
Kemudian menyodorkan ponselnya pada Anin, memintanya untuk membuat hal yang sama.
Sehingga SW mereka bahkan pic profil di beberapa akun medsos mereka berdua pun berganti dengan pic yang sama.
Hanya 5 hari waktu yang bisa Anin juga Darel nikmati bersama setelah pertunangan mereka.
Itupun di isi dengan segala kesibukan persiapan pernikahan mereka. Mulai dari pemilihan bahan baju pengantin yang akan Anin buat sendiri untuk mereka berdua.
Sampai pemilihan MUA dan lokasi tempat di adakan nya pesta itu sendiri.
Jika saat lamaran kemarin, keluarga Darel telah bersepakat di laksanakan di rumah Anin.
Tentu tidak untuk resepsi. Darel yang sudah kadung terkenal sebagai CEO muda nan tampan, tentu banyak memiliki relasi bisnis yang juga antusias mendengar isu bahwa pria itu akan mengakhiri masa lajangnya.
Bukan mama keberatan atas acara resepsi yang di gelar di Surabaya, namun ia juga ingin mengadakan pesta di Bandung, kota kelahiran anaknya tersebut. Sehingga mereka pun bersepakat, untuk melakukan acara tradisi Ngunduh Mantu yang akan mereka laksanakan di Bandung, setelah acara di Surabaya selesai.
Untuk hal ini baik Anin maupun ayah tidak punya alasan untuk menolak, sebab segala biaya dan lain-lain sudah pihak Darel sendiri yang mendominasi.
Sebenarnya, ayah Anin juga sempat meminta agar acara di gelar sesederhana mungkin. Menghindari asumsi publik yang seolah keluarga Anin aji mumpung mendapat calon menantu kaya.
Tetapi Darel meyakinkan ayah Anin.
"Ayah, bukankan aku sudah berjanji akan membahagiakan Anin. Dan ini adalah pernikahan ku yang pertama dan terakhir. Jadi, ijinkan kami melangsungkannya dengan cara kami, sesuai kemampuan." Pintanya, yang selalu sukses meluluhkan hati ayah Anin.
Anin sudah kembali ke Paris, dan ternyata sebelum itu Bimo memang akhirnya ada menghubunginya via phone.
"Assalamualaikum, Dek Anin." Sapanya saat Anin sudah menerima panggilan teleponnya.
"Walaikumsallam Mas Bimo. Apa kabar...?"
"Maaf menggangu Nin, di sana pukul berapa?" tanya nya.
"Sama aja Mas. Sekarang Anin di Surabaya, besok baru kembali ke Paris lagi."
"Wah... mas kira Kalo udah di sana tuh, ga pulang-pulang sampe selesai."
"Ada liburnya lah mas, yaa... walau hanya 7 hari saja."
"Lumayan juga dong."
"Lumayan apanya mas, bagi Anin itu sebentar."
"Bukan, maksud mas lumayan banyak ongkos PP Indonesia-Paris nya. He...he...he..."
"Oh... udah kadung janji untuk pulang bulan ini mas. Jadi harus di tepati."
__ADS_1
"Janji sama siapa...? Emil... calon suami mu itu...?"
"Kok mas tau... kaya cenayang aja." Gurau Anin tertawa renyah.
"Mas pernah di kenalkan bapa, waktu dia menemui Bapak di Desa, beberapa waktu lalu."
"Oh...gitu."
"Kapan nikah Nin...?"
"Belum tau, mungkin tunggu khursus ku selesai. Kemaren baru lamaran saja."
"Oh...jadi kepulangan mu karena acara lamaran."
"Iya mas."
"Selamat ya Nin, semoga lancar sampai hari H."
"Iya, terima kasih. Buat mas Bimo juga, selamat menempuh hidup baru ya. Kata Kak Jovan, Mas Bimo juga akan melangsungkan pernikahan ya...?"
"Iya... tadinya aku menghubungimu mau mohon doa dan restu mu Nin. Seandainya kamu bisa datang juga, mas pasti akan lebih berbahagia."
