DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 23 : SISI LAIN ANIN


__ADS_3

"Udah ah Ge. Ku mau main gitar aja. Kayaknya asyik deh di belakang sambil liat pantai"


"Emang kamu bisa main gitar." Isi chat itu lagi


"Masa tadi aku bela belain bawa gitar di mobilmu, cuma buat ku liatin aja. Ya bisa lah." Balas Anin.


Berdiri lalu beranjak mengambil gitar kesayangannya.


"Fe, Aku ada di belakang ya. Pakaianmu dan lain lain sudah ku siapkan. Dan ku serahkan sama kru. Kalo ada apa apa call. Oke?" pamit Anin pada Felysia yang masih di make over pihak MUA yang di siapkan.


"Kamu ngapain di belakang."


"Menikmati pantai dengan gitar kesayangan." Jawab Anin.


Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Cintaku tanpa sambut mu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


'Ku harus milikimu


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena telah terbiasa


Sayup sayup terdengar syair lagu Risalah Hati by Dewa 19. Di nyanyikan dengan merdu bersama lentingan gitar yang dimainkan dengan apik bak pemain profesional oleh Anin. Tentu membuat Darel semakin kagum akan keahlian gadis itu.


Bukan hanya handal di bidang mendesain, ternyata di sisi lain. Anin juga pandai bermain gitar. Lagi lagi... Darel terpukau.


"Paket lengkap. Benar benar paket lengkap" Gumam Darel dalam hati.


Darel membuka sedikit pintu darurat di kamarnya menuju arah belakang. Sehingga ia bisa dengan leluasa memandangi Anin dalam kesendiriannya, memainkan gitar itu. Tentu dangan posisi masih bersembunyi.


Darel yang sedikit menggunakan sedikit trik tipu muslihat untuk mengetahui tentang Felysia sekaligus Anin. Gadis yang akhir akhir ini, sering menari nari di pikirannya. Entah sejak kapan... Apakah sejak Anin menabraknya di depan butik? Apakah saat Anin presentase sebagai desainer magang? Atau saat ia tau Anin juga sebagai asisten Felysia.


Untuk itulah Darel meminta Gerald untuk menyiapkan sebuah ponsel siap pakai, dan ia mengaku sebagai Gerald. Saat berkomunikasi dengan Anin. Sebab, Darel terlalu gengsi. Jika ia di ketahui kepo tentang Anin juga Felysia.


Anin yang sedari tadi asyik sendiri dengan gitarnya. Tentu tidak menyadari jika ada sepasang mata memperhatikannya.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Anin berdering. Ternyata itu sebuah panggilan Video Call dari kakaknya Jovandra Arseino.


"Assalamualaikum." Sapa suara lelaki di seberang sana.


Dan suara itu jelas terdengar juga oleh Darel. Yang sengaja berdiri di balik pintu, tetap untuk mencuri dengar pembicaraan Anin.


"Walaikumsallam. Kakak.....!!! Maaf, Anin tidak di rumah saat kakak datang." Ucap Anin dengan nada penuh penyesalan


"Ga papa Nin. Kamu sampai kapan di sana?" tanya Jovandra lembut pada adik kesayangannya itu.


"Insyaalloh, besok pulang Kak. Kakak sampai kapan di rumah?" tanya Anin lagi.


"Masih sampai rabu, Anin. Itu calon kakak ipar mu mau beli sovenir buat pernikahan kami nanti..." Jawabnya pada Anin.


"Oh, syukurlah jika masih sampai rabu. Artinya kita masih bisa bertemu. Aku kangen banget sama kakak."


"Iya, kakak juga kangen kamu...!! Anin, terima kasih ya. Kakak lihat sekarang kondisi ayah makin sehat, kamu pasti telaten sekali merawat ayah selama ini. Pasti uangmu juga banyak terkuras buat pengobatan ayah."


"Kakak... jangan bicara begitu. Alhamdullilah Allah masih memberikan kita kesempatan merawat ayah. Ayah juga selalu bersemangat untuk sembuh, jadi apapun metode yang Anin berikan, selalu di taati ayah."


"Alhamdulillah, kamu makin dewasa, sehat dan sabar terus ya adikku sayang. Oh, iya Anin. Kakak ijin pakai kamarmu buat Mba Winda ya. Kakak belum muhrim tidur sama dia, jadi kakak tidur sama ayah. Biar dia sementara tidur sendiri di kamarmu sampai kamu datang." Ujar Jovandra.


