
Kini tampak papa Darel mengelus pelan rambut mama Darel penuh cinta. "Beristirahatlah dulu ya sayang, tapi jangan kelamaan. Papa kangen dengan kebawelan mama. Ternyata cerewet mama itu bisa jadi vitamin buat jiwa papa lho, ma." Ucap Papa Darel mesra sambil mengusap air mata yang kini sudah mengalir di pipinya sendiri.
Melihat hal itu, membuat Darel enggan untuk kembali bicara banyak dengan papa nya perihal apa saja yang mama bicarakan pada papa tentang dia, Felysia dan Anin. Sesuai permintaannya pada papa, Darel, Melisa, Rafa dan Reya tampak sudah berpamitan untuk pulang ke Surabaya.
"Emil, jangan tergesa - gesa. Selesaikan sampai benar - benar selesai urusanmu di perusahaan mu. Kamu boleh mengambil waktu seluas - luasnya di sana, bahkan kalau perlu tidak usah kau lepas jabatan mu di sana, cukup kamu delegasi kan saja pada asisten mu." Ujar papanya yang memang seorang yang bijaksana.
"Iya Pa, Emil akan segera selesaikan urusan Emil sampai beres di sana. Mungkin Senin Emil akan kembali ke sini." Jawab Emil sambil memeluk tubuh ayahnya dengan hangat.
"Dan kamu Mel. Jangan terlalu bersedih. Papa ada untuk mama di sini. Dan papa juga akan selalu berkoordinasi dengan dokter untuk kesembuhan mama. Fokuslah pada keluarga mu, jangan terlalu risau kan kami. Kamu juga punya Rafa dan Reya yang mesti harus kamu perhatikan dan curahkan kasih sayang."
"Iya Pa. Pasti. Mel pasti akan selalu patuh pada papa. Maafkan Mel yang belum bisa tinggal menjaga mama ya Pa." Ucap Melisa yang juga memeluk manja papa yang sangat ia hormati itu.
Merekapun berlalu, kini tinggal papa berada dalam ruang rawat mama Darel. Menghabiskan waktu detik ke menit menuju jam berhari - hari, terus merafalkan doa untuk wanita yang sangat ia kasihi dan sayangi, wanita yang telah memberikannya buah hati yang selalu patuh dan hormat pada mereka. Wanita yang selalu setia mendampinginya dari nol hingga kini.
Di sela doanya, kadang ia kembali berbicara sendiri pada istrinya, sekedar membawa ingatan mereka, sejak pertama pertemuan mereka, melalui masa penjajakan hingga mereka bersepakat untuk menikah. Jika, telah banyak hal yang papa ceritakan, tampak pemandangan sama dari keduanya, yaitu mereka berdua akan tampak saling menangis. Entah sampai kapan Tuhan ingin mengajak papa, Darel dan Melisa melewati ujian hidup ini.
Di Surabaya.
Waktu memang telah menunjukan pukul 11 siang, Jordan kali ini tanpa bantuan supir sudah berada di Bandara untuk menjemput istri dan anak -anak nya tercinta.
Darel yang tidak ingin banyak merepotkan kakak iparnya, tampak telah memesan taksi online, untuk segera mengantarnya ke Perusahaannya.
Kedatangan Darel tentu saja membuat kaget sebagian orang yang ada sana, terutama beberapa staf biasa. Sebab mereka belum mendengar desas - desus tentang pergantian CEO di perusahaan itu. Darel segera keruangan nya dan meminta Gerald menemuinya.
"Gimana, Ger. Sudah kamu persiapkan semuanya?" tanya Darel sambil melihat beberapa dokumen di atas mejanya yang begitu bertumpuk.
"Sepertinya aku tidak sanggup menggantikan mu, Dar." Jawab Gerald jujur.
"Apa masalahmu, aku tau kemampuanmu. Perusahaan ini tidak sebesar ini tanpa campur tanganmu. Dan kemarin aku sudah terlanjur menerima jabatan sebagai Presdir di perusahaan papa yang lebih raksasa dari perusahaan kita ini. Ayolah Ger. Bantulah aku, tolong." Pinta Darel memohon kesediaan Gerald.
"Maaf Dar, aku benar benar minta maaf. Aku tidak berani." Jawab Gerald menolak.
"Ger, apa kamu mau aku harus selalu bolak balik Surabaya Bandung untuk mengurus dua perusahaan sekaligus, belum lagi aku harus melihat pahitnya papa yang harus melihat mama yang hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Pliis, Ger tolong." Darel kali ini lebih bersungut-sungut pada Gerald.
"Aku belum siap sekarang. Bagaimana jika tahun depan saja, sambil kita menunggu keadaaan mama mu kembali pulih."
"Awal tahun, berarti 2 bulan lagi. Oke, tetapi besok kamu harus siap ku angkat menjadi wakil Presdir. Setidaknya kamu bisa dan berhak menandatangani kontrak - kontrak itu, jika aku tidak ada." Ujar Darel.
"Oke, baiklah. Sepertinya itu jalan keluar yang baik." Jawab Gerald mantap.
"Terima kasih ya Ger."
