DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 74 : NIKAH YUK ...


__ADS_3

"Udah dulu ya Nin. Cepat pulang, atau aku yang samperin ke situ, Assalamualaikum."


"Walaikumsallam..." Jawab Anin sendiri karena sambungan itu sudah terputus.


Ngok..ngok, Anin di buat bingung dengan kata - kata Darel barusan. Sebuah permintaan, perintah atau lebih tepatnya sebuah ancaman...? Trus, kenapa Anin harus ambil pusing. Emang dia siapanya Anin.


Kini bukaan hanya tentang detik yang bergerak menuju menit untuk menyelesaikan putaran roda jam yang terus berputar untuk menggulirkan hari. Tetapi putaran waktu kali ini telah mengantarkan mereka menuju tahun yang baru.


Akhirnya, ayah dan Anin memutuskan untuk pulang ke Surabaya di akhir minggu, bulan pertama di tahun yang baru.


Jika saat berangkat, Anin memerlukan energi dan kesiapan yang cukup untuk mengemudikan mobilnya ke Desa Bumiraya.


Berbeda dengan sekarang. Kini, Anin tampak duduk manis di sebelah kemudi. Bimo sang kekasih tentu tidak membiarkan Anin, menyetir sendiri untuk pulang ke Surabaya.


Ayah tampak duduk di belakang, dengan suasana hati yang sangat berbahagia. Ayah adalah orang pertama yang menyetujui agar Anin di kenalkan pada Bimo. Acara makan siang dan lain-lain. Tentu hanyalah setingan belaka dari Jovan dan Bimo sendiri. Yang ternyata sudah penasaran saat melihat Anin duduk di pelaminan saat mendampingi ayah untuk menggantikan posisi ibu mereka. Di hari pernikahan Jovan.


Pantas saja Bimo tampak gercep untuk mendapatkan Anin, sebab semua keterangan catatan kebaikan dan pekerjaan Anin sudah di kantongi semua oleh Bimo yang ia ketahui dari Jovan tentunya.


Dan, pada Jovan sebagai kakak Anin. Bimo mengaku, bahwa ia serius ingin menjalin hubungan dengan Anin.


Tidak bisa Anin pungkiri, sejak ia resmi menyandang status berpacaran dengan Bimo. Suasana hatinya memang lebih berbunga - bunga. Akhirnya, Anin merasakan bagaimana rasanya berpacaran, di cinta dan di sayang. Bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Anin sadar hubungan mereka terasa instan. Dan sesungguhnya Anin tidak yakin akan keseriusan Bimo padanya atau sebaliknya. Anin butuh waktu untuk benar-benar memastikan perasaannya. "masa semudah ini aku jatuh cinta, tapi apa iya ini cinta...?"


Mungkin terlambat untuk Anin berpikir sekarang, karena kenyataannya kini statusnya adalah kekasih seorang AKP. Bimo Aswatama yang memiliki jabatan sebagai Kapolsek di Kecamatan Bumiraya.


Ia seorang pria mapan yang tentu memang telah siap untuk menikah. Tetapi bagaimana dengan keinginan Anin yang ingin melanjutkan khursusnya? Apa mungkin Bimo mengijinkannya untuk meraih impiannya?


Karena sepertinya ia lebih menginginkan mereka menikah saja. Dan Anin cukup mendampinginya sebagai ibu bhayangkari saja. Itu yang membuat Anin berpikir agak keras. Untuk melunakkan dan memberi pengertian kepada Bimo agar tetap mengijinkannya melanjutkan studi ke Paris, kemudian siap menikah.


Walaupun ayah menyukai dan setuju atas hubungan Anin dan Bimo, bukan berarti ayah mengijinkan Bimo menginap dirumah mereka. Selama di Surabaya Bimo membuka satu kamar hotel untuknya menginap.


Dan malam itu, Anin mendapat email dari Esmod bahwa pada minggu kedua di bulan ke tiga tahun itu, Anin sudah harus melakukan daftar ulang. Karena ia di nyatakan di terima untuk khursus di Esmod Paris, dan kursus di mulai pada bulan berikutnya.


Reflek Anin men-screenshoot isi email itu, lalu mengirimkannya pada Darel. Karena saking senangnya. Dan Anin juga tau, bahwa Darel yang sangat mendukungnya untuk melanjutkan menggapai cita-citanya ini.


Beberapa menit setelah pesan itu di reed. Ponsel Anin langsung berdering, Darel segera melakukan panggilan pada Anin.


