DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 100 : TANYA SAMA TUHAN


__ADS_3

Hingga ia terhenti saat di dengarnya suara wanita yang sangat ia kenal memanggil namanya. Membuat Darel kembali membalikkan badannya untuk melihat asal suara yang menyebut namanya penuh semangat tadi.


"Felysia...!!!" Ucap Darel yang akhirnya menghentikan langkahnya setelah menoleh.


"Darel... apa kabar?" masih dengan nada centilnya, bahkan kini pipi nya dan pipi Darel sudah saling bersentuhan.


"Kabar baik. Kamu dari mana?" tanya Darel berbasa-basi. Sambil melerai tangan yang kini tertaut manja di tangan kekar milik Darel.


"Aku dari Jakarta. Papa sakit, makanya aku pulang. Padahal rasanya malas sekali untuk sekedar menjenguk mereka." Ucapnya dengan nada yang memang sangat terpaksa.


"Kamu mau ke mana?"


"Bandung." Jawab Darel singkat sambil berjalan menuju tempat makan.


"Kabar mama gimana...?" Felysia masih mensejajarkan langkahnya mengikuti Darel.


"Udah sehat banget." Ujarnya.


"Lalu, kenapa kamu masih ke Bandung...?" Felysia masih kepo.


"Aku sudah tidak bekerja di sini." Jawabnya dengan rasa malas.


"Kalau tidak kerja di sini, kenapa kamu ada di sini...?" tanya Felysia yang masih membrondongnya dengan pertanyaan bak wartawan.


"Kemarin baru selesai acara lamaran." Ucap Darel menanggapi pertanyaan Fely.


"Lamaran? Siapa? kamu... udah mau nikah? sama siapa...?" tanyanya makin kepo.


"Anin." Darel memilih untuk jujur agar Fely tidak selalu memburunya.


"Apaaa...? Darel pliiis..!!! Bilang kalo kamu becanda...!!!"


"Aku tidak bercanda, aku memang akan menikah dengan Anin, mantan asistenmu."


"Oh Tuhan... tolong Darel, sekali lagi. Jodoh tidak sebercanda itu. Ada apa denganmu...??"


Darel tidak menanggapi kata-kata Felysia, ia hanya tampak sibuk dengan menu makanan di hadapannya.


"Darel...!!! Kita bahkan pernah hampir menikah. Aku model papan atas, mengapa aku seolah kalah hanya oleh seorang Anin, asisten itu. Ini pelecehan bagi ku Darel. Aku ga terima!!!" teriaknya kesal.


Membuat semua mata melihat ke arah mereka berdua.


"Kamu berisik banget sih. Aku mau makan. Jika mau ikut makan silahkan, tapi diam! Jika tidak silahkan pulang!" Sarkas Darel tegas, karena cukup malu. Atas sikap Fely, mereka seolah dua pasangan sejoli yang sedang bertengkar kini menjadi tontonan gratis bagi orang-orang di sekitar mereka.

__ADS_1


"Aku ga mau makan, tapi aku juga ga mau diam. Aku masih minta penjelasan, kenapa kamu sama Anin. Apa yang Anin lakukan padamu sehingga kamu, kini bahkan telah melamarnya.Hah...?" Fely sedikit memelankan suaranya tetapi masih penuh tekanan karena kesal dan marah yang memuncak.


"Anin tidak melakukan apa-apa. Aku memang jatuh cinta padanya. Apa hanya karena dia pernah menjadi asistenmu, dia tidak berhak menjadi istriku, menjadi satu-satunya wanita yang ku minta menjadi ibu dari anak-anakku...?" tanya Darel dengan suara pelan.


Felysia kini tampak berkaca-kaca.


"Dia hamil...olehmu?


Kenapa harus Anin wanita yang kau pilih Darel. Kenapa dia...?" kini ia nampak terisak.


"Jangan sembarangan kalo ngomong. Mana mungkin dia hamil, kamu tau dia wanita seperti apa. Untuk alasan mengapa aku pilih dia, sebaiknya kamu tanya sama Tuhan saja. Sebab, aku sendiri hanya menjalani rasa yang begitu bergejolak di dalam hatiku, yang sangat kuat menginginkannya." Jawab Darel santai.


