
"Ih, apaan siih. Si bos baik hati dan tidak sombong kok orangnya." Ketik Darel sambil senyum sendiri. Dan benar saja, ternyata chat dengan Anin memang bisa membuatnya lupa dengan kegalauannya tadi, ya. Walaupun hanya sebagai Gerald.
Pintu ruangan Darel terbuka tanpa ketukan, seketika muncul sebuah kepala yang nyembul dibalik pintu. "Darling... makan siang yuk." Ajak Gerald
"Masuk...aku udah pesan makanan buat kita berdua. Tunggu ojol datang aja." Jawab Darel sambil merapikan berkas yang sudah selesai di kerjakan nya.
Kemudian tak lama berselang
Vanny sekretaris Darel juga masuk tanpa mengetuk pintu, karena pintu masih dalam keadaan terbuka karena Gerald baru saja masuk.
"Pak Darel, pukul 5 sore nanti jangan lupa.
Bapak ada meeting dengan klien dari Singapura di Hotel JJ." Ujarnya sopan.
"Baik, saya sudah siapkan semua bahan yang akan saya bawakan kok. Terima Kasih ya Van." Jawab Darel ramah.
"Iya, sama - sama Pak. Permisi." Darel tampak mengangguk - anggukan kepalanya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan lagi dari luar.
"Maaf permisi pa." Ujar Vanny lagi.
"Iya ada apa?"
"Maaf, ini ada paket buat pak Gerald."
Ujar Vanny menyerahkan sebuah kotak.
"Paket? Buat aku? Salah kali, aku ga pernah pesan apa apa."
"Letakan saja di meja Van, kamu boleh istirahat sekarang." Jawab Darel melangkah menuju meja yang Vanny letakan paket tadi. "Hmm... ini pasti dari Anin." Tebak Darel dalam hati.
"Jangan bengong, ini makan siang kita. Sengaja ku pesan atas nama kamu." Ujar Darel sedikit bohong.
"Oh, pantas aku ga tau apa - apa." Gerald berucap sambil membuka kotak itu dan menemukan 2 kotak bekal makanan. "Dimana Darel dapat tempat memesan makanan dengan kemasan seperti ini.
Sepertinya ini hand made."
"Darling... "
"Apaan sih darling darling. Jijik tau."
Hardik Darel yang risih dengan panggilan itu, yang mengingatkannya dengan Felysia.
Gerald hanya tertawa melihat Darel kesal.
__ADS_1
"Dar to .... kamu punya kenalan tempat makan baru ya? Aku ga pernah tau ada warung makan atau sejenisnya yang mengemas makanannya dengan tempat bekal kayak gini. Kaya rumahan gitu." Tanya Gerald sedikit kepo.
"Uhuuk-uhuuk." Darel tersedak mendengar kata - kata Gerald.
"Iya, usahanya baru. Belum begitu berkembang. Sedang mencoba inovasi baru kayaknya, makanya perlu kita coba." Bohong Darel.
"Oh, menunya sederhana tapi dengan di kemas seperti ini, seolah olah kita kaya makan bekal yang di siapin istri ya Dar. Apa besok kalo kita menikah, kita akan petantang petenteng bawa kotak makanan juga ya, selain bawa tas kerja." Ujar Gerald sambil membayangkan masa depannya.
"Emang kamu udah tobat, udah mau nikah?"
"Ya .. iyalah Dar. Sampe kapan kita jomblo terus. Kayaknya, aku harus ngikut saran Anin deh, untuk coba kenal dulu dengan cewe rekomendasi mama."
"Kapan Anin cuci otak mu, hah?" selidik Darel.
"Itu, waktu kita di Puncak. Aku lumayan lama ngobrol sama dia. Anin itu, cara pikirnya bijaksana banget. Anaknya dewasa, juga apa adanya, selalu tampak gembira dan ramah" Puji Gerald
"Oh, jadi itu yang Anin dan Gerald bicarakan malam itu. Sebelum Anin pingsan." Batin Darel dalam hati.
"Kamu suka dia?" tembak Darel mulai merasa tidak nyaman.
"Suka lah, orangnya manis gitu." Jawab Gerald tanpa beban.
"Heh... udah ku bilang. Anin itu beda dari cewek - cewek pemuas ***** mu. Jadi jangan macam - macam sama dia."
