
Dan saat Fely dan Darel masuk, barulah papa mulai mencari tempat untuknya menikmati makan malamnya.
Didalam ruang ICU, Darel dan Fely tampak menggunakan pakaian steril yang telah di siapkan pihak rumah sakit, untuk menjaga kondisi pasien agar terhindar dari virus yang akan menambah buruk keadaan pasien.
Felysia yang memang adalah seorang aktris, tentu bukan hal yang sulit baginya untuk sekedar berakting memasang muka sedih dan pilu.
"Ma, ini Fely jauh - jauh datang menjenguk mama. Mama masih ingat dia kan?" ujar Darel ketika sudah dekat ranjang mama.
Mama Darel tetap tidak merespon kehadiran Fely diantara mereka, bagai pulas dalam tidur yang panjang, wajah mama tampak tenang walau masih di bantu dengan peralatan medis.
"Mama, kenapa mama jadi begini sih, Dar? Apa kalian sudah menuntut pelaku yang menyebabkan mama menjadi korban begini?" ucap Felysia dengan nada marah.
"Bagi kami ini adalah musibah, mama masih bisa bernafas walau masih dalam keadaan koma pun bagi kami adalah anugrah yang masih Tuhan percayakan untuk kami sekeluarga." Jawab Darel lirih.
"Mama, mama masih ingat Fely kan ma. Cepat sadar mah, cepat sehat kasian pekerjaan Darel jadi terbengkalai karena harus menjaga mama terus - terusan." Cerocos Felysia yang bagi Darel itu menyinggung perasaan mamanya.
"Fely, sebaiknya kita bicara di luar saja. Tidak baik jika ia terlalu lama mendengar ocehan mu yang tidak jelas ini."
Darel pun menarik tangan Felysia untuk keluar karam mama berada. Dengan wajah bingung Felysia mengikuti Darel untuk melangkah keluar sembari melepas pakaian yang melekat di tubuhnya, sehingga kini kembali pakaian ketat dan minim yang di pakai Felysia terpampang nyata yang membalut tubuh sexy nya. Mereka hampir saja bertubrukan dengan papa yang juga ingin masuk ke kamar mama.
"Pa, Emil antar Felysia ke depan dulu ya, dia buru buru mau pulang. Pamit Darel pada papanya, yang hanya di balas anggukan.
"Darel, kamu apa - apaan sih. Aku masih ingin lama - lama liat mama kamu."
"Ucapan kamu tuh ga penting ngadepin orang sakit. Aku aja ga keberatan ninggalin kerjaan, kenapa kamu yang sewot!" marah Darel pada Felysia saat mereka sudah berada di sebuah taman di area Rumah Sakit itu.
"Oh jadi kamu ga sadar, gara - gara mama kamu kecelakaan. Kamu tuh udah cuekin aku tau ga? Aku ini kekasih mu Darel, ini apa artinya kamu kasih aku gelang ini, kalau kamu ga serius sama aku. Apa kamu kira hubungan kita main - main hah?" ujar felysia balas marah pada Felysia.
__ADS_1
"Oh, jadi karena ku kasih gelang itu, kamu kira aku akan segera menikahi kamu.Dan akan menomor satukan kamu di atas segalanya? Kalo gitu sejak sekarang kita putus. Aku akan menghapus nama kamu dalam hatiku, selamanya!"
"Hei, tidak semudah itu Dar. Kamu lupa betapa dulu kamu menggilai ku. Kamu sendiri yang bilang, jika aku cinta pertamamu dan aku juga tau setelah itu kamu bahkan tidak bisa jatuh cinta lagi pada gadis manapun, jangan kamu dustai hatimu Darel. Kamu tidak bisa hidup tanpaku." Ujar Felysia masih dengan nada suara yang meninggi.
"Hahaha... cinta pertama. Aku menyesal pernah tergila - gila padamu. Saat itu aku masih labil dan kini aku telah mati rasa padamu. Jadi, sampai di sini saja kisah kita Fely." Ucap Darel datar.
"Kamu kira semudah itu bisa melepaskan perasaanmu terhadap ku. Come On baby, akuilah, jujur saja pada hatimu, jika kamu bahkan akan menyesal pernah ingin mengakhiri hubungan kita ini." Kini suara Felysia mulai melunak dan kini ia memeluk tubuh kekar Darel. Yang segera di tepis leh Darel.
