DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 40 : MENANTU IDAMAN


__ADS_3

Nampak bu Amelia berdiri di antara keduanya. Ia nampak puas dapat menilai langsung, karakter dua wanita yang membuat anak laki-laki kesayangannya galau.


Dret ... dret HP bu Amelia berbunyi, sebuah notifikasi masuk. "Gimana Mah, ku kenalkan sekarang?"


"Nanti dulu, kita ajak makan dulu deh biar lebih lama mama menilainya."


"Oke, ini Mel kesitu lagi."


Tak berapa lama Melisa pun masuk ruang itu lagi.


"Gimana cantik, udah dapat gaunnya? Clutch dan sepatu juga boleh lo. Anin, kamu juga boleh pilih buat kamu."


Anin yang di sebut namanya pun sedikit


terkejut dan reflek menjawab. "Tidak usah Bu, terima kasih." Tolaknya.


"Sesekali jadilah pemakai, bukan hanya pencipta Anin." Ujar Melisa sambil mematut matutkan beberapa pakaian di tubuh Anin.


Sebenarnya tubuh Anin tidak kalah indah dan sempurna seperti Felysia. Hanya, karena pilihan Anin selalu jatuh pada model yang longgar dan serba tertutup. Seandainya ia menggunakan pakaian ketat pun, selalu ia tutup dengan mantel atau rompi panjang. Sehingga bentuk tubuh langsing nya tidak pernah terpampang nyata. Warna kulit yang tidak putih, memberi kesan eksotik pada Anin. Membuat ia terlihat begitu manis, bukan cantik.


Anin hanya tersenyum simpul. Dari beberapa gaun yang ada tentu ada 1 gaun berwarna merah burgundy yang menarik hatinya. Tetapi melihat harga gaun itu mencapai 5jt, Anin segera mengurungkan niatnya. Walau di beri secara gratis oleh Melisa, ia tampak berpikir. Takut di artikan memanfaatkan keadaan. Anin pun mengembalikan gaun itu ke tempat semula.


"Mbak... saya minta bungkus kan gaun ini. Jika ada kotak, buat sebagai kado." Ucap bu Amelia pada seorang pelayan butik itu.


Anin memandang nanar pada gaun yang baru saja ia kembalikan tadi, dan kini gaun itu sudah berpindah ke tangan pelayan butik untuk di bungkus. "Ternyata ibu tadi membeli gaun indah itu. Orang kaya mah bebas. 5jt ... hallo itu bisa buat beli obat ayah sebulan kaleeee." Batin Anin meronta.


"Hallo Bu. Apakah ibu juga mendapatkan gaun yang ibu suka di butik ini." Sapa Melisa pada mamanya sendiri. Seolah berinteraksi pada pelanggannya.


Bu Amelia tersenyum mengerti dengan sandiwara yang di buat oleh Melisa.


"Kak Melisa, aku bingung dengan pilihan gaun di sini. Semuanya bagus bagus, aku susah untuk memilih."


"Ambil saja 2 Fely, kalo memang susah untuk di pilih."


Jiwa matre Felysia pun berlonjak kegirangan. "Ah, yang benar saja. Kalau gitu aku pilih yang ini dan yang ini. Ini Clutch nya dan ini sepatunya." Ujar Felysia menyodorkan semuanya ke arah Melisa.


"Mbak... tolong di bungkus buat Nona Felysia." Perintah Melisa pada pelayannya.


"Fe, Anin, dan bu Amelia. Bagaimana kalau kita lanjut jalan jalan ke Mall. Aku lama jalan jalan, dan tidak punya teman." Ajak Melisa.


"Oh dengan senang hati." Ujar Felysia.

__ADS_1


Anin tampak melihat jam dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Tidak terasa hampir 2 jam ia di butik. Jika harus ke mall lagi, tentu akan memakan waktu yang lebih lama lagi. Dan Anin belum memasak untuk ayahnya.


"Maaf, bisakah aku hanya mengantar kemudian menjemput Felysia saja?" tanya Anin mengarah pada Fely dan Meli.


"Kenapa?" tanya Melisa.


"Maaf bu, tadi aku hanya ijin ke Butik pada ayah. Dan kukira hanya sebentar, jadi makanan buat ayah belum kusiapkan."


"Iya... ga apa-apa. Buruan kamu antar aku saja, lalu 2 jam lagi jemput aku." Perintah Felysia.


