DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 62 : PELUKAN PERPISAHAN


__ADS_3

Felysia tersenyum dengan mengangkat sebelah sisi bibirnya. Kemudian mengambil ponsel di dalam tasnya untuk menelpon seseorang.


Tampak Felysia menjauhkan dirinya dari Anin untuk melakukan pembicaraan pada sambungan telepon.


"Hallo." Terdengar sambutan sura malas dari seberang sambungan telepon itu.


"Kukira kamu bercanda memutuskan kerjasama kita, ternyata kamu benar benar menepati janjimu ya, Dar." Jawab Felysia yang ternyata menghubungi Darel.


"Aku adalah pria yang selalu menepati setiap janji dan ucapan ku." Jawabnya masih dengan suara yang tidak begitu antusias.


"Oke, terima kasih atas kerjasamanya dan hubungan singkat kita. Semoga kamu mendapatkan wanita baik - baik sebagai pengganti ku." Doa Fely yang entah tulus atau tidak.


"Amin. Semoga kamu pun mendapatkan pasangan yang lebih bisa membahagiakanmu. Sesuai standart mu." Jawab Darel yang langsung memutus sambungan telepon secara sepihak tanpa mempedulikan perasaan Felysia.


Felysia pun berjalan mendekati Anin.


Yang masih merapikan beberapa file kontrak milik Felysia. Anin masih mencocokan semua kontrak dengan nominal yang tertera di dalamnya.


"Kenapa kamu masih tampak sibuk Nin?"


tanya Felysia.


"Aku masih mencari kontrak mana yang membuat isi rekening itu mengalami selisih." Jawab Anin tanpa memandang wajah Anin.


"Sudah lah, itu dari perusahaan Darel. Ia sudah memutuskan kontrak kerjasamanya dengan kita. 1M kan?" tanya Felysia enteng.


Akhirnya Anin mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Felysia, memandang mata bulat itu mencari kebenaran, yang dengan entengnya menyebutkan nominal itu. "Ternyata Bang Emil benar-benar serius dengan ucapannya beberapa hari yang lalu." Batin Anin.


"Iya 1M nih." Ucap Anin pada Felysia.


"Ya udah kita bagi aja, Nin. Dan anggap saja kerjasama kita berdua pun berkahir sekarang. Semua job ku juga sudah selesaikan? Perjanjian kita memang masih tersisa 1 bulan lagi. Tetapi kurasa, tidak ada hal dan alasan lagi untuk kita saling bekerja lagi bukan?" Felysia dengan entengnya memutuskan kontrak mereka.


"Jadi, mulai hari ini aku di pecat?" tanya Anin memastikan.

__ADS_1


"Ya ga gitu juga bahasanya. Habis masa kontrak saja, kebetulan waktunya lebih maju 1 bulan, anggap saja itu bonus lah."


"Baiklah, perlu ku buat surat pemutusan kontrak kerja?" tanya Anin lagi pada Felysia.


"Kurasa tidak perlu. Aku sangat merasa puas memiliki asisten seperti kamu. Dan, sekarang aku juga sudah memutuskan untuk pindah saja ke Jakarta. Aku mau istirahat dulu Nin, mau mengistirahatkan hatiku. Oh iya, segera kamu alihkan dana di rek itu, ke rekening pribadiku. Agar rekening itu segera d tutup. Sepertinya, setelah ini aku benar benar meninggalkan dunia permodelan ini." Jawab Fely seolah lesu.


"Kamu ada masalah lagi Fe?" tanya Anin yang hafal dengan sifat Felysia yang hampir setahun ini dekat dengannya.


"Ah, tidak ada. Aku mungkin sulit mendapatkan asisten merangkap teman sebaik kamu. Tetapi, menjadi model juga aku sudah cape. Usiaku 28 hampir 29, aku dah tua Nin, aku mau nikah aja." Ucapnya sambil tersenyum yang nampak tidak bahagia.


"Aku tau perasaanmu sekarang Fe, dunia model memang telah membesarkan namamu juga penghasilan mu, sementara usia pun berkejaran dengan waktu. Akan banyak muncul wajah baru yang lebih muda setelah mu. Dari pada akhirnya kamu tersingkir, jalan terbaik adalah mundur teratur, itu keputusan mu yang paling tepat. Tentang keinginanmu ingin menikah, aku pun memahami hal itu tidak mudah terjadi dalam waktu dekat, mengingat calon mertuamu masih dalam keadaaan sakit kan ya. Kamu yang sabar ya Fe, percaya saja ini semua kehendak yang maha kuasa." Hibur Anin pada Felysia.


