
"Apa itu artinya to'ing udah boleh jenguk si iteung...mom?" tanya Darel dengan tangan yang sudah mulai usil meraba bagian favoritnya di area bagian bawah perut Anin.
"Kalo cuma mau jenguk sekarang juga bisa Bee... tapi kada dokter jangan sering dan pelan-pelan."
"Artinya, malam ini kita...?"
"Maaf Bee, aku lelah. Ga mau itu, maunya di peluk sampai pagi aja." Ujar Anin dengan lembut manis dan manja.
Darel langsung menggendong tubuh ramping istrinya.
"Becanda mom... aku ga akan pernah memaksamu untuk melayaniku. Kasian si kaka yang di dalam ini." Ujar Darel sambil terus mengelus perut Anin dengan raut bahagianya.
Demikianlah selanjutnya kehidupan Anin di layani Darel bak seorang putri. Darel tanpa malu dan gengsi menunjukan perhatiannya pada istrinya. Fix, Darel sudah sah jadi BuCin. Ia begitu protektif memperlakukan istrinya.
Mulai urusan bersih-bersih, memasak bahkan sudah seperti asisten Anin.
Terutama saat Anin mulai mengerjakan tugas akhirnya, ia tampak setia menyuapi istrinya. Juga sibuk membantu menyusun tugas yang tidak ia kuasai itu.
Sampai suatu hari Anin tampak murung.
"Mom... dari bangun tidur tampaknya suasana hatimu tidak enak ya. Ada apa cintaku...?"
Bukan jawaban yang Darel dapati, justru isakan tangis yang terdengar.
Cup... Darel memberi kecupan dan pelukan untuk istrinya yang memang lebih sensitif dari biasanya.
"Kenapa...?"
"Bee... kamu terlalu sempurna jadi suami selama disini. Aku pasti sangat kehilangan saat kamu kembali ke Indonesia minggu depan." Ungkapnya.
"Sabar cintaku. Sedikit lagi. 4 bulan lagi kuliahmu selesai kan?
Jadi... tolong lebih sabar sedikit lagi ya." Darel tampak tidak lelah memperlakukan Anin dengan lembut dan penuh kesabaran.
__ADS_1
"Aku terlanjur terbiasa ada yang nemenin di sini Bee... di masakin, di suapin...atau aku sudah jadi pemalas sesungguhnya ya ...?"
"Bukan pemalas mom, itu pasti keinginan anak kita. Dan aku senang melakukannya, aku juga bersyukur kamu tidak seperti kak Melisa yang tiap pagi harus muntah, mual ga jelas. Kamu memang ga banyak makan sekarang, tapi ga milih-milih. Artinya kalian memang the best."
Ujar Darel yang lumayan berpengalaman dan cukup repot saat Melisa hamil si kembar.
"Terima kasih ya Bee...untuk pengertiannya."
"Beban yang kamu tanggung lebih besar dari yang dapat aku lakukan. Ini tidak seberapa, hamil saat nyusun tesis, di negara orang sendirian pula. Besok aku ijin ke mama, pinjam Bi Ratih buat temenin kamu di sini ya mom. Biar kalian ga sendiri."
"Jangan Bee... anak ini kita berdua yang buat, ngapain merepotkan banyak orang. Kami akan baik-baik saja, percayalah. Ini hanya perasaan bumil yang susah pisah sama suaminya saja." Senyum Anin mulai terkembang untuk meyakinkan Darel.
Tiga hari kemudian, apartemen itu tampak ramai.
Sebab tidak hanya bi Ratih yang datang. Tapi mama Darel juga kini telah berada di Paris. Beliau juga sangat antusias mendengar kabar jika menantu kesayangannya tengah hamil.
Anin memang telah tak punya ibu, namun kasih sayang dan perhatian mama mertuanya sangat luar biasa padanya.
Sore itu, suasana tampak haru dan sedikit kelabu sebab lagi-lagi drama kepulangan Darel terjadi lagi setelah kurang lebih sebulan ia di Paris. Kepulangannya sudah tidak dapat di tunda, sebab pihak perusahaan Santy sudah menentukan jadwal kunjungan dan ingin melanjutkan kerja sama mereka.
