
Mereka hanya saling diam. Dan memilih untuk tidur dengan berpelukan saja sepanjang malam. Tidak ada pembicaraan soal apapun di antara keduanya.
Sebab mereka sepertinya sedang saling mengembara pada pikiran mereka masing-masing.
Lima hari berlalu pasangan suami istri itu tampak tidak seperti biasa, seolah sedang perang dingin. Tetapi Anin masih menyiapkan pakaian dan memasangkan dasi juga merapikan penampilan suaminya sebelum berangkat ke kantor. Tetap selalu menyiapkan dan menemani suaminya makan 3 kali sehari.
Sebelum berangkat bekerja pun, mereka tetap saling terlihat mesra. Namun, tidak saling bicara satu sama lain, semua di lakukan dengan kaku dan seolah semuanya hanya formalitas saja.
Anin, tidak mau terlebih dahulu untuk memulai pembicaraan, dan suaminya pun tampak menghindar untuk saling berkomunikasi.
Ketegangan itu ternyata di sadari oleh seorang papa Darel, sehingga saat Darel sudah berangkat ke kantor. Beliau memanggil Anin ke ruang kerjanya yang terdapat di salah satu sisi rumah itu.
"Anin, duduk di sini nak." Pintanya pada menantunya yang telah tampak gugup seolah aka di interogasi.
"Iya pa..." sahut Anin sopan dengan tetap memasang wajah tenang di hadapan papa mertuanya itu.
"Maaf jika papa salah, tetapi beberapa hari ini papa perhatikan hubunganmu dengan Emil sedang tidak baik-baik saja, apa kalian bertengkar...?" tanya papa dengan nada yang sangat hati-hati.
"Tidak Pa." Jawab Anin singkat yang baru menyadari bahwa pria di hadapannya ini adalah seorang pria dewasa yang tidak dapat ia dan suaminya kelabui.
"Inilah resiko jika, pasangan suami istri masih tinggal bersama orang tua, apalagi harus serumah dengan orang tua yang agak kepo seperti papa." Canda nya sekedar mengusir ketegangan di wajah menantunya itu.
"Bukan kepo pa, tetapi perhatian. dan sepertinya papa orang yang sangat peka." Ujar Anin yang sepertinya akan memilih terbuka pada papa mertuanya itu.
"Artinya benar... kalian sedang ada masalah. Jika kamu percaya pada papa, silahkan kamu katakan masalah kalian, tetapi jika memang kalian bisa selesaikan sendiri lakukan dengan cepat dan kepala dingin. Tidak baik terlalu lama menyimpan kemarahan dan kekesalan nanti berujung kepahitan. Papa tidak bermaksud ikut campur, hanya meminta selesaikan semuanya dengan baik-baik. Tadi malam papa juga sudah bertanya pada Emil, dan jawaban kalian sama. Bahwa kalian baik-baik saja. Tetapi papa tau, kalian sedang menutupi sesuatu saja. Papa hargai keputusan kalian untuk mencari solusi apapun masalah kalian berdua. Tapi tolong... jangan lama meyelesaikannya." Ujar papa yang sama sekali tidak memaksakan kehendaknya untuk ikut campur lebih jauh urusan rumah tangga anak dan menantunya.
"Iya, secepatnya akan kami selesaikan pa." Jawab Anin yang sudah memilih berdiri untuk meninggalkan ruang kerja itu.
__ADS_1
Darel mengajak Anin keluar, untuk melihat perkembangan pembangunan rumah impian mereka berdua. Tampak Darel begitu detail dan terperinci sekali dalam hal menata bagian-bagian dalam rumah mereka itu, yang memiliki lantai 2, di bagian bawah terdapat 3 kamar tidur, ruang keluarga, ruang tamu juga dapur, dan di lantai atas ada 2 kamar, kolam renang, ruang olahraga juga ruang kerjanya. Di bagian luar terdapat gazebo yang di bawahnya terdapat kolam ikan, di kelilingi taman bunga juha beberapa jenis buah di sana.
"Gimana mom...suka?" tanya Darel yang selalu bersikap mesra dan manis pada istrinya.
