DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 64 : HARAPAN BARU


__ADS_3

"Siap, ayah. Anin akan tetap melanjutkan impian Anin." Ucap Anin yang kini sudah kembali bersemangat."


Di Bandung.


Darel tampak kasak kusuk untuk menghubungi Gerald yang tentu saja tau akan hal ini.


"Ger, bisa kamu infokan padaku kenapa karya Anin tidak lolos seleksi, bahkan tidak masuk 10 besar." Semprotnya langsung tanpa basa basi.


Ketika telepon itu sudah tersambung.


"Sabar bro, kami juga sempat menunda pengumuman kemarin. Sebab Kak Melisa juga tidak yakin dengan hasil desain Anin, yang ia sendiri tidak percaya dan tidak mungkin seceroboh itu." Jawab Gerald yang langsung paham dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Ceroboh bagaimana maksud mu?" tanya Darel lagi pada Gerald.


"Masa Anin mengumpulkan hasil yang sepertinya belum selesai, bukan kah semua alat tulis, pewarna dan lainya juga juknis sudah di bagikan satu persatu. Masa hanya sebuah sketsa tanpa keterangan." Jawab Gerald yang juga tampak kecewa dari nada suaranya.


"Tidak, tidak mungkin. Sebelum ke sini aku sempat melihat desainnya, dan itu sangat detail lengkap dengan keterangannya. Aku yakin ini pasti terjadi kesalahan. Coba kamu cek CCTV bisa saja karyanya di tukar dengan karya orag lain. Kasihan Anin Ger, aku benar benar sudah melihat desainnya." Ujar Darel masih dengan amarah dan rasa penasaran yang tinggi.


"Aku sudah cek CCTV Dar, saat pengumpulan berkas, mereka semua di foto dengan berkas mereka masing - masing. Di bagian loket penerimaan juga kita sudah pasang CCTV untuk memastikan panitia tidak melakukan kecurangan, menukarkan karya peserta. Tetapi benar, itu lah berkas yang Anin kumpulkan. Jika kamu tidak percaya, kamu tanya saja dengan kak Melisa yang kemaren juga sempat shock dan kecewa dengan karya Anin itu."


"Ah sudah lah, besok ku akan ke Surabaya untuk melihatnya langsung." Ujar Darel yang sontak mengejutkan Gerald.


"Untuk apa? Pengumuman sudah terbit, keputusan juri tidak bisa di ganggu gugat Dar. Apalagi karya Anin tidak lolos seleksi, itu fatal dan tidak bisa di tolong." Ujar Gerald mengingatkan.


"Setidaknya aku bisa secara langsung memberinya dukungan Ger, Dan aku ingin melihat sendiri karya mana saja yang masuk 10 besar itu." Ucap Darel melunak dan menutup sambungan telepon itu.


Gerald hanya menggeleng, menyadari bahwa kini sahabatnya itu telah benar benar perhatian pada makhluk bernama Anindyta Kailila itu.


Anin memang belum bisa menerima kekalahannya itu, bahkan ia terpukul akan kenyataan, karyanya tidak masuk 10 besar

__ADS_1


Tidak dapat ia tutupi kesedihannya yang berlanjut sampai di keesokkan harinya. Seharian itu, hanya ia habiskan mengurung diri di kamarnya, tanpa melakukan apa - apa. Anin punya sketsa yang sama dengan desain yang ia kumpulkan, dan yang di tangannya tentu telah ia bubuhi dengan ciri khasnya yaitu sebuah inisial namanya AK. Tetapi sesuai kesepakatan yang lalu dari pihak butik untuk tidak boleh mencatumkan ciri, maka cepat - cepat Anin membuat sketsa yang baru yang tidak berbeda.


Namun, Anin yang sedih. Bukan lah seorang Anin yang rapuh. Dengan segera ia berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang program kursus seperti yang ia idamkan. Entah mengapa, Esmod satu - satunya tempat yang begitu ingin di singgahi nya untuk melanjutkan menimba ilmu desain.


Anin melihat Esmod yang berpusat di Paris juga memiliki beberapa cabang di 23 negara di dunia. Indonesia salah satunya. Jakarta Selatan merupakan kota di mana Esmod mendirikan anak cabangnya.


Lama Anin membaca dan memperhatikan semua program juga biaya yang di tawarkan di sana. Salah satunya ada jurusan Fashion Design & Pattern Drafting selama 1 tahun (program intensif) dengan biaya yang sangat Anin bisa jangkau dengan uang tabungannya.


