DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 59 : TIBA TIBA MUAL


__ADS_3

Cepat cepat Anin masuk ke dalam rumah dan membasuh wajahnya. Sebab, dari kejauhan ia telah melihat lampu sepeda motor yang Anin yakini itu milik Pak RT yang mengantarkan ayahnya kembali selesai pengajian.


Dan Benar saja kini tampak ayah Anin sudah berdiri di teras rumah untuk melihat Pak RT pulang setelah mengantarnya tadi.


Karena pertemuan sesama desainer peserta kompetisi kemarin membuat Anin kembali memiliki kenalan dan teman baru di Butik MJ. Jika kemarin ia hanya kenal Wilna sebagai sekretaris Melisa, kini ia nampak telah menjalin hubungan dengan Dinda, Zeini, Sisil dan Nicole. Selebihnya memang ada yang lain, namun Anin hanya sempat berkenalan dengan ke empat desainer ini saja.


Anin yang selalu ramah dan ceria tentu tidak sulit baginya untuk menjalin sebuah hubungan pertemanan baru. Sehingga kini ia tampak janjian dengan ke empat desainer lepas itu, untuk sama sama mengumpulkan karya mereka.


Di hari kamis, pertengahan bulan kesepuluh di tahun itu. Anin tampak telah yakin mengumpulkan karyanya, dalam sebuah map bersampul kuning keemasan sesuai dengan yang telah di bagikan sama kepada seluruh peserta lainnya.


Karya Anin, bukan sekedar karya biasa.


Tetapi juga ia sertai dengan niat dan harapan yang besar. Baginya ini merupakan tangga menuju masa depan yang sangat ia dambakan selama ini. Separuh nyawa Anin melekat pada karyanya tersebut.


Anin memang sangat totalitas dalam membuat karyanya. Hampir seluruh kemampuan terbaiknya ia persembahkan dan ia tuang dalam karyanya kali ini.


Dalam hatinya yang paling dalam, terselip keyakinan, bahwa karya inilah, pemenangnya. Di Bagian luar Map terdapat angka 09 sebagai tanda karya itu telah terdaftar saat pembagian map beberapa hari sebelumnya.


Tampak 4 wanita sedang menikmati makan siang di kantin kesayangan mereka sambil menunggu Anin dengan penuh canda tawa, mereka adalah desainer lepas yang juga ingin mengumpulkan karya mereka.


"Anin, kamu ga makan?" tanya Sisil saat Anin baru saja mendaratkan pantatnya untuk duduk di kursi di antara mereka.


"Aku selalu sudah makan jika baru datang dari rumah." Jawab Anin dengan ramah.


"Ya setidaknya kamu minumlah. Nih, minum ini saja, kebetulan aku pesan 2 tadi." Ujar Nicole ramah padahal biasanya ia paling jarang bicara dan terlihat agak sombong.


Merasa tidak enak saat menolak makan siang tadi, Anin pun segera meraih minuman yang segelnya sudah terbuka dari Nicole, kemudian menenggaknya hingga separuh botol.


"Gimana, apa kalian akan menyerahkan karya hari ini semua ?" tanya Dinda yang tampak sudah menyelesaikan maka siangnya.


"Insyaallah, aku siap." Jawab Anin.


"Iya dong, aku sudah bosan memandangi karyaku. Dan ingin segera menyerahkannya saja." Ucap Sisil dengan nada bercanda.


"Sama karya sendiri kok bosan, bangga dong." Ucap Dinda.


"Iya, bangga itu pasti. Tapi aku bolak balik gambar itu terus bikin aku gimana gitu liatnya."


"Eh, untuk pemenang juara 1 bener akan di kirim untuk belajar 1 tahun di Paris? Lalu gimana nasib yang ga juara 1?" tanya Dinda pada mereka yang ada di situ.


"Aku dengernya sih gitu. Trus yang masuk 5 besar akan tetap di berikan hadiah, berupa uang tunai dengan nilai yang cukup besar." Jawab Sisil.


"Aku sih jujur, ga ngarep juara 1. Ku bingung kalau harus sekolah lagi." Ujar Dinda.


"Kenapa?" tanya Sisil dan Anin bersamaan.


"Ku malas belajar, dan ga Pe-De harus tinggal dan hidup di luar negeri. IQ ku ga nyampe ngomongnya di sana nanti." Jawab Dinda yang memang sedikit memiliki kepribadian yang lucu dan blak- blakan.


"Kalo takut menang ngapain kemarin ikut lomba?" tanya Zeini yang sedari tadi juga menyimak obrolan mereka.

