
"Astaga...!!!" pekiknya.
"Kenapa mom...??" teriak Darel tak kalah terkejut dan langsung mengurungkan niatnya untuk menikmati sarapannya.
"Bee... jangan-jangan aku hamil. Sejak kita berhubungan saat aku subur bulan lalu, aku belum dapat haid Bee. Sebentar, semoga aku masih punya stok tespack." Ujarnya berjalan menuju kamar dimana biasanya ia menyimpan alat tes kehamilan yang selalu ia gunakan persiapkan.
Darel mengikuti istrinya dengan rasa penasaran. Tetapi Anin buru-buru berkata : "Yah... aku tidak punya stok lagi." Terdengar kecewa pada suara itu.
"Ya sudah, aku ke perusahaan dulu ya mom. Nanti kita berdua ke dokter kandungan yang biasa kau datangi, dan lakukan reservasi dari sekarang." Pintanya sambil mengecup kening dan perut istrinya.
Entah Darel seakan yakin jika kini telah ada benih cinta mereka bersemayam di rahim milik istrinya itu.
"Daddy berangkat dulu ya mom." Pamitnya mesra.
Anin hanya mengangguk dan menggigit bibirnya sendiri. Berharap jika kini ia benar-benar hamil.
Sesampai di perusahaan Santy, Darel langsung di sambut dengan hangat oleh seorang CEO cantik itu.
"Maaf Pak Darel, jika panggilanku membuatmu harus repot untuk kembali terbang menemui ku lagi. Sebab, masih ada beberapa perjanjian kontrak yang harus kita sepakati bersama sebelum benar-benar menyetujuinya. Dan maaf aku merasa perlu membicarakannya face to face." Ujarnya dengan suara yang terdengar sangat tertata dan profesional.
"Tidak masalah Bu Santy. Sebab, Paris merupakan rumah kedua bagiku. Jadi jika ke sini aku merasa seperti sedang pulang kampung saja." Darel sedikit menyombongkan dirinya, agar Santy akan lebih tertarik untuk bekerja sama dengannya.
"Oh syukurlah kalau demikian. Sebenarnya yang kita bahas hari ini bukan sesuatu yang sulit. Tetapi, entahlah...? Saya merasa penting untuk membicarakannya secara langsung dengan metode diskusi bersama pak Darel." Ujar Santy dengan penuh percaya diri dan senyum manis menawan di raut wajah cantiknya.
Dan kemudian mereka tampak terlihat telah masuk dalam sebuah perbincangan serius. Dan menghasilkan suatu kesepakatan untuk melakukan penandatangan kontrak pada bulan depan di Indonesia, setelah Santy melihat langsung perusahaan yang sedang darel pimpin.
Selesai rapat khusus tersebut Darel pun berpamitan untuk pulang, namun sempat di tahan oleh Santy.
__ADS_1
"Saya merasa tidak nyaman jika mengakhiri sebuah pertemuan tanpa menjamu tamu saya , ya...kita sekedar makan siang lah terlebih dahulu pak Darel." Pinta Santy seolah memaksa.
"Maaf Bu Santy maaf sekali. Untuk hari ini saya sungguh tidak bisa. Di Indonesia nanti saja, saya janji ... saya yang akan menjamu ibu sebagai permintaan maaf telah menolak tawaran ibu hari ini." Tolak Darel dengan halus, sebab sesungguhnya, pikirannya hanya untuk Anin yang akan di temani nya menemui dokter kandungan.
"Baiklah... aku bukan tipe wanita yang suka memaksakan kehendak pa Darel. Tetapi sangat ingat dengan janji seseorang." santy seolah menegaskan janji yang Darel ucapkan tadi.
"Pasti bu... pasti. Ku tunggu kedatangan mu di Indonesia bulan depan." Darel menyodorkan tangannya untuk bersalaman kemudian berpamitan untuk pulang.
Kini Darel dan Anin telah tampak duduk dengan perasaan harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan. Sebab, dokter kandungan itu langsung merujuk pada pemeriksaan melalui tes darah yang menurutnya akan lebih akurat di bandingkan tes urine. Sebab tes darah juga dapat mendeteksi kehamilan awal sejak konsepsi juga dapat dapat mengukur konsentrasi hormon hCG dalam darah. Ini berguna untuk mengetahui apakah ada masalah pada kehamilan.
Anin dan Darel tidak menolak untuk menjalani metode pemeriksaan tersebut, walaupun harus sedikit lebih lama menunggu.
