DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 43 : KEKECEWAAN DAREL


__ADS_3

Anin tidak punya pilihan, kecuali duduk di dalam mobil untuk menunggui Felysia, yang sudah pasti pulang dalam keadaan mabuk lagi.


Anin hanya menyibukkan dirinya dengan membuka Google pada ponselnya untuk melihat lihat model gaun pengantin, sekedar mencari inspirasi untuk rancangan gaun pengantin pada kompetisi yang tidak terasa 1 bulan lagi harus sudah di kumpulkan.


Lama Anin di dalam mobil yang masih dalam keadaan menyala agar suhu di dalam mobil tetap stabil. Sampai terdengar suara ketukan dari luar. Anin pun menurunkan kaca mobil. Tampak seorang laki - laki yang memperkenalkan dirinya sebagai manager club itu.


"Permisi, apakah anda asisten nona Felysia?" tanya pria itu.


"Iya benar. Ada apa pa?" ujar Anin terkejut.


"Nona Felysia mabuk berat, kami hanya memastikan bahwa anda yang mengantarnya pulang. Nanti pegawai kami yang akan memapahnya ke sini." Jelasnya.


"Oh, iya. Terima kasih maaf merepotkan."


Anin langsung memajukan mobil untuk mendekatkan dengan pintu keluar club itu.


Sesampai di apartemennya. Seperti yang sudah sudah Anin tampak cekatan membersihkan sisa muntahan di baju dan badan Anin.


Untungnya Anin sempat pamit jika dia akan bermalam di apartemen Felysia. Agar ayahnya tidak khawatir karena menunggu Anin pulang.


Pagi - pagi sekali, Anin sudah membuatkan minuman jahe untuk Felysia. Anis sudah sangat terbiasa merawat Anin di kala mabuk berat seperti ini. Pukul 9 akhirnya Felysia sudah segar, dia sudah mandi dan tampak sehat. Dia tidak tau jika pukul 4 tadi Anin sempat pulang untuk sholat dan menyiapkan sarapan untuk ayahnya. Kemudian pukul 7 kembali lagi ke apartemen Felysia. Dan melihat Felysia yang masih tidur. Anin pun tertidur di sofa pada ruang tengah apartemen Felysia.


"Heeiii... kebo!! Tidur mulu...!!!" bentak Fely melihat Anin yang tampak pulas tidur di sofanya.


"Hmm... kamu dah bangun Fe. Itu makanan untukmu sudah ku siapkan. Tadi juga aku sempat pulang mandi. Terus kesini lagi, eh aku malah ketiduran." Jelas Anin.


"Iya, aku dah habiskan makanan dan minumannya kok. Btw, Anin. Sekarang kan aku sudah jadian nih sama Darel. Sesuai janjiku, aku akan balik nama mobilku buat kamu."


"Fe, pengaruh alkohol semalam mungkin masih ada. Sebaiknya tunggu normal dulu baru kamu bicara itu."


"Maksudmu aku masih mabuk? Kalo aku mabuk, mana aku ingat sama janjiku. Ayolah, aku bukan tipe orang yang mudah lupa akan janji."


"Tidak Fe. Tidak perlu, aku merasa tidak melakukan apa-apa. Darel memang sangat masih mencintaimu makanya kalian gampang jadiannya." Ujar Anin sambil melangkah berjalan mengambil air putih, untuk menghindar rasa yang tiba tiba terasa sesak di dadanya.


"Iya, tapi kalo bukan kamu yang mulai merayunya lewat ponsel itu. Mana aku bisa memulainya. Aku hanya melanjutkan rintisan mu."


"Ya, anggap saja itu bagian dari tugasku sebagai asisten mu."


"Kalau begitu anggap saja mobil itu bayaran mu."


"Tidak Fe. Itu mobil mahal. Aku tidak sanggup membayar pajaknya, lagian kalau itu untukku. Kamu pakai apa?"

__ADS_1


"Kan ada kamu yang antar jemput aku."


"Tapi sebentar lagi kontrak kita selesai " Ujar Anin masih menolak.


"Papi Dennis sudah belikan aku apartemen dan sebuah mobil di Jakarta. Jadi kamu ga usah ngira aku akan jatuh miskin dengan kasih mobil itu untukmu."


"Tidak pokoknya tidak. Aku tidak pantas menerimanya."


"Tapi aku sudah janji"


"Anggap saja itu lelucon."