"Selamat ya manis, akhirnya cita-citamu tercapai." Ucapnya tanpa mengucapkan salam karena ikut senang.


"Iya mas, eh! bang Emil. Aku seneng banget...

__ADS_1


Abang yang urus...?" tanya Anin pada Darel.


"Tidak sempat, aku hanya melihat daftar nama pendaftar. Karena memang banyak sekali peminatnya Nin. Ku lihat ada namamu tertera di sana, ya sudah. aku tak perlu melakukan apapun untukmu."


"Oh gitu. Aku bingung jadinya nih, mau ngapain dan mulai dari mana? rasanya seperti mimpi." Ucap Anin yang kesenangan.


"Kamu masih di desa, Nin...?" tanya Darel.


"Baru 2 jam yang lalu aku dan ayah sudah di rumah, bang. Jawab Anin.


"Oke, minggu depan aku ke Surabaya ya.


Ada hal yang ingin ku sampaikan langsung denganmu." Ujarnya yang kemudian mengucapkan salam dan mengakhiri sambungan telepon itu.


Anin hanya bisa menarik nafasnya dalam kemudian membuangnya dengan kasar.


Keesokan harinya, pagi-pagi benar Bimo sudah terlihat berada di rumah Anin. Untuk sarapan dan sekedar bersantai di sana. Siang hari, ia mengajak Anin jalan-jalan. Nonton, makan layaknya pasangan berkencan lainnya lah. Sesekali tampak mereka mengabadikan moment kemesraan mereka berdua. Mesra versi Anin ialah cukup dengan berjalan bergandengan dan saling genggam saja. Dan Bimo tidak mempermasalahkan prinsip wanita yang sangat dicintainya itu.


Tampak Anin memasang pic tangannya yang sedang di genggam Bimo pada SW nya dengan caption.


"Selanjutnya, mungkin aku akan merindukan genggaman tangan ini." Bimo yang melihat langsung saat Anin mengetik tulisan itu, langsung tersenyum senang.


"Nikah yuk. Belum mas tinggal aja, udah takut rindu." bisik nya pelan di dekat telinga Anin.


"Iya, kalo jauhan sih aku bisa sabar. Tapi kalo dekat gini, imanku bisa roboh sayang." Ucapnya lagi dengan suara pelan dan lembut.


"Kenapa udah kebelet nikah ya?" canda Anin.


"Penasaran...karena ga bisa icip-icip sedikit yang." Ujar Bimo yang tidak di tanggapi oleh Anin.


"Mas, aku keterima lo studi di Paris." Anin mengalihkan topik pembicaraan mereka


"Kapan...?"


"Masih satu bulan dua minggu lagi untuk daftar ulangnya, kemungkinan mulai di bulan empat nanti" Jawab Anin manja.


"Ga usah berangkat deh, ke jauhan kita LDR nya sayang."


"Tapi ini impian Anin, mas."


"Apa menikah juga bukan bagian dari cita-citamu?" tanya Bimo.

__ADS_1


"Itu ... itu bagian akhir mas." Jawab Anin.


"Atau kita nikah dulu sebelum kamu pergi." Tawarnya lagi.


"Bukannya, nikah sama anggota polri lebih ribet dan melewati beberapa proses?" tanya Anin dengan polosnya.


"Nikah siri aja dulu, biar halal. Jadi pas sayang di sana, aku ga khawatir sayangku di ambil orang."


"Nikah siri...??? modus mas aja biar halal. Bilang aja mau nyicip." Ujar Anin yang mulai merasa Bimo makin ngebet mau nikah.


"Ya, aku kan takut kehilanganmu sayang."


"Mas, kita baru kenal. Terus selama ini juga hanya mas yang kenal keluarga ku. Tapi aku belum pernah di kenalkan sama keluarganya mas. Eh... ini malah di ajak nikah siri.


Ga mau...!!"


"Bercanda sayang, iya boleh deh kamu lanjutkan studi mu di sana. Asal baik-baik jaga diri ya, tetap jaga prinsip mu dan yang paling penting jaga hatimu hanya untuk mas seorang."


"Insyaallah, mas Bimo ku sayang."


"Enaaaak banget di denger sayang. Apa lagi jika bisa icip-icip bibir yang ngomong itu." Bimo masih saja mengajak Anin bercanda.


Bersambung...


...Wadidaaau.......


...Kalo author siih pilih nikah aja sama Mas Bimo...


...timbang sekolah lagi xixixiii😂😂😂...


...Mohon dukungannya 🙏...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih 👍💌✍️🌹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2