DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 19 : KEPO MAKSIMAL


__ADS_3

"Oke, baiklah. Terima kasih untuk tawaran kerja samanya ya Darel." Ucap Felysia menutupi rasa senangnya atas tawaran kerja sama yang tidak di duganya. Dalam pikiran Felysia, dengan adanya kerjasama ini, maka akan banyak peluang dan kesempatannya untuk memikat hati Darel kembali.


"Anin, kita dapat job bulan ini. Kamu hubungi orang ini. Untuk urusan kontrak dan lain - lainnya." Ujar Felysia menyodorkan sebuah kartu nama yang kemarin di berikan Darel padanya.


"Baiklah, akan aku urus semuanya." Ujar Anin


Tidak banyak yang Anin perlu tanyakan, sebab ini memang sudah menjadi pekerjaannya.


"Hallo, selamat siang." Sapa Anin memulai pembicaraan melalui sambungan telepon.


"Iya, selamat siang." Balas suara laki-laki dari seberang sana.


"Apakah ini dengan bapak Gerald Alexio?" tanya Anin dengan sopan.


"Iya, saya sendiri, ada keperluan apa? dan ini dengan siapa?"


"Saya Anin asisten model Felysia, katanya pihak anda ada menawarkan kerjasama?"


"Oh, iya benar. Saya sudah menyiapkan semuanya. Apakah kita bisa bertemu?"


"Baik, dimana kira-kira?"


"Bagaimana kalau besok siang di cafe AA?"


"Baiklah, saya akan datang besok. Terima kasih..."


Anin menutup saluran telepon itu, sambil mengingat ingat. Seperti pernah mendengar suara pria yang di telponnya tadi.


"Ya, seperti suara pak CEO saat aku presentase. Tapi, ah. Jelas jelas tadi dia bilang dia adalah Gerald." Anin membatin. Anin sibuk berbicara sendiri dengan hatinya.


Keesokan harinya sesuai janji kemarin,


Anin pun datang ke cafe AA untuk membahas rencana kontak Felysia dengan Perusahaan milik Darel itu.


Tampak Anin memasuki bagian cafe dan membaca kembali isi chat dari Gerald, untuk memastikan nomor tempat yang sudah di reservasinya.


"Permisi, saya Anin." Ucap Anin sopan pada lelaki yang sudah duduk dan tampak sibuk memainkan ponselnya.


"Oh, iya selamat datang nona Anin." Jawabnya sambil berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Anin untuk bersalaman dan menyebutkan namanya.


"Silahkan pilih menu makan siangnya terlebih dahulu, jika anda tidak sedang tergesa."


"Oh, tidak. Saya tidak sedang tergesa. Saya memang spesial meluangkan waktu untuk hari ini." Jawab Anin.


Saat Anin masih sibuk memilih menu makanan yang akan dia santap. Lagi-lagi Gerald tampak sibuk dengan ponselnya


"Tanyakan dia, sejak kapan bekerja dengan model itu." Isi chat dari Darel pada Gerald

__ADS_1


"Siap Bosku." Balasnya singkat.


"Tanyakan juga, apa pendidikan terakhirnya." Masih chat dari Darel yang kepo


"Siap Bosku." Balas Gerald lagi.


"Mengapa juga dia tidak langsung saja bertanya pada asisten ini sendiri. Malah lebih memilih makan sendiri di pojok sana. Ganjil, benar benar perlakuan yang ganjil." Ucap Gerald bermonolog, karena sebenarnya Darel juga berasa di cafe yang sama. Tetapi memilih tidak ikut berhadapan dengan Anin.


"Aku pesan ini saja." Ujar Anin sambil menyodorkan pilihannya.


"Baiklah." Ucap Gerald sambil melambaikan tangannya pada pelayan di cafe itu.


Dan tampak seorang pelayan wanita mendekati mereka lalu membawa serta kertas berisi menu pesanan mereka. "Mohon di tunggu ya." Ucap pelayan itu ramah. Di balas anggukan dari keduanya.


"Maaf Nona, ijin. Ini berkas yang harus nona pelajari." Ucapnya sopan sambil menyodorkan sebuah map.


"Maaf, bisakah kita saling memanggil nama saja? Rasanya aku tak pantas di panggil dengan sebutan nona seperti itu."


"Oh, baiklah. Maaf jika terkesan formal. Sebab saya selalu segan jika berhubungan dengan rekan bisnis bos saya."


"Sudahlah, kita kan sama sama asisten. Jadi, tidak perlu seformal itu."


