
"Bukan kah mama juga sangat menginginkan dia menjadi menantunya...??" Darel bertekad di dalam hatinya
Hari berarak tanpa terasa, satu minggu sudah Anin tinggal dirumah sendiri. Karena Jovan telah membawa ayah dan mobilnya sesuai kesepakatan mereka.
Sepi selalu memenuhi hari hari Anin.
Bimo bagai di telan bumi, setelah hari itu tampak tidak pernah menghubunginya lagi. Entah apa yang ia pikirkan tentang Anin, tetapi mungkin saja itulah caranya untuk segera melupakan Anin.
Diam-diam Anin, yang rindu dengan seorang Darel, memutuskan untuk sekedar nongkrong di Cafe & Bar yang Darel nobatkan menjadi tempat favorit mereka.
Hanya sekedar duduk menghabiskan akhir minggunya yang sungguh terasa kian sepi itu, Anin berangkat dengan motor hitamnya.
Semua barang keperluannya sudah ia siapkan.
Anin yang memiliki kenalan pada sebuah ekspedisi, telah menitipkan semua barang itu. Agar jika Anin telah mendapatkan tempat tinggal di Paris nanti, maka barang - barang tersebut baru akan di kirimkan.
Untuk berangkat ke bandara, tentunya Anin akan menggunakan jasa taksi online. "Ya... mungkin aku akan sedikit bersedih berangkat kali ini. Karena ayah dan Kak Jovan tidak bisa mengantarku walau hanya sampai Bandara. Tidak ada yang melambai dan mengucapkan selamat jalan padaku. Tidak ada yang memandangi punggungku saat ku pergi, tidak ada orang spesial yang akan merindukanku atau bahkan tidak ada yang mengharapkan kepulangan ku nantinya."š
Anin sibuk bermonolog dengan hatinya sampai tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya. Merasa suasana hati yang tiba-tiba melow, Anin memutuskan untuk pulang saja. Demi menuntaskan kesedihannya.
Sesampainya di rumah pun, ternyata ia kembali bersedih, tatkala matanya melihat teras rumah, sofa, juga meja makan yang sering ia dan Darel gunakan bersama.
"Iiih busssyyeeet...!! kok Bang Emil, Bang Emil lagi siih yang menuhin kepalaku. Mikirin mantan kek, gitu....!!!"
Anin mencoba bercanda dengan hatinya.
Lamunan Anin pun buyar saat di lihatnya, panggilan suara dari Darel. Yang sudah tentu sangat Anin harapkan.
"Assalamualikum, abaaaang...!!!" salamnya dengan penuh semangat.
"Walaikumsallam, maniiiis." Jawab Darel yang selalu suka memanggil Anin dengan sebutan manis.
"Pliiis.. deh bang. Anin tu berasa jadi kucing kalo di panggil kaya gitu." Canda Anin.
"Iya... kamu lucu dan menggemaskan kayak kucing Nin. Eh, kamu kapan berangkat, minggu depan kan?" tanyanya perhatian.
"Iya, kamis pagi sekitar pukul 10 aku sudah harus di Bandara." Jawab Anin yang memang sudah mengantongi tiketnya.
"Bapak, sudah sama Kak Jovan...?" tanya Darel lagi padanya.
"Iya, sudah satu minggu ayah di jemput ke sana."
__ADS_1
"Trus... kamu sendirian nih di rumah...?" tanya Darel lagi.
"Iya... udah seminggu ini. Aku kesepian...ha...ha...ha...!!!" Anin memberi kode.
"Perlu di hibur Nin...? Pacar...pacar mana...?" tanya Darel sekedarnya.
"Ga ada dia." Jawab Anin tanpa memberi alasan apapun.
"Iya, ya. Pak Polisi susah ijin dari kerjaannya ya. Terus nanti yang antar ke Bandara siapa? Barang mu banyak kan, pasti ribet tuh."
"Ga... juga aku cuma bawa 1 ransel dan waist bag saja." Ucap Anin.
"Masa tinggal 1 tahun cuma bawa 1 ransel. Sudah kaya kamu sekarang, sehingga nanti tinggal beli di sana." Canda Darel.
"Ih... kampungan banget ga sih tampang ku ntar kalo bawa barang sebanyak apa. Barang aku udah aku pakcing dan nanti dikirim oleh pihak ekspedisi. Lagian, aku kan belum tau tinggal dimana. Jadi aku pastikan dulu tempat tinggal ku, baru berbenah."
"Ke Singapura jadi kan...?" tanya Darel memastikan.
"Insyaallah." Jawab Anin.
