DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 52 : KEKAGUMAN DAREL


__ADS_3

Tanpa banyak pikir Anin yang juga rindu langsung mengirim lokasi rumahnya pada Darel.


"Ya Allah, apa yang baru saja aku lakukan." Ujar Anin bergumam sendiri yang baru menyadari bahwa sebentar lagi Darel akan kerumahnya dan juga Darel merupakan lelaki pertama yang berkunjung kerumahnya, makan malam pula.


"Lalu, bagaimana dengan hubungannya dengan Felysia? Bukankah Fely kemarin ke Bandung untuk menemui Darel dan menjenguk mamanya yang sakit?" Anin masih sibuk bermonolog dalam hatinya.


Anin bergegas kedapur untuk memanaskan sambal goreng cumi pedas yang memang banyak ia masak sejak siang tadi.


Anin tampak membuka kulkas untuk melihat beberapa stok sayur, ada ayam filet dan sedikit udang di sana. Anin melihat, ia juga masih memiliki beberapa pangsit isi kepiting di kulkasnya. Soal tepung dan rempah lainnya, tentu Anin tidak pernah kekurangan pada dapurnya, maka dengan cekatan Anin membuat Sop Wonton sebuah masakan khas Cina yang berkhasiat untuk menghangatkan tubuh juga mengembalikan stamina tubuh yang loyo.


Anin, merasa tubuh Darel sangat membutuhkan asupan gizi yang cukup dengan aktivitas nya yang begitu banyak menguras tenaga dan pikirannya akhir akhir ini. Bersamaan dengan bel pintu yang berbunyi pertanda kedatangan Darel, bersama itu pula Anin mematikan kompornya yang ia gunakan untuk memasak tadi.


"Assalamualaikum." Sapa Darel ketika melihat Anin sudah dengan senyum yang terkembang menyambut kedatangannya.


"Walaikumsallam, masuk Bang." Ajak Anin terkesan biasa saja. Padahal sesungguhnya, hatinya sangat berlonjak lonjak kegirangan melihat pria pujaan hatinya kini telah berdiri di hadapannya, di depan pintu rumahnya, serasa mimpi indah bagi seorang Anin.


Darel pun masuk ke dalam rumah Anin, ia melihat lelaki paruh baya yang tidak lain, pasti adalah ayah Anin sedang duduk menonton televisi di ruang tengah rumah itu.


"Selamat malam Pa, Saya Emil, maaf bertamu malam - malam." Sapa darel dengan sopan.


"Iya, tidak apa - apa. Silahkan." Jawab Ayah Anin yang juga terlihat datar. Sebab Anin tidak menceritakan apa - apa pada ayah, kecuali tentang Darel yang ingin ikut makan malam di rumahnya. Tampak tidak lah orang yang spesial, sehingga ayah pun biasa saja merespon kedatangan Darel.


Dengan sedikit sungkan Darel melangkah ke ruang makan rumah Anin, yang memang berukuran tidak terlalu besar juga tidak kecil. Tetapi penataan yang rapi dari sang pemilik memberi kesan nyaman saat berada di rumah sederhana milik keluarga Anin itu.


"Ayo makan lah jangan malu - malu. Ini Sop Wonton spesial ku buatkan untuk abang, sangat berkhasiat untuk tubuh abang yang sedang lelah." Jelas Anin sambil menyodorkan semangkuk Sop dadakan buatannya itu.


"Wah, masih panas sekali Nin." Ujar Darel yang langsung menyambut Sop itu.


"Iya, itu baru saja ku buat, setelah tau Bang Emil kan makan ke sini. Abang ga alergi udang, cumi dan kepiting kan?" tanya Anin memastikan bahwa Dare bisa menikmati makan malam buatannya.


"Tidak, aku ga ada alergi makanan Nin, kecuali makanan basi ha. ..ha...ha" canda Darel agar suasana tidak terasa tegang. Kemudian mereka berdua pun tampak fokus melahap makan malam mereka berdua.


Sebelum mereka selesai makan, ayah tampak berdiri kemudian berkata pada Anin.

__ADS_1


"Anin, ayah tidur dulu ya. Dan Nak... siapa?" ujar ayah menunjuk kearah Darel


"Emil Pa'" Jawab Darel.


"Iya, nak Emil. Bapak permisi ke kamar. Silahkan lanjutkan makan dan ngobrolnya."


"Iya , terima kasih Pa." Sahut Darel dengan sopan.


Selesai makan, Anin mengajak Darel duduk di sofa pada ruang tengah rumahnya. Serta membawa puding mangga yang kebetulan masih ada di kulkas Anin, sebagai menu penutup makan malam mereka berdua.


Anin memang selalu membuat stok puding dari beberapa aneka buah untuk memperlancar metabolisme ayahnya.