"Iya silahkan kakakku sayang."


"Anin, sudah dulu ya. Selamat bekerja, jaga diri mu baik baik."


Mendengar percakapan itu, Darel makin terpukau. "Artinya Anin adalah gadis yang mandiri, taat beragama, penyayang pada keluarga juga bertanggung jawab pada ayahnya yang sedang sakit mungkin itu yang membuatnya rela bekerja di dua tempat. Untuk menutupi biaya pengobatan ayahnya." Batin Darel di dalam hati. Memikirkan Anin membuat jantung nya berdegup tak karuan. Lama Darel tidak merasakan hal ini.


Mungkin yang di katakan Gerald benar. Ia telah lama menutup hatinya atas penolakan Felysia kurang lebih 5 tahun yang lalu. "Lalu apa arti getaran hatinya ini? Anin telah mampu membuka hati ku? Kenal saja belum lama." Darel bergumam sendiri dalam hatinya.


Sementara Darel tenggelam dalam pikirannya. Ternyata Anin sudah beranjak meninggalkan belakang Vila itu. Untuk bergabung pada kegiatan Felysia. Karena waktu sudah menunjukan pukul 5 sore.


Darel mengunci pintu kamarnya. Membuat secangkir Americano hangat untuk menemaninya memantau kegiatan syuting dari layar monitor di kamar itu.


Kadang kadang Darel menzoom monitor itu sekedar ingin melihat dengan intens Felysia yang di gilai nya dengan segenap hatinya di masa lalu.


Lama Darel memandangnya. Melihat semua tingkah pola yang di lakukan Felysia di tempat syuting tersebut.


Namun, bukan Felysia yang menarik perhatiannya. Tetapi tatapan kagum pada Anin, yang nampak sibuk dengan semua perintah Felysia.


Kadang ikut memindahkan properti, kadang merapikan busana Felysia, kadang memberikan minuman bahkan sampai merapikan anak rambut dan mengeringkan keringat di wajah Felysia.


"Aku yang CEO saja tidak sampai di perlakukan begitu oleh Gerald. Apakah aku kurang berwibawa sehingga Gerald tidak setunduk memperlakukan aku. Tapi, Gerald kan sahabatku. Masa aku tega jika Gerald sampai memperlakukan aku bagai seorang raja. Ciiihh... dia aja kali yang lebay." Darel seolah marah melihat perlakuan Felysia.


Masih dalam pantauan Darel, nampaknya terjadi keributan di sana. Entah siapa yang memulai keributan itu. Darel hanya tersenyum melihat Gerald yang muncul dan mencoba melerai keributan itu.


Darel mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Felysia.

__ADS_1


"Hallo , assalamualaikum!" Jawab Anin menerima sambungan telepon dari Darel melalui ponsel Felysia.


"Sambungkan aku dengan Felysia. Ada yang ingin ku bicarakan."


"Baik, sebentar."


("Fe..... Pak Darel..") Ucap Anin ke arah Felysia seraya memberikan ponsel itu.


Darel pun pura pura tidak tau jika di lokasi terjadi keributan tadi.


"Hai .... sudah mulai syuting ya..?"


"Iya.. udah mulai dari tadi." Jawabnya sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan setelah marah marah tadi.


"Ada adegan berlari ya...? Kok suara mu ngos-ngosan gitu?" tanya Darel berakting.


"Lari sih ga. Cuma aku lagi kesel aja."


"Kesel sama siapa?"


"Itu...kok pasangan ku model baru. Kan ga sebanding sama level aku Darel. "


"Ya... itu kan ga ada dalam kontrak. Kamu ga bisa milih pasangan. Dan kamu sebagai model senior harus bisa lebih baik mengarahkannya."


"Tapi ... dia belum berpengalaman jadi lama prosesnya."


"Akan makin lama prosesnya, kalo kamu kesel kerjanya." Ucap Darel sedikit memberi pengertian.


"Kamu jadi kesini ga?"


"Aku usahakan deh, demi kamu. Mungkin pagi aku udah sampe situ ya."


"Beneran?"


"Iya... kamu semangat lagi lanjut kerja ya, sampai jumpa cantik." Ujar Darel yang sangat berhasil merubah mood Felysia kembali. Dan syuting pun berlanjut.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2