin berfoto memegang berkas tersebut, untuk memastikan bahwa itu miliknya, untuk menghindari kekeliruan pemilik dan karya di kemudian hari.
Sisil, Dinda, Zeini melakukan hal yang sama di depan loket itu. Terkecuali Nicole, yang saat mereka tengah berjalan menuju lantai 3. Mendapat telepon yang sepertinya penting dan membuatnya mendadak minta ijin keluar untuk pulang duluan.
Namun itu tidak jadi masalah, sebab waktu masih tersisa 2 hari untuk mengumpul berkas tersebut.
Di awal bulan ke sebelas pada tahun itu, mereka sudah akan tau karya siapa saja yang masuk nominasi 10 besar. Sekaligus pengumuman untuk akan karya yang gugur atau tidak lolos seleksi.
Sementara di Bandung.
Kini Darel nampak sudah semakin sibuk dengan pekerjaan perusahaan raksasa di bidang garmen milik ayahnya.
Darel nampak semakin sering melakukan meeting dengan pihak lain yang ingin mengajukan kerja sama.
Dan, kini ayah Darel sudah tidak berada di Indonesia. Setelah melakukan konsultasi juga arahan dokter yang nangani mama Darel. Maka tanpa membuang waktu yang lama kini mama Darel sudah di terbangkan untuk di rawat di rumah sakit Mount Elizabet, Singapura.
Papa Darel membawa serta Bi Ratna untuk tetap memperhatikan makannya, agar kesehatan nya pun tetap terjaga dengan baik, juga pa Topik suami bi Ratna ikut serta sebagai supir papa Darel.
Sebelum berangkat papa Darel memang telah membeli 1 unit apartemen yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tersebut. Untuk mempermudah juga menjaga agar suasana tetap nyaman. Seorang Felix Simon Aswindra tidak pernah memikirkan berapapun biaya yang harus dia keluarkan untuk mendukung kesembuhan istri yang sangat dia cintai itu.
Di sisi lain, ia juga sangat lega dan bangga jika kini perusahaan yang ia miliki telah di pegang pada orang yang tepat. Beliau sangat bersyukur untuk itu semua. Walaupun sampai mama Darel di rawat di Singapura pun, masih belum menunjukkan tanda tanda untuk sadar.
Padahal retak tulang di bagian tubuh mama Darel sudah sepenuhnya sembuh. Menurut pemeriksaan dokter. Tetapi, papa tidak pernah menyerah. ia terus saja berharap dan percaya bahwa kesembuhan akan menyambangi mama Darel.
Di sela kesibukan Darel, tidak dapat ia pungkiri bahwa ada satu rasa dalam hati nya. Yaitu rindu pada Anin.
Rindu akan obrolan positifnya, rindu akan gerakan lincah Anin memetik gitar, juga tentu rindu dengan masakan Anin yang selalu cocok di lidah seorang Darel.
Sudah pada sabtu ke tiga dari pertemuannya di rumah Anin untuk makan nasi goreng bersama dan ngobrol serius dengan ayah Anin saat itu. Rasa rindu itu memang telah memuncak, sehingga akhirnya Darel memilih untuk melakukan panggilan telpon dengan Anin.
"Asalamuallaikum, Bang Emil. Apa Kabar?" jawab Anin dengan begitu ceria sebab ia pun merasakan hal serupa dengan Darel. Walau telah nyata jika Darel tak layak dimilikinya.
__ADS_1
"Walaikumsallam, girang banget dapat telpon pangeran hati ya?" canda Darel yang juga sangat senang mendapat sambutan ramah dari Anin.
"Ih, abaaaang." Ucap Anin tiba-tiba manja dan memukul kepalanya pelan sebab bingung kenapa ia berucap seperti itu.
"Kabar ku kurang baik Nin." Darel melanjutkan obrolannya.
"Kenapa?" tanya Anin dengan polosnya.
"Kangen masakan kamu." Ucap Darel seolah bercanda padahal itulah perasaan sejujurnya.
