DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 112 : MERASA TAK BERGUNA


__ADS_3

Bee... jangan ngomong gitu. Sampe bilang cewek itu apes. Sejahat apa siih Bang Ge di mata mu?" tegur Anin pada suaminya, yang menurutnya kelewatan dalam hal membicarakan seseorang.


"Cuma bercanda Lov. Ku juga penasaran, emang siapa Ger...?" tanya Darel serius


"Belum jadian, masih di seleksi dulu."


"Yaaah...klo gitu sih bukan otw nikah. Masih cari peruntungan aja."


"Gua cari istri bro...wajib serius. Kalo cuma cari woman one night sih... malam nanti juga dapat. Kaya dulu kamu ga pernah galau aja..itu untuk dapat si Nyonya."


"Emang dulu Bang Emil galau banget ya Bang Ge...?" pancing Anin.


"Darel...dulu? Sampe hampir bunuh diri kalo ga jadian sama kamu Nin." Canda Gerald.


"Ih lebay banget. Jangan percaya lov. Orang Anin yang tergila-gila sama aku." Darel membela diri.


Anin sangat malas untuk membela diri, karena merasa percuma menanggapi sesuatu yang baginya tidak penting itu.


Kemudian, mereka pun telah sampai di apartemen milik Darel. Dan Anin bingung, tidak tau harus melakukan apa di sana, sebab kulkas Darel kosong.


Padahal sore itu, perutnya sudah mulai terasa lapar. Sementara Darel tampak tidur pulas, setelah berhasil merayu istrinya dengan alasan ingin mengukir kisah pernah kwik-kwik dengan istrinya di apartemen miliknya. Anin tau, itu hanya alasan tipis alias modus, tapi Anin juga tidak pernah punya daya untuk menolak permintaan suaminya dalam urusan pelayanan batinnya, sebab itu juga bagian dari ibadah.😁


Kini Anin dan Darel sudah menempuh perjalanan ke Desa Bumiraya. Anin benar-benar kangen pada ayahnya. Setahun berlalu ia lewati tanpa mengurus ayahnya karena berada di Paris. Kini saat selesai pun ia malah harus tinggal di Bandung mengikuti suaminya


Membiarkan ayah hidup bersama Jovan lah sebenarnya yang membuat Anin seolah bersalah. Ia tidak nyaman jika ayah di rawat oleh Winda. Tetapi, ingin hidup bersama ayah pun sangat sulit bagi Anin, sebab ia pun masih menumpang dengan mertuanya.

__ADS_1


Inilah perasaan Anin sebenarnya, yang hanya ia pendam sendiri.


"Ayaaaah... Anin kangen ayah." Pekiknya sambil menyerbu ayahnya ke dalam pelukan.


Ayah hanya membelai pucuk kepala dan menepuk punggung anaknya penuh sayang.


"Kamu ini, seperti sudah bertahun-tahun saja tidak bertemu ayah..." Ujarnya melepas pelukan anaknya dan beralih untuk menyambut uluran tangan menantunya yang juga telah siap mencium punggung tangannya penuh hormat.


Anin beralih masuk ke dalam rumah menemui Winda juga keponakannya Lyra yang masih belum genap berusia 4 bulan. Tetapi kehadiran balita itu cukup mewarnai keadaan di dalam rumah. Tidak pernah Lyra di tinggal sendiri walau dalam keadaan tidur sekalipun. Jika tidak Winda, ayah selalu tampak berada di sebelah cucu kesayangannya sekedar memandang wajah teduh Lyra saat tidur terlelap.


Saat pagi menjelang, Darel sudah tidak tampak di rumah. Mungkin ia sudah terlebih dahulu keluar untuk joging setelah sholat subuh tadi. Anin bangun kesiangan hanya uring-uringan di tempat tidur karena tamu bulanannya datang lagi.


Anin tampak menitikkan air matanya, saat ia masuk ke kamar ayah yang tampak masih mengenakan pakaian koko sepulang dari langgar terdekat.


"Ayah... apa ayah bahagia tinggal di Desa?" tanya Anin yang tiba-tiba muncul dengan wajah sedihnya, membuat ayah sedikit bingung dengan raut wajah sedih yang tidak biasa ia lihat dari wajah anak kesayangannya.