Berat baginya untuk berpisah, namun semua harus di lewati. Dan tinggal sedikit lagi mereka akan bersama-sama mencapai garis finish.
"Mom... jaga diri ya. Jangan sampai kelelahan, ingat ada kakak di sini. Dan... sebaiknya kamu cari orang yang dapat membantumu agar tesis mu bisa lebih ringan kamu kerjakan. Alika...mintalah bantuan pada Alika." Pinta Darel pada Anin sambil terus mengelus halus perut itu.
"Tidak usah Bee... aku sudah punya Kak Santy, yang pasti akan selalu siap membantu ku. Wah, saking sibuknya kita berdua-duaan di rumah sebulan ini. Aku sampai lupa mau mengenalkan mu padanya ya Bee. Ah...next time lah." Ujar Anin yang baru sadar selama ini mereka selalu mengandaikan jika dunia ini hanya milik mereka, sehingga segala urusan lain terlewati begitu saja.
Kehidupan Anin sepeninggalan Darel justru semakin menyenangkan baginya.
Lagi, ia bak seorang putri raja di perlakukan oleh mama mertuanya dan Bi Ratih yang di datangkan spesial untuk menjaga, menemani juga melayaninya. Agar Anin bisa lebih fokus menyelesaikan tugas akhirnya. Juga tetap dapat menjaga kehamilannya.
Sementara urusan tugas akhirnya, Anin sempat menghubungi Santy. Tetapi karena ia sibuk dan sudah berada di Indonesia untuk urusan bisnisnya, ia mengirimkan seorang teman yang dapat benar-benar dapat membantu Anin.
Sehingga pada bulan ke lima di tahun itu, Anin sudah di nyatakan selesai untuk urusan perkuliahannya. Namun belum berarti telah lulus, sebab masih harus melewati beberapa rangkaian syarat kelulusan. Tetapi sudah tidak di tuntut untuk ke kampus lagi.
__ADS_1
Mama Darel hanya bertahan sebulan di sana, sebab ia pun harus menjaga kesehatan juga harus tetap ada di sisi papa Darel.
Bi Ratih pun sebulan kemudian menyusul untuk pulang ke Indonesia, sebab Anin telah mencari orang yang dapat bekerja paruh waktu untuk mengurangi pekerjaannya di rumah.
Wisuda memang belum di gelar sebab kemungkinan itu akan dilaksanakan 3 bulan kemudian. Namun, Anin tetap memutuskan untuk tetap pulang ke Indonesia.
Dengan mengantongi surat rekomendasi terbang dari dokter karena usia kehamilan Anin memasuki minggu ke 26. Anin pun pulang ke tanah air dengan segala rasa bahagia yang membuncah dadanya.
Betapa tidak, waktu 2-3 tahun yang mereka khawatirkan di awal perkuliahan telah dapat mereka lewati tanpa hambatan.
Segala ketakutan untuk tersiksa rindu karena berjauhan kini telah terlewati. Rasa gelisah akan sebuah pengkhianatan selama tak bersama pun telah terbukti bahwa ternyata mereka memang telah dapat saling setia menjaga pernikahan mereka.
Kuliah selesai, anak mereka pun hadir di rahim Anin. Sungguh Allah maha pengatur segala waktu, sesuai harapan yang Anin inginkan.
Kini Anin tinggal menunggu masa persalinan kurang lebih 3 bulan lagi. Juga menunggu jawaban dari lamarannya sebagai Dosen Jurusan Fahsion Design.
Tak henti-hentinya Anin mengucap syukurnya pada Allah SWT. Sebab demikian sempurna ketetapan takdir yang Allah berikan padannya.
Pada pukul 16.30 Anin telah tampak berdiri di Bandara Husein Sastranegara Bandung.
Dengan hati yang bergemuruh bagai insan dilanda cinta, sebab kini semua rasa rindunya akan berakhir. Anin berjanji tak ingin jauh lagi dengan Darel Emilio Aswindra suaminya.
Bersambung..
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...