"Gombal, kabar mama abang gimana?" tanya Anin mengalihkan topik pembicaraan.
Sebab jika tidak, ia takut akan semakin terbuai rayuan rayuan pula kelapa dari Darel yang membuat lututnya lemas.
"Seperti yang kamu bilang kemaren, dan papa juga sudah konsul sama dokternya, jadi sekarang mama di rawat di Singapura, Nin." Terang darel serius.
"Alhamdullilah. Trus gimana ada kemajuan?" tanya Anin penasaran.
"Belum sih." Ucap Darel sedih.
"Sabar, semua pengobatan butuh proses kan. Mamanya abang pasti sembuh kok. Yakin saja." Ujar Anin memberi semangat.
"Iya, udah. Lega rasanya. Jadi berkurang 1 PR ku. Tinggal bikin pakaian pengantin buat Kak Jovandra dan Mbak Winda, beres deh."
"Owh, masih sibuk aja ya. Padahal aku mau kamu main ke sini Nin." Lagi Darel ingin mengeluarkan jurus jurus gombalnya.
"Ke Bandung? Ngapain. Besok juga Fely udah balik ke sini. Nyelesaikan job terakhir kami sama Agency T. Lalu selesailah semua kontrak ku bekerja dengannya." Terang Anin jujur.
"Jadi kamu berhenti kerja sama Fely? tanya Darel kepo.
"Ya, ga tau. kontrak kami kan hanya untuk 1 tahun. Kami mulai di bulan Januari artinya bulan depan selesai lah kontrak itu. Dan katanya, tahun depan dia tidak terima job dulu. Karena ingin menikah."
"Menikah, sama siapa?" tanya Darel bingung merasa sudah memutuskan hubungannya dengan Felysia bulan lalu.
"Ya sama abang lah, emang pacarnya Felysia siapa?" ujar Anin dengan gamblangnya.
__ADS_1
Darel baru menyadari jika, Anin tidak tau hubungan terakhirnya bersama Felysia.
"Tapi masa kami menikah dengan keadaan mama yang masih sakit Nin." Ujar Darel seolah membuat Anin percaya bahwa mereka masih terikat dalam satu hubungan.
"Iya, itukan rencana Felysia sebelum semuanya terjadi." Ujar Anin lagi.
"Oh, iya. Masih ada 1 job lagi, itu sama perusahannya abang. Kan kontraknya sampai bulan Februari." ujar Anin sambil mengingat jadwal Fely.
"Oh, itu rencana aku mau bayar pembatalan saja Nin. Karena, sepertinya kami tidak melanjutkan kerjasama lagi. Besok ku minta Gerald selesaikan pembayarannya."
"Bang, jangan. Itu kalo di batalin 1M lho kemarin dalam kontrak perjanjiannya." Ujar Anin terkejut, ia ingat betul dengan isi perjanjian yang ia sendiri mempelajarinya dan di tanda tangani oleh Felysia. Bahwa jika ada salah satu pihak yang membatalkan kerja sama akan di kenakan denda sebesar 1M.
"Ga apa-apa Nin. Aku malas repot. Lagi pula sekarang Gerald yang pegang perusahaan. Kerjasama Fely kan keputusanku. Dan sekarang kan bosnya udah ganti, kali aja dia punya model lain." Jawab Darel memberi alasan seolah masuk akal.
"Sayang banget duit segitu, bang. Padahal cuma 3 bulan lagi. Tapi... yah, orang kaya mah bebas." Ucap Anin terdengar kecewa.
"Ya kan lumayan buat nambah pesangon mu nanti kalo udah berhenti kerja sama Fely."
"Pesangon apaan, di gajih sesuai kontrak aja dan banyak dan besar."
"Terus nanti kalo udah ga kerja sebagai asisten Fely lagi, kamu kerja apa, Nin? tanya Darel yang masih betah ngobrol vie telepon bersama Anin.
"Ya, kan aku masih terdaftar sebagai desainer tetap di butik Bu Melisa." Jawab Anin dengan mantap.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...