DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 137 : AMPUN MOM...


__ADS_3

"Bu... ibu... jangan tidur. Jangan pejamkan matamu." Teriak seorang perawat yang juga ada untuk membantu persalinan darurat Anin.


Saat melihat Anin yang semakin lemah karena sakit yang luar biasa ia rasakan.


Serta merta Anin tersontak karena teriakan suara perawat tadi.


Juga mendengar bisikan dari suaminya dengan penuh kelembutan dan sayang di telinganya.


"Mom...berjuanglah untuk kaka dan daddy.


Aku sangat mencintaimu, mom." Ucap Darel di telinga Anin dengan sangat lembut dan mengiba.


Membuat mata Anin membeliak dengan tatapan yang Darel sendiri tidak mengerti arti pada sorot mata yang terlihat marah dan menyimpan dendam padanya itu.


Anin menarik tangan suaminya, kemudian mengigitnya kuat-kuat, bersama dengan lenguhan pasrah yang keluar begitu saja dari tenggorokannya. Dengan sisa-sisa kekuatannya Anin pun mengikuti aba-aba tiup-tiup dari dokter yang menanganinya, berakhir dengan sambutan tangis bayi yang menyeruak memenuhi kamar bersalin itu.


"Howa...howa...howa..." tangsan itu terdengar melengking mememik di saat hari mulai senja.


Sontak semua yang berada di ruangan itu bak paduan suara serentak mengucapkan "Alhamdullilah....!!!"


"Bayinya cantik... perempuan pa... bu." Ujar dokter yang menyambut kelahiran putri pertama mereka.


Susana haru langsung terasa dalam ruangan itu, tatkala suara merdu Darel mengadzani putrinya, hampir bersamaan dengan suara adzan magrib yang berkumandang.


Kemudian suasana kembali hening. Sebab, bayinya harus segara masuk ke inkubator mengingat bayi itu lahir prematur yang memiliki berat badan hanya 1,6kg.


Di tambah lagi, Anin yang lagi-lagi tampak tidak sadarkan diri setelah melahirkan juga saat di lakukan langkah selanjutnya setelah proses persalinan tadi.


Tentu saja, suasana itu kembali mencekam.


Salah satu perawat memperhatikan tangan Darel kemudian berkata : "Maaf ... permisi pak. Boleh saya bantu untuk membersihkan luka itu.?" tanyanya dengan pelan.


Sebab Darel tidak sadar jika ternyata pada panggal ibu jarinya berdarah akibat gigitan Anin saat berusaha melahirkan anak mereka tadi.


"Oh iya... silahkan. Tapi, tetap di sini saja ya sus." Pinta darel yang enggan meninggalkan Anin yang belum sadarkan diri.


Hingga pukul 7 malam Anin masih belum menunjukkan tanda-tanda sadarkan diri. Sementara Darel masih terlihat panik dan bertanya pada dokter akan kondisi istrinya.


Namun berkali pula dokter meyampaikan dengan tenang, bahwa itu reaksi biasa pasca persalinan. Terutama pada persalinan prematur seperti kasus yang Anin alami ini.

__ADS_1


Anin Sudah berada dalam ruaangan VVIP pada rumah sakit tersebut. Ayah Anin tampak masih dengan setia menemani Darel di sana, sementara papa dan mama Darel memilih untuk pulang membersihkan diri mereka.


Tampak Bi Ratih membawakan beberapa pakaian untuk ayah Anin dan juga Darel. Juga membawakan hidangan untuk santapan makan malam Darel juga ayah mertuanya.


Darel segera mandi, sholat juga makan malam seadanya dengan suasana hati yang masih gamang. Pilu akan keadaan Anin yang tak kunjung sadar, juga belum mengerti akan arti tatapan Anin sebelum melahirkan tadi. Bahkan tidak ada kata-kata yang keluar sepatah kata pun dari mulut istrinya.


Yang jika dalam keseharian mereka,


itu menandakan bahwa Anin sedang merajuk atau menyimpan suatu masalah besar yang ia belum ia sampaiakan.


"Tuan, Bibi pulang dulu. Jika ada perlu apa-apa. jangan sungkan hubungi bibi. Ini ponsel Nyonya Anin, yang dia pegang saat pingsan di depan pintu tadi." ujar Bi Ratih mengulurkan benda pipih milik istri Darel tersebut.


"Iya... makasih banyak buat hari ini ya Bi. Saya ga tau... bagaimana nasib istri saya jika bibi tidak segera melarikannya ke rumah sakit." Ucap Darel dengan tulus.


"Sudah seharusnya saya lakukan itu Tuan, juga ada bapak yang mengarahkan saya dengan tenang." Ucap Bi Ratih mengangguk hormat pada ayah Anin.


