DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 121 : TAK SELAMANYA LANGIT ITU BIRU


__ADS_3

"Apa aku boleh tau ... mengapa kamu tampak begitu bersedih tadi?" tanya Santy terdengar sangat perhatian pada Anin.


"Ah... aku hanya sedikit kecewa dengan nilai ujian ku." Anin menjawab dengan rona merah karena malu .


"Hahaha... kamu seperti aku. Dulu aku juga sering menangis sendiri karena kecewa pada diri sendiri, sebab aku merasa telah maksimal melakukan semuanya." Ujar Santy yang nampak begitu nyaman di jadikan tempat untuk berbagi masalah seputar kuliahnya.


"Oh ya...! Aku kira... aku saja yang begitu sedih akan hal ini. Maaf boleh aku panggil namamu dengan sebutan Kakak... apa benar aku panggil kak Santy agar terdengar akrab?" Anin terdengar hati-hati memintanya agar tidak menyinggung perasaan wanita ini, yang mungkin saja justru lebih muda darinya.


"Tentu saja boleh...bukankah kamu adik tingkat ku. Sebab aku ke sini hanya mengurus ijazah ku."


"Wah...kak Santy telah menyelesaikan studi di sini, jurusan apa kak...?" Anin semakin terpesona dengan wanita yang kini tiba-tiba menjadi temannya.


"Kemarin aku memilih jurusan Master Fashion Business. Aku merasa perlu memperdalam ilmu itu untuk memajukan perusahaan ku di sini. Suka duka juga akhirnya dapat aku lewati. Sama sepertimu yang melewatinya dengan tawa dan air mata. Ya... sebab langit tidak selalu biru, kadang ada angin yang mengajak awan hitam berarak menggiring turunnya hujan. Kadang juga ada bias cahaya yang mengurai membentuk sebuah pelangi setelahnya. Membuat semuanya menjadi indah. Percayalah setiap musim boleh berganti, tetapi semesta akan selalu setia menunjukan dirinya tetap teguh sesuai janji dan tugas nya masing-masing." Ucapan Santy yang terdengar sangat bijaksana. Membuat Anin semakin terkesima di buatnya.


"Ah... Kak Santy. Bertemu denganmu bagiku seolah takdir yang Allah aturkan untukku. Aku merasa memiliki semangat baru kembali. Dan malu saat kakak memergoki aku bak anak kecil yang sangat cengeng." Anin yang sangat merasa bersyukur atas pertemuannya dengan Santy.


Pertemuan itu berujung sebuah hubungan pertemanan yang berlanjut antara keduanya. Santy sangat menginspirasi di mata Anin. Banyak pesan moral yang Anin dapatkan dari seorang wanita berdarah Indo-Uzbekistan ini. Dia tidak hanya memiliki wajah yang cantik tapi juga memiliki pribadi yang sangat dewasa, bijaksana juga sangat smart.


Santy banyak membantu Anin dalam hal memberikan trik dan tips untuk Anin dapat mengatasi masalah seputar perkuliahannya.


Nampaknya, Santy juga berasal dari keluarga yang kaya. Buktinya di Paris ini saja dia tinggal di sebuah apartemen mewah juga dengan pasih dan lincahnya mengendarai mobil mewah keluaran terbaru miliknya.

__ADS_1


"Kak... setelah lulus ini apakah kakak akan tetap menetap di sini...?" tanya Anin yang memang telah menganggap Santy seperti kakaknya sendiri.


"Oh... mungkin tidak. Sebab perusahaan ku di sini telah ada yang mengelolanya. Juga aku sangat rindu untuk pulang ke Indonesia. Kamu tau kan rengekan seorang ibu yang telah lama di tinggal anak perempuannya demi untuk menuntut ilmu di negeri orang. Belum lagi, mereka yang sangat sibuk memikirkan usiaku yang hampir kepala tiga ini, tapi belum menikah. Karena aku tidak laku Nin." Terangnya dengan nada suara yang terdengar renyah dan penuh canda.


"Kakak belum menikah bukan karena tidak laku... tapi karena kakak lebih mengutamakan pendidikan terlebih dahulu. Dan mestinya dulu aku tidak cepat menerima lamaran untuk menikah, jadinya ya begini... pikiranku terbagi antara cinta dan cita." Kenang Anin seolah menyesali keputusannya untuk menikah.


