
"Oh iya, ya. Aku lupa kalo kamu juga kerja sebagai asisten model." Ujar Wilna lagi.
Sama halnya dengan Darel. Anin pun sebenarnya tidak mengenal 4 wanita lainnya yang bersamanya. Ia hanya kenal Wilna. Sebab yang lain adalah desainer tetap yang bekerja lepas seperti Anin sehingga mereka tidak saling kenal. Karena ajakan Gerald tadi, maka Anin dan Wilna memberanikan diri melangkah mendekati meja yang di duduki oleh Darel dan Gerald. Kebetulan meja itu panjang, sehingga cukup untuk tambahan 10 orang sekalipun.
"Duduk sini Mbak Wilna." Perintah Gerald pada Wilna dengan menepuk kursi di sebelahnya. Dan memberi isyarat dengan dagunya pada Anin agar duduk di sebelah Darel. Darel hanya diam memasang wajah datarnya, menyembunyikan rasa gugup dan hangat yang menjalar di dalan hatinya setelah ada Anin. Yang sengaja ia alihkan seolah sibuk dengan ponselnya.
Dengan ciri khas senyum manis nya, dan menganggukan kepalanya pada Darel yang duduk di sebelahnya. Anin tentu senang dapat duduk berdekatan dengan lelaki pujaannya. Walaupun ia bingung bagaimana harus bersikap pada Darel di hadapan Gerald, Wilna dan beberapa Desainer yang baru di kenalnya itu. Sebelum menikmati makanannya, Anin tampak mengambil ponsel yang sempat di dengarnya berbunyi tanda ada notifikasi pesan masuk.
"Anin, empat wanita itu siapa? Aku tidak mengenal mereka." Isi pesan di ponsel Anin yang ternyata dari Darel.
"Mereka peserta kompetisi, desainer lepas, bang." Balas Anin.
"Bisa kita tampak tidak akrab saat ada mereka? Sebab waktu kompetisi makin dekat?" pinta Darel.
"Oh, siap. Aku paham." Balas Anin.
"Anin, kapan makannya. HP melulu yang di lihat. Chat sama siapa sih?" tegur Gerald yang sebenarnya curiga dengan Anin dan Darel yang tidak saling sapa tetapi saling sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
"Oh, iya Pak Gerald. Ini baru mau mulai makan. Ini chat sama ayah, mengingatkan beliau untuk makan siang. Mari semua, selamat makan." Bohong Anin dengan ramah agar Gerald tidak curiga. Di balas anggukan dari semuanya, tak terkecuali Darel.
"Kalian dari mana? Ada acara, kok tiba-tiba barengan?" tanya Gerald di sela - sela mereka menikmati makan siang tersebut.
"Iya, tadi ada pengarahan soal ketentuan kompetisi. Minggu depan kan udah batas pengumpulan karya. Pak Emil masih masuk dalam Tim Penyaringan berkas kan?" tembak Wilna yang memang sudah terlebih dahulu kenal karena pekerjaannya sebagai sekretaris Melisa.
Darel yang di sebut namanya pun segera menjawab : "Sepertinya tidak Wil. Karena mulai minggu depan saya pindah tugas. Dan mungkin yang ikut dalam tim adalah Pak Gerald." Ujar Darel sekenanya.
"Oh gitu, tadi ga sempat di bahas oleh Bu Melisa saat pengarahan. Baru soal teknis pengumpulan saja." Ujar Wilna yang terlihat antusias sendiri mengobrol pada Gerald dan Darel.
Sedangkan Anin dan empat wanita lainnya terlihat fokus menikmati makanan mereka. Dan tampak sungkan untuk ikut ngobrol dengan mereka.
Anin ingin ikut bicara, namun di urungkannya sebab takut ketahuan yang lain jika ia malah lebih akrab dari Wilna pada kedua petinggi di perusahaan itu.
"Kenapa malah tidak bersuara?" ketik Darel lagi pada ponselnya yang ia kirim ke Anin.
__ADS_1
Anin merasakan getar pada saku baju nya, di mana ia letakan ponselnya. Dengan cepat ia membalas pesan itu. "Takut salah ngomong bang. Mending diam aja."
"Makanannya enak ga?" ketik Darel lagi yang seolah ingin banyak ngobrol dengan Anin.
