
Wajar saja kini Anin mengkhayal ingin memiliki kendaraan roda empat, toh sekarang isi rekeningnya juga hampir mencapai 1M.
Berakhirnya kontrak Anin dan Felysia memang membuat ada sesuatu yang kurang bagi Anin. Tetapi beruntung beberapa bulan terakhir Felysia memang sudah sering meninggalkannya, karena job yang memang mulai sepi, sehingga Anin telah terbiasa dengan keadaan bahwa kini dia tidak sebagai asisten lagi.
Waktu Anin, kini banyak di gunakan nya untuk fokus pada penyelesaian pakaian pengantin milik Jovan dan Winda. Tampak Anin tersenyum sendiri tatkala puas dengan pakaian yang memang hampir selesai itu. Anin sangat bangga melihat hasil karyanya.
Waktu terus bergulir hingga tiba pada masa pengumuman kompetisi yang di adakan oleh Butik MJ. Mestinya minggu lalu sudah terbit, tetapi ada pemberitaan penundaan waktu.
Dan di hari Rabu kedua pada bulan kesebelas pada tahun itu, Anin pun datang ke butik untuk melihat pengumuman yang telah mereka terbitkan di sana. Anin sangat bersemangat memacu motor hitam kesayangannya.
Sesampai di sana, telah tampak beberapa orang sesama desainer yang mengikuti kompetisi itu sudah terlebih dahulu datang. Banyak ekspresi yang berbeda beda terlukis di raut wajah mereka. Ada yang bersedih, ada pula yang datar juga tentu ada yang tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
Anin tergopoh-gopoh mendekati papan pengumuman itu. Berulang-ulang Anin mencari nama dan nomor urutnya pada kolom 10 besar, tetapi ia tidak menemukan namanya di sana. Di ulangnya kembali membacanya dengan jarak yang lebih dekat, tetap tidak ia temukan namanya.
Kemudian Anin beralih pada kertas di sebelah nya, di mana di situ terdapat nama nama karya yang tidak lulus seleksi, dan nama Anin juga nomor urut berkasnya ada di sana. Nama Anin bertengger manis pada urutan ke empat pada kumpulan karya yang tidak memenuhi syarat seleksi.
Anin mengambil handphonenya, kemudian mengambil foto nama dirinya , yang ternyata tidak lulus seleksi.
Kemudian tanpa berkata dan menyapa siapa pun di sana Anin berlari mendekati motornya. Lalu pergi menjauh dari butik itu.
Kemudian, Anin berhenti pada sebuah taman kota, yang siang itu tampak sepi. Anin memarkirkan motornya di parkiran, lalu mencari tempat yang sejuk dan rindang untuk sekedar menyendiri, dan di situlah tangis Anin pecah.
Hancur semua harapan dan cita - cita Anin untuk dapat melanjutkan studinya dengan di biayai Butik MJ.
Anin, benar benar sedih, ia merasa lututnya lemas dan tidak dapat berpikir. Ia merasa sudah sangat maksimal dalam membuat karyanya kali ini, tetapi apa yang terjadi? sepertinya Tuhan tidak berpihak padanya. Anin sengaja tidak langsung pulang kerumah, ia merasa lebih baik di lihat orang yang tidak mengenalnya di taman kota ini, dari pada harus menangis di hadapan ayahnya di rumah.
Tiba-tiba Anin teringat dengan Darel, yang telah memberi nasehat padanya. Agar menyiapkan mental untuk kalah dan menang sekaligus. Entah dapat kekuatan dan pikiran dari mana. Anin pun memutuskan untuk menghubungi Darel via telepon saat itu.
Lama sambungan telepon itu tidak di angkat sang pemilik. Hingga Anin pun tersadar, bahwa mungkin ia salah untuk menghubungi Darel.
Perasaan bersalah itu, malah semakin membuat Anin mengasihani dirinya, yang tidak tau diri. "Memangnya dia siapaku, sampai - sampai aku berani menelpon dia hanya ingin curhat?" Batin Anin mengutuki dirinya yang sudah gegabah dalam bertindak.
Namun, baru saja Anin ingin beranjak pergi dari taman itu, benda pipih persegi milik Anin berbunyi. Dan itu panggilan dari Darel. Buru - buru Anin menggeser tombol hijau pada benda itu, untuk menyambungkan panggilan itu.
__ADS_1
"Asalamuallaikum, Bang." Sapa Anin masih dengan suara serak terisak nya.
"Maaf Nin, tadi hape ku silent karena sedang meeting." Jawab Darel terdengar merasa bersalah.
