DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 111 : TAWARAN DAREL


__ADS_3

Sehingga, pada suatu senja saat Darel pulang dari kantor, Anin mengajak Darel pergi sekedar jalan-jalan.


Dengan maksud ingin menyampaikan isi hatinya, tanpa di dengar oleh kedua mertuanya.


"Bee...kita boleh ke Surabaya?" tanya Anin memulai obrolan saat mereka sudah berada sebuah pantai di Daerah Garut. Di akhir minggu itu mereka telah bersepakat untuk keluar kota untuk mencari suasana agar Darel tidak merasa lelah dengan rutinitas nya di kantor juga Anin yang terlihat lebih sering di rumah saja.


"Kenapa mom...?" tanya nya lembut sambil membelai dan menyelipkan anak rambut yang berhamburan tertiup angin pantai.


"Aku kangen ayah, Bee...?" suara lirih Anin begitu terasa sebab ia benar-benar bagai putus hubungan dengan ayahnya.


"Bulan depan ku atur jadwalku ya, supaya kita bisa seminggu di sana. Atau kita ke Desa, mungkin mom juga mau main dengan Lyra." Darel seolah mengerti maksud pembicaraan istrinya itu.


Anin hanya diam, menelaah jawaban dari suaminya.


"Kenapa diam Lov...? Ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?" pancing Darel pada Anin yang di lihatnya masih bersedih


"Aku bosan di rumah saja Bee." Ucapnya tertunduk menyembunyikan kesedihannya.


Seketika Darel memeluk tubuh istrinya sambil menciumi pucuk kepala istrinya.


"Mengapa Lov ku terlihat begitu bersedih...? katakan saja bukankah aku sudah berjanji akan selalu membahagiakanmu...?" ucap Darel pelan.


"Aku... aku merasa hidupku sia-sia setelah menikah. Dulu aku sangat ingin menimba ilmu di Paris, tetapi setelah itu tercapai. Bukan berdiam di rumah yang ku mau." Rupanya Anin menyimpan sakit hatinya sendiri.


"Maaf Lov, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Sampai aku lupa dengan perasaan istriku. Ku kira dengan berdiam diri di rumah, melayani suami dan menyiapkan semuanya untukku membuat kamu senang. Katakan padaku Lov, kamu mau apa...? Mau bekerja di Butik kak Melisa lagi...? Atau mau bekerja di kantorku...? Atau ku buatkan butik yang sama seperti kak Melisa, agar kamu ada pekerjaan dan kesibukan...?" Darel menawarkan beberapa opsi.


.


"Maaf Bee... aku tidak bisa memilih semua tawaran itu. Mungkin hanya aku yang belum bisa beradaptasi dengan hidupku yang sebenarnya hidup sepertu yang ku jalani sekarang ialah impian beberapa wanita di luar sana. Menjadi istri yang selalu setia menunggu suami pulang bekerja, melayani kebutuhan lahir dan batinnya, menghabiskan uang suami juga termasuk sesuatu yang menyenangkan. Tapi... mungkin karena hidupku sebelumnya, membuat aku terbentuk menjadi begitu mandiri bahkan sibuk sendiri, sehingga menjadi tuan putri yang hanya di rumah saja begini membuat aku bosan, Bee." Terang Anin yang kini telah menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mungkin, kamu hanya kesepian Lov. Jika saja kita telah memiliki anak. Mungkin semuanya akan lebih sempurna, dan kamu tidak akan pernah merasa harimu sepi dan membosankan."


"Memiliki anak itu bukan pekerjaan, menjadi seorang ibu dan orang tua adalah anugrah yang di percayakan untuk kita. Sehingga jika kita punya anak pun, tidak akan menjadi beban saat kita pun memiliki sebuah pekerjaan."


"Baiklah... Minggu depan kita akan cari lokasi untuk kita buat Butik di sini. Agar istriku tidak kesepian, tidak menyia-nyiakan ilmu yang telah ia miliki, juga memiliki tanggung jawab. Minggu depannya lagi, kita berlibur menemui ayah. Semoga saja dengan suasana hati istriku yang senang, akan menghadirkan Anin atau Emil junior di sini." Ujar Darel mengusap pelan perut rata istrinya.


