DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 66 : OBROLAN ABSURD


__ADS_3

Hanya, kali ini mereka makan malam di tempat yang sangat indah. Sehingga makan malam kali ini terasa sangat istimewa dan spesial.


Setelah keduanya menghabiskan hidangan malam itu. Mereka tampak sama-sama belum ada keinginan untuk beranjak pulang.


Mereka masih tampak betah berada di tempat unik yang semakin malam ternyata semakin banyak di datangi oleh pengunjung.


"Kamu suka tempat ini Nin?" tanya Darel memulai obrolan mereka lagi.


"Suka, suasananya nyaman."


"Sama, kalo gitu. Sejak malam ini, tempat ini kita jadikan tempat favorit kita berdua ya Nin."


Anin tidak menanggapi ucapan Darel.


"Ngapain coba pakai menobatkan tempat ini jadi tempat favorit kami berdua. Emang kita apa? Apa ia lupa kalau ia sudah punya kekasih, bahkan Fely juga sudah siap untuk ia nikahi." Runtuk Anin agak kesal pada Darel.


"Anin... Kali ini aku yang traktir ya. Besok mumpung aku masih di sini. Kamu yang bayar, oke?" ungkap Darel yang lagi - lagi memancing Anin agar lebih banyak bicara.


"Yang bos siapa niih? Aku takut ngajak bos makan di tempat kayak gini. Anin takut ga sanggup bayar." Ungkap Anin dengan polosnya.


"Ya, ga harus di tempat mewah juga."


"Ntar kalo ku ajak di warteg gimana?" Anin mulai terpancing dan banyak bicara.


"Asal sama kamu." Kata itu lolos begitu saja dari mulut seorang Darel. "Anjiiir ngomong apa gua barusan." Batin Darel yang speechlees dengan kata - katanya sendiri.


"Pulang yuk bang, makin malam ngomongnya makin absurd." Ucap Anin yang merasa risih. Sebab gemuruh di dadanya semakin menjadi jadi.


"Oke... Oh ya..., tadi kamu bilang mau cari buku. Boleh tau, buku apa?" tanya Darel mengalihkan topik agar Anin tidak mengajak pulang lagi.


"Aku mau cari kamus bahasa Perancis aja."


"Untuk?"


"Tuk bungkus nasi bakar isi tuna, bang." Canda Anin mengubah suasana agar tidak kaku. Darel mengeryitkan kedua alisnya.


"Ya buat di baca lah Bang. Buat belajar."


"Tumben? Memangnya ada waktu?"


"Ya ada lah. Calon istri abang ga bilang. Kalo kami sudah tidak bekerja sama lagi. Kontrak kami sudah selesai dan di percepat dari perjanjian. Jadi, sekarang aku sudah ga jadi asisten model lagi." Terang Anin sengaja menyindir hubungannya dengan Felysia, agar Darel sadar kalo dia sudah memiliki kekasih hati.


Tentu saja Darel tidak tau menau akan hal itu. Karena jauh sebelum Fely memutuskan kontrak dengan Anin, dia sudah lebih dahulu memutuskan Fely.


"Kamu masih ingin melanjutkan studi mu di Paris, Nin?" tanya Darel serius.

__ADS_1


"Insyaallah. Tadi aku sudah mendaftar secara online di Esmod Paris. Semoga di terima. Tadinya aku sempat mau daftar di cabangnya Esmod yang ada di Jakarta Selatan. Tetapi pendaftarannya sudah tutup bulan lalu. Jadi, aku nekat saja mendaftar yang di Paris."


"Berapa lama?" tanya Darel lagi.


"Aku cuma ambil khursus yang 1 tahun.


Sebab mungkin uangku cuma cukup untuk itu. Jika mengambil masternya, memakan waktu 3 tahun hidup dan tinggal di sana. Uang dan mental ku belum siap kalau yang itu." Jujur Anin pada Darel.


Darel mengangguk tanda setuju. "Ayo, kita pulang. Ga enak sama ayah mu, kalo kita pulang larut malam." Ajak Darel seraya berdiri dan melangkah untuk membayar tagihan makan malam mereka.


"Nin, besok boleh numpang makan siang di rumahmu?" tanya Darel saat mobil sudah berhenti di halaman rumah Anin.


"Mau di masakin apa?" tanya Anin lembut.


