DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 108 : SATU SYARAT LAGI


__ADS_3

Darel tersenyum bangga dan masih merasa tidak percaya. Jika kini telah ada wanita yang akan selalu menemani tidurnya dalam waktu selama mungkin.


Keesokkan harinya.


Anin terbangun dengan perasaan bercampur aduk, masih serasa mimpi dalam minggu ini bahkan ia telah terbangun di tiga tempat berbeda namun masih dengan lelaki yang sama yaitu suaminya.


Dengan memiringkan badannya menghadap Darel dan menopang kepalanya pada satu tangannya, ia masih sangat betah memandangi wajah suaminya yang terlihat tampan walau saat sedang tidur.


Cup...Kening Anin tiba-tiba di sambar lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Kenapa, masih berasa mimpi punya suami tampan?" canda Darel pada Anin yang kini telah merengkuhnya masuk ke dalam pelukan dan memposisikan di atas tubuhnya. Sementara satu tangan yang lain begitu cepat meraba area hutan lindung di bawah sana. Hanya untuk memastikan, apakah daerah itu sudah saatnya dilakukan proyek tebas tebang atau masih menunggu waktu yang tepat.


Tetapi, Darel lagi-lagi kecewa tatkala ia masih merasa jika bagian itu masih di tutupi lapisan tanah humus yang sangat menyerap air.


"Sabaaaar." Ucap Anin yang mengerti jika suaminya memang telah lama menginginkannya. Kemudian beranjak bangun, untuk membuat sarapan pertama untuk suami dan mertua serta keluarganya yang masih hadir lengkap di rumah keluarga Darel.


Dalam beberapa jam kemudian mereka tampak telah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.


Sungguh pemandangan yang sangat rukun, hangat dan sangat harmonis. Sebab, dua keluarga bahagia itu memang telah menjadi satu atas pernikahan Anin dan Darel.


Setelah menikmati santapan sarapan bersama itu, kini ayah Anin dan Jovan tampak berpamitan untuk kembali ke Surabaya melanjutkan aktivitas mereka.


Ada pelukan haru di sana, menyadari bahwa anak perempuan kesayangannya kini telah milik orang lain.


Lama ayah Anin memeluk Darel, sampai mata itu terlihat berkaca-kaca. "Jaga Anin ku ya nak Emil. Kaulah imamnya sekarang, tegur jika ia ada salah, bimbing jika ia tak mengerti, kembalikan pada ayah jika kau tidak mampu membahagiakannya." Kata-kata ayah begitu menohok hati seorang Darel yang sedapat mungkin juga menahan air matanya, membuat dadanya terasa sesak.


"Siap ayah, aku akan selalu menepati janjiku. Sesuai permintaanmu sejak awal kita bicara tentang dia." Ujar Darel sungguh-sungguh.


"Mas percaya, kau pria terbaik pilihan Anin. Maka berbahagialah bersama dalam waktu selama mungkin. Allah ada dalam rumah tangga kalian." Giliran Jovan yang memeluk erat suami adiknya ini.

__ADS_1


"Anin...sejak sekarang. Pastikan hanya air mata bahagia yang mengalir di sudut pipimu. Hormati, patuh dan taat lah pada suamimu." Mendengar itu, tentu Anin hanya dapat menghambur dan mendekap erat tubuh ayah yang sangat ia sayangi.


Kemudian Anin pun, membenamkan tubuhnya pada badan kekar kakaknya Jovandra Arseino.


"Hei...tubuh ini sudah di miliki oleh suamimu, kamu tidak bisa sembarangan memeluk lelaki lain tanpa seijin suamimu." Ujarnya mengingatkan.


"Bee..." Ucap Anin melepas pelukan dan kembali mendekati suaminya. Sambil senyum Darel hanya mendusel pucuk kepala istrinya penuh sayang, sebagai tanda persetujuan.


Drama perpisahan itupun telah usai. Anin kembali masuk ke dalam rumah mertuanya yang sangat luas itu. Ada sedikit canggung saat tinggal di sana, namun mama Darel yang memang sangat menyayangi Anin layaknya seperti anak sendiri, tentu waktu 2 hari pun terasa kurang dalam kebersamaan mereka. Karena ia harus segera kembali mengikuti ujian khursusnya di Paris.


