
Syarat apa lagi sih mom. Itu tuh ibadah lov, jika di tunda jadi dosa loo."
Anin hanya tertawa melihat ekspresi suaminya, yang seolah frustasi jika saja malam ini lagi lagi ritual itu tertunda.
Sesampai mereka di apartemen, mereka pun membersihkan diri di kamar mandi yang terdapat di luar kamar. Sehingga secara tidak sadar sedari tadi Darel memang belum masuk kamar mereka.
Darel tersenyum saat melihat pakaian koko sudah Anin siapkan di sofa tengah apartemen itu. Rupanya saat ia mandi tadi istrinya sudah menyiapkannya.
Tak lama Anin pun keluar dari kamar mandi yang juga telah siap dengan mukena.
"Kita sholat isya dulu Bee, jangan lupa bacaan sebelum kita berhubungan ya. Hanya itu syaratnya Bee." Pinta Anin pada imamnya.
"Siyap ibunda ratu. Ini sih bukan syarat, tapi wajib." Jawab Darel yang kemudian pergi untuk berwudhu untuk memulai kewajiban mereka sebagai umat muslim.
Selesai sholat Anin dengan patuhnya menyalami dan menciumi punggung tangan suaminya.
Keduanya tampak saling tersenyum menyiratkan sesuatu yang terpendam selama ini.
Anin masih dalam balutan mukena bermotif floral dan Darel pun masih dengan pakaian koko lengkap.
Terdengar ponsel Darel berdering memecah keheningan saat kedua insan itu saling pandang.
"Assalamualaikum mamaku sayang." Sapa Darel pada panggilan VC.
"Walaikumsallam sayang. Udah sampai kok belum kasih kabar...?"
"Iya... maaf Ma. Ini menantu mama pas Emil datang, ga kasih kesempatan ma... aku langsung di serang bertubi-tubi." Canda Darel yang tentu di sambut cubitan berkali-kali oleh Anin.
Disambut senyum dan tawa dari mama yang ia lihat dari layar ponselnya. Beliau merasa sangat senang melihat kebahagiaan anak dan menantunya yang sangat jelas ia lihat.
"Ya sudah mama cuma mau mastikan kalau Emil sudah tiba dengan selamat. Silahkan lanjutkan buatkan cucu untuk mama ya Mil...Nin."
"Iya pasti ma... ini juga baru mau star." Darel masih saja terdengar bercanda. Yang tentu di balas cubitan dari Anin.
Panggilan itu berakhir, Darel tidak hanya memutuskan sambungan telepon. Tetapi mematikan ponsel itu, agar tida ada lagi hal-hal kecil mengganggunya.
Anin kini telah tampak melepas mukena yang ia gunakan. Tubuhnya hanya di balut jubah mandi, dan dengan langkah yang begitu di dramatisir oleh Anin menuju kamar pengantin yang telah ia siapkan.
__ADS_1
Darel tidak tinggal diam, segera ia memeluk tubuh Anin dari belakang dan ikut melangkah menuju kamar yang hendak di masuki Anin.
Pintu kamar terbuka, seketika indra penciuman keduanya disambut oleh aroma musk yang begitu meningkatkan gairah untuk berci*** dari keduanya. Kemudian indra pengelihatan mereka pun di manjakan oleh pemandangan indah nan romantis menyeruak dari balik pintu itu. Sempurna.
Kilauan pijaran lentera yang berada di atas nakas begitu kontras dengan cahaya lilin yang tertata membentuk sebuah hati di atasnya. Memberi kesan eksotis.
Darel membenamkan bibirnya di ceruk leher Anin. Sesekali menggigit nakal memberikan sedikit tanda kepemilikan di sana.
"Kamu yang menyiapkan ini semua mom?" tanya Darel pelan dengan suara yang terdengar manja, sebab ia merasa telah di mabuk cinta.
Anin membalik tubuhnya dan melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya, sambil menganggukan kepalanya.
Belum sempat Anin menjawab.
Mbleeeph... singa jantan itu sudah menerkam rakus mangsa di hadapannya. Tidak ada perlawanan di sana, sebab mangsa itu pun memang telah lelah bercanda dengan waktu yang seolah selalu terulur di luar kehendak mereka.