"Sempetin jenguk mama ya Nin." Pintanya lembut.
"Pasti, kalau aku jadi ke Singapura. Aku pasti jenguk tante." Jawab Darel memastikan lagi.
"Iya... " Jawab Anin tanpa perlawanan.
"Anin, nanti kamis aku aja yang antar ya. Rabu aku ada pertemuan di perusahaan yang di pimpin Gerald." Jelas ini hanya akal-akalan dan alasan Darel saja, untuk mengambil kesempatan bersama Anin wanita yang diam-diam sudah di gilainya itu.
"Asal tidak merepotkan, boleh saja. Lumayan kan irit biaya taksi." Ujar Anin klise, seolah menganggap itu hal yang biasa. Padahal, lagi-lagi dadanya bergemuruh dan nampaknya mulai terjadi bencana alam di sana.
"Ga repot kok, pas kebetulan ada kerjaan juga di sana. Tapi ijin dulu sama Komandan hatimu itu." Pancing Darel.
"Mas Bimo...? Ga masalah. Dia pengertian kok. Dia ga bakalan marah." Bohong Anin, seolah masih memiliki hubungan dengan Bimo.
"Oke, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa maniiis." Darel mengakhiri panggilan dengan perasaan yang amat bahagia. Bahkan ia tidak peduli tentang Anin yang sudah di miliki oleh pria lain, baginya selama Anin masih meladeninya, ia akan terus pepet Anin.
Rabu siang, tampak mobil Darel sudah terparkir di halaman rumah Anin. Tentu saja Anin kaget, dengan kedatangan pria pujaan hatinya itu.
"Bang... aku berangkatnya masih besok. Kok jemput nya sekarang?" tanya Anin saat membuka pintu rumahnya.
"Urusan di perusahan sudah beres, waktunya makan siang. Ada masak ga...?" tanya Darel yang langsung nyelonong masuk ke arah meja makan, kemudian membuka tudung saji.
__ADS_1
Ada seekor nila masak asam manis, dan cah kangkung terdapat di sana. Tanpa malu nya Darel mengambil piring dan mencari tempat nasi.
"Abang mau makan...? Sini Anin ambilkan, cuci tangan dan duduk di situ deh." Ujar Anin yang langsung mengambil piring yang sudah di tangan Darel kemudian mengambilkan nasi seperti istri melayani suami setelah pulang bekerja. (Uhuuuy)
Darel pun patuh ia segera mencuci tangan dan duduk manis menunggu pelayanan Anin. Kemudian dengan lahapnya menghabiskan semua yang tersaji di atas meja itu sampai bersih.
"Berapa hari bang ga makan...?" tanya Anin sambil tersenyum.
"Udah hampir 4 bulan mungkin." Jawabnya sambil susah payah menelan makanan yang dia masukan dengan tidak beraturan ke dalam mulutnya. Seketika itu, Anin menyodorkan segelas air putih ke arah Darel yang mulai tampak tersengal.
"Pelan- pelan...!!! Bang, itu jatah makan buat ku nanti malam lho... aku udah malas masak. Dan besok aku hanya beli makanan siap saji saja. Perabotan ku sudah aku simpan, supaya selalu bersih selama aku tinggal." Ucap Anin yang kesal melihat makanannya tandas.
"Tenang, nanti malam kita makan di luar, oke."
Jawabnya santai. Yang kemudian pamit untuk pulang.
"Kok, cepet banget. Biasanya setelah makan ngobrol dulu." Anin memandang heran dengan tingkah Darel yang seperti tergesa untu pulang.
"Aku ngantuk, kecuali aku boleh tidur siang di sini. Tapi ga ada Bapak, jadi ga ada saksi kalo terjadi hal-hal yang aku inginkan. Kata Pa Haji itu dosa!" Ucap Darel menirukan logat Anin beberapa bulan lalu.
Anin hanya tertawa di buatnya.
"Oke... baiklah kalau begitu. Jangan lupa jemput aku cari makan ya. Tapi aku cuma mau makan bakso di pinggir jalan." Ujar Anin. Seketika raut wajah Darel berubah lalu berkata: "Iya...iya... terserah. Tapi setelah itu kita nonton ya. Bye." Ujar Darel yang sudah tampak hilang kedalam balik kemudi.
Anin hanya mengangguk pelan sambil tersenyum melihat tingkah pria yang ia rasa ke sininya, makin terasa lebih dekat dan memahaminya.
Bersambung...
...Kira - kira Anin bilang ga ya...
...kalo sudah putus sama Bimo....
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...