"Apa yang tidak aku sukai dari pilihan dan pengaturan suamiku...? Semuanya tampak sempurna dan nantinya tentu sangat indah Bee."
"Untuk interior dalam nanti mom yang atur ya... agar sesuai dengan selera istriku sayang ini." Ujarnya sambil memegang kedua pundak istrinya.
"Pilihanmu pasti akan selalu baik dari pilihanku, lakukan saja sesuai kehendakmu, Bee." Ujar Anin dengan suara pelan.
"Jangan begitu, aku tidak mau mendominasi keputusan dalam rumah tangga kita mom. Kamu tetap harus mengungkapkan yang kamu mau. Sama halnya dengan pengambilan keputusanmu tentang tawaran dari Esmod Paris." Ujarnya yang kini lebih menjurus ke permasalahan mereka beberapa hari terakhir.
"Ah soal itu. Sudahlah, kita tidak perlu membahasnya, anggap saja notifikasi itu tidak pernah ada Bee. Hanya membuat kita saling canggung dan kaku." Jawab Anin menunduk menyimpan rasa pedih yang menyeruak dalam hatinya.
"Tatap mataku mom. Katakan perasaanmu yang sesungguhnya." Ucap Darel sambil mengangkat dagu istrinya pelan.
"Lanjutkan saja kuliahmu, jika itu yang kamu inginkan. Aku mendukungmu, aku mengijinkan mu, dan selalu setia menunggu kepulangan mu lagi.
Tidak aa jawaban dari Anin, hanya dada Darel terasa basah akibat air mata yang keluar dari kedua matanya saat kepala itu masih terbenam di dada suaminya.
"Kamu menginginkannya bukan...?" tanya Darel dengan sangat lembut tepat di telinga istrinya.
Ada anggukan kecil dari Anin.
"Mungkin cinta kita akan di uji kembali oleh jarak dan waktu mom. Dan aku siap akan ujian ini." Ujar Darel dengan tegas.
"Tapi... mungkin aku yang tidak sanggup jauh dari suamiku." Ujar Anin manja.
__ADS_1
"Mom lupa, telah menikahi seorang CEO kaya yang bisa kapan saja menemui istrinya...?" ucapnya setengah bercanda.
"Aku tau itu, tapi apa suamiku tidak sadar jika ia tak hanya kaya, tetapi tampan juga...? Aku tidak sanggup menerima kenyataan jika suamiku tidak setia pada ku." Jawab Anin sambil menghapus air mata nya.
"Itu tidak akan terjadi mom, aku janji. Kamu sudah ku tetapkan menjadi cinta terakhirku, mom terlalu sempurna menjadi istriku, tidak ada alasan untuk aku berhenti mencintaimu."
"Jangan gombal Bee. Itu terdengar seperti sebuah syair lagu lagu romantis saja. Belum tentu keluar dari hatimu." Anin meragu.
"Terserah jika kamu tidak percaya. yang pasti aku telah berjanji akan membahagiakanmu. Dan jika melanjutkan kuliah adalah bagian dari bahagia mu. Silahkan raih kebahagiaanmu, aku tidak ingin menjadi orang yang menghalangi keinginanmu. Dan satu lagi, aku sangat percaya bahwa istriku bisa menjaga hatinya hanya untukku seorang, walau apapun dan siapapun yang akan datang menggodanya."
"So sweet nya suamiku. Entah lah Bee, sepertinya aku masih perlu waktu untuk berpikir lagi. Keputusan ini terlalu sulit bagiku. Jujur aku menginginkannya, sebuah kehormatan bagiku bisa mendapat beasiswa itu. Dan aku yakin, aku adalah salah satu dari seribu orang yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan langka ini. Tetapi, menjadi istri yang berbakti dan melayani suami juga menjadi impian bagi semua wanita." Jujur Anin pada suaminya.
"Hmm... aku tau. Sebenarnya kamu telah candu pada si to'ing kan mom...? Sehingga kamu kini selalu ketagihan, malam ini kita tidak pulang kerumah. Kita menginap di hotel saja malam ini. Untuk mengubah suasana, kali aja bisa jadi anak." Ujar Darel yang tidak menunggu jawaban dari istrinya, dan langsung menggendong istrinya menuju mobil.
Bersambung...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...