"Begini saja, 300jt. Ya aku kasih kamu bonus 300jt."


"Fe, aku tidak sedang ingin memecat aku kan?" tanya Anin.


"Tidak. Aku benar benar bahagia. Dan aku apa itu namanya ... rela, iya.. rela ngasih buat kamu."


"Kebanyakan Fe, 20 jt yg kemaren aja udah cukup bahkan banyak." Ujar Felysia.


"Pokoknya kamu harus terima." Ujar Felysia sambil memainkan ponselnya.


"Sekali lagi kamu bilang tidak, akan ku tambah 50jt."


Anin membungkam mulut dengan tangannya sendiri. Kedua matanya melotot melihat benar saja. Notifikasi baru saja masuk ke rek nya senilai 300jt.


"Fe...!!"


"Apa..? Kurang! Ku tambah lagi nih." Ujar Fely seolah menganggap uang senilai itu tidak berarti.


"Cukup...baiklah aku menerimanya. Terima kasih. Walau itu sangat banyak sekali." Ucap Anin sambil terisak.


"Sudah ku bilang, jika Darel jadi milikku,


jangankan 1 unit mobil. Apartemen 30 lantai pun mampu dia belikan untukku. Darel akan menjadi tambang uang ku Anin."


"Astaghfirullahaladzim, istigfar Fe. Kalian baru jadian bukan menikah. Jangan gegabah. Itu takabur namanya."


"Hahahaha... jika Darel pun tidak menjadikan ku istrinya. Aku masih punya Dennis. Dia bahkan lebih kaya dari Darel dan sudah ada dalam genggamanku."


"Semua itu bukan milikmu Fe. Ia bahkan telah beristri, dia bahkan tega mengkhianati hati istrinya, apa lagi kamu yang hanya..."

__ADS_1


"Tutup mulut mu Anin. Tidak perlu kamu menghinaku. Jangan ikut campur dengan kehidupan pribadiku. Aku bahagia dengan semua ini. Hidup ini hanya sekali, maka nikmatilah sesuka hatimu." Ujar Felysia.


Anin hanya terdiam sambil menyeka air matanya. Ia sangat menyayangi Fely, ia tidak mau Fely menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Bahkan kini uang itupun sudah masuk ke rekeningnya. "Ya Allah... aku telah menafkahi ayahku dengan uang haram , ampuni hamba ya Allah." Itu Sebenarnya yang di tangisi oleh Anin.


"Tapi, kamu tenang saja Anin. Antara Dennis dan Darel. Tentu lebih kaya Dennis. Tapi, aku tidak buta. Dan aku masih waras. Aku tentu lebih ingin menjadi seorang istri sah satu satunya dan terhormat untuk Darel. Ini kau lihat gelang mewah bermata biru di kelilingi berlian ini. Ini adalah pemberian Darel, karena itu aku yakin sangat yakin Darel pasti akan menikahi ku. Ha... ha... ha..."


Brugh


"Kurang ajar, pela*** kau Felysia!! teriak Darel sambil meninju meja kerjanya. Ya... Darel dapat mendengar semua obrolan Felysia dan Anin sejak pertama tadi melalui alat sadap yang ia pasang di balik batu biru itu. Darel yang pagi itu tampak bangun lebih pagi, karena semalam dia memang lebih cepat tidur, karena ulah Felysia.


Tanpa sarapan ia bergegas ke kantor lalu memesan sarapan di sana, karena setelah bangun pagi dia sempat mengecek rekaman alat itu. Bahwa Felysia ke club. Karena penasaran kelanjutannya. Maka Darel buru - buru ke kantor. Agar bisa lebih seksama memantau apa yang terjadi hari ini.


Obrolan itu, benar benar telah membuka mata Darel akan siapa sesungguhnya Felysia Lovita cinta pertamanya itu.


Darel kecewa, ia benar benar tidak bisa menahan emosinya. Dada ya serasa mau meledak. Belum lagi, ternyata yang merayu dia lewat chat itu pun bukan Felysia, tetapi Anin. Hancur hatinya memikirkan dua wanita yang tiba tiba bagai kompak bersarang di kepalanya.


Darel tampak mengambil ponselnya,


untuk menghubungi seseorang.


Bersambung...


...Siapa kira kira yang Darel hubungi?...


...Gimana makin seru reader?...


...Haruskah author up 2x sehari?...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2