
Dret...Dret
HP milik Anin berbunyi, tepat saat ia baru merebahkan dirinya di kasur miliknya. Anin baru saja ingin melepas semua kepenatan jiwa dan raganya hari ini, yang baginya sangat menguras emosinya, terutama saat merayu Darel. Dilihatnya benda berlayar pipih yang bergetar tanda ada pesan masuk itu, ada senyum tipis di bibirnya. Melihat nama GePri di sana.
"Sedang apa? Sudah tidur?" tanya Gerald alias Darel itu.
"Baru mau tidur nih bang." Balas Anin.
"Udah ngantuk benget ya..?"
"Ga juga, ada apa bang?"
"Itu, aku mau nyampaikan pesan bos. Untuk awal bulan depan jadwal Felysia kosong atau tidak. Rencana kita mau pemotretan lagi. Tapi rencananya di luar kota gitu."
"Bulan depan sudah ada jadwal bang.
Tapi di minggu ke 2 mungkin bisa."
"Kalau minggu depan?"
"Wah, kalau minggu depan. Jadwal sih kosong, tapi acara Felysia yang di Jakarta belum bisa di pastikan sampai kapan Bang." Jelas Anin yang mengira itu adalah Gerald.
"Emang... di Jakarta dia ada bisnis apa sih. Kok ga sama kamu?"
"Bukan bisnis bang, tapi acara pribadi. Makanya aku ga di ajak."
"Acara pribadi ... urusan apaan. Yang ku tau dari Darel, orang tua nya asli sini." Darel masih berakting sebagai Gerald.
"Namanya juga pribadi bang, mana aku tau."
"Urusan kencan ya...?" selidik Darel.
"Kaliiiiπ€"
"Beneran...?"
"Ga tau ah bang. Pokoknya kalo Felysia di Jakarta. Aku ga tau dia ngapain. Aku juga ga boleh ganggu dia." Jawab Anin jujur.
"Oh gitu, setau kamu. Felysia punya pacar ga sih."
"Ih abang kepo deh, dari awal kita ngobrol pulang dari Villa kan aku udah bilang, aku ga akan cerita tentang orang lain sama orang. Kecuali abang tanya nya tentang aku, baru aku tau secara detail."
"Iih Anin, ga bisa di ajak kerja sama deh.
Darel kan lagi galau... mau deketin dia lagi, tapi takut di tolak. Makanya nanya sama kamu."
"Ya bilang aja ke bos mu, usaha sendiri donk. Mereka yang mau jadian kok kita berdua yang repot sih bang." Ujar Anin santai.
__ADS_1
"Iya juga sih ya...Okelah.. selamat malam Anin."
"Iya... malam jua abang Gerald"
Darel hanya mendengus kesal melihat nama Gerald tersemat setelah kata abang itu. Entah kenapa Darel merasa panggilan abang itu begitu mesra baginya. Tapi apalah daya... itu untuk Gerald bukan untuknya.
Tidak lama ada notifikasi dari ponselnya
"Darling udah tidur?" isi chat dari Felysia,
dalam kontak HPnya di buat nama My Honey.
"Belum donk Honey." Balasnya tak kalah mesra.
"So sweet banget siiih di panggil Honey, Fely suka Darling." Ketik Anin mulai centil.
"Ku VC ya han." Balas Darel yang langsung menggeser panggilan VC ke nomor itu.
Tentu tidak diterima oleh Anin. Gila aja niih orang main VC- VC aja. Bisa kacau semuanya.
"Kok ga di angkat Han?" ketiknya.
"Malu darling, aku tidur cuma pake lingerie tipis tanpa lapisan di dalamnya." Balas Anin sembarangan.
Sejenak Darel menelan salivanya, membaca jawaban itu. Ia langsung membayangkan betapa sexy nya Felysia yang bertubuh sintal montok, tinggi putih, dan mulus itu menggunakan lingerie. Jika ada di hadapannya sekarang, pasti dia tidak akan bisa menahan dirinya.
"Waaaw...ngintip dikit boleh kan Honey...?" balas Darel tak kalah genit.
"Kecantikan mu sejak dulu sampai sekarang tuh ga berubah, malah semakin cantik. Yaah jaman culun saja aku udah jatuh cinta, apalagi sekarang kamu yang berstatus model. Tentu wajah dan tubuhmu kamu rawat dengan maksimal Honey"
"Yah... itu kan aset ku darling. Kalo aku jelek agency mana yang mau pakai aku jadi modelnya lagi."
