
"O...o...tayang-tayang, my hubby ku cemburu niih." Ujar Anin yang kini malah berani mendekat dan melingkarkan tangannya ke leher Darel.
Darel tentu tidak menyianyiakan kesempatan itu, dengan cepat tangannya melingkar di pinggang Anin serta mempererat dekapannya membuat kedua tubuh itu tak berjarak.
Anin yang niatnya hanya menggoda Darel kini justru terperangkap dalam dekapan erat pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
Seketika Darel sudah mendaratkan ciuman lembut di bibir Anin yang masih tertutup rapat.
Dengan posisi bibir masih menempel Darel menyorotkan tatapan mata sendu seolah meminta agar Anin membalas ciuman itu.
Sehingga Anin pun tidak sanggup untuk menolak desakan bibir yang di lesatkan Darel.
Ciuman itu kini berubah bagai sebuah permainan yang menyenangkan bagi keduanya. Sangat terasa betapa lembutnya Darel menggigit bibir bawah Anin, yang kemudian di balas Anin dengan gigitan halus pada bagian atas bibir Darel. Mereka sangat melakukannya dengan pelan dan sangat rileks mengikuti irama hati mereka yang semakin menderu.
Tidak ada pejaman mata diantara keduanya, sebab kini justru sepasang mata itu saling menatap semakin dalam dan mengatakan sebuah isyarat bahwa begitu saling jatuh cinta satu sama lain.
Anin yang terlebih dahulu tersadar jika yang mereka lakukan mungkin saja berakhir dengan dosa. Maka pelan pelan ia melepas tangan yang tadi melingkar di leher Darel, berpindah ke dada bagian depan serta melepas pagutan bibir mereka.
"Aku sangat mencintaimu." Ucap Darel dengan suara serak nya dengan mata masih menatap wanita yang sangat menguasai hatinya itu.
Dan mmmppbbh... Darel mengulangnya lagi.
Membenamkan bibirnya pada bibir Anin yang telah membuatnya candu itu.
Anin memberi balasan kecil, kemudian menjauh dengan meluruskan kedua tangannya di depan dada Darel. Agar benar benar membuat jarak di antar keduanya.
"Kalau cinta, segini dulu aja ya, calon suamiku. Calon..." Ujar Anin mengingatkan jika kini mereka memang belum berpredikat halal.😔
Darel tidak menanggapi perkataan Anin, kemudian mendekap rapat tubuh Anin, sambil berbisik lembut dan mengelus pucuk kepala Anin penuh sayang.
"Maafkan Abang ya Neng. Makasih udah mengingatkan kalau kita belum sah."
Keduanya pun telah saling melepas pelukan itu.
"Maafkan Anin juga, tadi lama bicara dengan mas Bimo. Kami hanya saling memberi dukungan dan restu karena akan mengarungi hidup bersama pasangan masing-masing.
Anin cintanya sama abang." Ucap Anin setengah merayu.
"Iya... jangan buat aku kesal lagi.
Apa lagi kalo kita belum sah. Bisa saja kekesalanku itu akan berujung dosa, Lov."
__ADS_1
"Sabaaar sayangku." Ujar Anin yang memang sudah sangat pandai menguasai dirinya untuk tetap menjaga dirinya.
"Lov..., khursus mu kapan selesai sih?" tanya Darel saat kini keduanya sudah kembali duduk santai di sofa.
"3 bulan lagi. Tepat di minggu kedua bulan Desember tahun ini."
"Setelah itu ada libur atau langsung selesai...?"
"Di jadwal sih selesai. Tapi sertifikat dan lain-lain masih belum selesai. Sehingga di awal tahun masih perlu menunggu. Makanya jika di total waktu di sana tetap 1 tahun, hanya belajarnya cuma 9 bulan. Kenapa Bee...?"
"Akhir tahun ini setelah selesai khursus aja ya Lov kita nikah. Ntar untuk keperluan pengambilan sertifikat dan apalah itu, statusmu udah jadi istriku. Nanti aku ikut ke sana, sekalian kita bulan madu. Yaa...Lov."
"Tapi... apa sempat kita siapkan semuanya dalam 3 bulan itu. Aku kan masih di Paris Bee."
