
Dan saat Anin sudah berada di teras rumahnya, bersamaan dengan berhentinya sebuah mobil sport putih tepat di halaman rumah Anin.
Tampak sesosok pria bertubuh atletis, berbalut kaos abu dengan jaket bomber berwarna hijau tua senada dengan sepatu kanvas bertali putih dengan celana jeans ikonik menambah kesan panjang pada kaki yang menggunakannya. Dia adalah Darel yang ternyata benar benar datang untuk memastikan hasil kompetisi kemaren.
Dengan langkah pasti Darel mendekati , menyalami sekaligus mencium punggung tangan ayah Anin dengan sopan.
Sesaat Anin kaget di buatnya, atas kedatangan pria ini, di saat yang tepat ia ingin keluar.
"Oh, kalian sudah janjian mau keluar?" tanya ayah pada keduanya.
Anin dan Darel bersitatap, kemudian Darel mengangguk tetapi Anin menggeleng. Ayah Anin hanya tersenyum melihat keduanya.
"Tidak ayah, kebetulan saja... Bang Emil kok ga bilang - bilang mau datang?" tanya Anin.
"Iya, mendadak ada urusan di sini." Bohongnya.
"Kamu mau keluar Nin, ya udah sekalian aja ku antar." Ajaknya.
Merasa tidak punya alasan untuk menolak Anin pun mengangguk setuju. Kemudian keduanya berpamitan, dan masuk ke dalam mobil Darel.
"Abang kapan dari Bandung?" tanya Anin ketika mobil Darel sudah berada di atas jalan berasal mulus dan lebar itu.
"Baru banget. Tadi cuma sempat sholat dan mandi. Langsung ke rumahmu. Ini kita mau kemana?" tanya Darel pada Anin yang yakin dengan dandanan begini pasti sudah memiliki tujuan dari rumah.
"Tadinya aku mau cari buku terus mau duduk aja di cafe. Sumpek...!!! Seharian ini aku hanya di rumah."
"Udah makan Nin?" tanya Darel lagi.
"Belum, ini tadi niatnya nongkrong sekalian makan."
"Kenapa ga masak sendiri kaya biasa?"
"Lagi malas aja."
"Masih kecewa?"
"Dikit. Tapi sudah move on kok."
"Cari bukunya di tunda besok aja ya Nin, ga mendesak juga kan? Kita nongkrong sambil cari makan dulu." Ujar Darel yang tidak menunggu persetujuan dari Anin langsung melajukan mobilnya ke suatu tempat.
__ADS_1
Kini Anin dan Darel sudah berada di sebuah Cafe & Bar. Sebuah bangunan yang konsepnya adalah semi outdor, bagian atap dibuat unik seperti kubah yang terbuat dari kaca. Nongkrong di dalamnya membuat pengunjung seperti berada di galaxy yang luas. Terutama pada malam hari, karena akan ditemani dengan hamparan bintang bagai lukisan di angkasa.
Sesaat Anin di buat takjub melihat tempat ini, maklum walau Anin lahir dan besar di Kota Surabaya ini, karena hidupnya yang dalam mode irit, membuatnya sedikit udik untuk tau dan berada di tempat sekeren malam ini.
Ditambah lagi yang mengajaknya adalah pria tampan sang pujaan hati nan rupawan ini, sangat membuat suasana hati Anin nyaman dan tentram. Sungguh tempat yang sempurna pengobat hati yang kemarin galau.
Melihat ekspresi takjub yang tidak bisa Anin sembunyikan membuat Darel bergumam di dalam hati. "Ga sia - sia gua obok-obok IG beberapa waktu lalu, ternyata tempatnya memang unik dan keren, cocok dengan wanita yang ku ajak kemari. Manis dan sempurna. Membuat malam jumat ini menjadi makin afdol. Whaaatt??" Darel menahan senyumnya sendiri.
"Kenapa Nin?" pancing Darel yang suka melihat raut terpesonanya Anin.
"Tempatnya bagus banget Bang." jawab Anin lugu.
"Ayo pesan makanannya dulu, baru ngobrol lagi." Ujar Darel sambil membaca buku menu yang telah tersedia di sana.