Yang tentu hanya di tertawakan Felysia di dalam hati.


"Rupanya Anin masih mengira aku ingin menikah dengan Darel, padahal nyatanya sepulang papi Dennis bulan depan dari Turki aku akan menikah siri dengaannya."


Batin Felysia.


"Gimana, sudah kamu pindahkan dana untukmu?" tanya Felysia mendekati meja kerja Anin.


"Ih, bikin dua kali kerja aja sih. Sini!" ujar Felysia yang langsung mengambil alih pekerjaan Anin untuk mentransfer dana dari rekening itu ke rekeningnya dan rekening Anin.


Felysia memang seorang model, tetapi bukan berarti dia tidak mengerti cara memindahkan dana dan hal - hal yang berbau pembukuan dan keuangan sebab ia juga seorang Sarjana Ekonomi, maka kini ia telah berhasil memindahkan dana ke rekening milik Anin sebesar 500jt. Dan semua saldo yang tersisa di pindahkannya pada rekeningnya.


"Oke, beres. Kamu bisa beli mobil sendiri deh setelah ini Nin." Ucap Felysia yang begitu entengnya setelah mengirimkan dana yang menurut Anin sangat fantastik itu.


Anin menitikkan air mata haru sekaligus merasa bersalah pada Fely yang sangat tidak pelit padanya. Sedangkan dia, apa yang telah ia lakukan terhadap Felysia. Anin benar benar merasa telah mengkhianati Felysia, atas kedekatannya dengan Darel akhir - akhir ini.


Anin segera memeluk tubuh Felysia dan berkata : "Terima kasih Fe, terima kasih banyak, kamu adalah malaikat penyelamat dalam hidupku. Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu. Seluruh doa terbaik ku panjatkan untuk kesuksesan dan kebahagiaanmu." Ucap Anin dengan tulus.


"Ih, kok kayak doa ulang tahun sih Nin." kelakar Felysia yang sesungguhnya juga terharu memiliki asisten sebaik dan pengertian seperti Anin. Tidak bisa Felysia pungkiri atas segala perlakuannya kepada Anin selama ini. Sebab, baru Anin yang sanggup menjadi asistennya selama hampir 1 tahun ini.


"Ini kunci mobil mu. Dan sekali lagi terima kasih untuk semuanya Fe. Jangan lupakan aku." Ujar Anin dengan mata yang masih berkaca.

__ADS_1


Mata Felysia pun tampak menggenang. Ia pun sedih harus mengakhiri kerjasamanya dengan seorang Anin.


Namun, apa mau dikata, pekerjaan mereka telah benar - benar habis dan tuntas. Keputusan Felysia untuk hijrah ke Jakarta pun sudah bulat. Untuk membina rumah tangganya bersama Dennis Adskhan, walaupun hanya sebagai istri siri terlebih dahulu.


Kembali pasangan asisten dan model itu berpelukan sebagai tanda perpisahan mereka.


"Sukses ya Nin." Ucap Felysia dengan tulus seraya melepas pelukannya dari Anin.


"Kamu juga selamat berbahagia ya Fe, jika boleh meminta jangan lupa undangannya." Ucap Anin yang sudah nampak lebih tenang.


Felysia hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Anin pun melangkahkan kakinya gontai menuju parkiran, untuk mengambil motornya yang sudah lama terparkir di sana.


"Hai hitam, apa kabarmu. Lama kita tidak berkendara bersama, apa memang sudah waktunya kamu pensiun? Karena aku telah terbiasa dengan yang beroda 4." Gumam Anin di dalam hati sambil mengelus pelan stang motor hitam miliknya yang sejak ia lulus SMA sudah bersamanya mengarungi panas terik dan lebatnya hujan di jalanan.


Wajar saja kini Anin mengkhayal ingin memiliki kendaraan roda empat, toh sekarang isi rekeningnya juga hampir mencapai 1M.


Bersambung.


...Kira - kira Anin beli mobil apa ya?...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2