DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 114 : SALING MENGUNGKAPKAN


__ADS_3

"Kamu denger semuanya Bee...?" tanya Anin terkejut dan tidak menyangka jika perbuatannya kemarin justru menyakiti hati suaminya.


"Ya... mungkin tidak semua. Hanya di bagian yang minta di buat kan Candi." Ucapnya dengan senyum agar suasananya tidak menegang antara mereka.


"Sebenarnya aku tidak bermaksud, seolah membuatmu seperti suami yang tidak pengertian Bee. Hanya aku belum bisa beradaptasi dengan duniaku, aku yang terbiasa jadi upik abu, tiba-tiba sekarang seolah diperlakukan seperti tuan putri di rumah mertuaku. Aku belum terbiasa saja mungkin."


"Apapun yang kamu rasakan Lov, jadikan aku soulmate mu. Jadikan aku satu-satunya tempat ternyaman untuk menyandarkan bahumu, satu-satunya orang yang bisa kamu andalkan seringan dan seberat apapun yang kamu rasakan. Bukan kah kita sudah berjanji untuk saling terbuka...?" tanyanya lebih terdengar dewasa dan serius.


Anin langsung mengecup kecil bibir suaminya, lalu berkata : "Maafkan aku suamiku. Kejadian kemarin akan menjadi yang terakhir. Aku akan belajar dan terus berusaha menjadikanmu yang utama dalam hatiku. Maaf ya Bee... aku terlalu lama hidup bersama ayah, sehingga aku masih sangat merasa nyaman bicara dengannya."


"Aku tidak melarang istriku berbicara dengan ayahnya, tetapi sebaiknya yang kamu ceritakan hanyalah sukamu, apalagi dulu ayah pernah sakit, kamu tentu tidak ingin kan ayah kepikiran tentang kamu. Urusan kesedihanmu hanya kita berdua yang merasakan dan mencari solusinya. Apalagi kalau hanya masalah mau dibuatkan rumah. Aku sudah siapkan semuanya untukmu. Jadi, sekarang istriku mau yang mana dulu...? Ku buatkan Butik untuk lahan usaha agar tidak bosan atau ku buatkan rumah agar segera mandiri dan tidak terganggu saat mau buat anak." Darel memberikan opsi pada istrinya.


Anin tampak bingung untuk memilih keduanya.


"Keduanya boleh...?" gurau Anin pada suaminya.


"Waw... istri CEO maruk juga ya. Oke, yuk kamu pilih desain rumah yang seperti apa yang kamu mau." Ujarnya yang kini telah duduk mengambil ponsel pintar miliknya untuk memilih model-model rumah yang mungkin di sukai istrinya.


"Tidak usah keduanya Bee. Aku cukup senang tinggal di rumah mama dan papa. Untuk Butik... juga nanti saja, mungkin aku akan mulai membuat usaha kecil-kecilan saja. Jual desain yang telah lama ku buat itu lewat online, jika mulai banyak di minati, baru aku akan membuka butik itu."


"Lov... jangan buat aku seolah suami yang tidak mampu memberikan segalanya untukmu." Ujar Darel.


"Tidak Bee. Aku benci kegagalan. Aku akan lebih malu jika Butik itu sudah ada tapi sepi akan pelanggan. Lebih baik aku perkenalkan dulu desain-desainku, dari situ aku bisa mengukur peminat karyaku tersebut."


"Ya sudah, jika itu yang kamu inginkan lakukan sesuai keinginanmu, asal kamu senang dan jangan sampai lelah. Aku tidak mau ya, karena istri bekerja jatah to'ing ku berkurang dan servis tidak memuaskan." Canda Darel saat sudah dengan panjang dan lebarnya mengungkapkan isi yang ada di kepala merek masing -masing.

__ADS_1


"Servis-servis... no ke bengkel sana. Kalo mau di servis." Canda Anin yang sudah merasa jauh lebih lega.


"Mom..."


"Hmm..."


"Lapangan udah keringkan, pesawat siap lepas landas nih." Candanya pada istrinya dengan gerakan tangan yang sudah pasti di area favoritnya.


