DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 73 : DEAL, KITA JADIAN


__ADS_3

Gubrak, gagah banget ini cowok. Sejenak Anin terpesona ketika mata meraka beradu pandang.


"Anindyta Kailila, sebut saja Anin." Ujar Anin sedikit tergagap.


"Duduk di sini saja Nin." Pinta Jovan dengan santainya tanpa peduli dengan perasaan Anin yang tiba-tiba kacau, setelah berkenalan dengan pria yang di pandang makin dekat makin ganteng sempurna ini.


Tetapi, Anin yang memang pandai menempatkan diri serta beradatasi dengan siapa saja. Tentu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk di ajak berbincang dengan tema apa saja.


Kini terlihat Anin dan Bimo sudah terlibat dalam obrolan yang hangat, tidak kaku sebab sesekali mereka tampak saling tertawa, yang kemudian berakhir dengan bertukar nomor kontak pribadi.


Sejak perkenalan hari itu, benar saja kini Anin tampak semakin akrab dan dekat dengan Bimo. Mereka lebih sering terlihat joging bersama sebelum Bimo masuk kerja.


Selisih usia Anin dan Bimo yang berjarak 8 tahun, membuat Anin memberanikan diri memanggilnya dengan sebutan mas di awal nama Bimo agar terdengar lebih sopan.


"Anin, masih lama di sini?" tanya Bimo pada Anin saat hari itu mereka sudah mulai berjalan pelan menyusuri jalan yang masih terlihat sepi di desa itu.


"Anin, tergantung ayah saja, Mas. Jika masih betah dan kami belum di usir kak Jovan mungkin akan lebih lama di sini." Jawab Anin


"Pekerjaanmu?" tanya Bimo


"Aku pengangguran mas," jawab anin sambil tersenyum.


"Ah yang benar, mau punya kerjaan?" tanya Bimo lagi.


"Memangnya dimana ada lowongan pekerjaan?" tanya Anin polos.


"Ada...di rumah dinas ku. Jadi istriku." Jawab Bimo dengan tegas dan gamblang.


Spontan Anin, menarik napas dan menepuk dadanya pelan karena terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Bimo heran melihat ekspresi Anin degan wajah yang memerah.


"Mau pingsan mas." Jawab Anin sambil menghempas napasnya dengan cepat.


"Ya, buruan. Biar ku kasih napas buatan." Ucap Bimo santai sambil menoleh ke arah Anin.


"Buset ni orang, ga ada rem rem nya amat yak. pepet terus" Batin Anin


"Ga jadi pingsan deh mas, takut di sosor." Jawab Anin sambil nyengir ke arah Bimo.


"Serius nih, usia ku dah kepala 3 ini. Dirumah tidurnya sendiri, sepi. Aku perlu punya istri, kayak kakakmu.


Kayaknya makin bahagia gitu setelah punya istri." Ungkap Bimo yang masih sambil berjalan pelan beriringan dengan Anin.


"Waduh, udah perlu istri aja. Pacarannya di skip ya mas?" Ujar Anin sengaja mengulur jawaban yang ia sendiri bingung.


"Pacaran gampang, bisa nyusul pas habis nikah. Udah halal lagi, jadi kan ga dosa." Tegas, lagi-lagi jawaban pria ini begitu tepat dan cepat. Apa pengaruh profesi ya, jadi serasa serba gercep gini.


"Ijin Ndan, kalo mau cepet punya istri aku pamit. Tapi kalo mau pelan-pelan saling mengenal pribadi masing-masing dulu, aku yes...!!! Ujar Anin setengah bercanda, yang entah dapat pikiran dari mana untuk jawab kayak gitu.


"Oke deal!!! Kita jadian." Ujarnya yang langsung meraih tangan Anin untuk saling berjabatan.


"Lho kok gini." Ujar Anin yang tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Kenapa...? Keberatan...? Atau kamu sudah punya calon suami atau teman dekat begitu?"

__ADS_1


tanya Bimo lagi.


Mendadak muncul bayangan Darel menari-nari dalam benak Anin. "Tapi, ketimbang aku ngarep Darel yang nyata-nyata milik Fely. Mending aku coba tawaran cogan nan berwibawa ini, kali jodoh." Anin bermonolog dalam hatinya.


"Ga sih mas, aku ga ada terikat janji dan hubungan sama cowok manapun kok. Hanya rasanya kok, kaya kecepetan gitu. Dengan pertemuan kita yang belum seminggu udah main jadian aja."


"Aku ga main, aku serius kok."


"Iya, maksudku. Kita baru kenal, tapi mas bilang kita udah jadian aja."