"Baiklah. Anin, apakah kamu sudah lama bekerja pada Nona Felysia?"


"Belum, 1 tahun. Kurang lebih 8 bulan lah."


"Iya, kabarnya begitu."


"Sebelum bekerja dengannya, kamu bekerja di mana?" tanya Gerald mulai menggali informasi


"Sebelumnya aku tidak bekerja di agency dan perusahaan manapun. Aku baru saja menyelesaikan kuliahku."


"Kamu kuliah jurusan apa?"


"Aku lulusan jurusan Fashion Design."


"Wah, beda bidang ilmu donk dengan pekerjaanmu sekarang."


"Iya, sangat berbeda. Tetapi, waktu aku mencari pekerjaan, hanya itu yang menerimaku." Jawab Anin mengenang masa itu.


Sejenak obrolan mereka terhenti, karena pesanan makanan mereka telah datang dan tersaji di hadapan mereka.


"Ayo, makan." Ajak Gerald. Disambut senyuman dari bibir Anin.


Dan keduanya pun telah menikmati makan siang mereka.


"Jika kamu lulusan Fashion Design, mestinya kamu bekerja sebagai desainer." Ujar Gerald sambil menyeruput minuman di gelasnya.

__ADS_1


"Iya, 1 bulan yang lalu aku akhirnya diterima sebagai desainer di butik MJ." Jawab Anin


"Berarti, kamu bekerja di dua tempat. Dan apakah kamu tau, jika pemilik Butik itu adalah bosku ini."


"Awalnya aku tau butik itu milik Bu Melisa. Tetapi aku baru tau kemaren jika, Butik itu memiliki struktur kepemimpinan yang berbeda. Yaitu Pak Darel ini. Yang ternyata juga teman dari bosku Felysia." Jawab Anin panjang.


"Apakah kamu tidak kesulitan bekerja di dua tempat?"


"Alhamdullilah, sejauh ini aku belum mendapatkan kesulitan. Sebab, job Felysia agak sepi. Dan pengaturan di Butik MJ pun bagiku sangat lunak.


Sehingga, aku bisa menjalani keduanya."


"Jika, harus memilih. Antara menjadi asisten dan desainer. Kamu pilih yang mana?" tanya Gerald?"


"Tentu saja aku memilih jadi desainer. Tetapi, uang sebagai asisten juga sedang aku butuhkan, hee... hee... hee..." Ujar Anin yang nampak langsung akrab berbicara dengan Gerald.


"Baiklah... makan siang kita sudah selesai. Untuk kontraknya, kamu bisa pelajari dulu. Dan bicarakan pada Bos mu. Jika, sudah saling setuju. Akan kita atur waktu penandatanganan kontrak bersama sang model."


"Siap siap, akan ku kabari secepatnya ya." Ujar Anin.


"Oke, ku tunggu ya Anin. Senang bertemu denganmu." Jawab Gerald dengan manis.


"Iya, terima kasih makan siangnya. Semoga bisa bekerja sama selanjutnya." Ucap Anin tak kalah senang. Sambil berdiri dan meninggalkan Gerald sendiri di sana.


"Bagaimana? Apakah Anin asisten Felysia Itu adalah Anin yang juga sebagai desainer di Butik kak Melisa, Ge?" tanya Darel yang langsung berjalan mendekati Gerald.


"Iya, dia desainer yang memenangkan kompetisi kemarin. Dan, model itu nantinya akan memakai pakaian yang di rancang oleh Anin itu." Jawab Gerald.


Gerald bukan hanya sebagai asisten Darel, tapi juga sahabatnya sewaktu mereka sama sama kuliah di LN. Dan sebenarnya, Gerald bisa menjadi seorang CEO di perusahaan ayahnya di Jakarta, tetapi ia memilih kabur karena menolak sebuah perjodohan dengan anak rekan bisnis ayahnya. Dan memilih menjadi asisten Darel. Sehingga di luar jam kerja mereka bukanlah sebagai bos dan anak buah. Tetapi lebih dari sahabat.


"Apa tadi kamu juga bertanya, mengapa dia bekerja di dua tempat?" tanya Darel lagi


"Katanya dia suka dapat uang sebagai asisten. Entah itu bercanda atau serius."


"Tumben kamu kepo maksimal pada Anin. Kamu naksir dia ya..?" tanya Gerald.


Bersambung


...Mohon dukungannya 🙏...


...Komen kalian sangat autor harapkan lho...


...Kasih 👍💌✍️🌹seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2