Segera Anin menarik ceruk leher suaminya dan memberi kecupan kecil di bibir yang sekarang menjadi tempat favoritnya yang dirasakannya manis dan selalu menggodanya.


"Istriku sekarang agresif." Ucap Darel setelah mendapatkan kecupan kecil itu.


"Yang pentingkan sama suami sendiri Bee, bukan suami orang lain." Jawabnya sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Mom... nanti kalo di Desa kita bakalan ketemu polisi itu lagi dong."


"Jadi kita cuma sampe Surabaya, ga usah ke desa. Dari pada nanti rumah tangga kita runyam."


"Becanda mom, sensi banget sih. Jangan-jangan istriku hamil."


"Amin, tapi klo sensi kayak gini malah tanda-tanda si to'ing mau liburan Bee." Ujarnya menunjuk nakal ke arah benda keramat milik suaminya.


"Yaah...puasa lagi ya mom si to'ing klo itu berdarah lagi." Anin hanya tersenyum menanggapi ujaran suaminya.


Darel menepati janjinya, mencari lokasi untuk membuatkan sebuah Butik seperti impian Anin selama ini. Ada beberapa lokasi strategis yang ia pilih, hanya tinggal menunggu persetujuan Anin di mana lokasi yang ia ingin gunakan untuk pekerjaannya ke depan.


Tetapi Anin tampak masih bingung dan mengulur waktu untuk menentukan pilihannya sendiri.


Kini dengan senyum sumringah Anin tampak di rona wajahnya, saat kini keduanya sudah berada di Juanda.


Senyum bahagia itu tidak hanya menghiasi wajah Anin dan Darel tetapi, Gerald si mantan asisten yang sekarang sudah menjadi CEO sesungguhnya pun tampak begitu ceria saat menjemput mereka.


"Bosku..." Peluk Gerald seolah sudah bertahun-tahun tidak saling berjumpa. Padahal Gerald yang mengurus semua persiapan pernikahan mereka.


"Iih...apaan sih Ger." Lepas Darel dari pelukan hangat itu, seolah jijik. Yang tentu saja Darel hanya bercanda, karena bagaimanapun Gerald adalah sahabat andalannya.


"Udah...jangan modus. Bilang aja mau pegang istriku."


"Ya Alloh Darling... jadi orang kok prasangka buruk aja siih." Kilah Gerald membela diri.


"Ish... sejak dulu kali ya, kalian emang kalo ketemu kaya kucing dan anjing." Ujar Anin menengahi.


Di sambut tawa dari keduanya.


"Di antar kemana niih...?" tanya Gerald.


"Rumah."


"Apartemen."


Ujar Anin dan Darel bersamaan.


"Yah... pasangan yang ga kompak kalian ini." Ledek Gerald pada mereka.


"Ke appartemen sebentar ya mom. Ambil mobil, terus kita tidur dirumah ayah." Darel memberi uraian maksudnya tadi.

__ADS_1


"Mom...waw. Amazing banget deh panggilannya." Gerald masih sibuk mencandai keduanya.


"Kenapa...? Iri... bilang bos...!!!" Ujar Darel mencandai Gerald balik.


"Loe bis nikah jadi norak deh Darling." Ucap


"Bodo...punya istri itu bahagia banget lo Ger."


"OTW nyusul deh." Jawab Gerald dengan santainya.


"Emang udah punya calon Bang Ge." Ujar Anin antusias.


"Hmm..."


"Beneran...?" Anin bersemangat.


"Iya..." Jawab Gerald singkat.


"Siapa...?" tanya Anin lagi hingga memajukan badannya ke arah kemudi, saking semangat ingin tau tentang kekasih Gerald.


"Ih... Nyonya kepo banget deh." Canda Gerald yang membuat Darel menoyor kepala Gerald sambil tertawa.


"Siapa cewek yang apes jadi istrimu hah...?" canda Darel pada Gerald.


"Bee... jangan ngomong gitu. Sampe bilang cewek itu apes. Sejahat apa siih Bang Ge di mata mu?" tegur Anin pada suaminya, yang menurutnya kelewatan dalam hal membicarakan seseorang.


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2