"Hei... jodoh itu rahasia Allah Anin, kamu tidak boleh menyesali setiap keputusan yang telah kamu ambil. Sebenarnya sejak lulus Sekolah Menengah Atas pun aku sudah siap untuk menikah, tetapi tidak ada yang melamar ku dengan serius, jadilah aku isi waktuku untuk kuliah dan membangun usaha ku."


"Dan sekarang kakak sudah terlalu mapan untuk di nikahi pria sembarangan. Kakak wajar mendapatkan pria baik dan berkelas seperti kak Santy." Anin berkata dengan lantang dan penuh keyakinan.


"Ah... bisa saja kamu Nin. Berkelas apanya, aku masih merasa biasa saja. Masih banyak wanita-wanita sukses lebih dari aku di luar sana. Oh iya...ternyata kamu sudah bersuami. Tampang mu masih seperti ABG labil Nin, apalagi saat pertemuan pertama kita." kenang Santy pada pertemuan mereka yang unik itu.


"Ha...ha..ha... Kak Santy bisa saja. Iya aku sudah menikah bulan depan usia pernikahan kami memasuki tahun kedua. Nanti aku kenalkan kakak padanya, jika ia jadi ke sini. Karena sepertinya akhir tahun sampai awal tahun ini ia akan kembali meninggalkan pekerjaannya untuk bersamaku, yaaa.... biasanya sebulan."


Anin hanya tersenyum. "Ya... ga lah. Dia kan pemilik perusahaan. Mana bisa di pecat." Anin membatin dalam hatinya sendiri.


"Oh...atau mungkin suamimu pemilik perusahaan...? Ah mengapa aku tidak peka... sebab hanya orang mampu dan tertentu saja yang dapat kuliah di sini." Santy menjawab pertanyaannya sendiri.


Dan hanya di jawab Anin lagi-lagi dengan senyum manisnya.


Anin merasa tidak perlu menjawab seputar prestasi ataupun kekayaan yanng di miliki suaminya. Agar tidak menjadi konsumsi publik. Bagaimanapun Anin juga menyadari bahwa pelakor ada di mana-mana. Sehingga ia memilih untuk diam saja, jika itu menyangkut soal pribadi dan rumah tangganya.

__ADS_1


Manusia selalu memiliki karakteristik yang berbeda, saat kau puja suamimu pada wanita lain, dengan segala kelebihannya maka sama saja kau mempromosikannya dan membuat lawan jenis ikut menyukainya. Sama halnya dengan saat kita mengumbar kelemahannya, maka akan berderet-deret pria yang akan mendekatimu dengan kedok menghiburmu memasang badan mencari peluang menjadi pebinor.


Ya... Anin setuju pada kata kata Santy. Tak selamanya langit itu biru. Tapi yang harus kau jaga ialah mempersiapkan hati pada segala musim, jika sewaktu waktu dapat berubah.


"Kalian belum memiliki buah hati Nin...?" tanya Santy lagi.


"Belum di kasih... ya sesuailah dengan frekuensi pembuatannya kak. Juga sepertinya stres dan banyak pikiran seputar perkuliahan ini memang sangat mempengaruhi, membuat aku tidak fokus. Dan itu juga lagi-lagi membuat aku merasa bersalah untuk memilih melanjutkan kuliah ku ini." Anin berkata dengan pelan.


"Anin... berhentilah menyesali yang telah terjadi. Lihat lah kamu sudah berada di akhir masa kuliahmu. Selangkah lagi semua ini akan berakhir. Aku turut berdoa untuk kesuksesan tugas akhir mu, agar tahun depan kamu bisa berkumpul lagi dengan keluarga kecil bahagia mu." Suara itu terdengar sangat tulus dari mulut seorang Santy Kallie Nafeesa yang sangat membuat Anin semakin terpukau pada tiap kata dan jalan pikiran wanita dewasa dan mapan itu.


Ketika Anin baru saja hendak keluar untuk berbelanja keperluan dapurnya, Anin terperangah tatkala tubuhnya hampir saja bertubrukan dengan sosok tubuh seseorang yang membuatnya kaget setengah mati.


Bersambung..


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...

__ADS_1


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


__ADS_2