
"Enaaaak banget di denger sayang. Apa lagi jika bisa icip-icip bibir yang ngomong itu." Bimo masih saja mengajak Anin bercanda.
Bimo yang bekerja di pemerintahan apalagi sebagai seorang pimpinan, tentu tidak bisa dengan mudah mendapatkan ijin untuk berlama-lama meninggalkan tempat tugas, apalagi mereka merupakan pelayan masyarakat yang akan di sorot secara langsung jika mereka lama tidak terlihat.
Karena itu, Bimo hanya punya waktu 1 hari ini saja untuk benar-benar menghabiskan waktu kebersamaannya dengan kekasih hatinya.
Sehingga Bimo tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikitpun saat berada di Surabaya.
"Sayang, bulan depan sebelum ke Paris. Ikut aku ke Solo ya." Bimo bicara dengan lembut.
"Ngapain...?"
"Ku kenalkan pada kedua orang tuaku, aku serius ingin menjalin hubungan ke jenjang berikutnya..."
"Apa tidak terlalu cepat mas...?"
Bimo tersenyum mendengar kalimat Anin.
"Mungkin kamu ngerasa hubungan kita kaya lari marathon. Tapi, sungguh aku sangat serius dan sudah sangat mencintaimu. Atau aku perpanjang cuti ku, agar besok kita terbang ke Solo?" ajak Bimo lagi.
"Mas ih... kayak di kejar apa gitu. Selow mas."
Anin tentu menghindar sebab ia memang belum sepenuhnya menerima Bimo di dalam hatinya.
"Sayang, ga serius menanggapi cintaku?" tembaknya pada Anin yang ia rasa memang belum seutuhnya mencintainya.
"Bukan begitu mas, hanya ini terlalu cepat bagiku." Jawab Anin memberi alasan.
"Kenapa...? Di hatimu ada menyimpan nama lain?" tiba-tiba saja Bimo menuduh seperti itu.
"Ya ... enggak gitu juga. Susah ku jelaskan mas. Pokoknya sekarang lagi proses OTW mencintaimu saja." Senyum Anin terkembang ke arah Bimo untuk meyakinkannya.
"Sudah jangan suka senyum gitu." Bimo terlihat lesu.
"Kenapa...?" dengan polosnya Anin bertanya.
"Senyum kamu itu bikin kamu tambah manis, dan aku akan tersiksa rindu jika membayangkannya."
"Gombalnya bapak Polisi ku ini." Canda Anin makin mendekatkan wajahnya untuk mengulas senyumnya ke arah Anin.
"Jangan dekat dekat, ntar ku ***** lho." Kata itu membuat Anin segera memundurkan wajahnya menjauh dari Bimo.
"Aku suka caramu menjaga dirimu sayang. Teruslah begitu saat aku tak di sampingmu nanti ya. Aduh, rasanya mau urus pindah aja ke sini sayang. Aku takut kamu di rebut orang."
"Ha... ha... ha... emang ada gitu yang berani rebut pacar polisi...?" Anin masih saja suka menanggapi rayuan Bimo dengan bercanda.
__ADS_1
"Polisi kan manusia juga sayang..." Ucapan Bimo hanya di balas tawa dari wajah Anin. Sebab kini Anin tengah mengambil ponsel yang terlihat mendapatkan notifikasi pesan masuk.
Tampak pesan itu dari Darel, yang ternyata kepo dengan story yang Anin pasang tadi.
"Genggaman tangan siapa Nin?" isi chat Darel.
"Ih, abang kepo." Balas Anin mengulum senyumnya.
"Siapa sayang...?" tanya Bimo melihat ekspresi Anin yang terlihat senang.
"Temen bang... eh mas Bimo. Ini ada yang tanya, tangan siapa yang di story."
"Sini in deh ponselmu, yang." Ujar Bimo yang langsung mengambil ponsel Anin, lalu mengambil beberapa foto mereka berdua dengan arah kamera menghadap mereka.
"Nih, pasang yang kelihatan ada wajah ku lagi sayang. Biar fans mu ga penasaran." Perintah Bimo.
Anin hanya tersenyum, "ntar besok besok lagi. Kalo lagi kangen sama Mas Bimo." Jawabnya.
Tidak tanggung - tanggung. Anin dan Bimo benar benar menghabiskan waktu seharian untuk kencan mereka tersebut.
Sebab, besok Bimo sudah harus kembali ke desa.
