DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 85 : BERTERIMA KASIHLAH PADA DAREL


__ADS_3

Jarak tempuh kurang lebih 18 jam menuju Paris telah Anin lalui. Perbedaan waktu pun membuat Anin tiba di siang hari bolong. Anin tampak melangkah pasti seolah telah mahir dalam melakukan perjalanan luar negeri. Padahal, itu adalah pengalaman pertamanya.


Modal khursus bahasa Perancis dan Inggris yang ia jalani beberapa bulan terakhir tentu membuatnya semakin percaya diri, untuk terus berjalan ke arah luar.


Tampak kertas besar terpampang di sana, dengan tulisan "HAI ANIN, AKU ALIKA." Anin tersenyum sumringah melihat tulisan itu, ia yakin iti adalah teman Darel yang sudah ia kondisikan untuk membantunya.


Karena telpon oleh Bimo dan ibunya malam itu, membuat Anin batal berkenalan secara virtual dengan Alika.


Segera Anin mendekati wanita cantik nan seksi itu, lalu berkata: "Hai... aku Anin. Senang berjumpa denganmu Alika." Sontak wanita bernama Alika itu memeluk Anin. "Senang juga bertemu denganmu. Mari ikutlah bersamaku." Ujarnya yang langsung menarik tangan Anin dengan begitu akrab. Anin, menyempatkan untuk mengirim pesan teks untuk Jovan dan Darel tentunya. Agar mereka tidak khawatir akan keberadaan Anin sekarang.


Alika yang memang asli Indonesia tentu sangat mempermudah Anin berada di sana. Anin langsung di ajaknya untuk beristirahat di rumahnya. Dan mereka sepakat, untuk melakukan registrasi di Esmod terlebih dahulu. Baru akan melihat lihat rumah atau apartemen yang bisa ia sewa untuk setahun.


Melalui Alika, Anin menjadi banyak tau tentang Darel yang benar - benar serius saat mereka melanjutkan studinya di Amerika beberapa tahun yang lalu. Tidak pernah terdengar jika Darel terlibat soal percintaan selama kuliah.


"Karena itu, aku antusias sekali saat Darel menghubungiku agar bisa membantu mu di sini. Darel adalah teman pria terbaikku. Dia juga sangat teliti, cerdas dan sedikit alim. Berbeda dengan Gerald. Jika tidak akrab dengan Darel, mungkin anak itu sudah di skorsing pihak kampus, karena lumayan bandel." Kenang Alika dengan penuh semangat.


Kemudian, Alika pun mempersilahkan Anin untuk beristirahat untuk mengembalikan staminanya, setelah menempuh perjalanan jauh.


Keesokkan harinya, sesuai rute yang mereka susun semalam. Kini akhirnya Anin benar-benar telah manapakan kedua kakinya di Esmod. Tempat tujuan akhirnya untuk memperdalam ilmu desain.


Sesampainya di sana, Anin tidak serta merta duduk manis. Karena ini merupakan tahap pendaftaran ulang. Maka Anin di minta untuk menunjukkan kemampuan nya terlebih dahulu di bidang ini. Rangkaian tes tersebut meliputi Figurine & Illustration, yaitu tentang mengenal dasar-dasar teknik pewarnaan, hingga membuat sebuah koleksi. Kemudian tentang sewing atau menjahit yaitu kemampuan dalam mengoperasikan mesin jahit, apakah telah bisa membuat jahitan yang rapi dan sesuai ukuran.


Dan tes yang ketiga adalah Pattern drafting yaitu membuat pola membutuhkan ketelitian agar sesuai dengan ukuran.


Dari hasil ini maka pihak Esmod sendiri dapat menentukan, Anin akan masuk dalam kelas kategori yang mana. Dan jika, telah dapat lulus dari ketiga hal di atas, maka mereka akan lebih mengarahkan calon peserta kursusnya pada kelas tingkat lanjutan yaitu mempelajari tentang : Design Development, Membuat Cocktail Dress, Membuat Kebaya, Modest Wear, Kelas Creation – Ready to Wear.


Jika masuk dalam kelas lanjutan tentu biaya dan waktu yang di butuhkan untuk mejalani kursus juga akan lebih singkat dari setahun. Pada akhir pelajaran akan dilaksanakan Ujian untuk memvalidasi semua hasil karya tersebut melalui presentase.