Baju koko yang Darel kenakan tadi telah tercecer di lantai... keduanya masih betah dalam posisi berdiri berhadapan, saling beradu gigi taring antara keduanya.
Jubah mandi milik Anin pun telah teronggok di lantai kamar itu.
Namun, ia sejenak terhenti. Tatkala melihat tubuh istrinya yang kini terbungkus dalam lingerie tembus pandang di hiasi renda, sangat memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna di dalamnya. Darel menelan salivanya, tiba-tiba merasa dahaga bagai seorang musafir yang telah berjalan berhari-hari di padang gurun Sahara.
Tubuh itu kini direngkuhnya kembali, di gendongnya menuju peraduan yang sejak tadi seolah memanggil sang pemilik untuk menghabiskan malam pertama mereka berdua.
Tangan Anin hanya melengkung di leher suaminya, menikmati setiap sentuhan jari jemari pria pujaannya itu, merayap, melesat dengan lincahnya. Menjamah setiap inci bagian bagian sensitif yang memang tak pernah di sentuh oleh lelaki manapun sebelumnya.
Anin kadang bergetar, bergelinjang mendapati perlakuan dari suaminya. Tidak ada keinginan untuk menolak apalagi mengakhiri semuanya, sebab yang ia rasakan adalah kenikmatan yang memang belum pernah ia rasakan.
Bibir mereka sudah tidak saling bertautan, sebab kini Darel sudah sangat sibuk, mengembara di atas bukit kembar milik Anin. Menyapu bersih area leher, hingga ke puncak area kecoklatan di sana. Sesekali meninggalkan jejak merah keunguan, pertanda daerah itu sudah di jelajahi sang pendaki gunung.
Sesekali Darel berhenti untuk sekedar memandangi wajah istri tercinta. Ada semburat binar bahagia terpancar pada bola mata wanita yang kini telah terkungkung di bawahnya. Yang kini telah terbaring pasrah tanpa ada sehelai benang pun menutupi tubuh indahnya.
"Mom... aku akan melakukannya.
Apakah kau siap...?" tanya Darel sambil melucuti kain segitiga yang telah tampak sesak karena ada sesuatu yang mengeras, memanjang dan meronta ingin keluar dari kurungannya.
Anin mengangguk, kemudian berbisik sambil menggigit kecil telinga suaminya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Bee...semua ini milikmu. Lakukanlah...apa yang seharusnya kamu lakukan."
Tanpa menunggu kata-kata itu selesai Anin ucapkan, kini Anin telah merasakan suatu benda tergesek pelan di area hutan yang selama ini ia lindungi.
Anin tidak tau persis itu apa, kenyal dan lembut tetapi kuat, keras tetapi bukan kayu, tumpul tetapi terasa agak perih ketika benda itu memasuki goa yang terdapat dalam hutan lindung di bawah sana.
Anin merasa benda itu bergerak masuk kemudian keluar, berkali-kali. Kemudian Darel berkata padanya :
"Oh shit...!! ini bukan lobang mom, tetapi hanya celah. Ini sempit sekali." Racaunya sambil terus menghentak-hentakan benda keramat andalannya yang juga tidak pernah masuk dan menjelajahi hutan lindung terlarang ini, milik Anin atau pun milik wanita manapun.
Anin tidak dapat menjawab atau sekedar berkata-kata untuk menanggapi ocehan suaminya, sebab pada tiap hentakan yang di tumpukan padanya yang ia rasakan adalah sakit bercampur nikmat yang tak bisa ia artikan sendiri. Kini ia menyadari area sensitifnya basah, sama seperti wajah suaminya yang kini terlihat memerah juga basah akibat peluh yang bercucuran hampir di sekujur tubuhnya.
"Maaf mom, aku sudah tidak bisa bermain pelan. Rasanya sudah hampir meledak." Ujarnya bersama dengan hentakan benda yang di rasa Anin semakin besar, masuk dan memanjang menembus sebuah portal di dalam sana."
"Aaccch...." akhirnya Anin pun terpekik. Saat sudah tidak dapat meredam suara yang sedari tadi ia tahan.
Bersambung...
...Sorry Readeers to be continue dulu ya...
...Auto napas dulu... haus saia nulisnya šš...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1