"Yang mau macam - macam siapa?"
"Kamu bilang suka dia!!"
"Apaan siih. Perasaan lo aja. Udah ah, beresin masukin kotaknya lagi. Biar nanti ku minta ojol yang balikin."
"Iya Bos." Jawab Gerald sambil melaksanakan perintah Darel.
"Sore ini kamu ikut ya Ger. Ini bahan yang akan kita ajukan untuk kerja sama."
"Bos...gua nafas dulu bentar bisa, kaga? Habis makan ini, udah kerjaan lagi yang di tangkap." Pinta Gerald.
"Santai, selonjoran aja dulu di situ. Masih ada waktu 3 jam, untuk kita kuasai bahan. Agar kita dapat meyakinkan klien kita."
"Alhamdullilah... ini yang bikin aku susah pergi dari kamu Dar. Kamu baik dan pengertian banget jadi Bos." Puji Gerald.
Tampak Darel sibuk dengan ponselnya.
Rupanya dia sedang chating dengan Anin.
Tentang makan siangnya yang sangat enak, juga meminta alamat rumah Anin. Untuk mengembalikan kotak bekal yang di kirimnya tadi.
Darel tampak senyum senyum sendiri, ada rona bahagia tersendiri bagi Darel saat dia bisa ngobrol dengan Anin, walau hanya lewat WhatsApp.
Tiba - tiba ponsel Darel berbunyi. Tertera nama Melisa yang ia tulis dengan sebutan My Sister pada benda pipih persegi miliknya itu.
"Walaikumsalam, ada apa Kak? menjawab salam dari kakaknya itu.
__ADS_1
"Mama... Mil. Mama...!!" teriak Melisa dari seberang telepon.
"Kenapa ada apa dengan mama?"
"Mama kecelakaan Mil, kata papa mama luka parah Mil" Terdengar suara Melisa begitu panik.
"Iya, iya. Emil sekarang juga terbang ke Bandung ya. Nemenin papa. Kaka yang tenang, nanti Emil kabari keadaan mama ya kak."
"Mil... " Tangis Melisa pecah di sana
"Kak Mel... tenang ya. Emil susah berangkat kalo kakak gini."
"Iya..iya... Besok kakak nyusul ya Mil. Kamu duluan hari ini, kasian papa sendiri jaga mama."
"Iya, kak. Emil pamit ya."
"Kamu hati - hati ya Mil. Kabari kakak terus, Assalamuallikum."
"Walaikumsallam." Darel pun menutup sambungan teleponnya.
"Ger, maaf ya. Kayaknya kamu aja yang meeting. Aku harus ke Bandung sekarang. Mamaku kecelakaan, katanya sih parah. Ku ga bisa fokus kerja kalo ga liat langsung Ger."
"Oke siap. Kamu yang sabar Dar. Jangan lupa jaga kesehatanmu juga saat menjaga orang tuamu. Urusan kantor aman, ada aku yang handle, kamu tenang aja."
"Oke, makasih. Aku berangkat ya." Pamitnya pada Gerald.
Untunglah hari belum sore. Sehingga Darel masih bisa dapat tiket Surabaya - Bandung walau hanya dapat yang di kelas ekonomi. Bagi Darel bisa secepatnya berada di Bandung adalah hal terpenting.
Dalam raut wajah tenang Darel sesungguhnya menyimpan sejuta kepanikan dan ke khawatiran yang sangat hebat. Belum lagi jika ia mengingat obrolannya tadi bersama sang mama, membuat Darel merasakan sesuatu yang janggal. Buru buru Darel mengusir pikiran buruk dalam benaknya. Dan segera mencari musholla di Bandara untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Bak obat yang manjur dan mujarab, selesai melaksanakan sholat nya Darel jauh merasa tenang bisa berpikir jernih kembali. Bahkan, ia ingat jika belum membaca jawaban alamat rumah Anin untuk mengembalikan kotak bekal tadi.
Buru buru Darel meneruskan pesan itu pada Vanny, agar Vanny bisa mengembalikan kotak bekal itu pada Anin.
Kemudian Darel juga mengirim pesan pada Kakaknya, untuk mengabarkan bahwa kini ia sudah di Bandara dan dua jam lagi akan tiba di Bandung.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1