"Magrib-magrib. Kita Sholat dan makan dulu baru go."


"Beeeuuh. Istimewa istriku ini. Muuaach." Ciumnya gemas pada kedua pipi istrinya itu.


Saat itu minggu pertama di bulan ketiga pada tahun itu. Artinya usia pernikahan mereka telaah memasuki usia 3 bulan. Anin juga, telah terlihat lebih santai tinggal di rumah mertuanya, juga sudah tampak asyik dengan kegiatan barunya yaitu menerima pesanan mendesain pakaian via online. Yang ternyata cukup ramai dan di minati perancang lain yang membutuhkan jasa desain berbagai macam jenis pakaian. Sehingga Anin kini merasa lebih bersemangat menjalani hari-harinya. Yang terkadang bisa berjam-jam menghabiskan waktunya di ruang perpustakaan di rumah itu, yang sudah seolah menjadi tempat kerjanya dalam membuat dan menciptakan sebuah desain pesanan orang padanya.


"Anin...apa kamu yakin. Cukup menggunakan ruangan perpustakaan ini untuk menjadi ruang kerjamu. Atau apa tidak sebaiknya Emil carikan ruko buatmu, lalu rekrut orang-orang yang bisa menjahit menjadi karyawan mu. Sebab, jika hanya menggambar tentu hasilnya tidak seberapa. Tetapi jika desain mu langsung berbentuk fisik. Mama yakin akan sangat laku." Ujar mama Darel yang memang sangat perhatian pada menantunya itu.


"Kalau begitu kamu mulai lah dari membuka lowongan bagi penjahit lokal yang mau menjadi karyawan mu. Di samping kamu akan bisa langsung berjualan, kamu juga bisa membuka lahan usaha bagi orang lain nak. pahalanya dapat uangnya juga dapat." Saran mertuanya dengan hati-hati.


"Mama memang the best, nanti Anin bicarakan pada Bang Emil ma." Ujar Anin sambil menghambur kepelukan mertuanya itu.


"Tapi... bagaimana jika itu akan membuat aku semakin sibuk dan susah membagi waktu."


"Ah... mama yakin kamu tau batasan lelah badanmu. Nih... minum dulu susu nya, nanti keburu dingin ga enak lagi." Tawarnya saat Bi Ratih sudah datang membawa sebuah nampan berisi teh dan susu untuk Anin.


"Susu pra kehamilan lagi ma...?" tanya Anin pada mertuanya yang dia yakini sudah tidak sabar menanti kabar tentang kehamilan Anin. Dan tampak wanita paruh baya itu mengangguk pelan.

__ADS_1


Anin segera meminum susu itu dengan sekali tenggak, di hadapan mertuanya.


"Maaf ya Ma... sudah tiga bulan menikah tapi Anin belum hamil juga." Ujar Anin lirih.


"Anin... tidak perlu minta maaf. Semua itu rahasia Allah. Jika mama kasih kamu susu itu, bukan karena terlalu ingin cepat punya cucu, hanya sekedar mempersiapkan kehadiran calon janin saja. Agar ketika ia muncul keadaan rahim dan kondisi tubuhmu sudah sangat siap. Jadi jangan tersinggung ya, sedikasihnya saja, kita selalu berusaha tetapi Tuhan yang menentukan waktunya."


"Ia... makasih atas perhatian dan pengertian mama." Anin sangat bahagia memiliki mertua seperti mama Darel membuatnya seolah memiliki ibu lagi, karena kebaikan hatinya.


"Mama dulu juga hampir setahun menunggu baru ada Melisa. Padahal rasanya dulu lembur terus mencetaknya." Kelakar mama masih tampak santai ngobrol di teras rumah sambil memandang ikan koi yang berenang-renang di kolam depan mereka.


"Cetak apa sih sampai lembur...?" tanya Darel yang tiba-tiba muncul di antara keduanya, yang entah sejak kapan dia ada di sana.


"Cetak buku." Jawab mama sambil tersenyum. Yang melihat Darel dengan tidak canggungnya sudah memeluk dan mengecup kening istrinya sepulang


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2