
Dua pasangan suami istri itu tampak masih bergelung di dalam selimut yang sama, saat sinar matahari telah menyeruak ke sisi lantai kamar hotel yang mereka singgahi sekedar untuk menghabiskan malam romantis mereka berdua.
Benar saja yang di katakan mama Darel, sepertinya Tuhan sedang memberikan waktu yang banyak untuk mereka berkencan setelah menikah. Sehingga Pak Haji sudah ga bisa bilang dosa lagi.
Ritual itu tampak berkali-kali mereka lakukan sepanjang malam, entah siapa yang candu pada siapa. Sehingga keduanya tampak sama, tidak mengenal kata lelah sampai adzan subuh mengudara di indera pendengaran keduanya, baru mereka menghentikan aktivitas panas itu. Setelah melaksanakan sholat, barulah mereka melanjutkan tidur mereka yang tertunda. Dan terbangun saat hari sudah siang.
"Sepertinya memang ini yang membuatku susah untuk meninggalkan mu Bee..." Ujar Anin saat masih dalam pelukan suaminya.
"Cup." Darel mengecup kecil bibir istrinya.
"Jangan bilang kamu tidak mengambil kesempatan itu hanya karena to'ing Mom, itu sangat memalukan." Candanya pada Anin.
"Kayaknya ... beneran udah candu Bee." Anin tak mau kalah meladeni candaan suaminya.
"Ha...ha...ha... Gombal. Bentar aku pesan makan siang dulu. Terus kita gempur lagi sampai magrib." Ujar darel yang sudah menekan telepon di atas nakas untuk memesan makanan ke kamar mereka.
"Ampun bang jago...!!! Ga sanggup si ini nya, Bang." tunjuknya pada bagian bawah perutnya.
"Biar puas cintaku." Ujar Darel yang langsung menerkam bibir istrinya.
"Ah...Bee. Kita belum mandi." Ucapnya yang sudah langsung berjalan menuju toilet untuk menyegarkan tubuhnya.
"Bareng mom...!!!" teriak Darel saat melihat istrinya yang sudah melangkah dan mengunci pintu kamar mandi itu.
Tidak ada jawaban dari istrinya. Darel tau, pasti istrinya sudah curiga ia akan melakukannya lagi di kamar mandi. Ia hanya menggeleng dan tersenyum kecil pada dirinya, dan juga merasa tidak percaya dengan kelakuannya sendiri yang memang terkadang tidak memberi ampun pada istrinya, yang terkadang ritual itu memang selalu di lakukan berkali -kali tanpa rasa lelah dan bosan, ya... benar saja mungkin itu telah menjadi hobby bagi nya.
Darel di kejutkan oleh suara bel dari balik pintu, ia segera memasang kaos yang ia sampirkan pada sofa di ruang hotel itu. Sebab ia juga pasti malu jika pelayan yang mengantar makanan siang mereka itu melihat dadanya yang di penuhi bercak merah keunguan oleh ulah nakal istrinya. Namun, dalam hatinya ia bangga melihatnya, itu artinya anin memang telah lihai dan dapat menyeimbangi permainannya.
Keduanya tampak telah menghabiskan makan pagi yang kesiangan itu. Tentu tetap dengan janji yang pernah Darel ucapkan, mereka makan dengan piring yang sama juga posisi Anin di atas pangkuannya.
"Kira-kira jika aku hamil nanti Bee, apa masih sanggup memangku aku begini...?" tanya Anin manja saat telah benar-benar menghabiskan makanan mereka.
"Emang seberat apa sih kalo mom hamil?" darel balik bertanya.
"Ya... ku baca artikel tuh berat badan ibu hamil bisa sampai 20kg loh Bee naiknya. Iih.. kebayang ga nanti betapa besarnya aku dan buncitnya perutku. Aku pasti tambah jelek ya Bee, nantinya." Seloroh Anin yang sudah sangat membayangkan akan kehamilannya.
__ADS_1
"Siapa bilang istriku jelek, kamu itu manis cintaku. Tidak akan pernah bosan untuk di pandang, apa lagi kalo sudah senyum...abang ga tahan neng. Mikirnya udah kasur aja... wkwkwkwkwkkk." Canda darel pada istrinya.
