
Ternyata pria yang sedang nguping itu adalah Jovan. Dan kini ia sudah tidak tahan hanya berdiri di balik dinding, yang kemudian ikut masuk kedalam kamar ayah.
"Maaf...kakak nguping sedari tadi.
Anin, kakak juga ingin menebus waktu yang telah lama tidak kakak berikan pada ayah selama ini bahkan saat keadaan ayah tidak dalam kondisi baik. Jadi, jika sekarang kamu tidak mengurus atau bersama ayah bukaan berarti kamu tidak berbakti. Semua roda kehidupan harus berputar dengan seimbang. Urusan perasaanmu dengan ilmu yang kamu ambil dengan kegiatanmu sekarang, kamu rasa tidak sesuai itu hanya lah perasaanmu saja, hidupmu sedang berproses saja. Nikmati saja dulu masa-masa indah rumah tanggamu, bukankah di waktu sebelumnya bahkan untuk mengurus dirimu sendiri saja hampir tidak ada. Tuhan sedang memberikan waktu yang seharusnya kamu nikmati, menebus waktu yang telah banyak memberi penderitaan padamu.
Kalau masalah suamimu, kakak sudah terlalu percaya bahwa ia pasti akan menuruti keinginanmu, asalkan kamu sampaikan dengan baik. Katakan saja apapun yang kamu inginkan padanya, selama itu masuk akal, kakak yakin ia pasti memberikannya. Kecuali kamu meminta ia buatkan candi kaya jaman kerajaan Majapahit, pasti dia tidak sanggup." Ujar Jovan yang sekonyong-konyong datang memberikan masukan pada Anin.
"Ya... ga lah kak. Hari gini minta buatkan Candi. Rumah saja kami tidak punya." Elak Anin.
"Atau kamu masih merasa tidak nyaman hidup satu atap dengan mertua...?" tanya Jovan pada Anin.
Anin menggeleng tetapi juga sambil berpikir apakah itu penyebab pikirannya yang agak kacau.
"Jika memang merasa tidak nyaman, lebih baik kamu sampaikan saja pada Emil, dia dan orang tuanya pasti mengerti. Ya... mungkin saja kamu merasa terganggu dengan adanya mertuamu di rumah, sehingga itu menghambat hadirnya momongan dalam rumah tanggamu. Kalian jadi sungkan berkikuk-kikuk ya, Nin.?" tebak Jovan asal sambil tertawa meledek Anin.
"Kakak...!!!" sarkas Anin yang sudah merasa suasana hatinya sudah jauh lebih baik setelah ngobrol dengan kedua lelaki yang sangat menyayanginya.
"Ha...ha...ha. Buktinya sampai sekarang adikku belum terdengar cari mangga muda. Udah goal belum sih."
"Jovan, berhenti meledek Anin. Kebiasaan mu sejak dulu bahkan belum hilang. Ingat, dia sudah bersuami, kita juga harus menjaga perasaan suaminya. Dia sudah milik Emil kita cuma nyewa... ha...ha...!" giliran ayah yang juga ikut mencandai Anin.
"Ah... ayah dan kak Jovan sama saja. Saat Anin jomblo di ledek, sudah menikah pun masih di ledek lagi urusan anak." Ujar Anin pura-pura ngambek.
"Maaf adikku...bagaimanapun pesona mu saat keki itu adalah pemandangan paling indah yang selalu kakak rindukan. Oh ya... Nin sekarang kakak sedang berproses untuk di mutasi ke Surabaya. Jadi kamu tidak usah khawatir, kami dan ayah akan secepatnya bisa kembali kerumah kita. Ini berkat usulan mantan mu, karena ia pun telah berhasil pindah, maka ia juga mengurus kakak, agar tidak selamanya tinggal di desa ini." Terang Jovan kembali serius.
__ADS_1
"Mas Bimo sudah tidak di sini...?" tanya Anin.