"Jangan sentuh aku. Dan tolong pergi jauh dari hidupku. Terima kasih pernah menjadi cinta pertamaku. Dan untuk kontrak kerja kita, aku akan memberikan kompensasi untuk pemutusan kerja sama. Nanti Gerald akan mengurus semuanya."
"Tidak aku tidak terima. Hanya karena kata - kata ku tadi, masa kamu begitu tersinggung. Itu hanya masalah kecil sayang, berbaikkanlah."
"Masalah kecil pun akan menjadi besar jika dari sekarang cara pandang kita berbeda. Aku yakin aku tidak akan pernah bisa sejalan dengan pikiranmu."
"Tidak mau, pokoknya aku tidak mau." Ujar Felysia masih memegang tangan Darel manja.
"Apa maksudmu?" ujar Felysia terbata
"Aku sudah tau semuanya. Dennis, hiduplah dengan baik bersamanya." Ujar Darel sambil mendusel kepala Felysia dengan lembut dan meninggalkannya mematung di sana.
Felysia tidak habis pikir, mengapa Darel sampai tau tentang hubungannya dengan Dennis.
Tetapi untuk pulang ke Surabaya pun ia merasa enggan dan malu. Apalagi pada Anin, sudah dengan Pe-De nya ia pamit akan mengurus calon ibu mertuanya. Tetapi malah kata putus yang di dapatnya dari seorang Darel. Maka di putuskan nya untuk menginap 1 malam di Bandung, dan keesokkan harinya ia memilih untuk menunggu kepulangan Dennis di Jakarta. Mungkin takdir memang menuntunnya untuk benar benar hidup sebagai istri ke tiga dari seorang Dennis Adskhan.
Selama ia bersama Darel pun, ia tidak merasakan getaran cinta yang kuat seperti yang ia rasakan pada Dennis. Darel pun tidak pernah merespon setiap belaian hangatnya. Apalagi kasih sayang, tidak pernah sekali pun.
Bagi Felysia Darel hanyalah obsesi, bukan cinta. Karena itu ia tidak begitu terpuruk saat Darel memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang telah hampa dan kosong itu. Darel kembali masuk ruangan tempat mama di rawat, tampak papa masih setia duduk sambil terus mengelus sayang tangan istrinya.
__ADS_1
"Apa hubungan mu dengan wanita tadi Mil?" tanya papa saat Darel pun kini mengambil kursi untuk duduk di dekat kaki mama, sambil mengurut kecil telapak kaki mamanya.
"Teman Pa." jawab Darel singkat.
"Benar hanya teman, tetapi perasaan papa berkata lain. Apakah dia salah satu wanita yang mama ceritakan pada papa?"
"Apakah mama juga bercerita tentang mereka?" tanya Darel setengah terkejut bahwa ternyata ia sempat jadi trending topik dalam keluarganya.
"Apa yang bisa mama tutupi dari papa. Dan apa yang mama tidak tau tentang papa? kami adalah satu jiwa Mil. Kami adalah suami istri. Kami sudah terikat dalam satu ikatan pernikahan, dimana dalam ikatan itu tidak ada jarak sedikitpun. Kami dua raga yang memiliki satu hati. Maka, jika salah satu dari kami sakit, maka bagian lainnya pun akan merasakan sakit. Demikian juga dengan rasa bahagia, maka kami akan sama sama merasakan hal yang sama. Besar harapan papa, kalian kelak juga menemukan belahan jiwa yang benar benar tepat seperti kami. Dimana ikatan itu telah mengikat batin kami antara satu sama lain. Jika wanita tadi adalah salah satu bagian dari pilihanmu. Naluri kelelakian papa bangkit dan berkata dia tidak pantas untukmu. Jika, kemarin mama berkata padamu dia tidak bisa membantumu memilih, maka kini papa yang ingin menegaskan padamu, papa tidak merestui mu untuk memilih dia." Ucap papa panjang lebar dan terdengar sangat tegas.
Reflek Darel berdiri mengambil tisue untuk menyeka air mata yang tiba - tiba mengalir dari sudut pelupuk mata mama.
"Kenapa Ma, mama setuju kan dengan ucapan papa tadi. Mama terlalu sungkan untuk memilih calon menantu, mestinya mama langsung jujur saja pada Emil. Ayo lah sayang, cepat bangun, nanti keburu Emil salah pilih istri." Ucap papa setengah bercanda berbicara sendiri dengan istrinya yang kini hanya dapat menangis untuk merespon setiap kalimat yang dapat ia dengar.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...