Kurang lebih 30 menit, pasangan itu tampak telah duduk di hadapan dokter kandungan yang tampak senyum sumringah kepada kedua pasangan tersebut.
Kemudian mengulurkan tangan pada keduanya untuk mengucapkan selamat atas kehamilan Anin. Yang kemudian meminta Anin untuk menjalani pemeriksaan USG untuk mengetahui perkembangan dan usia kandungan Anin.
Sebelum mereka pulang, dokter berpesan agar Anin tidak melakukan pekerjaan yang terlampau berat terlebih dahulu, terutama dalam masa trimester pertama. Anin juga di wajibkan untuk tetap menjaga pola makan dan mengkonsumsi vitamin juga penguat kandungan sampai memasuki masa trimester kedua. Kepada Darel pun, dokter menyarankan agar tidak melakukan aktifitas lazimnya pasangan suami istri dengan frekuensi yang sering. Agar mereka benar-benar akan berhasil melewati masa awal kehamilan ini dengan baik dan lancar.
Anin juga sempat bertanya pada dokter, perihal perubahan sikapnya dan prilakunya beberapa hari terakhir yang terasa begitu malas juga suka tidur. Yang ternyata kata dokter itu hal yang wajar dan biasa bagi seorang ibu hamil, yang mengalami perubahan hormon akibat kehamilan. Dokter justru menyambut baik perubahan itu, agar Anin lebih dapat beristirahat dengan total. Dan semua itu akan berangsur-angsur berubah bersama dengan bertambahnya usia janin dalam kandungannya.
Sulit bagi Anin dan Darel ungkapkan perasaan mereka saat itu. Betapa senang dan bahagianya pasangan itu, mendapatkan sebuah kenyataan bahwa kini Anin telah berbadan dua.
Sesampai di rumah, Anin dihujaninya dengan bertubi-tubi ciuman demi ciuman di seluruh permukaan wajah Anin, juga di seluruh permukaaan kulit bagian perut Anin.
"Hai anakku... ini Daddy. Terima kasih telah hadir di rahim momy ya nak. Sehat-sehat di sana sampai tiba waktumu ke dunia. Mom n dady akan selalu menunggumu dengan sabar.
Nanti ... saat dady tidak bisa bersama kalian, jangan nyusahin momy ya... bantu momy selesaikan tugas akhirnya, agar kita pulang ke Bandung. Dady love you, my mine." Darel tak henti-hentinya berbicara di perut Anin dengan manja menempelkan telinganya pada perut yang masih terlihat rata itu.
__ADS_1
Anin hanya mengelus mesra rambut suaminya, saat kepala itu masih sangat betah bertengger di atas pahanya.
"Mom..."
"Hmm... apa Bee?" tanya Anin yang sambil memegang buku untuk menambah referensinya untuk menyelesaikan tesisnya.
"Ngidam... mom ga ngerasa ngidam apa gitu? tanya Darel yang sempat tau ciri-ciri wanita hamil adalah ngidam, sebab ia termasuk menjadi orang yang repot saat dulu Melisa hamil i kembar Rafa dan Reya.
"Belum tau Bee. Rasanya biasa saja. Hanya yaitu... my hubby liat sendiri beberapa hari di sini. Aku malas sekali masak dan ke dapur juga bersih-bersih Bee. Tapi kemarin suka banget makan masakan suamiku."
"Ok mom. Selama aku di sini. Urusan masak dan bersih rumah biar aku yang kerjakan. Alhamdulillah... impianku tercapai walau kita berjauhan, aku selalu memohon pada Allah untuk menjadi orang pertama yang tau kehamilan mu dan ingin memanjakan mu. Sungguh anak yang pengertian. Ah... rasanya malas untuk pulang dan berpisah lagi dengan kalian mom."
"Sabar Bee... tidak usah kita bicarakan soal waktu dan jarak. Kita nikmati kebersamaan ini saja terlebih dahulu. Dan bukankah kamu di sini sampai awal tahun. Jadi suamiku masih punya waktu 4 minggu bersama kami. Dan saat itu usianya mulai masuk 10 minggu, itu artinya usia kehamilan ku memasuki 3 bulan. Jadi, mungkin masa sulit ku juga akan berakhir Bee."
"Apa itu artinya to'ing udah boleh jenguk si iteung...mom?" tanya Darel dengan tangan yang sudah mulai usil meraba bagian favoritnya di area bagian bawah perut Anin.
Bersambung..
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...