Diam - diam, Gerald memperhatikan gerakan 2 orang di hadapannya tersebut yang mendadak menjadi pendiam, dan tidak saling melirik sekalipun. Tetapi saling sibuk dengan ponsel mereka.
"Enak." Balas singkat Anin.
"Masih enak masakan mu Nin. Ntar sore ku makan masakan mu lagi ya. Minggu aku dah balik ke Bandung, dan bakalan lama ga pulang." Ujar Darel lancar ngobrol melalui ponsel itu.
"Boleh." Jawab Anin singkat.
"Ya kapan habisnya itu makanan. Kerjaan mu chating melulu dari tadi Nin." Tegur Gerald. Membuat Anin sedikit gelagapan dan reflek melihat dan melotot ke arah Darel yang ada di sampingnya.
Darel pun reflek membuang muka, seolah tidak merasa bahwa dia lah yang telah mengganggu makan siang Anin. Dan pandangan itu membuat Gerald yakin, bahwa diantara keduanya memang ada sesuatu.
Muncul ide usil Gerald. "Anin, Fely di mana?"
"Oh dia, masih di Bandung mungkin sampai akhir bulan depan,karena saat itu baru ada job." Jawab Anin yang akhirnya berhasil menghabiskan makan siangnya yang baginya cukup dengan susah payah karena keadaan yang tidak enak ini.
"Iya, awal minggu kemarin dia ke Bandung. Mumpung jadwal kerjanya kosong."Jawab Anin pada Wilna.
"Kamu ga ikut, kan asistennya." Pancing Gerald sambil sesekali melihat ke arah Darel yang tampak menjaga kedataran wajahnya.
"Tidak, kan dia ke sana ada urusan pribadi. Jadi aku ga perlu ikut." Ujar Anin pada Gerald.
"Acara pribadi, mungkin seperti perhelatan pernikahan keluarga gitu ya Nin. Jadi kamu ga harus ikut." Lanjut Wilna yang lumayan kepo.
"Bukan. Itu, calon ibu mertuanya baru-baru ini mengalami kecelakaan. Jadi dia ke sana untuk menjenguk sekaligus menjaganya." Ucap Anin polos.
"Itu, mamanya bos mu, Mbak Wilna." Jawab Gerald membuat Darel mengangkat dagunya sambil mengeryitkan kedua alisnya dan memandang Gerald dengan tatapan tidak senang.
Gerald hanya tersenyum nakal ke arah Darel.
__ADS_1
"Jadi... Pak Emil dan Model itu." Belum selesai Wilna bicara.
Darel sudah tampak berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata : "Kami duluan ya. Ada beberapa urusan yang harus segera kami selesaikan." Tegasnya sambil memegang punggung kursi yang di duduki oleh Anin.
Mau tidak mau Gerald pun mengikuti Darel yang sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan tempat makan mereka itu.
"Gila, jadi itu Pak Emil CEO Butik kita? Adiknya ibu Bos. Cakep banget ya Wil." Ujar salah satu desainer lepas yang sejak tadi curi curi pandang pada Darel yang duduk di sebelah Anin.
"Iya, akhirnya kalian ketemu juga sama CEO tampan itu ya." Ujar Wilna.
"Terus, Felysia itu. Yang wajahnya sebagai ikon di Butik ini. Dan itu kekasihnya?" tanyanya lagi.
"Kayaknya, iya ya Nin?" tanya Wilna ke arah Anin.
"Yang aku tau sih gitu. Pamitnya ke Bandung buat bantu jaga mamanya Pak Emil. Makanya Pa Emil bisa ke sini." Jawab Anin.
"Yah... patah hati dong aku. Secara pacarnya model secantik Felysia. Wajah pas-pasan kayak aku mana masuk hitungan ya." Ujar Desainer yang bernama Dinda.
"Denger - denger sih, Pak Bos tuh udah jatuh cinta sejak mereka sama sama duduk di bangku kuliah dulu. Jadi semacam CLBK gitu. Makanya begitu ketemu lagi mereka langsung klik." Terang Wilna.
Anin hanya manyun mendengar penjelasan Wilna yang entah mengapa membuat hatinya sedikit perih dan geram. "Bukan hanya Dinda yang patah hati, gue juga kali." Anin berseloroh dalam hatinya.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...