Pada minggu ke empat pada bulan ke dua belas di tahun itu, kini Anin telah berada di Paris lagi. Untuk melaksanakan ujian akhir khursusnya. Walau mereka telah menjadi suami istri, karena pekerjaan Darel yang tidak dapat di tinggalkan, membuat lagi-lagi Anin berangkat sendiri, tanpa suaminya. Tetapi, Anin merasa lega dan tetap bersyukur, jika saat ujian ia hanya sendiri, sehingga ia bisa lebih fokus belajar dan berlatih untuk menghadapi ujiannya tersebut.


Darel dengan sekuat tenaga dan pikirannya, tentu ingin segera menyusul istrinya yang telah lebih dahulu terbang ke Paris. Sehingga tepat di akhir tahun itu, di malam pergantian tahun, kini Darel telah mendarat dengan sempurna di kota Paris.


Jika saat malam pengantin mereka, Darel sudah dengan sempurna mempersiapkan kamar tidur di sebuah hotel bintang 5 agar suasana itu menjadi saksi sejarah tumpah ruahnya perasaan mereka.


Anin sengaja menyulap kamar tidur apartemen seromantis mungkin. Ia memilih sprei polos dengan warna brokenwhite. Beberapa lilin elektrik berbentuk hati ia nyalakan di sisi ranjang, juga membentangkan sebagian di atas ranjang yang di tata berbentuk hati bertebaran di sana, untuk memberi pancaran cahaya temaram pada seluruh ruangan, beberapa lentera pun ia tambahkan di sana demi untuk mempercantik suasana dan memberi kesan berbeda saat mereka akan menghabiskan hampir sepanjang malam di dalamnya nanti.


Untuk pakaian, Anin juga tentu sudah mempersiapkan seperti yang suaminya inginkan. Walaupun sesungguhnya iapun malu, sekedar untuk melihat.


Apa lagi harus memakai pakaian yang seperti belum semuanya terjahit itu. Tetapi demi pria pujaannya yang telah menjadi suaminya, Anin merasa wajib mempersembahkan semuanya secara sempurna.


Urusan perut tidak perlu di ragukan lagi. Anin pun sudah membuat beberapa stok makanan yang tinggal ia panaskan di mikrowafe agar di saat urgent mereka tidak perlu panik, sebab semua telah Anin siapkan.


Waktu Paris kala itu menunjukkan pukul 5 sore, Darel tampak sudah berada di apartemen. Mereka pun untuk pertama kalinya melakukan sholat berjamaah setelah menikah. Kemudian keduanya bersepakat untuk makan malam di luar, sekedar menunda waktu untuk saling bercengkrama di tempat yang seharusnya.


Dalam perjalanan, tampak keduanya tidak saling melepas pelukan. Mengingat bulan itu merupakan musim dingin di Paris, sangat dapat di jadikan alasan bagi keduanya untuk mempererat pelukan satu sama lain. Mereka sudah tidak perduli mau itu di luar negeri, atau di dalam negeri, yang mereka rasa bahwa kini bahkan dunia hanya mereka saja penghuni di dalamnya. Menikmati makan malam romantis, berjalan menyusuri jalan dengan saling berpelukan merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan bagi keduanya. Sesekali tampak mereka saling tertawa, saling dorong, juga bahkan saling mengecup pipi satu sama lain.


"Mom...pulang ya " Ajak Darel yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin menjalankan ritual yang tertunda di malam pertama mereka.

__ADS_1


"Sudah ga sabar ya, Bee...?" goda Anin.


"Ya ... iyalah. Kita nikah sudah 2 minggu mom.Tapi itu gawang belom jebol juga."


"Ya maaf, ga sengaja. Oke kita pulang sekarang.


Tapi sebelum melakukan itu, ada satu syarat lagi yang harus kita lakukan."


"Syarat apa lagi sih mom. Itu tuh ibadah lov, jika di tunda jadi dosa loo."


Bersambung...


...Ya elaah Anin apa lagi siih...


...Ini reader dah duduk manis lo nunggu jebol gawang...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2