DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 56 : OBROLAN SESAMA LELAKI


__ADS_3

Nampak Ayah Anin terkekeh melihat perilaku Darel yang benar benar tampak terkejut.


"Mengapa tidak masuk saja nak Emil?" tanya ayah saat melihat Darel yang sudah bisa menguasai dirinya dari keterkejutannya tadi.


"Oh, saya hanya sedang menikmati suasana di sini, yang ternyata nyaman dan tenang." Ujar Darel.


"Iya, di sini merupakan tempat favorit Anin sejak dulu. Nak Emil, sudah lama mengenal Anin?" tanya ayah Anin.


"Belum lama Pak, baru beberapa bulan ini saja. Saat kami terlibat proyek pemotretan bersama Felysia di Villa." Jawab Darel jujur.


"Oh, iya sangat baru sekali ya. Berarti nak Emil belum banyak tau tentang sifat dan sikap Anin ya."


"Iya, sedikit Pak. Hanya sedikit sekali. Yang saya tau, Anin memiliki pribadi yang tidak mudah menyerah, gigih, bertanggung jawab, rajin, suka menolong dan pintar masak." Ungkap Darel memuji Anin.


"Iya benar semua, di mata ayah. Anin bukan saja anak, tetapi teman, perawat bahkan sudah seperti seorang istri dalam artian kesetiaannya dalam mengurus semua keperluan ayah. Terutama saat ayah baru-baru terserang stroke tahun lalu. Anin mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk mempercepat penyembuhan penyakit ayah. Tidak hanya tenaga tetapi juga dana. Ayah adalah orang tua yang berhutang banyak dengan Anin, ia bahkan hampir kehilangan masa masa remaja nya demi untuk selalu mencari nafkah. Demi cita - citanya. Mohon maaf nak Emil, ayah termasuk seorang ayah yang sangat terbuka dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi, apakah hubungan nak Emil dan Anin hanya sebatas teman atau lebih?" tanya ayah yang sangat spontan dan lagi mengangetkan Darel.


"Maaf Pak, untuk sementara kami masih berteman saja. Tetapi kami juga tidak bisa memastikan hubungan kami selanjutnya." Ujar Darel yang memang belum bisa memastikan perasaannya terhadap Anin.


"Sekali lagi saya minta maaf pada nak Emil. Anggaplah ini pembicaraan antar sesama lelaki. Jika memang nak Emil berniat untuk bermain - main dengan Anin, saya mohon jangan lakukan, dan segera jauhilah dia. Cukup ayah dan kakaknya Jovan yang hanya bisa memberikan derita pada hidup Anin, jangan nak Emil tambahkan lagi. Anin harta ayah satu - satu nya yang paling berharga, walau keadaan kami dalam ketidakmampuan, setidaknya kami masih punya harapan untuk memiliki hidup yang bahagia. Cukup kehidupan yang telah lalu memberikan Anin kesedihan, jangan lah pula cinta yang akan membuat dia menjadi sengsara nantinya. Selama ini, Anin tidak pernah mengajak satu pria pun kerumah ini sebagai kekasihnya. Dan, ayah juga yakin jika Anin memang belum berani bercanda dengan kata kata cinta. Sebab, ia terlalu terobsesi dengan citanya. Ya, mungkin terkesan keras kepala untuk hal itu, tetapi sekali lagi,


ayah mohon. Jika pun kelak nak Emil yang ternyata mengajaknya untuk mengenal cinta, tolong jangan buat dia kecewa." Pinta ayah seolah benar benar memohon dengan sangat pada Darel.


Darel hanya bisa menghela nafasnya. Tidak bisa memberi jawaban atas semua yang ayah Anin ucapkan padanya. Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia ingin menjadi lelaki yang memberikan kebahagian untuk Anin kelak.


"Maaf nak Emil, ayah tidak bermaksud memaksa nak Emil untuk menjalin pertemanan lebih pada Anin. Hanya menyampaikan, jika seandainya, nak Emil memiliki niat lebih dari seorang teman pada Anin. Maka tolong jangan permainkan Anin ku." Pinta Ayah Anin lagi.