"Atau jangan-jangan... kalian memang telah lama menjalin hubungan di belakangku? Jangan-jangan saat dia menjadi asistenku pun kalian memang telah berhubungan. Hanya aku yang tidak peka!!! Jawab...!!! Kalian pasangan selingkuh...!!! Benarkan...?" lagi-lagi suara itu meninggi menarik perhatian orang di sana.


"Sudah ku bilang diam...!! Sekarang kamu malah menghilangkan selera makan ku.!" Ucap Darel meninggalkan uang di atas meja, di bawah piring menu makanan yang ia pesan.


Kemudian tampak buru-buru meninggalkan Felysia yang masih terlihat menangis di atas meja itu.


Ia tidak habis pikir mengapa harus Anin yang menjadi penggantinya. Felysia sangat kecewa. Ia merasa itu adalah sebuah pelecehan baginya, bagaimanapun Anin tetap lah seorang asistennya. Felysia mengacak-acak rambut nya kesal. Benar-benar kesal.


Dengan langkah terburu-buru dan kaki yang sengaja dia hentakkan, Felysia pun meninggalkan Bandara Juanda dengan perasaan yang sangat kesal.


Sementara Darel tidak jauh berbeda dengan Felysia. Ia pun sangat kesal atas pertemuannya dengan wanita cinta pertamanya itu.


Darel kini tampak terburu-buru menghabiskan makan siangnya yang sempat tertunda, kemudian kembali ke Bandara Juanda untuk segera terbang ke Bandung.


Beberapa hari kemudian, Anin tampak bingung dengan panggilan telepon dari nomor yang tidak ia kenal. Berhubung panggilan itu berlangsung di tengah malam, tentu saja Anin tidak menanggapinya.


Berbeda dengan panggilan dari Darel walau tengah malam atau subuh sekalipun. Pasti selalu ia nantikan. Kecuali saat sedang belajar.


"Assalamualikum Lov... udah sholat?" sapa Darel saat waktu Paris menunjukan pukul 4 subuh.


"Walaikumsallam, belum. Masih terima telepon calon suami dulu nih. Baru sholat." Jawab Anin penuh semangat.


"Ciee...yang udah punya calon suami." Goda Darel.


"Bee... jangan lama lama ngobrolnya. Setelah ini cepat tidur ya. Nanti sakit lho."


"Iya mom, aku cuma sekarang kena sindrom susah tidur kalo belum denger suara calon istriku." Rayunya pada wanita kesayangannya ini.


"Iih...gombalnya my hubby."


"Mom."

__ADS_1


"Hmm.."


"Mooom."


"Hmmmm, ada apa Bee?"


"Kemarin selepas kamu pergi, aku ketemu Felysia di Bandara. Katanya dia dari Jakarta. Pulang ke Surabaya mau jenguk papanya sakit."


"Terus...?"


"Dia tanya lah sama aku, ngapain di Juanda. Ya ku bilang lah. Ngantar calon istri."


"Trus..?"


"Ya dia kepo lah, mau tau siapa calon istriku. Ku bilang aja kamu."


"Trus...?"


"Ih...trus terus... ntar mentok looo." Canda Darel.


"Iya... aku penasaran dong. secara calon suamiku ketemu mantan. Kali aja... masih ngaku jomblo lalu...ngapain gitu."


"Lov...aku malas ribut deh kalo jauhan. Kalo deket dah ku terkam kamu sembarangan menuduhku. Aku ketemu dia lalu ku bilang aja kita akan segera menikah. Lalu dia marah, katanya dia ga terima dengan pilihanku."


"Jadi kita gimana Bee. Kasian Fely, mestinya aku ijin ya sama dia, atau aku memang telah merebut kekasihnya...?" terka Anin asal.


"Mom... kamu ga rebut kekasih siapapun. Aku benar benar telah lama putus sama dia. Di sini aku yang lebih mencintaimu, kenapa harus ijin sama dia. Restu itu dari orang tua, bukan dari mantan."


"Iya...tapi kali aja ada rasa yang tertinggal, belum beres gitu Bee. Terus kemarin ngomongnya sampe tuntas ga...?"


"Ga ... ku tinggal pergi aja. Emosi gue...!!"


Jawab Darel yang langsung berubah mood.


Bersambung ...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...

__ADS_1


...seikhlasnya yaa...


__ADS_2