"Jadi gimana Nin, kamu masih sakit hati tentang hasil kompetisi kemarin?" tanya Darel setelah mereka berdua telah sama sama menyelesaikan pesanannya.
"Udah ga parah sih. Karena ayah juga memberiku dukungan. Sempat bete juga sih. Siapa Coba yang ga sakit hati, aku sudah maksimal ternyata, masih ada karya yang lebih keren dari karyaku." Ujar Anin lirih.
"Kamu yakin sudah menyerahkan karya yang benar? Aku kok curiga ya, sebab aku tanya Gerald kenapa karya mu gugur. Katanya karya mu hanya selembar sketsa tanpa keterangan."
Sontak Anin kaget di buatnya. "Masa...!! Kan abang liat sendiri gimana desainku kemarin yang sudah tidak berbentuk sketsa. Itu sudah ku kasih detail dan keterangan kan."
"Justru itu, aku datang. Aku mau lihat sendiri mana yang di kumpul atas nama kamu. Apa menurutmu, karyamu di curi atau di tukar seseorang,Nin?" tanya Darel lagi.
"Ya, kali aja kamu ada ninggalin berkas mu di tempat umum gitu." Ujar Darel membantu mengingatkan Anin.
"Sebelum mengumpulkan berkas, kami berkumpul di Kantin biasa sebelah butik. Lalu..." Kalimat Anin tertahan.
"Lalu apa yang terjadi di sana?" tanya Darel yang sudah tidak sabar.
"Lalu, tiba - tiba aku sakit perut. Kemudian ke toilet. Kau juga bingung hari itu, ga biasanya aku mengalami sakit perut yang aneh."
"Sakit perut? memangnya kamu ada salah makan apa?"
"Aku, ga makan di sana. Karena sudah makan di rumah. Lalu aku minum air mineral yang di sodorkan untukku. Tidak lama setelah itu, perutku sakit, aku sampai keringat dingin dan di bantu ke toilet karena tubuhku tiba - tiba lemah."
"Siapa yang tertinggal di sana?" tanya darel penuh selidik.
"Nicole, aku ingat betul. Nicole yang saat itu belum menghabiskan makan siangnya, tertinggal untuk menjaga tas kami yang ada di tempat makan itu. Kemudian, Nicole juga yang memberi aku susu hangat, yang katanya bisa meredakan sakit perutku." jelas Anin panjang.
__ADS_1
"Lalu..."
"Kemudian, aku merasa mendingan. Dan kamipun selanjutnya ke lantai 3 untuk menyerahkan berkas itu."
"Sebelum, kamu mengumpulkannya, apakah kamu ada memeriksa tas berkas mu lagi?" tanya darel bak seorang polisi yang sedang menginterogasi terdakwa.
Anin menggeleng. "Aku takut, justru karyaku di lihat pesaing. Makanya Map itu hanya ku peluk erat, dan ku serahkan saja ke panitia."
"Fix, Nicole patut di curigai kalau begitu." tebak Darel pasti.
"Jangan berburuk sangka Bang... dia baik kok. Dia yang susah payah memberiku susu, juga menggosokkan minyak urut di punggungku." Anin membela Nicole yang ia rasa tidak mungkin berbuat curang padanya.
"Sudah ku bilang, saat seseorang ikut lomba maka, semua orang akan melakukan berbagai cara untuk menang. Termasuk dengan curang." Suara Darel terdengar kesal.
Mereka berdua bak sepasang kekasih yang sedang cekcok di sana. Yang kemudian saling diam, saat waiters mengantarkan makanan pesanan mereka berdua. Keduanya pun mengakhiri obrolan itu, untuk menikmati hidangan yang telah tersaji di hadapan mereka berdua.
Tidak ada rasa canggung di antara keduanya, sebab makan malam begini bukan lah yang pertama bagi mereka berdua. Hanya kali ini, mereka makan malam di tempat yang sangat indah. Sehingga makan malam kali ini terlihat sangat istimewa dan spesial.
Bersambung.
...Cie... cie......
...udah waktunya jadian blom sih dua insan ini?...
...masih betah dalam hubungan tanpa status?...
...Kasih 2 Eps lagi deh hari ini, biar makin senang bacanya, okeeh🤗🤗...
...Mohon dukungannya 🙏...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih 👍💌✍️🌹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...