
Ketika Anin baru saja hendak keluar untuk berbelanja keperluan dapurnya, Anin terperangah tatkala tubuhnya hampir saja bertubrukan dengan sosok tubuh seseorang yang membuatnya kaget setengah mati.
Mendadak Anin meloncat, menghambur kedalam pelukan suaminya yang sama sekali tidak memberi kabar sebelumnya, jika akan datang lebih awal dari yang ia jadwalkan.
"Bee... kenapa bisa datang lebih cepat dari yang kamu katakan?" tanya Anin setelah melepas pagutan singkatnya pada suami yang sangat ia rindukan itu.
"Kenapa... ga suka aku datang lebih awal?" tanya Darel yang masih enggan melepas pelukannya pada istri yang selalu membuatnya rindu itu.
"Ya senang sekali... banget Bee." Jawab Anin dengan ceria.
"Mom...tadi mau keluar?"
"Iya... stok bahan makanan ku hampir habis Bee. Maklumlah sekarang sudah masuk musim dingin, aku malas sering sering keluar.
"Tunda dulu belanjanya, nanti kita makan di luar saja. Kita urus kebutuhan utama ini dulu." Ujar Darel yang sudah tampak menggendong tubuh istrinya masuk ke kamar mereka.
"Mandi dulu Bee... sebentar ku siapkan air hangat untukmu." Ujar Anin yang sudah berhasil turun dari gendongan suaminya itu.
"Mandi bareng saja Mom." Pintanya dengan suara yang terdengar manja dan susah di tolak oleh Anin.
"Tapi aku baru saja mandi Bee." Jawab Anin yang kini justru telah di tarik Darel kedalam kamar mandi dan langsung ia gendong lagi masuk ke dalam bath up yang belum terisi penuh itu, masih dengan pakaian lengkapnya.
Anin tertawa bahagia diperlakukan begitu oleh suaminya, sangat terasa di sana rindu dan nafsu yang menderu menjadi satu. Sebab mandi bersama itu hanya modus, karena sesungguhnya mereka sama sama memiliki hasrat terpendam untuk saling melebur menjadi satu yang tidak cukup sekali untuk mereka lakukan hingga puas dan lelah menghampiri keduanya.
Darel dan Anin kini telah tampak berada di Lassere Restaurant, sebuah restauran yang menghidangkan aneka hidangan tradisional seperti merpati panggang atau bebek bumbu dan wine istimewanya.
Berada di sana tentu saja mata mereka di manjakan dengan pemandangan klasik dan super mewah di dalamnya.
__ADS_1
Raut wajah bahagia tak pernah lepas dari keduanya, tatapan mata mereka pun masih sama seperti saat mereka memutuskan tidak lagi berjalan sendiri. Masih sangat terasa begitu hangat dan saling mendambanya kedua pasangan suami istri tersebut.
"Bee... apakah kamu di sini hingga awal tahun? tapi ini Baru bulan Nopember." Anin sedikit bingung akan kedatangan suaminya yang lebih cepat sebulan dari janjinya.
"Aku kesini untuk perjalanan bisnis mom, aku ingin menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan disini. Dan setelah aku dapat meyakinkan perusahaan itu untuk bersedia menjadi patner bisnisku, aku segera pulang. Aku kesini juga bersama Nindy sekretarisku." ungkapnya jujur pada Anin.
"Oh ya... mana dia. Mengapa kamu tidak mengajaknya bertemu dan berkenalan denganku Bee?" permintaan itu lebih terdengar seperti sebuah rengekan.
"Ya di hotel lah... masa aku harus membawanya tidur di apartemen kita juga. Dia berangkat bersama suaminya, anggap saja mereka bekerja sambil honey moon."
"Bertemu bukan berarti harus menginap juga Bee, hanya berkenalan saja. Oh iya, aku juga sebenarnya ingin memperkenalkan mu dengan seorang temanku di sini. Dia sosok wanita hebat di mataku Bee, dia banyak membantuku terutama dalam menyelesaikan beberapa tugas, juga ia selalu sabar seolah dosen pembimbing saat kini aku mulai menggarap tesis ku." Terang Anin yang memang sangat ingin memperkenalkan Santy pada Darel, karena kebaikan Santy selama ini padanya.
