
Setelah selesai makan, Darel tampak menyerahkan sesuatu dalam tangan Anin. Sebuah earphone bluetooth, yang bagian satunya juga ada di tangan Darel.
Anin menautkan kedua alisnya, memandang bingung benda kecil di tangannya itu. Tampak Darel memberi isyarat pada Anin untuk meletakan benda kecil itu pada indra pendengarannya. Dan Darel pun tampak menggeser dengan telunjuknya layar ponsel yang sedari tadi ia pegang.
Anin mengikuti isyarat yang Darel berikan padanya, dan tak lama terdengar lantunan lagu seorang Afgan yang sangat biasa Anin dengar, tetapi terdengar luar biasa malam itu. Entah karena suasana malam Paris yang romantis atau karena kehadiran pria pujaan hatinya yang kini ada di hadapannya.
Andai engkau tahu
Betapa 'ku mencinta
Selalu menjadikanmu
Isi dalam doaku
Kutahu tak mudah
Menjadi yang kau minta
Ku pasrahkan hatiku
Takdir 'kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkan m**u
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku 'kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
Belum selesai lagu itu mengalun, kini tampak waiters membawakan sebuah Red Velvet berukuran kecil namun cukup tinggi dengan hiasan bunga putih di sekelilingnya, juga terdapat 1 buah lilin di atasnya.
"Ultah abang hari ini...?" Anin bertanya dengan polosnya.
"Iya, bantu pegangin kuenya dong. Abang mau make a wish." Pinta Darel dengan santai.
Anin pun segera berdiri, memegang kue itu, memposisikannya tepat di wajah Darel.
Sesaat hening, saat Darel tampak khusuk berdoa di hari ultahnya tersebut. Selesai. Ia pun meniup lilinnya.
"Biasanya setelah tiup lilin, lanjut ke potong kue bang." Ujar Anin yang masih terlihat santai.
"Ya udah, potong aja. Tapi lilinnya lepasin dulu deh biar luas area yang di potong." Perintah Darel yang masih saja dalam posisi berhadapan dengan Anin.
Dengan polosnya Anin pun menarik lilin yang berada di tengah kue itu. Yang ternyata... di bagian bawah lilin itu sudah di lengkapi dengan beberapa kertas di lapisi plastik bertulisan panjang. Anin meletakan piring kue itu di atas meja, kemudian terlihat sibuk menarik kertas yang terulur dan membacanya dengan pelan.
^^^"Aku ingin kamu dan aku menjadi kita.^^^
^^^Untuk bersama menghabiskan waktu^^^
^^^selama mungkin.^^^
__ADS_1
^^^Berbahagialah bersamaku,^^^
^^^sudah waktunya kita berhenti berjalan sendiri. Maukah kau menjadi satu-satunya wanita^^^
^^^yang selalu ingin aku jaga, lindungi^^^
^^^dan aku cintai di sepanjang sisa hidupku ...?"^^^
Belum selesai rasa keterkejutan Anin dengan untaian kata pada kertas itu.
Kini matanya berhenti pada sebuah rongga di dalam Red Velvet tadi. Sebuah miniatur gitar kecil di sana. Reflek Anin mengambil dan membukanya. Yang ternyata isinya adalah
sebuah kalung perak berliontin oval ruby merah delima dan di hiasi diamond solitaire pada bagian atas bingkai liontin itu, cantik dan tampak begitu elegan.
Dengan satu tangan Darel meraih kalung yang memang telah lama ia siapkan untuk Anin. Sementara, tangan yang satunya mengangkat untaian kertas tadi, lalu berkata :
"Bagaimana...? Say Yess or No...?"
Dengan senyum manis Anin menjawab.
"Aku yess...!!!" jawab Anin dengan mantap.
Segera Darel mengaitkan kalung itu di leher Anin, membuat posisi keduanya semakin tak berjarak. Ia memandang sekilas kalung yang telah bertengger manis di leher jenjang itu.
Masih dengan sorot mata kekaguman pada wanita yang kini telah resmi menerima cintanya, Darel tidak ingin menunda waktu lebih lama untuk mengungkapkan betapa besar dan tulus cintanya pada seorang Anindyta Kailila.
Kini tangannya sudah beralih ke ceruk leher Anin, untuk sedikit mendorong dan mendekatkan bibir mereka. Dengan lembut dan sangat penuh perasaan bibir Darel telah menyentuh bibir Anin.