"Ya... Maaf sekali ya mas. Padahal Anin juga ingin sekali bisa hadir. Tapi, percayalah. Anin selalu mendoakan yang terbaik untuk keharmonisan rumah tangga mas Bimo nantinya."
"Mas, jangan bicara begitu. Hargai calon istri mas. Bagaimana jika wanita itu adalah Anin. Menikahi seorang pria, yang hanya raganya tidak beserta dengan hatinya. Anin pasti akan sedih mas, sakiiit." Anin setengah merayu.
"Sulit Nin."
"Berusahalah pasti bisa. Mas, baru mengenalnya?" tanya Anin lagi.
"Tidak... dia adik kelas ku saat di SD juga di SMA. Dan pernah jadi tetangga waktu kami pernah tinggal asrama. Ayahnya dan ayahku adalah sahabat sejak sekolah dasar, sampai mereka sama sama memilih menempuh pendidikan menjadi perwira polisi, sehingga sepertinya mereka sudah menyusun rencana perjodohan ini sejak lama dan matang, sayang."
"Maaas, Anin tidak suka jika mas masih memanggil Anin dengan kata itu.
Mas sudah hampir menikah, begitu juga Anin.
Kita harus menjaga perasaan pasangan kita masing-masing mas."
"Oh... maaf Nin. Aku terbiasa.
Nin, apa kamu benar - benar telah mantap dengan pernikahan mu...?"
"Insyaalloh mantap mas."
"Kedengarannya, kamu malah lebih yakin dengannya dari pada dengan mas kemarin Nin.
__ADS_1
Bukannya hubunganmu dengannya setelah hubungan kita...kilat juga cintamu padanya." Selidik Bimo.
"Oh... itu. Hubungan resmi kami memang baru 2 bulan. Tapi perkenalan kami sudah hampir setahun mas. Jadi... sedikit banyak, kami telah saling mengenal pribadi masing-masing." Ucap Anin dengan melotot yang kini melihat Darel sudah berselonjor manja berbantal paha Anin di atas sofa yang juga di duduki Anin.
"Wah... pantas saja kamu memang tidak serius dengan mas kemarin. Ternyata, mas hanya selingan bagimu ya Nin...?"
"Tidak begitu juga mas, yang pasti kita memang tidak berjodoh saja." Jawab Anin yang kini gerak gerik dan pembicaraannya di simak oleh Darel yang berada di dekatnya itu.
"Ya... sudah lah Nin. Mungkin sudah menjadi takdirku, pria yang tidak bisa memiliki mu. Sudah dulu ya Nin. Salam buat bapak dan calon suamimu."
"Iya pasti Anin sampaikan, ini orangnya juga ada di sini, nguping pembicaraan kita mas." Jawab Anin tertawa sambil mencubit perut Darel, tempat favorit Anin.
"Oh...begitu. Baik, Assalamualaikum."
"Walaikumsallam." Tutup Anin di akhir panggilan yang sangat lama itu.
"Ngapain sih Lov, dia masih menghubungimu." Darel tampak kesal da tidak suka.
"Itu, mas Bimo mengundangku secara langsung agar bisa datang pada pesta pernikahannya."
"Bilang ga aja udah, ngapain panjang-panjang ngobrolnya. Aku tuh dari tadi nelpon kamu, tapi selalu berada di panggilan lain. Makanya aku ke sini. Ternyata, aku sampai sini pun... masih asyik ngobrol sama mantan...!" sarkas Darel yang benar-benar kesal dengan Anin.
"Ya...maaf. Seru aja ngobrol sama mas Bimo." Anin tampak suka membuat Darel semakin kesal.
"Seru-seru, kamu tuh udah di lamar lo... besok ku nikahi juga, udah berubah status jadi istriku. Masa... masih manis-manis gitu sama dia." Ujarnya yang kini bangkit untuk beralih dari posisi sebelumnya. Membuat jarak lebih jauh dari Anin.
"O...o...tayang-tayang, my hubby ku cemburu niih." Ujar Anin yang kini malah berani mendekat dan melingkarkan tangannya ke leher Darel.
Bersambung ...
...Dan...apakah yang terjadi selanjutnya...
...sodara-sodara...?...
...Apakah mereka akan anu...?...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1