"Ya, kan kamu bilang kita saling kenal pribadi masing - masing dulu, aku setuju dengan kata itu." Ujarnya lagi dengan nada lebih pelan.


Akhirnya Anin mengangguk sambil menaik turunkan alisnya tanda setuju.


Ada senyum kepuasan tersirat di wajah tampan Bimo saat itu, yang sesungguhnya tidak sesulit yang dia kira untuk mendapatkan seorang Anin.


Anin sesungguhnya tidak tau apa sebenarnya yang terjadi dalam hatinya. Semudah itu pria ini datang memporak porandakan hatinya, yang selama ini hanya di isi oleh Darel seorang. Tapi, di sisi lain Anin juga ingin mengecap rasa manisnya di cintai oleh seseorang yang serius ingin mengenalnya.


"Mungkin ayah benar, selama ini aku terlalu sibuk kerja, jadi lupa pacaran. Sekarang usia udah hampir 24 tahun baru tau rasanya di tembak cowok, ganteng pula, mapan lagi. Sengklek kali otakku jika sampai nolak ini orang." Anin masih sibuk ngobrol sama hatinya saat ia sudah berbaring di dalam kamar.


sambil mengenang peristiwa tadi pagi, yang tiba-tiba saja kini sudah melepas masa jomblonya.


Anin terperanggah tatkala melihat nama Darel meronta-ronta pada panggilan video call di ponselnya. Reflek Anin menggeser benda pipih itu untuk menerima panggilan dari Darel.


"Assalamualaikum, manis." Sapa Darel dengan senyum yang merontokkan hati Anin kembali.


"Walaikumsallam, Bang . Apa kabar?" tanya Anin dengan senyum terkembang di pipinya.


"Belum baik, kalau belum ketemu kamu Nin." Rayu Darel


"Masih di Bandung, ni lagi di kamar aja." Jawabnya sambil menunjukan seisi kamarnya yang tentu sangat besar dan mewah.


"Mama apa kabar Bang?"


"Kemarin udah mulai bisa buka mata, terus ... belum tau. Bulan depan kayaknya aku ke sana lagi. Ikut yuk." Ajak Darel. Yang hanya di balas senyum dari Anin.


"Kamu masih di desa Nin?" tanya Darel yang memang tau posisi terakhir Anin bulan lalu saat , Anin bilang kakaknya menikah.


"Iya, kata ayah, beliau betah di sini."


"Ayah atau kamu yang betah, Nin?"


"Dua-duanya." Jawab Anin yang memang tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya


"Sudah ada kabar dari Esmod...?"


"Belum." Jawab Anin.


"Mau, aku cek kan? Sekalian daftarin Nicole."


"Emang bisa gitu?"


"Ya perusahaan ku menjalin kerjasama. Tentu aku punya link untuk daftarin."


"Ga merepotkan?" tanya Anin sungkan.

__ADS_1


"Ngecek doang Nin. Kali aja ada beberapa poin yang tertinggal isi pas kamu daftar."


"Iya boleh deh bang. Kalo memang ga buat abang repot. Tapi jangan maksa ya , kalo emang aku belum di terima."


"Iya. Nin... Ke Bandung yuk. Atau pulang ke Surabaya.


Aku kangen kamu." Ucap Darel berani.


Wuusshh.... seketika hawa panas menjalar dari hati ke ubun-ubun kepala Anin. Cepat - cepat Anin menjawab.


"Fely mana?"


"Udah ku parkir bebaskan." Jawab Darel.


"Maksudnya...?" tanya Anin tidak mengerti.


"Kami sudah lama putus Nin."


"Lho, ko bisa? Kapan?" tanya Anin terkejut.


"Masa kamu juga tidak tau kalau dia punya hubungan sama om-om." Ujar Darel tiba-tiba berkata jujur pada Anin malam itu.


Anin hanya diam, tidak menyangka jika ternyata Darel juga tau kalau Felysia wanita simpanan.


"Kamu tau kan Nin?" tanya Darel lagi.


"Urusan orang abang, jangan suka ikut campur." Jawab Anin yang selalu tak suka mengumbar aib seseorang.


Darel hanya tersenyum pada Anin.


"Udah dulu ya Nin. Cepat pulang, atau aku yang samperin ke situ, Assalamualaikum."


"Walaikumsallam..." Jawab Anin sendiri karena sambungan itu sudah terputus.


Bersambung...


...Nah looo......


...saat Anin udah punya Bimo...


...Baru tuh Darel ngaku putus sama Fely...


...Ikuti terus kelanjutannya ya reader ❤️❤️❤️...


...Mohon dukungannya 🙏...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih 👍💌✍️🌹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2