DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 80 : MENGAKHIRI DENGAN INDAH


__ADS_3

Anin tidak pernah minta di lahirkan sebagai seorang Anin yang hanya berasal dari keluarga sederhana. Tetapi ia tetap bersyukur dengan ketentuan nasibnya itu.


Jika boleh memilih, tentu saja Anin ingin terlahir sebagi anak Raja, Sultan, Presiden atau sederet orang kaya dan terpandang lainnya. Tetapi, setelah mendengar pernyataan ibu Bimo, FIX Anin tidak berminat untuk melanjutkan hubungannya lebih jauh dengan Bimo. Dan Anin merasa tidak perlu menceritakan hal ini pada ayah da juga Jovan. Anin tidak mau mereka ikut merasakan kecewa seperti yang Anin rasakan saat ini.


Syukurlah jika selama ini Bimo masih berada di sekitar selasar hatinya saja. Seandainya Bimo sudah berada dalam hatinya, tentu perlu waktu lama bagi Anin untuk memulihkan sakit hatinya.


Hati Darel yang di penuhi rasa cemburu dan juga perasaan Anin yang sedikit kecewa karena perkataan ibu Bimo. Tentu membuat malam minggu keduanya terasa begitu kelabu.


Anin dan Darel, kini sudah berada di rumah masing - masing untuk beristirahat dari hari yang cukup menguras emosi mereka atas masalah yang berbeda.


Sepulang Bimo dari Solo, iapun segera menemui Anin kembali. Ia hanya memiliki beberapa jam untuk bicara dengan Anin, sebelum anggotanya kembali menjemputnya dari desa.


Bimo tampak sopan saat meminta ijin membawa Anin pergi untuk sekedar mencari suasana yang lebih nyaman dari rumah Anin. Agar mereka berdua pun bebas berbicara membahas soal perkataan ibu Bimo.


"Sayang, maafkan ibu ku sudah bicara seperti itu ya..., aku tidak mengira jika beliau..." Belum selesai Bimo bicara Anin langsung memotong ucapan Bimo.


"Sudah lah mas, aku tidak marah, aku juga cukup tau diri. Dan semua orang tua di dunia ini pasti menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya. Apalagi, mas Bimo adalah putra tunggal di keluarga Ningrat. Tentu mas harapan orang tua mas satu-satunya. Ikuti saja keinginan orang tua mas." Anin berucap panjang lebar.


"Tapi aku terlanjur jatuh cinta padamu sayang..."


"Hanya butuh kurang lebih 2 minggu bagi mas Bimo jauh cinta padaku. Aku yakin bukan hal yang sulit bagi mas untuk jatuh cinta lagi."


"Tapi, aku tidak kenal dengan wanita yang ibu ku siapkan itu." Ujarnya dengan nada kesal.


"Mas dulu juga tidak mengenalku. Kita juga butuh waktu setelahnya untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Bahkan sampai sekarang hubungan kita masih dalam tahap mengenal pribadi satu sama lain. Hanya saja, kata - kata cinta dan sayang mas Bimo terlalu mas umbar. Sehingga terasa begitu kental kaya kopi sama gula." Anin bicara dengan sedikit candaan.


Bimo hanya menghela napasnya, kemudian berkata: "Apa yang bisa ku katakan pada kakak mu jika ternyata aku tak jadi menikahimu, sedangkan di kantor pun mereka sudah mengadang-gadang tentang pernikahan kita." Ujarnya sambil menatap jauh keluar tempat mereka berada.


"Manusia hanya bisa berencana mas, Tuhan yang menentukan. Anggap saja kita tidak berjodoh. Dan jika boleh meminta, kita putus saja ya mas. Agar saat aku melanjutkan studi ku nanti, aku bisa fokus belajar." Pinta Anin yang sangat pandai mengambil kesempatan untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Bimo.

__ADS_1


"Mengapa perasaanku berkata, kamu sangat memanfaatkan momen ini untuk benar - benar berpisah denganku. Atau mungkin dari awal kamu memang tidak pernah menganggap hubungan kita ini serius...?" tebak Bimo seolah menuduh.


"Bukan begitu, siapa yang ingin main-main soal cinta bahkan aku telah menjalin sebuah hubungan dengan pria tampan, mapan sesempurna mas Bimo. Hanya aku tidak ingin mengajak mas menjadi seorang anak yang durhaka terhadap orang tua mas. Percayalah, aku pun kecewa. Tetapi mas harus yakin, pilihan orang tua tidak pernah salah."


