DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 42 : DUNIA MILIK BERDUA


__ADS_3

"Oh, iya Nin. Silahkan." Jawab Felysia dengan cepat. Berharap dengan tidak adanya Anin. Maka, Darel akan memperlakukannya. Bak seorang calon menantu.


"Bu...maafkan Felysia ya. Tadi agak kasar sama ibu. Soalnya Fely kaget mampir nabrak badan ibu tadi." Ujar Felysia pelan pada mama Darel saat mereka mulai beranjak berdiri untuk pulang.


"Ah.. tidak apa - apa cantik. Namanya juga orang kaget. Tante ngerti kok." Ujar Mama Darel sambil mencubit manja dagu Fely yang memang cantik itu.


"Oke, semuanya aku permisi duluan ya. Kak Melisa makasih untuk bonusnya." Ucap Felysia yang so akrab langsung cipika cipiki pada Melisa.


"Iya... sama sama, semoga kamu suka."


"Pasti, kan pilihanku sendiri kak. Dar ... " Ucap Felysia yang tanpa malu nyosor pipi Darel sebagai tanda pamitnya. Dan pada mama Darel ia pun menyalami dan mencium punggung tangannya dengan hormat dan sopan.


Ibu Amelia sangat terlihat senang dan bahagia hari itu dapat bertemu langsung wanita yang membuat anak kesayangannya galau.


Di dalam mobil Darel. "Gimana mah, mama suka yang mana Felysia atau Anin?" tanya Melisa tidak sabar


"Pantas saja Emil bingung, keduanya memiliki daya tarik masing - masing. Felysia cantik, Anin juga manis. Tapi, mama juga sudah punya penilaian sendiri pada sifat mereka berdua."


"Jadi, mama pilih yang mana?" tanya Melisa lagi. Sementara Darel hanya menyimak dengan seksama obrolan kedua wanita yang di sayangi nya itu.


"Kenapa jadi mama yang memilih. Besok yang berumah tangga kan Emil. Kalo mama kan sudah milih papa untuk jadi pendamping hidup selamanya." Canda mama.


"Ih... mama. Orang serius juga." Melisa kesal dengan mamanya yang seolah tidak serius menanggapi pertanyaannya.


"Kalo kamu jadi Emil, kamu pilih yang mana Mel?" tanya mama sambil mencubit lembut paha Melisa pelan untuk memberi kode.


Melisa paham.


"Ah.. malas milih ah ma. Yang jalani kan Emil bukan kita." Ucapan itu di sambut mereka berdua dengan tawa ceria.


"Kalian tuh pada berisik ya... udah aku kayak supir gini. Isi obrolan ga mutu deh." Kesal Darel. Di sambut kerlingan nakal dari kedua mata mama dan Melisa.


Mama dan Melisa merasa puas membuat Darel makin bingung dengan kedua wanita yang mengganggu pikirannya.


"Mama ga bisa ikut milih sayang. Hanya mama berpesan kamu sama Fely atau Anin pokoknya ingat batas ya. Kalo dah kebelet, besok juga mama siap nikahkan kalian."

__ADS_1


"Mama..." umpat Darel makin kesal.


"Mama serius Mil. Kamu punya kakak perempuan. Gimana kalo kakak mu cuma jadi mainan. Laki - laki harus tegas, peka lah dengan perasaanmu sendiri. Di kenali dengan cermat. Bukan di gauli. Besok kamu juga akan jadi orang tua, dosa zinah itu 7 turunan lo, jadi jangan sampai kelewatan."


Darel hanya diam menyimak perkataan mamanya. "Apa artinya mama ga suka Felysia tadi main sosor aku ya? Ya kalo Anin sih jelas ga bakalan seberani itu, secara dia kan tau diri. Tapi apa itu artinya, aku sama Anin aja? Tapi, aku kan cintanya sama Fely."


Sementara Darel sibuk bermonolog sendiri, mobil pun telah sampai di rumah Melisa. Mama dan Melisa pun turun kemudian memasuki rumah itu, di sambut teriakan si kembar Rafa dan Reya. Darel pamit, untuk tidak ikut masuk rumah. Karena dia ingin cepat cepat beristirahat saja.