"Apaan sih, aku yang harusnya berterima kasih atas kepercayaan mu padaku."
"Oh ya, Ger. Coba kamu lihat kembali kontrak kita bersama Felysia. Berapa dana yang harus kita bayarkan jika kita memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengannya."
__ADS_1
"What? Ga salah dengar? Kamu ingin memutuskan kontrak dengannya?" ujar Gerald tidak percaya.
"Iya, aku sudah bilang padanya akan memberikan dana kompensasi untuk memutuskan kontrak kita."
"Kenapa? Lagi pula kita akan mengalami rugi besar, sebab kontrak kita tinggal 3 bulan lagi. Ngapain di putus sekarang, kita tinggal ga usah kasih job aja sampai 3 bulan ke depan, habis perkara, toh kita juga sudah bayar dia sesuai kontrak."
"Tapi aku sudah janji akan memutus kontrak itu Ger!"
"Ah sudah lah, tidak usah di lanjutkan saja, maka seiring waktu kontrak pun berakhir. Ada apa kamu dengan dia? Oh iya, beberapa waktu lalu ia ada ke sini, dan tanya tentang keberadaan mu, lalu ku bilang kamu sedang di Bandung." Terang Gerald.
"Justru itu, dia benar benar nekat datang menemui ku dan mama di sana. Sehingga waktu itu aku gunakan untuk memutuskan hubungan kami yang sempat jadian kemarin."
"Apa dia mau kamu putusin?"
"Tentu saja tidak lah." Jawab Darel yang kini sudah mulai menandatangani beberapa dokumen penting di atas meja kerjanya.
"Sudah ku duga. Tapi, beneran kamu putus sama dia? Yakin kamu ga bakalan nyesel kehilangan cinta pertama mu itu?" Gerald mulai meledek Darel.
"Mulai deh!!. Iya Bapak Gerald Alexio yang terhormat. Aku dah benar benar mati rasa sama dia. Udah deh, balik ke ruangan mu sana. Aku mau fokus ini dulu, jangan lupa untuk mempersiapkan kegiatan besok ya.
Minggu aku sudah harus kembali ke Bandung."
"Siap laksanakan Bos ku." Ucap Gerald seraya pergi meninggalkan ruangan Darel.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tiba-tiba iseng pikiran Darel ingin bertemu dengan Anin yang entah mengapa terasa begitu ia rindukan.
"Assalamulaikum, Anin." Isi Chat Darel yang masih terlihat berselonjor di sofa ruangan kantornya.
"Walaikumsallam, Bang Emil. Apa kabar?" balas Anin yang sudah seperti Melisa, mama dan papa Darel menyebut nama Darel.
"Agak kurang baik, Anin." Ketik Darel singkat.
"Iya, maaf kemaren aku sempat tanya ke Bang Ge. Katanya Mamanya Abang kecelakaan, bagaimana keadaanya sekarang?"
"Masih koma Nin." Balas Darel.
"Turut bersedih ya Bang. Abang sekarang masih di Bandung?"
"Ga, ini pulang sebentar ke sini, ada beberapa urusan yang harus ku selesaikan."
"Oh gitu." Jawab Anin yang tiba - tiba bagai kehilangan banyak kata saat bisa ber-chat langsung dengan pria yang sudah mulai memporak porandakan hatinya.
"Anin, kata Gerald kemarin kamu titip salam ya buat aku." Pancing Darel.
Sontak kata kata itu membuat dada Anin kembali bergemuruh, seketika Anin merasa tubuhnya menghangat dan ada yang berdesir di hatinya.
__ADS_1
"Oh iya, bang. Anin juga berpesan agar Bang Emil tetap menjaga kesehatan. Agar tidak ikut jatuh sakit." Jawab Anin setelah dapat menguasai rasa gugup yang tiba tiba melanda hatinya.
"Kamu khawatir aku sakit Nin?" Ucap Darel yang wajahnya pun tak kalah bersemu merah kuning hijau di langit yang biru😂
"Ya... khawatir. Sebab mamanya abang kan sakit, jika abang ikut sakit siapa yang urus mamanya abang." Jawab Anin lagi.
"Anin, kamu udah makan?"
"Belum bang."
"Makan di luar yuk, temenin aku makan. Gerald udah keburu pulang nih di kantor."nBohong Darel.
"Jam segini abang masih di kantor?"
"Iya, kan kerjaan ku numpuk Nin."
"Sekarang udah selesai semua kerjaannya?"
"Belum, mau break makan dulu lah. Baru lanjut lagi. Ayo, kita makan dimana?"
"Aku malas keluar Bang."
"Nanti aku jemput."
"Aku masih ada makanan Bang, di rumah."
Segera Darel meloncat untuk duduk, dan mengambil jas yang ia sampirkan di punggung kursi kerjanya.
"Ya udah, aku makan di rumahmu aja ya Nin. Share look!!" Balas Darel antusias.
Tanpa banyak pikir Anin yang juga rindu langsung mengirim lokasi rumahnya pada Darel.
Bersambung
...Mohon dukungannya 🙏...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih 👍💌✍️🌹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...