Ayah, tampak diam. Tenggelam dalam lamunannya sendiri, melihat Anin terbaring belum sadarkan diri di ranjang pesakitannya. Banyak hal yang menjadi pikiran ayah saat itu. Tapi, ia tidak memiliki daya untuk berbicara untuk mengungkapkan pikiran yang berkecambuk dalam benaknya sendiri.


Darel masih duduk di samping ranjang tempat Anin berbaring dengan berbagai alat medis yang melekat di tubuhnya, oksigen pun masih tertancap di hidung istrinya, menambah pilu pemandanngan yang di suguhkan untuk mata seorang Darel. Jujur ia masih trauma dengan semua alat-alat medit tersebut.


Terpikir olehnya untuk membuka ponsel milik istrinya itu, penasaran mungkin saja di sana ia akan mendapat jawaban atas semua yang terjadi hari ini.


Ponsel Anin memang terkunci, namun telunjuk kanan Anin adalah sandi kuncinya. Maka dengan mudah Darel membuka ponsel tersebut.


"Astagafirullahaladzim..." ucap Darel yang langsung berdiri mendekati telinga istrinya dengan isak tangis, semua rasa menumpuk di dadanya, marah, meyesal, juga mengiba.


"Mom... jangan salah sangka mom.


Sumpah Mom... itu tidak seperti yang kamu lihat Mom. Ampuun...mom.


Ampun .... ini ulah wanita itu Mom... sumpah!!! Mom aku tidak melakukan apapun dengannya. Maafkan aku mooooom.... Ampuuuun." tangis Darel pecah dengan tertunduk lesu di bawah ranjang pembaringan Anin dengan tangan yang masih erat mengenggam.


Pemandangan itu tentu menarik perhatian ayah Anin, yang kemudian melangkah mendekati keduanya dan memungut ponsel yang sudah terlempar sembanrang oleh Darel.


Ponsel itu masih menyala, tentu saja ayah langung di perhadapkan pada pemandangan yang tidak seharusnya ayah Anin lihat.


Dengan segenap kekuatan yang ayah Anin miliki, ia pun mengangkat kerah baju yang Darel gunakan dengan kedua tangannya.


Hingga tubuh Darel berdiri tegak sejajar di hadapannya. Dengan nada marah ayah bekata :

__ADS_1


"Sudah ku katakan padamu, jangan kecewaakan Aninku. Kembalikan saja Anin padaku, jika memang kamu sudah tidak mampu membahagiakannya...!!!" Nafas Ayah Anin terdengar menderu-deru antara mengasihani dirinya, marah pada menantu kebanggaannya juga sedih dengan keadaan yang menimpa anak kesayangannya.


Plak....!!!!


Sebuah tamparan mandarat sempurna pada pipi kanan Darel oleh seorang ayah yang membela nasib dan perasaan putri kesayanangannya.


Tidak ada perlawanan dari Darel, bak seorang peminta-minta, segera ia memegang kedua pergelangann kaki ayah mertuanya. Bersujud mencium tapak kaki pria yang pernah ia janjikan untuk membahagiakan putrinya.


Masih dengan isak tangis yang tidak mampu ia sembunyikan...😭


"Ampun ayah... ini tidak seperti yang terlihat.


Ini rekayasa ayah, aku di jebak ayah... percayalah... Sedikitpun aku tidak pernah ingin mengecewakan Anin. Aku sangat mencintai anak ayah... maafkan aku ayah...maaf.


Aku bisa menjelaskan dan membuktikan semuanya ...ayah. Tolong percayalah padaku." Pinta Darel dengan wajah yang sudah tidak berwujud manusia. Air yang keluar dari mata dan hidungnya pun tampak menyatu tidak beraturan di seluruh pemukaan wajahnya.


"Sungguh ayah.. tolong percayalah padaku.. Ampuuuun ayah ampun." Pinta Darel berulang-ulang kata itu ia ucapkan pada ayah mertuanya yang juga tampak bermuram durja menahan segala amarah yang meluap di dalam dadanya.


"Ada kejadian apa ini...!!!" pekik suara yang keluar dari balik pintu ruang rawat Anin.


Bersambung...


...OH NO.......


...Reader aku butuh kopi untuk menulis part ini...


...Atau sesekali bolehlah kasih aku pisau...


...Agar ku makin rasakan hati ini tersayat-sayat saat buat ini...


...wahai reader tersayangku semua ā¤ļøā¤ļøā¤ļø...


...So' jangan pelit kasih :...


...VOTE...


...LIKE...


...GIFT...

__ADS_1


...KOMEN...


...Yang banyak ya... šŸ™šŸ™šŸ™...


__ADS_2