Dan anehnya, Anin tidak merasa ada sesuatu yang kurang saat berjauhan dengan Bimo yang sudah 2 pekan meninggalkannya ke tempat tugasnya. Anin merasa baik-baik saja. Tentu masih saling berkomunikasi dengan intens via telepon dan VC kadang. Tetapi... Anin merasa menanggapi semua itu hanya sebagai formalitas kepada orang yang di sebut 'pacar'. Dan tidak ada rasa di sana. Mungkin Anin perlu waktu untuk benar-benar menerima Bimo di hatinya. Karena, hatinya terlanjur ia jatuhkan pada Darel. š
Anin sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya sebagai desainer tetap yang bekerja lepas pada Butik MJ.
Kedatangan Anin yang ke Butik yang di ketahui oleh Melisa tentu merupakan kesempatan yang ia tunggu, untuk menanyakan langsung perihal hubungannya dengan adik kesayangannya.
Sehingga, kini Anin tampak berjalan menuju ruangan Melisa.
"Aniiin, apa kabar...? Lama sekali rasanya kita tidak saling berjumpa. Emil dan Gerald sudah memberitahukan yang sebenarnya. Maaf ya Nin, aku tidak bisa memperjuangkan mu."
"Ah, sudah lah. Mungkin Nicole yang memang pantas mendapatkan hadiah itu." Jawab Anin tanpa beban.
"Bu... sebaiknya aku bagaimana?"
Melisa menatap bingung pada wajah Anin.
"Tentang...apa yang bagaimana?"
"Aku diterima khursus di Esmod Paris, bulan April nanti sudah masuk aktif belajar. Bagaimana dengan pekerjaanku di sini?" tanya Anin pelan.
"Wah, selamat ya Nin. Kamu memang hebat.
Sekedar masuk untuk khursus di sana melewati seleksi yang ketat lhoo." Melisa antusias.
__ADS_1
"Ia, belajar di sana adalah impianku. Saat kompetisi kemaren menyatakan akan mendapat dana bantuan, aku sangat bersemangat dan berharap menang. Tetapi aku sudah berjanji, jika kalah pun. Aku akan tetap melanjutkan studi ku di sana."
"Sesuai di kontrak kerja kita di awal, kamu akan tetap sebagai Desainer tetap di Butik ini. Jadi gajih dan bonus yang lalu akan tetap berjalan sampai kontrak kita berakhir 2 tahun lagi kan. Sehingga, walau kamu di Paris. Selama kamu masih mengirim desain mu. Kamu tidak menyalahi kontrak. Tetapi bagaimana dengan Felysia...? Apa dia juga mengijinkan mu?" tanya Melisa panjang.
"Aku sudah tidak terikat kontrak dengannya, bu."
"Oh begitu. Anin, aku agak risih jika kamu memanggilku dengan awalan bu. Mungkin bisa kamu ganti dengan sebutan kak saja atau langsung namaku saja, tidak apa-apa." ujar Melisa ramah.
Anin mengangguk mengerti.
"Anin, aku boleh tanya sesuatu...?"
"Tanya saja, ada apa?
"Maaf, ini agak pribadi. Kamu sama Emil dekat?
Maksudku pacaran gitu...?"
"Oh, tidak kak. Kami hanya dekat."
"Dekat gimana, maksudnya?" Sering jalan atau saling curhat...?
"Ya... sering sih tidak. Apa lagi kan Bang Emil di Bandung. Tetapi, jika ke sini, dia selalu main kerumah." Anin menjawab dengan semangat.
"Oh, iya deket kalo gitu. Emil jarang bisa terdengar jalan atau akrab sama cewek Nin. Berarti kamu spesial baginya. Dan, dia tipe cowok yang susah jatuh cinta. Sekali jatuh lama. Kayak sama Felysia. Terus, kamu tau hubungannya sama Fely...?" Selidik Melisa.
"Kemarin sih mereka sempat pacaran. Tapi, kata Emil udah putus." Anin menjelaskan.
"Oh gitu. Trus kamu emang bener dekat saja sama Emil. Ga ada rasa lebih dari teman gitu sama Emil...?"
"Iya... gitu deh kak. Mana berani menganggap lebih dari teman, orang dia kekasih bosku." Jawab Anin garing.
"Iya, kan dulu. Sekarang kan mereka udah putus. Kali aja kalian bisa jadian." Tiba-tiba kata itu membuat Anin ingin mengakui hubungannya dengan Bimo.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...