"Wah, ga salah nih aku menyerahkan diri makan malam di sini Nin. Menu sehat dan lengkap dengan dessert nya pula. Hati - hati Nin, kalau begini, aku bisa kecanduan makan di tempat mu." Ujar Darel seraya meraih Puding mangga yang ternyata merupakan buah kesukaannya.


"Ga papa kalo cuma candu sama makanan, dari pada candu sama narkoba." Sahut Anin sambil tertawa.


"Masalahnya, kalo aku mau makan masakan mu terus kan susah Nin." Lanjut Darel.


"Yang pesan gue kali bukan Gerald." Umpat Darel dalam hati.


"Iya Nin, sempet kok, setelah itu. Baru aku dapat kabar kalau mama ku kecelakaan."


"Oh, gitu. Hampir 2 minggu yang lalu ya."


Jawab Anin mengingat - ingat.


"Iya, entahlah Nin. Bagaimana keadaan mama dan sampai kapan beliau begitu." Ucap Darel kembali terlihat bersedih.


"Sabar, Allah tidak akan memberikan ujian yang lebih dari kemampuan kita. Pasti selalu sesuai dan pertolongannya akan selalu tepat pada waktunya. Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin secara manusia, sisanya Allah yang akan menyelesaikannya. Bang Emil mendapat musibah di atas kecukupan, maka bersyukurlah. Anin, saja masih dapat bersyukur saat beberapa tahun lalu, saat Anin yang baru saja lulus kuliah, tiba - tiba ayah kena serangan stroke. Kebayang kan bagaimana paniknya Anin, Kak Jovandra tidak di sini. Anin pontang panting sendiri mengurus semuanya, dengan keuangan yang juga pas - pasan. Tetapi, Anin selalu memohon pada Allah agar Anin mampu melewatinya, Allah satu - satunya tempat kita meminta, saat para medis pun sudah kita berikan kepercayaan menangani sesuai kemampuan mereka. Alhamdulilah, Bang Emil bisa lihat sendiri tadi, ayah sekarang sudah dapat berjalan sendiri. Waktu itu, sebelah tubuh ayah lumpuh bang."


Darel tertegun kagum mendengar kisah hidup yang telah Anin lalui, sungguh setengah dari derita hidup ini telah ia lewati. Benar yang Anin katakan, bahwa mereka masih bisa bersyukur.


"Anin tidak bermaksud untuk tidak menghargai segala pelayanan medis di negara kita, tetapi jika keluarga bang Emil memiliki kemampuan, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter yang menanganinya sekarang, untuk melakukan perawatan dan pengobatan yang lebih maksimal lagi di Luar Negeri.

__ADS_1


Anin yang dengan keadaan ekonomi pas - pasan saja sampai memaksakan diri untuk mengajak ayah berobat ke Jakarta sesuai saran dokter yang ada disini. Yang penting kita sudah benar benar sharing dengan dokternya, mereka pasti punya solusi dan alternatif lain dalam metode penyembuhannya.


"Iya Nin, kamu benar. Nanti aku akan coba berkonsultasi pada dokter dan papa, agar mama bisa mendapat perawatan yang lebih intensif lagi. Makasih saran mu ya Nin. Sepertinya, kepanikan ku membuat pikiranku agak down. Sehingga tidak terpikir ke situ."


"Iya, wajar lah Bang. Namanya juga kita sedang kalut, melihat seseorang yang sangat kita sayangi, tiba - tiba mengalami hal itu. Aku dapat merasakan yang abang rasakan." Ujar Anin menatap wajah sendu Darel.


"Anin, sudah lewat pukul 9 malam. Aku tidak enak berlama - lama d sini, lain kali kita sambung obrolan di WhatsApp ya. Sekali lagi terima kasih makan malam dan sarannya."


"Iya, sama - sama Bang. Anin senang bisa membantu mengurangi beban bang Emil." Ucap Anin sembari bejalan mengiringi langkah Darel yang ada di depan menuju pintu keluar rumah Anin.


"Ini, mobil Fely?" tanya Emil pura - pura tidak tau saat mereka sudah sama sama berada di luar.


"Iya, Dia menyuruhku memakainya selama ia menjenguk dan merawat calon ibu mertuanya di Bandung. Bukankah, karena ada Felysia di sana, sehingga Bang Emil bisa pulang ke sini, karena ada Fely yang menjaga mama Abang di sana." Ucap Anin so" tegar padahal menahan sakit di dadanya.


Darel hanya tersenyum, terlalu dini baginya untuk menceritakan hal yang sebenarnya pada Anin.


Dalam mobil di balik kemudi Darel masih tampak tersenyum sendiri. Ia semakin di buat terpesona dengan pola pikir Anin yang benar benar mandiri dan sangat dewasa. "Apakah Anin wanita yang mama pilih untukku Ma?" tanya Darel di awang - awang seolah ia merasakan bahwa mama bisa mendengar gumam di hatinya.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2