__ADS_1


Dan bagian ini juga sangat menentukan, apakah peserta kursus itu mampu melanjutkan Program BA yang Divalidasi dalam Desain & Pembuatan Mode dimulai dua kali per tahun: Pada bulan September dan pada bulan Januari. Selama kurun waktu kurang lebih 2,5 sampai 3 tahun. Yang setelah berhasil menyelesaikan akan diberikan gelar Bachelor of Arts (Honours), dalam Fashion Design & Manufacture.


Anin merasa beruntung di pertemukan dengan Alika, sehingga ia tidak harus pusing memikirkan urusan tempat tinggal pastinya. Sebab, semua yang terjadi di luar perkiraan Anin. Yang ternyata daftar ulang tersebut memakan waktu kurang lebih 4 hari.


Anin di nyatakan untuk mengikuti kelas lanjutan. Sehingga ia mendapat pengurangan waktu selama 3 bulan, jadi kemungkinan Anin hanya membutuhkan waktu kurang lebih 9 bulan saja untuk menjalani khursus tersebut. Yang akan di mulai pada minggu kedua di bulan ke empat tahun ini.


Saat urusan kursusnya selesai, maka di hari ke lima ia berada di sana. Anin tampak sudah mendapatkan kamar di sebuah apartemen tidak jauh dari Esmod. Dengan sewa hampir 7jt/bulan. Dan itu pun hanya untuk kamar saja. Belum untuk biaya makannya.


Tetapi Anin tidak mempermasalahkan hal tersebut. Baginya ini adalah salah satu bentuk perjuangan hidup yang memang telah jadi impiannya. Pahit atau manis, susah atau senang dalam menjalaninya nanti. Baginya itu akan sebagai warna dalam hidupnya.


Ruang kamar apartemen Anin juga masih terlihat kosong, bahkan lemari pakaiannya pun juga belum terisi. Sebab paketan Anin dari Indonesia belum tiba di sana. Sehingga, ia hanya menggunakan mode irit saja dalam menggunakan pakaian selama beberapa hari di Paris.


Khursus di mulai pada minggu kedua di bulan ke empat di tahun itu. Beberapa perabotan dan semua keperluan Anin kini sudah tampak tertata rapi di kamarnya. Kini tidak banyak yang bisa Anin lakukan. Karena jadwal masuk memang belum di mulai.


Anin hanya bisa berkomunikasi dengan Alika saja, terlihat kini Anin masih terlihat betah berlama-lama di rumah milik keluarga Alika. Hingga ia menerima sambungan telepon dari Melisa.


"Assalamualaikum, Anin." sapanya pada Anin yang baru saja hendak pulang dari kediaman Alika.


"Nin, kaka sudah di Singapura. Gimana urusanmu sudah beres kan...? Besok kamu ke sini ya. Nanti kakak yang siapkan tiketnya. Oke...?" Melisa nyerocos tak kalah semangat.


"Baiklah. Karena urusan di sini juga benar-benar sudah selesai. Masih di minggu ke dua bulan depan aku mulai belajar kak." Jawabnya lagi.


"Oke. Setelah ini ku kirim E-Tiketnya. Sampai jumpa." Melisa mengakhiri sambungan telepon itu.


"Siapa...?" tanya Alika yang sejak tadi mengikuti obrolan antara Anin dan Melisa via telepon itu.


"Kak Melisa, kakaknya Bang Emil." Jawab Anin.

__ADS_1


"Wah, kamu memang wanita yang beruntung ya... bisa mendapat cinta seorang Darel bahkan perhatian dan dukungan dari keluarganya." Ucap Alika asal bicara.


"Ah...aku dan bang Emil hanya sebatas teman. Dan kakaknya ini adalah bosku di tempat aku bekerja sebagai desainer di Butiknya. Sebelum berangkat ke sini, kami memang telah sepakat untuk melihat festival parade busana di Singapura yang akan di laksanakan akhir bulan ini. Desainer lain yang bekerja di butiknya pun di ajak serta dalam even ini." Terang Anin apa adanya.


"Kamu kira aku percaya begitu saja, jika kamu bilang hubungan kalian sebatas teman...?" Pancing Alika.


"Ah, sudah lah Lik. Aku permisi pulang dulu ya. Terima kasih untuk semua pertolonganmu untukku. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, jika tidak bertemu kamu."


"Berterima kasih lah pada Darel. Sebab aku hanya menjalankan semua sesuai permintaannya, untuk membantu, menjaga sekaligus mengawasi calon istrinya." Ucapan Alika yang begitu menohok dalam hati Anin.


Bersambung...


...Uhuk-uhuk ......


...Kira - kira babang Darel bilang apa ya...


...ke Alika tentang Anin...?...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2