Untuk beberapa detik keduanya tampak terbawa suasana, mengikuti kata hati masing masing untuk tetap saling mempertahankan pertautan bibir tersebut. Di atas sebuah lantai restoran Le Jules Vernes, tepat di bawah puncak Menara Eifel yang mereka jadikan sebagai saksi berakhirnya masa penantian antara keduanya.
Waktu terasa berhenti saat itu, mereka benar-benar menikmati suasana malam yang sangat romantis itu, dan sepertinya kedua insan ini memang telah benar benar melupakan pesan pak haji😁🤭.
Anin mencubit pelan perut Darel, memberikan kode agar segera mengakhiri kegiatan yang baginya menakjubkan itu. Tetapi, ia tetap harus tau batasannya.
"Cukup bang." Ucapnya pelan sambil berusaha keluar dari pelukan kekar tubuh seorang Darel.
"Maaf, aku terlalu lama menahan perasaanku. Dan selama ini kita sudah terlalu banyak membuang waktu untuk bersama." Ucap Darel yang masih saja memeluk mesra tubuh Anin dan cium penuh sayang pada pucuk kepala Anin.
"Aku juga cukup tersiksa saat tau bahwa abang adalah kekasih Fely, waktu itu." Ucapan itu terdengar kesal.
"Kamu kira aku tidak cukup gondok setelah tau kamu sempat jadian dengan polisi itu...?" seketika Darel melepaskan pelukannya, karena juga merasa kesal atas hubungan Anin dan Bimo.
Keduanya saling berpandangan, kemudian sama-sama menertawakan kebodohan mereka berdua, yang tidak saling jujur sejak awal.
"Maafkan aku ya, mom."
"Iih...abang apa an. Manggilnya gitu."
"Biarin nanti juga jadi mom beneran."
"Malu...bang. Baru jadian iniih."
"Ya...maunya di panggil apa biar mesra." Ujarnya yang masih menggenggam erat tangan kekasihnya itu, saat mereka berdua terlihat sudah beranjak meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Sayang... aja, gimana?" tawar Anin.
"Ga...!!! Itu sudah panggilan Bimo ke kamu kemarin." Ucap Darel sewot.
"Ya udah...panggil Anin aja kenapa?"
"Kamu wanita teristimewa dalam hidupku. Masa manggilnya biasa aja." Darel tampak semakin imut dan manja.
"Ya...dimana mana kalo abang tuh, pasangannya eneng kan...?"
"Adoooh, kekasih hatiku, cintaku, manisku... calon suamimu ini tampan maksimal lo... masa manggil calon istrinya dengan eneng."
"Coba aja dulu, aku suka kok dengernya..."
"Masa sih Neng... Ga ah...!!! Ku tetep panggil mom aja." Paksa nya manja.
"Terserah abang aja, kalo lagi berdua. Tapi awas kalo sampai didenger orang lain, Anin malu."
Darel tersenyum merasa menang, dan memang sudah mantap memanggil Anin dengan panggilan mom, walau mereka belum menikah.
Kini mereka telah sampai di apartemen Darel yang di tempati Anin. Rasa enggan pulang ke hotel tentu menyeruak dalam hati seorang Darel yang benar benar kesenangan setelah meresmikan hubungannya dengan Anin.
"Neng, abang tidur di sini ya. Tuh, kamar sebelah kosong..." Pintanya dengan memelas.
"Kenapa harus ijin sama aku, yang punya apartemen siapa...? Aku bahkan belum negosiasi tadi, apakah masih boleh tinggal di sini atau tidak." Ucap Anin setengah bercanda.
"Boleh, cintaku. Ini apartemenku, berarti milikmu juga. Mulai bulan depan ga usah bayar sewa lagi, oke." Ucap Darel lagi sambil mendusel mesra kepala Anin.
"Serius abang malam ini tidur di sini...?" Anin memastikan.
Belum sempat Darel menjawab pertanyaan Anin. Namun, keduanya tampak terkejut saat mendengar suara dering telepon dari ponsel milik Darel.
Dengan cepat ia mengambil ponsel yang ada di sakunya, kemudian melotot saat melihat siapa yang melakukan panggilan VC tersebut.
"Astagaaa...!!!" Ucapnya membekap mulutnya sendiri.
Bersambung...
...Akhiirnya ......
...Jadian juga ini duo pasangan Alot 🤩🤩🤩...
...Mohon dukungannya 🙏...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih 👍💌✍️🌹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1