Tampak Darel sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahannya. Darel mengecek monitor di hapenya untuk memantau kegiatan Felysia melalui alat sadap nya.


Dan dia tidak menemukan hal hal yang mencurigakan tentang kedekatannya dengan pria manapun kecuali dia sendiri. 1minggu waktu yang cukup bagi Darel untuk menguji hal itu.


Sekedar memastikan yang Gerald katakan tempo hari, tetapi tidak ada tanda tanda. Maka Darel pun berniat ingin memulai semuanya dari nol bersama Fely.


Bak gayung bersambut, Felysia yang memang sudah sangat menginginkan Darel menjadi kekasihnya itu, tentu langsung menerima Darel jadi kekasihnya. Tampak mereka bagai dua insan yang di mabuk asmara. Serasa dunia milik mereka berdua. Intensitas melalui chating, telepon sampai pertemuan selalu mereka utamakan.


Bahkan Darel ingin mengajak Felysia untuk bertunangan. Karena merasa perlu untuk mengikat sang pujaan hati nya ini.


Tetapi karena alasan kontrak pekerjaan di satu agency Felysia meminta Darel untuk bersabar. Dan menundanya ke tahun depan. Felysia juga tidak bersedia jika hubungan mereka di ketahui publik, katanya ia ingin menikmati masa bersama Darel nya berdua saja.


Padahal yang sesungguhnya, Felysia takut jika mata - mata Dennis tau akan hubungannya dengan Darel, maka kacau lah semuanya. Felysia da Darel memang sering menghabiskan waktu kencan mereka hanya di apartemen Darel.


Sampai saat ini Darel masih bisa menahan dirinya. Tetapi, Darel berpikir sejenak. Sampai kapan ia bisa menahan dirinya.


"Darling, aku malas pulang sudah kemalaman. Aku bobo di sini ya." Pinta Felysia sambil menghempaskan bokongnya dengan sembarang di atas paha Darel.


"Tapi, aku cuma punya 1 kamar honey."


"Ya, bagus. Kita bobo bareng aja. Ku bosan cuma bisa ngintip dikit dada bidang mu ini. Sesekali ku mau peluk tanpa ada sehelai benang pun menutupinya Darling." Rengek Felysia sambil mencoba melepas kancing kemeja kerja yang masih membungkus tubuhnya walau telah kusut.


"Jangan begini han, kita belum halal."


Ucap Darel sambil berdiri menghindar Felysia.


"Sayang... jaman ini ga usah tunggu halal.

__ADS_1


Kamu juga lama di LN. Masa kamu ga paham maksudku."


"Itu bukan budaya kita honey." Darel melangkah masuk dan mengunci pintu kamarnya. Lalu bergegas mandi meninggalkan Felysia yang tampak bingung dengan sikap Darel.


"So suci banget sih... kaya masih perjaka aja." Umpat Felysia di dalam hatinya. Sambil menghubungi Anin untuk minta jemput di apartemen Darel.


Sampai Felysia pulang pun Darel tidak merasa penting untuk keluar. Karena dia takut, kontak fisik yang Felysia lancarkan akan merobohkan pertahanannya selama ini.


Tok


Tok


Tok


"Aku pulang Darling." Pamit Felysia setengah berteriak, agar Darel mendengarnya.


Tetap tidak ada jawaban dari dalam. Karena ternyata Darel sudah masuk dalam dunia mimpi. Ia terlelap setelah seharian lelah dengan urusan di kantor, di tambah lagi rengekan demi rengekan Felysia yang ingin makan di luar, dan berakhir pelukan dan pangkuan di sofa tadi. Sungguh menyiksa bagi Darel.


Sementara di mobil,


Anin siap melajukan mobilnya untuk mengantar Felysia pulang ke apartemennya. Tetapi, Felysia enggan untuk pulang. Ia meminta Anin mengantarnya ke club. Sebab memang sudah lama Felysia tidak pergi ke tempat itu. Ada sedikit kesal di hatinya, saat sangat jelas menurutnya Darel telah menolaknya tadi.


Anin tidak punya pilihan, kecuali duduk di dalam mobil untuk menunggui Felysia, yang sudah pasti pulang dalam keadaan mabuk lagi.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2