Sejenak Anin berpikir, apakah ia akan pindah saja ke Jakarta Selatan untuk mejalani kursus itu selama 1 tahun. Maka ia dapat membawa serta ayahnya. Dengan uang yang ada sepertinya cukup untuk Anin membeli sebuah rumah sederhana juga 1 unit mobil. Untuk mendukung dan memfasilitasi kegiatan kursusnya nanti.


Tetapi, keegoisan Anin juga muncul bahwa ia keukeuh ingin benar benar berada di Paris. Sejujurnya, Anin merasa panas. Jika nantinya sang pemenang kompetisi itu benar akan melanjutkan studi di Paris, maka ia pun harus di sana. Entah, mengapa jiwa egois Anin inintiba - tiba muncul dengan kerasnya.


Tangan Anin terus berselancar untuk menggali informasi. Dan ia pun terhenti saat melihat pendaftaran Esmod yang bercabang di Jakarta telah di tutup sejak bulan September lalu, sedangkan kini sudah memasuki bulan Nopember. "Berarti aku tidak berjodoh untuk mengikuti kursus di Esmod Jakarta."


Batin Anin.


Semetara Anin terus saja menggali informasi tentang Esmod Paris, tertera di sana bahwa penerimaan peserta kursus di buka pada tiap bulan dan bisa di lakukan secara online. Sehingga tidak perlu harus ke Paris terlebih dahulu. Dan jika memang memenuhi syarat, maka pihak Esmod Paris sendiri yang akan melakukan panggilan kapan saja mulai belajar.


Tampak beberapa pertanyaan pada formulir daftar secara online itu mulai Anin isi dengan cermat. Terakhir, tampak Anin pun telah melakukan pembayaran biaya daftar kursus di Esmod Paris.


Sekejap ada kepuasan dan harapan baru pada dirinya, setelah ia berhasil mendaftarkan diri untuk kursus di Paris. Negara impiannya untuk mengenyam pendidikan selanjutnya.


Dengan kekuatan baru, Anin melangkah keluar kamarnya. Tidak ada lagi wajah sendu, sembab sisa menangis semalam pun berangsur hilang di wajah manis milik Anin.


Anin, kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk ayahnya. Namun, kali ini hanya untuk ayahnya. Sebab Anin malam ini memilih untuk keluar sekedar jalan jalan, mengusir tuntas kesedihan kemarin.


Anin ingin mencari kamus pendukung untuknya kelak, jika jadi ke Paris. Ia juga akan mencari tempat kursus bahasa Inggris dan Perancis di kota ini, untuk memudahkannya nanti berkomunikasi. Sebab Anin yakin ia pasti di terima kursus di Esmod. Tidak ada kata terlambat untuk belajar selama itu demi kebaikan diri sendiri.


Ayah memandang takjub pada penampilan anak gadisnya, yang baginya tidak biasanya keluar setelah magrib mengenakan pakaian rapi. Karena ayahnya tau dia sudah tidak bekerja dengan Felysia. Maka kemungkinan untuk pergi bekerja tentu tidak mungkin.

__ADS_1


Lalu berdandan rapi di malam jumat ini anaknya mau kemana.


"Anin, kamu mau kencan? Ini baru malam jumat nak." Canda ayahnya yang kepo melihat anaknya yang seperti siap mau berangkat ke tempat istimewa.


Rambut yang biasa ia gelung kini hanya di urainya lepas, bedak tipis tampak menutup pori - pori di wajah Anin yang memang tidak besar. Sehingga memberi kesan mulus pada pipi hitam manis itu. Lipstik tipis berminyak memberi kesan basah dan segar di bibir mungilnya.


Dengan Overall berbahan denim berwarna hijau tosca model loose dress yang ia padukan dengan kaus bergaris lengan di atas siku. Yang di dalamnya ia lapisi dengan manset agar lengannya tetap tertutup. Tetap dengan snikers kesayangan juga waist bag yang sudah setia melintang di dadanya menambah kesan casual dan ceria pada penampilannya malam itu.


"Kencan... ? malam jumat, sama siapa yah? Anin mau cari buku buat belajar bahasa Perancis." Jawabnya sambil menyalami dan mencium punggung tangan ayahnya.


Tampak ayah mengantar Anin sampai depan rumah, untuk kemudian mengunci pintu. Dan saat Anin sudah berada di teras rumahnya, bersamaan dengan berhentinya sebuah mobil sport putih tepat di halaman rumah Anin.


Bersambung...


...Siapakah gerangan pengemudi mobil sport putih itu readers??...


...Pinisiriiin?...


...Ikuti kisah di eps selanjutnya, oke šŸ¤—...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2