"Iya... kenapa? masih ingin berjumpa dengannya...?" lagi, Jovan malah lebih semangat meledek Anin.
"Ya ga gitu." Jawab Anin.
"Maklumlah dia kan anak jendral, petinggi polisi sehingga mereka memiliki koneksi yang dapat membantu proses kepindahannya ke kota. Sebab, jika di sini istrinya susah bekerja. Karena seorang psikolog tidak memungkinkan membuka praktek di desa. Minimal di sebuah Kabupaten lah. Dan Bimo juga berhati baik, sehingga ia menawarkan diri untuk membantu kakak pindah. Yang tentu saja kakak sambut dengan hati senang, hanya sekarang kakak juga harus mengurus kepindahan bundanya Lyra, agar kami selalu menjadi satu kesatuan dan tidak terpisah-pisah. Jauhan sama orang yang di sayang, pedih kan Nin." Ujarnya sambil mencubit dagu Anin.
"Iya... semoga urusan kepindahan kakak dan mbak Winda lancar ya kak. Jadi, rumah kita di Surabaya terisi kembali." Ujar Anin yang kini suasana hatinya benar-benar telah membaik.
Diam-diam ternyata Darel yang sudah pulang joging sempat mendengar sedikit dari pembicaraan mereka, terutama soal hidup mandiri tanpa orang tua.
Maka, sejak itu Darel sudah membulatkan tekadnya untuk membangun sebuah rumah untuk keluarga kecilnya. Tetapi, mungkin di Bandung. Karena perusahaan Darel memang telah diserahkan sepenuhnya pada Gerald, ia kini hanya sebagai pemilik saham di perusahaan yang memang mereka berdua rintis sejak awal.
Darel tidak menyangka jika selama menikah Anin justru merasa tidak nyaman. Dia mengira dengan membiarkan Anin bersantai menikmati harinya bersama mamanya, adalah hal yang menyenangkan Anin.
Kini mereka sudah tampak berada di rumah Anin, rumah yang menjadi saksi sejarah masa kecil Anin bersama ayah, ibu juga kakaknya. Tak terkecuali Darel pun pernah tercatat membuat kenangan di rumah itu, saat hubungan mereka tanpa status juga saat lamaran.
"Lov... mau jalan-jalan? Nongkrong di cafe atau kemana?" tanya Darel pada Anin.
"Kita di rumah aja Bee. Apa kamu ga cape sudah hampir seharian nyetir ga mau gantian lagi." Jawab Anin yang merasa tubuhnya pun masih terlalu lelah setelah dari desa.
"Yang penting istriku senang, walau lelah tetap harus strong." Jawab Darel yang memilih bermanja-manja di dekat Anin.
"Ga usah gombal Bee."
__ADS_1
"Beneran Lov...ayo kita jalan. Bahkan isi tabungan suamimu ini belum geser 1 digit pun, sejak memperistri dirimu, Lov."
"Sombong amat, sekali aku minta di buatkan rumah rasakan semua digit itu akan lenyap dari rekening mu."
"Lov mau kita punya rumah sendiri...?" pancingnya.
Anin tampak diam, antara mau bilang mau tapi juga tidak.
"Mom... lain kali jika ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran mu. Lebih baik mom sampaikan saja bai-baik padaku. Tidak usah sungkan dan malu, sebab aku ini suamimu. Kamu tau sendiri aku orangnya ga peka jadi pliiis jangan bermain teka-teki padaku. Aku ga akan marah kok, aku justru malu pada ayah dan kak Jovan. Saat Mom lebih terbuka pada mereka dari pada kau, bukankah aku sudah berjanji membahagiakanmu pada mereka, tetapi saat mom lebih memilih mencurahkan perasaan mom pada mereka , aku lebih sakit hati mom." Ucapnya lirih dan terdengar sangat sedih.
"Kamu denger semuanya Bee...?" tanya Anin terkejut dan tidak menyangka jika perbuatannya kemarin justru menyakiti hati suaminya.
Bersambung...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...