"Insyaallah Pak. Jujur saja, mungkin karena baru mengenal Anin. Maka untuk saat ini saya baru ingin mengenalinya secara mendalam. Saya belum tau bagaimana perasaan saya terhadapnya, demikian juga perasaan Anin terhadap saya. Tetapi jikalau pun, di antara kami nantinya ada hubungan lebih dari teman, maka saya akan berusaha mengingat pesan bapak malam ini, sebagai sesama laki - laki yang menyayangi Anin." Akhirnya kata - kata itu pun lolos keluar dari mulut Darel.


"Terima kasih atas pengertian nak Emil, sekali lagi. Ayah tidak bermaksud memaksa nak Emil untuk mencintai Anin. Hanya, saya terlalu sayang pada Anin. Katakanlah mengantisipasi." Ujar Ayah Anin.


Dan obrolan sesama lelaki itu pun terhenti, mendengar suara Anin yang memanggil ayahnya dari dalam.

__ADS_1


"Ayah, ayaah, ayah di mana?" ujarnya yang tiba - tiba pelan ketika di lihatnya ayah yang di carinya sedang duduk bersantai bersama Darel di teras rumah mereka.l


"Ih, Ayah. Anin kira ayah sudah tidur. Anin lihat di kamar ayah tidak ada. Ayah belum sholat isya." Ujar Anin mengingatkan ayahnya.


"Oh iya, nak Emil mau sekalian kita sholat berjamaah?" ajak ayah Anin.


"Boleh." Jawab Darel singkat yang memang juga hampir tidak pernah meninggalkan sholatnya.


"Anin, siapkan tempat sholat dan sarung buat nak Emil, kami akan sholat bersama." Perintah Ayah pada Anin.


"Baik ayah, ayo masuklah Bang." Ajak Anin.


Saat selesai berwudhu, Darel tampak celingak celinguk melihat Anin yang tidak ikut sholat bersama mereka.


"Mari nak Emil, jangan kamu tunggu Anin. Biasa wanita kadang berhalangan untuk melaksanakan sholat." Ucap Ayah yang membuat Darrel agak malu mendengar kata - kata ayah yang seolah tau jika ia mengira Anin juga akan sholat berama mereka.


Saat Ayah dan Darel melaksanakan sholat, Anin pun asuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang ia gunakan tadi. Walau Anin tidak berhijab, tetapi Anin selalu berusaha menutup auratnya pada laki laki yang bukan mahramnya.


"Ya, tentu yang tadi cuma bonus buat si babang Emil." Umpat Anin yang merasa kecolongan karena Darel sudah melihat betis dan lengannya secara tidak sengaja.


"Nak Emil, silahkan makan malamnya. Ayah tadi sudah makan. Ayah tidak di anjurkan untuk makan malam oleh perawat itu." Tunjuk ayah sambil tersenyum pada Anin yang sudah tampak menata makanan di meja makan.


Darel pun mendekat ke meja makan itu, dan mulai menyantap nasi goreng buatan Anin.


"Maaf ya Bang, nasi goreng lagi." Ujar Anin.


"Ga apa - apa. Masakan mu enak kok."


Anin tersenyum senang mendapat pujian dari Darel.


Dan mereka pun tampak tenggelam dalam suasana makan malam yang hangat di rumah sederhana milik keluarga Anin.

__ADS_1


"Nin, kapan - kapan ke Bandung ya jenguk mama. Kali aja setelah denger suara kamu, mama bisa sadar." Ujar Darel tiba-tiba.


Anin lagi-lagi kaget mendengar kata yang terlontar begitu saja dari mulut seorang Darel.


"Kan sudah ada Fely di sana." Jawab Anin memastikan keadaan bosnya sekaligus pacar Darel itu.


"Ya, mama juga kenal kamu kan, waktu itu. Namanya juga orang sakit, kita ga tau mau sembuhnya kapan dan maunya ketemu siapa?"


"Iya juga sih, ntar ya Bang. Selesai urusan lomba gaun pengantin dulu. Biar ga kepikiran sama kerjaan pas di sana. Tapi, aku ke sana bareng Bang Ge ya." Pinta Anin.


"Kenapa harus sama Gerald? Kamu suka sama dia?" tembak Darel pada Anin yang sontak kata itu membuat Anin berhenti mengunyah makanan di mulutnya.


Bersambung...


...Ada yang minta up nya di percepat niih....


...Mumpung weekend...


...Author persembahkan 3 eps untuk hari ini...


...Selamat membaca ❤️❤️❤️...


...Mohon dukungannya 🙏...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih 👍💌✍️🌹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2