"Oh, maaf Bang, jika Anin mengganggu. Abang lanjut aja meeting nya." Jawab Anin yang sudah mengira ia mengganggu wakt Darel.
"Tadi..., sekarang sudah selesai. Kamu kenapa Nin, seperti sedang tidak bersemangat."
Entah mengapa Anin begitu melow mendengar kata itu keluar dari mulut Darel. Tidak mendapat jawaban dari Anin, Darel pun memindahkan sambungan telepon itu ke mode video call yang tidak Anin sengaja, untuk menerimanya. Maka, tampaklah wajah Anin yang masih bersimbah air mata itu, tak luput dari pandangan mata Darel.
"Kamu kenapa?" tanya Darel heran melihat wajah yang selalu di lihatnya ceria itu tiba - tiba bersedih dan penuh dengan linangan air mata.
Lagi - lagi, Anin belum menjawab pertanyaan Darel.
"Apa yang membuatmu bersedih?" desak Darel lagi yang tidak tahan melihat wajah sedih itu.
"Karya ku, ga lolos seleksi Bang." Jawab Anin.
"Hah!!! Tidak mungkin, karya mu itu bagus Nin. Masa masuk 10 besar pun tidak?" Pasti ada kesalahan!!!" Ucap Darel yang tersulut emosi.
"Tidak mungkin, desain yang belum selesai kemaren saja sudah bagus, apa lagi jika sudah selesai. Aku ingat betul detail karyamu.Nin."
Anin hanya menggeleng. "Anin cuma mau bilang, terima kasih waktu itu abang sudah ingat kan Anin untuk menyiapkan mental untuk kalah. Ternyata itu sangat berguna. Sekali lagi terima kasih ya bang." Ucap Anin yang kesedihannya sudah mereda.
Berbeda dengan Darel, yang kini tampak tidak terima dengan keputusan hasil lomba.
"Tidak Nin, aku akan cek ini. Aku tidak percaya dengan hasil ini, aku tidak terima!!!" ujar Darel dengan nada keras.
"Udah bang, Anin ga apa - apa. Anin bisa terima kok hasil keputusan lomba. Maafkan Anin sudah mengganggu dan membagi kesedihan Anin sama abang ya." Ucap Anin yang kini makin merasa bersalah karena telah membuat Darel emosi.
"Bang, sudah ya. Anin mau pulang dulu. Asalamuallaikum."
"Walaikumsallam." Ucap Darel masih dengan nada tidak bersahabat.
__ADS_1
Anin menari nafas dalam. Mencari tissue basah dan membersihkan wajahnya, agar terlihat segar kembali. Kini Anin harus pulang dan berhadapan dengan ayahnya, yang juga berharap besar pada kary Anin bisa menjadi juara dalam kompetisi itu.
Setiba Anin di rumah, ia langsung masuk kamar dan mandi. Menyiram kepalanya dengan air dingin berkali - kali. Berharap otaknya pun bisa berpikir dengan dingin saat menghadapi ayahnya nanti.
Ketika di luar kamar, Anin pun duduk mendekati ayahnya, lalu berkata : "ayah, karya Anin tidak masuk 10 besar. Jadi, Anin gagal untuk dapat hadiah sekolah gratis itu." ucap Anin pelan agar ayahnya tidak terkejut.
Sejenak ayah memandang sendu wajah anak kesayangannya ini, kemudian berkata: "Belum rejeki kamu Nin. Berarti ada yang lebih membutuhkan biaya itu dari kamu. Tidak perlu sedih. Karyamu tidak jelek, tetapi pasti ada karya orang lain yang lebih baik dari karyamu. berlapang dada lah menerima kenyataan ya nak..??" Ucap ayah tak kalah hati-hati agar Anin tidak down.
"Apa ayah tidak marah pada Anin, karena Anin tidak menang, bahkan tidak masuk 10 besar?" tanya Anin yang tidak mengira ayahnya merespon setenang itu.
"Untuk apa marah, anak ayah sudah maksimal berusaha. Tetapi, takdir berkata lain, kita bisa apa?" ujar ayah di sambut pelukan Anin pada ayahnya. Dan Anin masih tidak bisa berkata lagi.
"Anin, cepat daftarkan dirimu untuk melanjutkan sekolah itu dengan biaya sendiri. Bukankah tabunganmu sudah banyak?" tanya ayah pada Anin.
"Siap, ayah. Anin akan tetap melanjutkan impian Anin." Ucap Anin yang kini sudah kembali bersemangat."
Bersambung
...Buat semua reader....
...Ku ucapkan Minal Aidin wal faizin...
...Mohon maaf lahir dan batin ya....
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...