"Yang Lov ku persiapkan hanya hati yang tulus menerimaku menjadi suamimu. Selebihnya, itu urusan WO. Pokoknya...begitu Lov selesai khursus, pulang. Udah deh langsung jadi pengantin. Gaun mu kira-kira selesai ga dalam 3 bulan ini...?" tanyanya lagi.
"Selesai dong Bee...aku buat 3 boleh? 1 gaun buat resepsi, 1 kebaya untuk akad, dan buat acara yang di Bandung."
"Boleh, asal jangan cape dan ganggu waktu belajarmu. Punya aku. Biar Kak Melati saja yang buatkan. Aku ga mau calon istriku lembur, terus sakit dan tidak segar di hari H, ga tega ku goalnya ntar."
"Goal... apaan?" pancing Anin yang sebenarnya paham maksud Darel.
"Bee... jangan nakal. Buruan pulang deh, dari tadi setan penggoda udah gentayangan deh sekitar kita." Ujar Anin
"Iya cintaku. Sampai jumpa besok ya. Muuaach." Kecupnya lagi di dahi Anin saat sudah di depan pintu untuk pamit.
Anin membalas dengan anggukan.
Tentu saja dengan berat hati melepas kepulangan seorang Darel yang dirasakannya semakin ia cintai itu.
Anin pun mengakui, ia pun semakin terbuai dengan sentuhan dan perlakuan mesra dari seorang Darel. Karenanya, iapun tidak menolak jika akhir tahun ini ia akan siap mengakhiri masa lajangnya.
Mentari mulai menampakkan dirinya pertanda hari baru telah datang. Nampak Anin dan Darel sudah berada di Lobby Bandara Juanda.
Kali ini, Darel tidak tampak masuk ke ruang tunggu yang sama, sebab 2 jam kemudian ia hanya akan terbang pulang ke Bandung.
Dua sejoli itu tampak enggan berpisah, sejak turun dari mobil. Tangan Darel tidak pernah geser dari pinggang Anin.
Beberapa kali Anin mencoba melepasnya, dan hanya menggenggam, tapi tangan kekar itu tampak lebih nyaman bertengger di pinggang, agar tubuh mereka selalu menempel.
Panggilan penumpang jurusan Paris baru saja terdengar. Tanpa malu, Darel menyerang ciuman-ciuman kecil di area wajah kekasih hatinya. Anin hanya dengan wajah bersemu merah, menahan malu. Sampai tangan Anin mencubit perut Darel, barulah serangan itu berhenti.
__ADS_1
"Bee...malu." Ujarnya pelan di tengah aksi kekasihnya padanya.
"Masih kangen banget Lov." Ujarnya manja.
"Aku jadi berangkat ke Paris atau kita ke KUA aja ini, Bee...?" canda Anin.
"Beneran mau ke KUA aja...hayu...!" seru Darel semangat.
"Emang maunya si abang itu maaah.
Oke... dadah babaaaay calon suamiku. Urus rencana pernikahan kita baik-baik ya.
Jaga kesehatan ya cintaku, kerjanya jangan di porsir, aku selalu rindu kamu Bee." Kali ini Anin yang mencubit kedua pipi Darel.
"Muuuacch. Jaga diri mom." Ucapnya mesra sambil masih mendaratkan ciumannya di dahi wanitanya itu.
Dengan langkah pasti, Anin lagi. Meninggalkan Darel di Bandara Juanda, demi menyelesaikan studi yang menjadi impiannya sejak lama, dan juga harus realistis bahwa iapun butuh waktu untuk mencinta dan dicinta.
Darel hanya menatap tegar penggung yang kini semakin hilang bersama kerumunan orang orang yang bertujuan sama dengannya.
Darel memalingkan tubuhnya untuk meninggalkan lobby itu, sekedar keluar untuk mencari tempat yang nyaman untuk mengisi perut dan menunggu waktu penerbangan berikutnya.
Hingga ia terhenti saat di dengarnya suara wanita yang sangat ia kenal memanggil namanya. Membuat Darel kembali membalikkan badannya untuk melihat asal suara yang menyebut namanya penuh semangat tadi.
Bersambung ...
...Siapa tuuuh...?...
...Jangan-jangan...
...Anin beneran mau ke KUA aja🤭...
...Mohon dukungannya 🙏...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih 👍💌✍️🌹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1