"Ya... kapan-kapan ya Mom. Soalnya kali ini aku bukan hanya sekedar menemuimu tetapi kali ini aku bekerja."
"Iya suamiku sayang, itu bukanlah hal yang penting. Aku mengerti tujuan mu kesini adalah agar isi rekening mu tetap gendut."
"Oh... iya nih mom. Rumah kita sudah selesai. Terpaksa bagian luar dan segala isinya aku yang mendominasi nya, nanti jika pilihanku tidak sesuai kehendakmu. Kamu boleh menggantinya." Ucap Darel menunjukkan beberapa foto dalam ponselnya.
"Wow awesome... istriku semakin pintar di sini. Tidak sia-sia hampir dua tahun aku tersiksa rindu, ternyata semua ilmu mampu di serapnya. Untuk itu mom layak di beri hadiah atas prestasi ini." Ujar Darel yang sudah berdiri meraih jemari dan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya yang masih sangat ramping itu untuk mengajaknya pulang.
"Mom...mengapa pinggang ini terasa semakin kecil, kamu diet...?" tanyanya saat tangan itu masih melingkar bahkan sampai kini mereka sudah di depan apartemen mereka.
"Bukan diet, hanya sedikit menjaga pola makan Bee. Aku sudah mulai mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung penyubur kandungan. Sebab di bulan ke lima tahun depan... jika Allah mengijinkan kuliah ini akan selesai. Dan sesuai janjiku. Aku ingin segera memiliki anak bersamamu Bee."
"So sweet... terima kasih ya mom. Aku juga sudah tidak sabar ada yang memanggilku Dady selain si kembar Rafa dan Reya." Darel menghujani istrinya dengan ciuman bertubi-tubi pada tiap inci wajahnya dengan gemas.
"Di sini aku juga menyempatkan ke dokter kandungan, untuk memastikan keadaan rahim ku, agar kita benar-benar akan mendapatkan keturunan yang sehat bahkan sejak rencana pembuatan. Aku di juga di berikan beberapa vitamin penyubur dan di ajarkan bagaimana menghitung masa suburku." Terang Anin yang sementara berbicara pun sudah tampak polos tanpa busana karena ulah suaminya.
__ADS_1
"Apa mom tidak sekalian meminta dokter meresepkan obat kuat buat si to'ing mom...?" Ujar Darel bertanya dengan posisi memiringkan badannya menumpu kepalanya pada satu siku tangannya.
"Apa menurutmu to'ing memerlukan obat semacam itu. Tanpa obat pun, aku masih sering merasa kewalahan mengimbanginya." Wajah Anin terlihat memerah karena malu setelah mengakui perasaannya pada suaminya sendiri.
"Apakah aku sedang mendengar sebuah pujian atau sebuah pengakuan dari istriku...?" tanya Darel yang sudah mulai sibuk menjelajahi bagian-bagian favoritnya pada tubuh Anin.
Tidak ada kelanjutan obrolan dari keduanya, sebab kamar itu kini telah di penuhi dengan suara desahan, lenguhan erotis bersahutan dari keduanya menambah suasana panas dan nikmat yang mereka berdua rasakan.
Pemandangan pagi itu tampak begitu indah, saat anin merapikan pakaian dan dasi suaminya serta memasang jas pada tubuh suaminya.
Setelah keduanya menghabiskan sarapan mereka berdua. Sempurna.
Anin yang pagi itu pun sudah berdandan rapi siap untuk berkonsultasi pada dosen pembimbingnya seputar tentang Tugas Akhir masa kuliahnya.
Keduanya pun tampak saling berpelukan keluar dari apartemen itu, menuju bagian luar gedung apartemen itu.
Dari dalam sebuah mobil tampak sepasang mata seorang wanita dengan sorotan penasaran memandang ke arah dua pasangan suami istri harmonis itu. Kemudian keluar untuk menyapa mereka.
Bersambung..
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
__ADS_1
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...