__ADS_1


"Ya, mau uang hadiahnya aja, jadi aku ngarepnya tuh juara 2, 3 atau 5 juga ga apa - apa. Asal dapat duit, ya ga Nin?" Ujar Dinda menoleh pandangannya ke arah Anin. Yang tiba - tiba terlihat pucat.


"Kamu kenapa Nin?" tanya Sisil yang melihat Anin keringat dingin.


"Kamu gugup mau nyerahin karyamu?" tanya Zeini lagi.


"Ga tau nih. Kok perutku sakit banget ya.


Tiba - tiba mual, ingin muntah dan kayak mau BAB juga." Jawab Anin pelan menahan rasa sakit yang begitu hebat pada saluran pencernaan nya itu.


"Ya udah ke toilet gih, ku temenin ya." Ujar Sisil sambil berdiri ingin membantu Anin.


"Iya, aku bantu antar juga, kayaknya kamu lemes banget." Timpal Dinda.


"Ya udah, aku sekalian deh. Tetiba mau mau pipis juga nih." Ujar Zeini.


"Yah, aku kebagian nunggu kursi nih." Ujar Nicole yang masih belum menghabiskan makanannya.


"Ya kan kamu belum selesai makannya.


Kami tinggal dulu ya. Titip tas." Ujar Dinda yang kini telah berjalan menggandeng Anin di temani Sisil.


Sampai di toilet Anin benar benar muntah mengeluarkan semua isi di dalam perutnya. Anin juga mencoba untuk BAB tetapi tidak bisa keluar.


"Nin, gimana?" tanya Dinda dari luar.


Nampak Zeini, sudah menuntaskan hasrat pipisnya dan minta ijin untuk duluan ke tempat mereka tadi.


Sesampai di sana tampak Nicole sudah menyelesaikan makannya.


"Gimana Anin?" tanyanya pada Zeini.


"Muntah doang, ga bisa BAB.


Kenapa ya?" tanya Zeini


"Ada salah makan kali, kasih susu aja gimana?" Usul Nicole.


"Iya kali... Eh, emang bisa?" tanya Zeini lagi.


"Coba ku pesan deh, asalkan hangat.


Ntar ku pesan dulu ya." Ujar Nicole seraya beranjak menuju meja tempat memesan makanan dan minuman.


Bersamaan dengan datangnya susu hangat itu, Anin, Dinda dan Sisil pun sudah kembali ke tempat semula.


"Kamu ada salah makan ya Nin?" tanya Nicole.


"Ga tau, aku makan makananku biasa aja, hanya memang agak pedas tadi. Tapi biasanya tahan kok." Jawab Anin.

__ADS_1


"Nih, minum susu hangat aja. Supaya cepet netral." Ujar Nicole yang ternyata perhatian.


Anin pun segera menghabiskan segelas susu hangat itu.


Kemudian, Nicole juga menyodorkan minyak yang beraroma menusuk untuk mereda rasa mual Anin.


"Nih, di gosok gosok di perut dan kening mu deh ,Nin." Perintah Nicole sambil membantu mengusap dan memijat punggung Anin sekenanya.


Anin patuh dan menurut saja dengan semua yang disarankan Nicole.


"Maafkan aku ya, teman - teman.


Tiba - tiba aku merepotkan kalian semua." Ujar Anin yang memang terbiasa melayani ketimbang di layani.


"Jangan bicara begitu, kita ini teman. Wajar saja saling membantu." Ucap Dinda.


Beberapa menit kemudian, Anin memang merasa sudah mulai membaik. Entah karena susu hangat, minyak beraroma itu kah, sehingga ia benar benar merasa jauh lebih baik dari perasaannya tadi.


"Gimana Nin, udah mendingan?" tanya Sisil.


Anin mengangguk.


"Beneran?" tanya Zeini meyakinkan.


"Iya, aku merasa jauh lebih baik dan kuat berjalan. Ayo kita ke atas untuk mengantar karya kita." Ajak Anin.


"Beneran kamu sudah merasa enakan?" tanya Dinda lagi.


"Iya , sungguh aku sudah baik - baik saja." Ujar Anin meyakinkan semuanya.


"Oke baiklah, kalau begitu. Mari kita ke atas." Ujar Nicole


Dan mereka pun tampak bersama meninggalkan Kantin itu, dan naik ke lantai 3 Butik MJ untuk menyerahkan karya yang kurang lebih 3 bulan ini menjadi proyek mereka.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2