"Apa saja yang kamu masak, aku pasti suka dan enak." Jawab Darel seolah meminta sesuatu dengan istrinya saja.


"Rencana besok aku mau belanja. Ayah lama ga makan salmon. Aku buat steak salmon with mushroom sauce aja ya buat abang." Ujar Anin yang selalu tidak bisa menolak permintaan Darel dalam urusan memanjakan perut dan lidahnya itu.


"Oke, ntar aku transfer buat kamu belanja." Ujar Darel.


"Ih, abang apaan sih. Ga usah, ga masak buat abang juga aku tetap masak dan makan." Anin menolak tawaran Darel.


Darel merogoh dompetnya lalu mengulurkan sebuah black card untuk Anin.


"Atau mau ku kasih ini, buat belanja? Sekalian biaya khursus mu di Paris." Darel sungguh - sungguh.


Di dalam mobil Darel pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyadari kebodohan demi kebodohan yang ia lakukan terhadap Anin. "Ya iyalah, dia tidak terima black card gua. Jadian aja belum." Umpatnya di dalam hati. Sembari memundurkan mobilnya, untuk kembali pulang ke apartemennya.


Keesokkan harinya, tampak Darel dengan rapi dan gagahnya menggunakan setelan jas berwarna merah hati dengan kemeja cream. Memberi kesan manly dan seksi pada dirinya. Darel tampak berjalan dengan penuh wibawa dan cueknya memasuki kantor yang hampir 2 bulan ia tinggalkan. Selalu, pesona seorang Darel yang mampu menghipnotis para gadis gadis yang melintas di dekatnya.


Darel segera masuk untuk menemui Gerald. Dan ia langsung menyampaikan semua yang di ceritakan Anin padanya semalam.


Gerald mengangguk tanda paham.


"Oke. Pertama kita ke bagian berkas terlebih dahulu. Untuk kamu pastikan, bahwa Karya yang di kumpul atas nama Anin benar benar layak untuk di gugurkan.


Kemudian, jika kamu memang tau yang mana karya Anin. Dan sesuai seperti dugaan mu, kita lanjut cek CCTV kebersamaan mereka di kantin."


"Mantap." Darel setuju.


Tidak berapa lama tampak kedua pria tampan itu sudah berada di dalam butik, tepatnya di ruangan direktur.


"Emil, kapan kamu datang?" tanya Melisa yang kaget melihat kedatangan adik kesayangannya itu.


"Kemarin sore kak." Jawab Darel singkat.

__ADS_1


"Kerjaan di sana gimana?" tanya Melisa lagi.


"Aman," jawab Darel.


"Kalo Darling sudah di sini, berarti masalah di sini yang lebih gawat Kak." Celetuk Gerald.


"Memangnya di sini ada masalah apa?" tanya Melisa masih dalam mode bingung.


Kemudian Gerald dan Darel menceritakan masalah Anin.


Buru - buru Melisa membuka brankas di mana ia menyimpan semua berkas semua peserta.


Melisa menyodorkan sebuah map bernomor 09, beserta foto Anin yang sedang memegang berkas bernomor 09 tersebut.


Dengan cepat Darel membuka map itu.


"Ini bukan pekerjaan Anin. Aku ingat betul karyanya bukan ini." Ucapnya dengan nada tinggi.


Kemudian Darel mengambil ponselnya. Sebab malam itu, Darel sempat mengambil foto karya Anin yang saat itu memang belum selesai.


"Ini, karya Anin yang sempat aku foto. Saat benar benar belum jadi." Darel menyodorkan ponselnya pada Melisa dan Gerald.


Melisa dan Gerald saling bertatapan. Setelah melihat gambar yang ada di ponsel Darel.


"Ini mirip karya yang juara 1." Ucap Melisa yang ingat betul dengan karya yang mereka sepakati bersama sebagai juara. Kemudian Melisa mengambil berkas kumpulan 10 besar.


Dan benar saja, karya itu sangat mirip dengan yang ada di ponsel Darel.


"Cari data pemilik karya itu siapa namanya?" ucap Darel tidak sabar.


"Karya dengan nomor urut 35, atas nama Nicole Matilda." Melisa membaca data yang ada dalam buku pendaftaran, juga foto seorang wanita yang lumayan cantik.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2