"Aniiin... semakin kamu berkata bijak seperti ini aku makin tidak ingin kehilanganmu." Ucapnya lirih.


"Mas... aku tidak pernah hilang. Aku juga tidak membencimu. Kita masih bisa saling berhubungan selayaknya teman, sahabat atau saudara."


"Jujur Nin, kamu sangat terpukul kan, dengan kata-kata ibuku. Sehingga kamu begini siap dan sepertinya mantap untuk mengakhiri hubungan ini."


"Mas, Anin bohong jika tidak tersinggung, Anin juga tidak menampik perasaan kecewa ini. Tetapi yang ibu mas Bimo katakan itu benar, sangat jelas sekali aku memang bukan keturunan darah biru. Ya... untuk apa di pertahankan. Dari pada kita bersatu tetapi tanpa restu."


Bimo meraih dan meremas jari jemari Anin dengan lembut.


"Anin, kamu yakin untuk benar-benar mengakhiri hubungan kita...?" tanya Bimo dengan wajah memelas pada Anin.


"Yakin mas, dan mari kita mengakhirinya dengan indah. Tanpa ada penyesalan, tanpa ada dendam, dan tanpa ada sisa-sisa cinta yang akan merusak hubungan kita di masa depan dengan pasangan kita masing-masing ke depannya." Ujar Anin dengan suara setenang mungkin.


Bimo tidak dapat menahan dirinya untuk mengecup lama punggung Anin wanita yang sangat di puja nya itu. Wanita yang begitu instan menguasai hatinya. Dari beberapa deret wanita yang pernah ia pacari, Anin wanita pertama yang meminta putus dengan Bimo, tanpa ada rasa penyesalannya melepas Bimo seorang perwira itu. Selama ini yang Bimo temui adalah wanita wanita yang selalu silau dengan harta, serta penggila pangkat dan jabatan yang ia miliki. Dan Anin juga wanita pertama yang membuat Bimo penasaran akan prinsip hidup sucinya, sebab tidak hanya satu wanita, yang dengan rela dan pasrah menyerahkan dirinya begitu saja pada Bimo walau belum ada ikatan yang pasti. Sedangkan Anin..., yang sudah jelas ingin di ajaknya menikah pun, Bimo cuma kebagian mencium tangannya saja.


"Anin, terima kasih untuk kebersamaan singkat kita ya... sejak sekarang aku menganggap mu sebagai adikku saja. Tetap jaga prinsip hidupmu, jaga dirimu terutama saat belajar di negera orang. Jangan sungkan meminta bantuan mas ya, jika ada sesuatu yang terjadi pada dirimu. Dan jangan lupa perkenalkan mas dengan pria pilihanmu." Pesan panjang itu keluar dari mulut seorang Bimo yang terdengar begitu sungguh -sungguh.


Anin terharu di buatnya. "Iya, terima kasih mas, bagaimanapun mas adalah kekasih pertama bagi Anin. Terima kasih untuk perlakuan manis yang mas berikan selama kita bersama. Semoga mas bisa lebih mencintai wanita pilihan orang tua mas ya.


Jangan lupa undangannya." ucap Anin mengakhiri kata-katanya.


"Aku akan selalu mengenang mu, Nin."


"Jangan mas, tidak boleh. Itu akan menyakiti hati wanita yang akan menjadi pasangan hidup mas."

__ADS_1


"Ah... sudahlah. Menghabiskan banyak waktu dengan mu hanya membuat aku ingin berakhir di depan penghulu Nin." Ujar Bimo yang kini malah mencubit pipi Anin dengan gemas.


"Maaaas, sakit...!!"


"Iya... maaf habis aku gemas sama kamu.


Nin, maaf aku tidak mengantarmu pulang ya. Kamu bisa kan pulang sendiri. Mas langsung ke desa, pamit kan sama bapak ya...!!!" pintanya.


"Iya, siap pak komandan!" Ujar Anin yang kini dengan lega melepas kepergian Bimo .


Pria yang beberapa bulan terakhir memenuhi beranda hati Anin.


Bersambung...


...Cinta kilat pun berakhir....


...Kembali ke laptop!!!...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2