"Ih... abang mah. Pikirannya ga jauh dari kasur melulu. Ade lelah bang..."
"Iya... kita tidur aja lagi. Sore baru pulang ya. Malam nanti tergantung si iteung aja... kalo si to'ing mah...siap siaga selalu." Ujarnya mengusap pelan bagian favorit di bawah perut, di antara kedua belah paha Anin.
"Tangan... tolong di kondisikan. Jadwal tidur siang ya... bukan bertarung...!!!" Anin mengingatkan.
"Laksanakan ibunda ratu." Ucapnya yang kini sudah melangkah ke tempat tidur setelah dirasakannya ia benar-benar telah mengantuk setelah makan siang tadi selesai.
Seusai menjalankan sholat magrib, keduanya tempat telah bersiap meninggalkan hotel tempat mereka menginap.
"Mom... kita belum dapat keputusan tentang kuliahmu." Cegah Darel saat melihat istrinya sudah mulai beranjak meninggalkan kamar itu.
Anin sudah berada di atas pangkuan suaminya.
"Bee... sungguh-sungguh mengijinkan aku melanjutkan kuliah?" tanya Anin dengan nada penuh kesungguhan.
"Insyaalloh mom, aku mengijinkan. Demi kebahagiaan istriku tercinta." Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Tidak akan ada yang sulit, jika kita saling percaya."
"Janji Bee... kamu akan selalu setia...? itu lama loo." Ujarnya dengan memanyunkan bibirnya.
"Janji istriku. Pernikahan kita akan menjadi pertama dan terakhir untuk kita. Jangan berburuk sangka terlebih dahulu, yakin saja Allah berpihak pada jodoh kita, yang akan kita rawat dengan dengan sebaik-baiknya."
"Maaf Bee... kamu terlalu tampan untuk di biarkan tampak seperti pria jomblo selama 3 tahun kedepan."
"Apa aku harus meninggalkan perusahaan demi menemanimu di Paris."
"My hubby lebay..."
"Cukup kamu percaya padaku itu saja yang aku minta, mom." Ucapnya sambil menarik tangan istrinya untuk berada di atas pangkuannya.
"Aku cukup percaya pada Allah, bahwa ia telah mempersatukan ku dengan mu, maka aku yakin Dia tidak akan memisahkan kita dengan cara apapun, selama Ia berpihak pada kita.
__ADS_1
Demikian juga dengan mu Bee, aku tidak peduli dengan jarak yang memisahkan kita. Ada Allah yang maha tau atas segala perbuatan kita. Jika kau berkhianat, maka kamu juga telah mengkhianati Allah dan dirimu sendiri. Jika cintamu telah terasa luntur dan hambar karena jarak kita nantinya. Aku siap kembali pada ayah atau hidup sendiri." Anin berkata dengan tegas.
Darel tidak sanggup menahan air yang jatuh dari kedua bola matanya, Anin yang kini telah dalam pelukannya. Dengan nada suara yang amat lirih ia berkata : "Kamu satu-satu nya wanita yang paling ingin ku lindungi dan ingin ku bahagiakan sampai maut memisahkan kita berdua. Bagaimana ku katakan betapa aku mencintaimu, mom. Bahkan ku ijinkan kamu pergi pun karena demi melihat bahagia mu."
Anin membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Maaf... lagi-lagi demi ambisi ku. Kita terpisah jarak dan waktu. Aku berjanji, setelah ini, aku tak akan meninggalkan mu demi karier dan pendidikan, setelah selesai aku siap melahirkan anak-anak untuk rumah tangga kita. Aku sangat amat mencintaimu suamiku."
Tanpa ragu kali ini Anin yang memagut rakus bibir suaminya.
Hingga Darel nampak tersengal menerima serangan dari istrinya.
"Haruskah kita tambah satu malam lagi untuk menginap di sini, mom...?" bisiknya pelan di telinga istrinya.
Bersambung...
...Aaaa....brrrrrr...
...Pengantin baru susah di kendalikan ya......
...Buat para jomblo, ya maaf š...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1