"Minggu depan ke puncak yuu Han." Ajak Darel makin berani merayu, sebab ia rasa Fely memberi lampu hijau padanya.
"Kerja apa kencan sayang?" tanya Anin yang masih bermain peran sebagi Felysia.
"Kerja sambil kencan aja honey."
"Ya, ntar ku cek jadwal sama Anin ya sayang, tapi ... apa ga sebaiknya kita berdua saja. Biar ga ada yang ganggu." Ujar Anin yang sesungguhnya malas jika nanti akan melihat kemesraan Felysia dan Darel di tempat syuting.
"Kalo berdua dengan mu saja...aku akan khilaf Honey."
"Ya udah... khilaf saja."
"Jangan...ku lamar dulu aja. Baru kita boleh berangkat berdua." Jawab Darel
Bleep. Hancur hati Anin mendengar kata lamar itu, nampaknya Darel sangat serius menginginkannya. Artinya Felysia harus segera putus sama Dennis itu. Dan mobil seharga 2M itu jadi milik Anin dong.
__ADS_1
"Ya Allah...dosa kah yang telah ku perbuat ini. Mengapa aku seolah melakukan pekerjaan berbohong ini demi sebuah mobil?" hati Anin menolak.
"Buruan lamar aku sayang!" balas Anin lagi.
"Sabar ... kita pacaran aja belum, ha...ha...ha..." Balas Darel
"Iih... darling. Udah ya... ku tidur dulu. Mimpikan aku, ya sayang. Muaaach."
"Mat tidur juga Honey." Balas Darel.
Darel mengacak acak rambutnya sendiri. Tidak mengira Felysia yang dulu begitu sombong bisa berubah. Apakah benar dia tidak memiliki kekasih, sama sepertinya yang masih menunggu waktu untuk ia mendapatkan kembali cinta pertamanya itu.
Waktu menunjukan pukul 11 malam. Darel tidak bisa tidur memikirkan Felysia. Lalu di ambilnya HPnya untuk menghubungi Gerald.
"Heeiii...ribut banget siih. Kamu lagi di mana?"
"Hah.. ada apa Dar? Ga kedengaran, aku di club. Sini gabung, atau besok di kantor aja... urusan urgent ga?" jawab Gerald dengan nada nyaring.
"Ok... aku susul."Jawab Darel.
Darel memang pria baik baik dalam pergaulan. Tetapi bukan berarti dia tidak bisa clubing. Hanya saja di sana ia tidak minum alkohol, juga tidak bisa bermain wanita. Tidak sedikit wanita yang menggilainya di sana, tapi jika berakhir di sebuah kamar hotel pun, wanita wanita itu hanya mendapat kan uang tanpa mendapatkan keperkasaan Darel. Darel tidak pernah sekalipun mempertontonkan dada bidang dan perut sixpack nya pada wanita wanita malam itu. Hanya sebatas resleting yang terbuka jika memang ia tak bisa menahan dirinya. Namun, itu pun sangat jarang terjadi. Sebab Darel selalu dalam keadaan sadar jika berada di club. Berbeda dengan Gerald yang kemana mana harus selalu membawa pengaman, sebab sewaktu waktu bisa saja terjadi gencatan senjata.
Beberapa menit kemudian,
Darel sudah berada di club dimana Gerald berada. Terlihat Gerald sibuk dengan dua wanita di sana. Tampak satu wanita duduk berjongkok di bagian depan paha Gerald yang terbuka. Tampak satu wanita lagi sibuk melu**t bibir Gerald dengan tangan yang di kalung kan di leher Gerald.
"Gerald, kamu apa apaan siih. Ga bisa sewa kamar hotel apa?" ujar Darel marah melihat sahabatnya itu bagai manusia tak berahlak melakukan hal menjijikan itu di tempat umum.
"Udah kebelet" Jawabnya sambil tertawa dan memberi kode agar dua wanita itu menjauhinya, seraya menutup resleting celananya yang sempat di buka oleh salah satu wanita malam tadi.
Bersambung
...Ulala......
...punya teman seperti Gerald...
...Apa mungkin Darel tidak terkontaminasi readers π€π€...
...Mohon dukungannya π...
...Komen kalian...
...sangat autor harapkan lho...
...Kasih ππβοΈπΉ...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...