Ibu Amelia mama Melisa dan Darel, semakin terkesima dengan sifat Anin. "Ini menantu idaman deh kayaknya. Pantas saja cinta pertama Emil jadi goncang, setelah ketemu gadis ini. Semoga Allah menjodohkannya dengan Emil ku tersayang." Bu Amelia membatin.


Mereka pun tiba di sebuah Mall besar di kota itu. Sesuai yang Anin ucapkan tadi. Ia hanya mengantar Felysia, kemudian pulang untuk memasak, mandi dan sholat. Tak lupa pamit dengan ayahnya, jika ia masih punya pekerjaan bersama Felysia, dan mungkin akan pulang malam.


Dengan tergopoh-gopoh Anin berjalan menuju tempat di mana Felysia, Melisa dan Bu Amelia menunggunya. Mereka bertiga tampak tengah menikmati makanan yang telah mereka pesan.


"Anin, ayo pesanlah makanan untukmu."


"Aku pesan jus buah naga saja,bu. Tadi Anin sempat makan bersama ayah."


"Tadi pulang mandi ya?" tanya Bu Amelia pada Anin.


"Iya Bu, masak juga"


"Mah..?" Ulang Felysia yang sebenarnya bingung dengan kedekatan Melisa dari tadi.


Belum lagi dia juga penasaran, saat mereka belanja bersama tadi. Apapun yang di pegang ibu itu selalu di masuki Melisa ke dalam troly dan Melisa tampak membayar semua belanjaan itu.


"Astaga... dari tadi aku lupa bilang ya. Ini mamaku, baru kemarin datang dari Bandung bersama Emil." Ungkap Melisa yang sudah terlanjur bocor tadi.


Tentu Felysia tentu terkejut, karena ia sempat ketus terhadap ibu calon kekasihnya.


Anin hanya melempar senyum dan kepala yang sedikit mengangguk tanda hormatnya pada Bu Amelia yang ternyata adalah wanita yang telah melahirkan lelaki pujaannya itu.


"Waah... sepertinya para wanita sosialita sedang berkumpul di sini." Ucap suara lelaki yang tiba - tiba muncul di dekat mereka. Dan menempelkan pipinya pada pipi Bu Amelia.


"Sayang, udah makan? Ayo makan dulu."


Jawab mama pada Darel.


"Iya, ku sudah pesan kok. Kak Mel gimana siih. Punya supir kok, ga minta jemput supir aja?" Omel Darel pada kakaknya.

__ADS_1


"Kan ada mama, ntar kalo mama di Bandung juga kita ga bakal ngerepotin kamu lagi." Bela Melisa.


"Hai Fely, sudah kenalan sama mamaku?" Sapa Darel pada Felysia yang di lihatnya sejak tadi tampak kikuk.


"I... iiya. Barusan di bilangin Kak Melisa."


Jawab Felysia terbata.


"Anin, kenapa cuma minum jus? Kamu ga je..." Darel tidak melanjutkan kata katanya, takut terbongkar kejadian di puncak kemarin.


Anin yang paham pun langsung menyambar ucapan Darel. "Udah..tadi aku udah makan di rumah bareng ayah, Pak Darel." Jawab Anin sopan.


"Ayahmu sendirian dirumah?" tanya mama Darel.


"Iya, aku hanya tinggal berdua dengan ayah. Sejak SMP ibuku meninggal dunia." Jawab Anin dengan lembut sambil menatap ke arah mama Darel.


"Oh begitu. Maaf jika pertanyaan ibu membuatmu bersedih." Ujar Mama Darel sambil menepuk punggung tangan Anin yang terjulur di atas meja.


"Ah, tidak apa-apa Bu. Anin sudah terbiasa kok." Senyum Anin terkembang.


Felysia tentu sangat tidak suka melihat interaksi antara Anin dan Mama Darel. Menoleh ke arah Anin.


Anin pun mengerti lalu berdiri. "Maaf, ijin.


Saya mau ke toilet. Dan Fe, aku tunggu di mobil saja ya." Pamitnya. Sebab Anin tau, Felysia akan marah padanya. Yang baginya, Anin telah mengambil hati mama Darel sejak tadi.


"Oh, iya Nin. Silahkan." Jawab Felysia dengan cepat. Berharap dengan tidak adanya Anin. Maka, Darel akan memperlakukannya. Bak seorang calon menantu.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2