"Anin... merasa hidup Anin tidak berguna akhir-akhir ini ayah. Waktu Anin hanya di habiskan untuk melayani segala kebutuhan suami saja di rumah. Lalu untuk apa Anin jah-jauh pergi ke Paris kalo hanya untuk menghabiskan hari di rumah, melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan ilmu yang Anin dapatkan di sana." Tangis itu pecah di dada ayah.


"Astagafirullah, yang kamu lakukan sekarang adalah kewajibanmu sebagai seorang istri Anin. Semua wanita yang berstatus sudah menikah memang wajib melayani kebutuhan suami sebab itu adalah ladang pahala bagi kaum hawa. TIdak peduli kamu pernah belajar di Paris, bergelar doktor atau cuma lulusan sekolah dasar sekalipun, itu sudah menjadi kodrat sebagai seorang istri. Jika kini kamu menyesali semua yang kamu lakukan untuk suamimu sekarang itu sudah menjadi dosa bagimu, juga terlambat. Sebab inilah yang harus kamu pikirkan sebelum memutuskan untuk menikah." Ayah Anin sudah mengeluarkan ceramahnya mengalahkan Pa Ustad di mesjid.


Anin sesungukan.


"Anin tidak menyesali pernikahan ini ayah, hanya Anin merasa kecewa dengan diri Anin sendiri. Merasa sia-sia menimba ilmu jika hanya mengurus rumah tangga." Jawab Anin dengan terisak.


"Semua itu sebaiknya kamu bicarakan dengan suamimu, saat ayah mengucapkan ijab dan di sambut kabul oleh suamimu, maka seluruh tanggung jawab ayah sudah berpindah pada suamimu. Semua hal tentang lahir dan batin mu, ialah yang bertanggung jawab sekarang. Bukankah ayah sudah pernah berkata, apapun yang menjadi keinginanmu sampaikan dengan baik-baik, jangan dengan emosi, juga jangan memaksakan kehendak.

__ADS_1


"Sudah ayah, Anin sudah membicarakan nya. Dia juga sudah memberikan beberapa pilihan agar Anin tidak diam seolah berpangku tangan dirumah. Dia akan membuka sebuah Butik untuk Anin bisa bekerja di sana, hanya Anin yang belum menentukan lokasinya. Tapi, entahlah Anin merasa kembali bersalah jika nanti akan tenggelam dalam kesibukan pekerjaan itu. Anin juga kepikiran ayah, yang berada di sini. Anin merasa tidak menjadi Anak yang berbakti lagi paa ayah, saat aku hidup bersama suami sedangkan ayah di hidup dan dirawat oleh menantu ayah di sini." Di hari yang semakin beranjak pagi itu Anin benar-benar menumpahkan isi hatinya pada ayahnya.


"Jovan juga anak ayah, mbak Winda juga udah menjadi anak ayah. Merekapun ingin berbakti dengan cara menemani ayah di usia mulai senja ini. Dan kamu, bukankah waktu mu sudah sangat banyak kamu gunakan untuk mengurus ayah, bahkan saat keadaaan ayah sekalipun. Kakakmu juga ingin mendapatkan keberkahan dalam urusan menjaga dan mengurusi ayah, janganlah kamu ingin mendominasi dalam hal mengurus ayah lagi."


"Ayah tidak mau bersama Anin...?" tanya Anin yang makin absurd.


"Bukan begitu. Hanya sekarang kehidupanmu sudah tidak seperti dulu lagi. Wajar saja kamu hidup dengan pria yang telah yakin kamu pilih untuk hidup selama mungkin, bukankah ayah juga sudah sampaikan ini bahkan sebelum kamu menikah. Untuk apa kamu menikah jika masih harus memikirkan ayah? Mana Anin ayah yang dulu sangat bijaksana dan dewasa dalam menghadapi tiap tantangan hidupnya...?" pancing ayah yang sebenarnya tau akan perasaan anaknya yang sebenarnya sangat ingin tetap bersamanya tetapi juga ingin bersama suaminya.


"Entahlah ayah, Anin juga bingung dengan hati Anin akhir-akhir ini." Ucapnya pelan sambil menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.


Sedangkan di dinding kamar yang lain tampak seorang pria berdiri dengan mendekatkan telinganya, berharap dapat mendengar dengan jelas pembicaraan ayah dan anak itu.


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2